ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Menepis Isu Bandara Tenggelam

Bandara Ditutup

Bandara Yang Tidak Diterbangi


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
BANDARA  

Menepis Isu Bandara Tenggelam

Kalau Bandara Soekarno-Hatta tenggelam karena banjir, maka kawasan Monas sudah lebih dulu menjadi 'danau'.

Letak kawasan Soekarno-Hatta di Cengkareng lebih tinggi daripada kawasan Thamrin atau Gambir di pusat kota Jakarta. Elevasi landasan pacu di selatan rata-rata 7,5 meter dan yang di utara rata-rata 9 meter dari permukaan laut. Sementara kawasan Monas hanya 4,5 meter dari permukaan laut.

"Ini untuk meluruskan berita-berita yang beredar. Yang katanya, karena dampak gejala alam La Nina, Soekarno-Hatta akan terkena banjir besar dan tenggelam," ujar Miskul Firdaus, direktur utama PT Angkasa Pura (AP) II.

Selain menepis isu bandara akan tenggelam, pihak AP II juga mengundang para wartawan untuk meninjau areal bandara dari sisi lain. Bus pun menembus sisi dalam bandara, terutama ke dekat kawasan yang bersentuhan dengan penduduk sekitar.

Dimanfaatkan penduduk

Sore itu, 13 Januari 1999, penduduk banyak berkeliaran di lapangan rumput di dalam areal bandara. Padahal di sekeliling kawasan sudah dipagar kawat setinggi 5 meter. "Ada saja jalan untuk menjebol pagar itu. Tiap kali dilas, tiap kali pula pagar itu dijebol," jelas Miskul. Bahkan jalan masuk bandara tidak hanya lewat pagar, tapi juga menggali tanah di bawah pagar.

Di samping penduduk dewasa, anak-anak lebih banyak lagi yang bermain-main. Sekelompok anak laki-laki remaja bermain bola. Mereka terlihat menikmati permainan, tidak was-was bahwa tempat bermainnya adalah kawasan yang diawasi. Di tempat lain terlihat anak-anak dan orang dewasa bermain layang-layang. Padahal sudah ada imbauan bahwa bermain layangan itu membahayakan penerbangan.

Anak-anak lain, laki-laki dan perempuan, berjalan-jalan atau hanya duduk-duduk di rumput. Mereka terlihat bergembira. Beberapa penduduk ada juga yang hanya menonton pesawat atau teman-temannya yang bermain itu, dari balik pagar.

"Kami tidak lagi mengusir mereka. Berapa banyak tenaga dan waktu untuk mencapainya? Padahal mereka tidak kapok-kapok. Tapi kami bisa mengawasinya melalui kamera yang tersebar di kawasan bandara. Bila masih di areal yang tidak membahayakan, kami tidak melakukan tindakan. Kecuali bila mereka sudah masuk atau melakukan tindakan yang membahayakan," kata Miskul.

Di sekeliling bandara terdapat 400 kamera starlight yang dapat berputar 180 derajat. Tapi terlihat beberapa peralatan pengamanan bandara itu rusak dan hilang. "Beberapa waktu lalu, sekawanan orang sempat juga masuk bandara dan menjarah peralatan-peralatan itu," kata Yayoen Wahyu, direktur teknik PT AP II.

Penduduk juga memanfaatkan parit di sekeliling bandara untuk mencuci atau mandi. Padahal AP II sudah membangun MCK tersendiri khusus bagi mereka. Daya tarik air yang jernih dan kawasan yang lapang ternyata mengundang penduduk, yang umumnya masyarakat kecil, untuk melanggar batas kawasan bandara.

"Kami sudah beberapa kali memberikan penyuluhan dan sosialisasi dengan penduduk. Para lurah pun sudah menjanjikan untuk menjaga kawasan bandara. Tetapi, begitulah kenyataannya," kata Yayoen. Tidak sedikit dana yang sudah dikeluarkan untuk sosialisasi itu, lebih Rp 100 juta. "Kami tidak mungkin masuk lingkungan mereka dengan tangan kosong."

Air parit memang terlihat jernih karena limbah dari pesawat dan restoran diolah dulu, ditampung dalam stealing basin dan dialirkan melalui parit ke Kali Dadap, selanjutnya ke laut. Dua stealing basin yang menampung 1,5 juta meter kubik air itu ternyata menjadi sarana rekreasi seperti bersampan dan mancing, juga dimanfaatkan untuk menyiram rumput.

Proyek yang berkaitan dengan rumput di kawasan bandara tidak berbiaya kecil. "Biaya potong rumput dan pemeliharannya bisa mencapai dua milyar rupiah per tahun," kata Miskul. Jadi, dengan memanfaatkan air yang ada pun merupakan suatu keuntungan bagi bandara. Keuntungan lain juga didapat dengan adanya lapangan golf, hotel dan wisma yang segera dibangun. "Selain keindahan, dari lapangan golf akan mendapat pemasukan yang tidak sedikit. PBB-nya bukan lagi kita yang bayar, juga sebagian lapangan rumput bukan lagi kita yang memelihara."

Untung

Tiap tahun AP II memperoleh laba tidak sedikit dan terus meningkat. Berturut-turut sejak tahun 1994 sampai 1998, laba sebelum dipotong pajak mencapai Rp 89,4 milyar, Rp 98,4 milyar, Rp 139,2 milyar, Rp 384,4 milyar dan sekitar Rp 850 milyar. Laba tahun 1997 dan 1998 mencapai angka tinggi karena kurs dollar AS yang sangat tinggi terhadap rupiah, walaupun pendapatan dari penumpang dan frekuensi penerbangan menurun (internasional turun 30 persen dan domestik turun 40 persen) 70 persen pendapatan AP II berbasis dalam dollar AS.

"Prediksi keuntungan tahun 1999 lebih sedikit karena estimasi kurs dollar turun. Setelah ada revisi dengan sangat signifikan, untungnya sekitar 500 milyar rupiah," kata Miskul. Di lain pihak, AP II tidak memiliki utang berarti. Hanya saat pengadaan peralatan controller baru, di antaranya radar dari Hughes, terdapat utang 11 juta dollar AS yang kini tinggal 8 juta dollar AS. "Kalau kami bayar sekarang pun bisa," tambah Miskul.

Dari pendapatan yang 70 persen dalam dollar itu, 30 persen merupakan sumbangan dari Jasa Pelayanan Penerbangan Udara (JP2U) atau overflying. FIR (Flight Information Region) Jakarta yang dipantau di Soekarno-Hatta itu mencakup areal yang luas, mencapai atas Semarang, Kalimantan Utara, juga sampai dekat Madras, India. "FIR Jakarta itu paling luas dibandingkan FIR Bali, Ujungpandang dan Biak," katanya.

Privatisasi

AP II yang mengelola sembilan bandara di kawasan barat Indonesia ini tahun 1999 ditargetkan untuk privatisasi. "Sudah beberapa pihak dari berbagai pengelola bandara di dunia yang datang sebagai strategic partner. Ada dari Airport de Paris, Schipol, juga dari Jerman, British dan Australia. Tapi semuanya masih berupa infomemo. Diharapkan akhir Maret nanti terealisasi," ujar Miskul.

Bila hal itu terealisasi maka pengelolaan seluruh aspek bandara, kecuali ATC, akan dilakukan oleh joint company antara AP II dan strategic partner itu. Pembagian sahamnya ditetapkan, 51 persen AP II dan 49 persen strategic partner. "Jadi, kita yang masih memegang keputusan." (nie)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media