ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Mengalirkan Darah Komando

TOTO RIYANTO, PENASEHAT MILITER RI DI PBB

KASAU SANTUNI JONNES SITUMORANG

OMAR DHANI HADIR DI WISMA ANGKASA

RILO PAMBUDI DUBES RI DI SPANYOL


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
CAKRAWALA  

Mengalirkan Darah Komando

Lazimnya pasukan komando dunia, membayangkan saja malas rasanya. Profil yang sering dilansir media asing: mengerikan, brutal, sadis, tidak manusiawi. Media Inggris menyebut SAS savage and sadistic. Namun, sosok kontroversial itu justru tak habis-habisnya mengilhami insan Hollywood.

Kualifikasi yang ketat serta operasi-operasinya yang sering memasuki wilayah paling rahasia dari suatu negara, menyebabkan markas pasukan komando sering dilihat sebagai kawasan tertutup-terbatas. Kesan seram menempel kuat. Pasukan yang seringkali menimbulkan kecemburuan kesatuan lain karena keistimewaan fasilitas yang diberikan kepadanya, memang satu detasemen kecil berkemampuan demolisi besar.

Dirunut ke belakang, ide pembentukkan pasukan "kecil" bisa ditemukan dari antitesis pemikir militer Inggris Liddell Hart (1920-1930) atas tesis Carl von Clausewitz, pemikir militer Prusia. Hart menggarisbawahi nilai fleksibilitas dan kejutan oleh pasukan yang relatif kecil, khusus, dipersenjatai dengan baik, mampu bergerak cepat serta menyerang dengan dahsyat dan bertindak sebagai inti dari setiap kekuatan daripada serangan frontal yang sia-sia dari pasukan besar. Karena tujuan perang, sambungnya, menaklukan kemauan musuh dengan pengeluaran ekonomi dan manusia seminim mungkin.

Sejarah telah melahirkan doktrin penting. Special forces kemudian menopang supremasi sebuah negara. Di Indonesia, jenis pasukan ini dimiliki AD (Kopassus), AL (Marinir), maupun AU (Paskhas). Di dalamnya, biasanya, masih terdapat unit-unit lebih kecil dengan kemampuan tinggi. Kopassus menyebutnya Detasemen-81, Marinir melegendakan Detasemen Jala Menkara (Denjaka), dan Paskhas membentuk Detasemen Bravo 90.

Panjang dan melelahkan jalan dilewati prajurit, agar diakui sebagai prajurit komando. Berbulan-bulan digodok fisik dan mental, diajarkan pertempuran dan penyerbuan baik lewat darat, laut maupun udara. Korpaskhasau menghabiskan lima bulan untuk membentuk seorang prajurit komando. Namun, bagaimana polanya ketika latihan itu diberikan kepada perwira tinggi TNI AU berbintang satu?

Nostalgia komando

Wajah-wajah itu serius, terengah-engah. Beberapa orang terpaksa dibopong agar mampu melewati rintangan. Keringat mengucur deras dimuka "bapak-bapak marsekal pertama" itu. Ya, 14 orang marsekal pertama TNI AU, selama dua hari dari tanggal 15-16 Desember 1998, digojlok di kancah pembentukan prajurit komando Paskhasau di Rancaupas, Kabupaten Bandung. Materi menembak senapan menggunakan senapan M-16 dan SS-1, dan menembak pistol, harus dilewati.

Peristiwa menggelikan terjadi kala menembak pistol berlangsung. Saat peluru pistol Sig Sauer buatan Jerman berseliweran hanya beberapa sentimeter di atas permukaan tanah (menembak tiarap), tiga ekor ayam melintas di lapangan. Ajaib, tak seekor pun kena. Padahal, itu peluru tajam.

Tidak semua berhasil membidik sasaran dengan baik. "Padahal saya sudah praktekkan teori nabitepi (napas, bidik, tekan, picu) itu," kata Teddy Sumarno. Secara keseluruhan, Teddy Sumarno (Danlanud Halim) dan Bachrum Rasir (Kadispenau) memperoleh hasil terbaik.

Sekitar jam 15.00 sore, rombongan bergerak menuju Rancaupas. Dalam pendidikan komando Paskhas, penjalanan ke Rancaupas ini dilakukan berjalan kaki dari Margahayu, markas komando Paskhas. Di areal milik Perhutani yang kalau malam suhunya mencapai 10 derajat Celcius 7-8 derajat di musim kemarau mereka direndam dalam air. Latihan diberikan supaya prajurit tahan terhadap siksaan alam yang terkadang sangat ekstrim (dingin atau panas). Perang Dunia I telah memberikan pelajaran berharga kepada ahli strategi perang untuk tidak meremehkan cuaca jika menggelar pasukan. Untuk mengingatkan, 60.000 prajurit tewas membeku sebelum atau setelah bertempur di pegunungan Alpen selama PD I.

Mendekati Rancaupas, rombongan sambil menyandang ransel dan senapan, memasukki kancah penggodokkan komando. Rentetan tembakan AK-47 dan ledakan TNT membahana di lereng bukit. Malam itu, rombongan menginap di bivak (tenda). Dinginnya Rancaupas membuat malam semakin panjang. Beberapa peserta karena tidak tahan, berlaku aneh-aneh untuk mengusir dingin. Kepala pun masuk ke dalam ransel.

Jam 05.00 WIB, rombongan kembali dikagetkan ledakkan TNT cara lazim digunakan dalam pendidikan militer untuk membangunkan siswa. Sekitar jam 07.00, "siswa komando" bergerak menyusuri punggung bukit Tekukur. Di hari kedua ini, kegiatan yang harus diselesaikan adalah naik togel (naik sambil berpegangan pada tali), navigasi, hesti (turun pada kemiringan sambil berpegang pada tali), titian tali dua, bahan peledak, baca jejak, sandungan (ranjau), doper (merangkak di rawa sambil ditembaki dari menara), jaring pendarat, survival, dan penembakkan senapan mesin berat Browning 12,7 DSHK.

Itulah akhirnya. Rintangan yang dihadapi para marsekal ini memang sangat jauh di bawah standar kualifikasi komando. Namun, para marsekal ini mengutarakan kebahagiaannya mengikuti latihan komando. "Mengingatkan saya pada 30 tahun lalu ketika masih taruna," kata Achmad Hasan Sadjad dari Kohanudnas.

Kekuatan pasukan terletak pada semangatnya. Pertempuran, sesungguhnya, dimenangkan lewat sesuatu yang tak berwujud yang disebut moral: keyakinan dalam dada prajurit bahwa ia akan menang atau kalah.

Siangnya, ke-14 perwira tinggi ini mendapat penyematan brevet komando dan baret jingga dari Dankorpaskhasau Marsma TNI Nanok Suratno. Keempat belas marsma berturut-turut Mashadi Mulyadi, Suwitno Adi, Gaharudin Gunawan, Haryadi, Gatot P Pralebda, Teddy Sumarno, Achmad Hasan Sadjad, Tatang N, Hadi Susanto, Sudiarso, Eko Edi Santoso, Bachrum Rasir, JR Kalalo, dan Suratto. Semoga, moral komando mengalir dalam darah para marsekal ini.(ben)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media