Lazimnya pasukan komando dunia, membayangkan
saja malas rasanya. Profil yang sering dilansir media asing:
mengerikan, brutal, sadis, tidak manusiawi. Media
Inggris menyebut SAS savage and sadistic. Namun, sosok
kontroversial itu justru tak habis-habisnya mengilhami insan Hollywood.
Kualifikasi yang ketat serta operasi-operasinya yang
sering memasuki wilayah paling rahasia dari suatu negara,
menyebabkan markas pasukan komando sering dilihat sebagai
kawasan tertutup-terbatas. Kesan seram menempel kuat. Pasukan
yang seringkali menimbulkan kecemburuan kesatuan lain
karena keistimewaan fasilitas yang diberikan kepadanya, memang
satu detasemen kecil berkemampuan demolisi besar.
Dirunut ke belakang, ide pembentukkan pasukan
"kecil" bisa ditemukan dari antitesis pemikir militer Inggris
Liddell Hart (1920-1930) atas tesis Carl von Clausewitz, pemikir
militer Prusia. Hart menggarisbawahi nilai fleksibilitas dan
kejutan oleh pasukan yang relatif kecil, khusus, dipersenjatai
dengan baik, mampu bergerak cepat serta menyerang dengan
dahsyat dan bertindak sebagai inti dari setiap kekuatan daripada
serangan frontal yang sia-sia dari pasukan besar. Karena tujuan
perang, sambungnya, menaklukan kemauan musuh dengan
pengeluaran ekonomi dan manusia seminim mungkin.
Sejarah telah melahirkan doktrin
penting. Special forces kemudian menopang
supremasi sebuah negara. Di Indonesia, jenis
pasukan ini dimiliki AD (Kopassus), AL (Marinir), maupun AU (Paskhas). Di
dalamnya, biasanya, masih terdapat unit-unit lebih
kecil dengan kemampuan tinggi. Kopassus menyebutnya Detasemen-81,
Marinir melegendakan Detasemen Jala Menkara (Denjaka), dan Paskhas
membentuk Detasemen Bravo 90.
Panjang dan melelahkan jalan
dilewati prajurit, agar diakui sebagai prajurit
komando. Berbulan-bulan digodok fisik dan mental, diajarkan pertempuran dan penyerbuan
baik lewat darat, laut maupun udara. Korpaskhasau menghabiskan lima bulan untuk
membentuk seorang prajurit komando. Namun, bagaimana polanya ketika latihan
itu diberikan kepada perwira tinggi TNI AU berbintang satu?
Nostalgia komando
Wajah-wajah itu serius, terengah-engah. Beberapa
orang terpaksa dibopong agar mampu melewati rintangan.
Keringat mengucur deras dimuka "bapak-bapak marsekal pertama" itu.
Ya, 14 orang marsekal pertama TNI AU, selama dua hari dari
tanggal 15-16 Desember 1998, digojlok di kancah pembentukan
prajurit komando Paskhasau di Rancaupas, Kabupaten Bandung.
Materi menembak senapan menggunakan senapan M-16 dan SS-1,
dan menembak pistol, harus dilewati.
Peristiwa menggelikan terjadi kala menembak
pistol berlangsung. Saat peluru pistol Sig Sauer buatan
Jerman berseliweran hanya beberapa sentimeter di atas permukaan
tanah (menembak tiarap), tiga ekor ayam melintas di lapangan. Ajaib,
tak seekor pun kena. Padahal, itu peluru tajam.
Tidak semua berhasil membidik sasaran dengan baik.
"Padahal saya sudah praktekkan teori nabitepi (napas, bidik, tekan,
picu) itu," kata Teddy Sumarno. Secara keseluruhan, Teddy
Sumarno (Danlanud Halim) dan Bachrum Rasir (Kadispenau)
memperoleh hasil terbaik.
Sekitar jam 15.00 sore, rombongan bergerak menuju
Rancaupas. Dalam pendidikan komando Paskhas, penjalanan ke
Rancaupas ini dilakukan berjalan kaki dari Margahayu, markas komando
Paskhas. Di areal milik Perhutani yang kalau malam
suhunya mencapai 10 derajat Celcius 7-8 derajat di musim kemarau
mereka direndam dalam air. Latihan diberikan supaya
prajurit tahan terhadap siksaan alam yang terkadang sangat ekstrim
(dingin atau panas). Perang Dunia I telah memberikan pelajaran
berharga kepada ahli strategi perang untuk tidak meremehkan cuaca
jika menggelar pasukan. Untuk mengingatkan, 60.000 prajurit
tewas membeku sebelum atau setelah bertempur di pegunungan
Alpen selama PD I.
Mendekati Rancaupas, rombongan sambil menyandang
ransel dan senapan, memasukki kancah penggodokkan
komando. Rentetan tembakan AK-47 dan ledakan TNT membahana di
lereng bukit. Malam itu, rombongan menginap di
bivak (tenda). Dinginnya Rancaupas membuat malam semakin panjang. Beberapa
peserta karena tidak tahan, berlaku aneh-aneh untuk mengusir
dingin. Kepala pun masuk ke dalam ransel.
Jam 05.00 WIB, rombongan kembali dikagetkan
ledakkan TNT cara lazim digunakan dalam pendidikan militer
untuk membangunkan siswa. Sekitar jam 07.00, "siswa
komando" bergerak menyusuri punggung bukit Tekukur. Di hari kedua
ini, kegiatan yang harus diselesaikan adalah naik togel (naik
sambil berpegangan pada tali), navigasi, hesti (turun pada
kemiringan sambil berpegang pada tali), titian tali dua, bahan peledak,
baca jejak, sandungan (ranjau), doper (merangkak di rawa
sambil ditembaki dari menara), jaring pendarat, survival, dan
penembakkan senapan mesin berat Browning 12,7 DSHK.
Itulah akhirnya. Rintangan yang dihadapi para marsekal
ini memang sangat jauh di bawah standar kualifikasi
komando. Namun, para marsekal ini mengutarakan
kebahagiaannya mengikuti latihan komando. "Mengingatkan saya pada 30
tahun lalu ketika masih taruna," kata Achmad Hasan Sadjad
dari Kohanudnas.
Kekuatan pasukan terletak pada semangatnya.
Pertempuran, sesungguhnya, dimenangkan lewat sesuatu yang tak
berwujud yang disebut moral: keyakinan dalam dada prajurit bahwa ia
akan menang atau kalah.
Siangnya, ke-14 perwira tinggi ini mendapat penyematan
brevet komando dan baret jingga dari Dankorpaskhasau Marsma
TNI Nanok Suratno. Keempat belas marsma berturut-turut
Mashadi Mulyadi, Suwitno Adi, Gaharudin Gunawan, Haryadi, Gatot
P Pralebda, Teddy Sumarno, Achmad Hasan Sadjad, Tatang N,
Hadi Susanto, Sudiarso, Eko Edi Santoso, Bachrum Rasir, JR Kalalo,
dan Suratto. Semoga, moral komando mengalir dalam darah
para marsekal ini.(ben)