Kalau Bandara Soekarno-Hatta tenggelam karena banjir, maka
kawasan Monas sudah lebih dulu menjadi 'danau'.
Letak kawasan Soekarno-Hatta di Cengkareng lebih tinggi daripada kawasan Thamrin atau Gambir di pusat
kota Jakarta. Elevasi landasan pacu di selatan rata-rata 7,5 meter dan yang di utara
rata-rata 9 meter dari permukaan laut. Sementara kawasan Monas hanya 4,5
meter dari permukaan laut.
"Ini untuk meluruskan
berita-berita yang beredar. Yang katanya, karena
dampak gejala alam La Nina, Soekarno-Hatta
akan terkena banjir besar dan tenggelam,"
ujar Miskul Firdaus, direktur utama PT Angkasa Pura (AP) II.
Selain menepis isu bandara akan tenggelam, pihak AP II juga
mengundang para wartawan untuk meninjau areal bandara dari sisi lain. Bus pun
menembus sisi dalam bandara, terutama ke dekat kawasan yang bersentuhan
dengan penduduk sekitar.
Dimanfaatkan penduduk
Sore itu, 13 Januari 1999,
penduduk banyak berkeliaran di lapangan rumput di dalam areal bandara. Padahal di
sekeliling kawasan sudah dipagar kawat setinggi 5 meter. "Ada saja jalan untuk menjebol
pagar itu. Tiap kali dilas, tiap kali pula pagar
itu dijebol," jelas Miskul. Bahkan jalan
masuk bandara tidak hanya lewat pagar, tapi juga menggali tanah di bawah pagar.
Di samping penduduk dewasa,
anak-anak lebih banyak lagi yang bermain-main. Sekelompok anak laki-laki remaja
bermain bola. Mereka terlihat menikmati permainan, tidak was-was bahwa tempat bermainnya adalah kawasan yang
diawasi. Di tempat lain terlihat anak-anak dan
orang dewasa bermain layang-layang. Padahal sudah ada imbauan bahwa
bermain layangan itu membahayakan penerbangan.
Anak-anak lain, laki-laki dan perempuan, berjalan-jalan atau
hanya duduk-duduk di rumput. Mereka terlihat bergembira. Beberapa penduduk ada
juga yang hanya menonton pesawat atau teman-temannya yang bermain itu, dari
balik pagar.
"Kami tidak lagi mengusir
mereka. Berapa banyak tenaga dan waktu untuk mencapainya? Padahal mereka tidak
kapok-kapok. Tapi kami bisa mengawasinya melalui kamera yang tersebar di
kawasan bandara. Bila masih di areal yang tidak membahayakan, kami tidak
melakukan tindakan. Kecuali bila mereka sudah
masuk atau melakukan tindakan yang membahayakan," kata Miskul.
Di sekeliling bandara terdapat
400 kamera starlight yang dapat berputar
180 derajat. Tapi terlihat beberapa peralatan pengamanan bandara itu rusak dan
hilang. "Beberapa waktu lalu, sekawanan orang sempat juga masuk bandara dan
menjarah peralatan-peralatan itu," kata
Yayoen Wahyu, direktur teknik PT AP II.
Penduduk juga memanfaatkan parit
di sekeliling bandara untuk mencuci atau mandi. Padahal AP II sudah
membangun MCK tersendiri khusus bagi mereka. Daya tarik air yang jernih dan kawasan
yang lapang ternyata mengundang penduduk, yang umumnya masyarakat kecil,
untuk melanggar batas kawasan bandara.
"Kami sudah beberapa kali
memberikan penyuluhan dan sosialisasi dengan penduduk. Para lurah pun sudah
menjanjikan untuk menjaga kawasan bandara. Tetapi, begitulah kenyataannya,"
kata Yayoen. Tidak sedikit dana yang sudah dikeluarkan untuk sosialisasi itu, lebih
Rp 100 juta. "Kami tidak mungkin masuk lingkungan mereka dengan tangan kosong."
Air parit memang terlihat jernih
karena limbah dari pesawat dan restoran diolah dulu, ditampung dalam
stealing basin dan dialirkan melalui parit ke Kali
Dadap, selanjutnya ke laut. Dua stealing basin yang menampung 1,5 juta meter kubik
air itu ternyata menjadi sarana rekreasi seperti bersampan dan mancing,
juga dimanfaatkan untuk menyiram rumput.
Proyek yang berkaitan dengan
rumput di kawasan bandara tidak berbiaya kecil. "Biaya potong rumput dan
pemeliharannya bisa mencapai dua milyar rupiah per tahun," kata Miskul. Jadi,
dengan memanfaatkan air yang ada pun merupakan suatu keuntungan bagi
bandara. Keuntungan lain juga didapat dengan adanya lapangan golf, hotel dan wisma
yang segera dibangun. "Selain keindahan, dari lapangan golf akan mendapat
pemasukan yang tidak sedikit. PBB-nya bukan lagi
kita yang bayar, juga sebagian lapangan rumput bukan lagi kita yang memelihara."
Untung
Tiap tahun AP II memperoleh laba
tidak sedikit dan terus meningkat. Berturut-turut sejak tahun 1994 sampai 1998, laba
sebelum dipotong pajak mencapai Rp 89,4 milyar, Rp 98,4 milyar, Rp 139,2 milyar, Rp
384,4 milyar dan sekitar Rp 850 milyar. Laba tahun 1997 dan 1998 mencapai angka
tinggi karena kurs dollar AS yang sangat tinggi terhadap rupiah, walaupun pendapatan
dari penumpang dan frekuensi penerbangan menurun (internasional turun 30
persen dan domestik turun 40 persen) 70 persen pendapatan AP II berbasis dalam dollar AS.
"Prediksi keuntungan tahun 1999
lebih sedikit karena estimasi kurs dollar turun. Setelah ada revisi dengan sangat
signifikan, untungnya sekitar 500 milyar rupiah,"
kata Miskul. Di lain pihak, AP II tidak memiliki utang berarti. Hanya saat
pengadaan peralatan controller baru, di antaranya
radar dari Hughes, terdapat utang 11 juta dollar AS yang kini tinggal 8 juta dollar
AS. "Kalau kami bayar sekarang pun
bisa," tambah Miskul.
Dari pendapatan yang 70 persen
dalam dollar itu, 30 persen merupakan sumbangan dari Jasa Pelayanan Penerbangan
Udara (JP2U) atau overflying. FIR (Flight
Information Region) Jakarta yang dipantau di Soekarno-Hatta itu mencakup areal
yang luas, mencapai atas Semarang, Kalimantan Utara, juga sampai dekat Madras, India.
"FIR Jakarta itu paling luas dibandingkan FIR Bali, Ujungpandang dan Biak," katanya.
Privatisasi
AP II yang mengelola sembilan
bandara di kawasan barat Indonesia ini tahun 1999 ditargetkan untuk privatisasi.
"Sudah beberapa pihak dari berbagai pengelola bandara di dunia yang datang sebagai
strategic partner. Ada dari Airport de
Paris, Schipol, juga dari Jerman, British dan
Australia. Tapi semuanya masih berupa infomemo. Diharapkan akhir Maret
nanti terealisasi," ujar Miskul.
Bila hal itu terealisasi maka
pengelolaan seluruh aspek bandara, kecuali ATC,
akan dilakukan oleh joint company antara AP
II dan strategic partner itu. Pembagian sahamnya ditetapkan, 51 persen AP II
dan 49 persen strategic partner. "Jadi, kita
yang masih memegang keputusan." (nie)