ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Kokpit


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
KOKPIT  

Kokpit

Sekalipun puncak hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1419H telah berselang, namun suasana saat majalah kita ini terbit, masihlah dalam suasana halal bil halal. Suasana di mana kita masing-masing saling menyampaikan permohonan maaf lahir maupun batin. Karena itu sudah pada tempatnya pula bagi kami, para pengelola Angkasa untuk juga menyampaikan permohonan maaf lahir batin kepada segenap pembaca budiman. Karena hanya dengan saling meminta dan memberikan maaf itu, kita sebagai individu maupun kelompok atau bangsa, diharapkan dapat menjalankan segala kegiatan kita dalam suasana dan semangat yang baru, yang bersih, dan lebih lapang. Dengan itu pula diharapkan kita dalam posisi dan peranan masing-masing, sebesar atau pun sekecil apa pun, mampu memberikan yang terbaik bagi perbaikan dan pulihnya bangsa dan negara kita dari lilitan keprihatinan dewasa ini.

Apabila dikatakan prihatin, maka rasanya hal itu tidak berlebihan. Kita telah dilanda krisis ini sejak medio 1997, namun hingga sekarang belum menunjukkan tanda-tanda konkret mengenai segera berbaliknya ke kondisi normal. Dibandingkan dengan sejumlah negara Asia yang juga terkena krisis, maka kita pulalah yang sampai saat ini masih dinilai paling parah. Beberapa negara Asia dianggap telah melewati puncak krisis mereka, dan mulai bergerak ke arah pulihnya kondisi, seperti Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Mengingat itu, rasanya kini menjadi momentum tepat bagi kita semua untuk semakin memperkecil jurang perbedaan pendapat mengenai apa yang terbaik buat bangsa dan negara. Hanya dengan semangat persatuan dan kesatuan itu, kita cepat atau lambat akan dapat keluar dari himpitan krisis ini.

Himpitan itu di bidang kedirgantraan kita pun juga makin terasa. Kemampuan operasional dan pelayanan maskapai penerbangan nasional kita makin menipis, mobilitas masyarakat dan barang melalui udara juga tidak sepadat dahulu, kemampuan IPTN sebagai industri kedirgantaraan nasional makin terpuruk, dan bahkan untuk TNI-AU sebagai pengawal dan penegak kedaulatan RI di udara pun bukannya tidak ada kendala. Pembatalan pembelian pesawat tempur Su-30 hanya merupakan satu contoh pengetatan ikat pinggang, yang tentunya mempengaruhi atau setidaknya memperlamban postur peningkatan kemampuan dan daya tangkal TNI-AU.

Namun sebagai bangsa yang sudah berusia setengah abad lebih dan pernah mengalami cobaan-cobaan sebelumnya, kita harus yakin bahwa himpitan tadi tentu akhirnya harus bisa kita kendurkan, dan selanjutnya kita buang. Tetapi kapan, ini merupakan persoalan sangat penting. Karena makin lama kita gagal membuang himpitan tadi, berarti kita akan tertinggal lebih jauh dari bangsa-bangsa atau negara lain di sekitrar kita dengan segala dampaknya. Oleh sebab itu, merupakan komitmen bagi kita masing-masing, apa pun posisi dan profesinya, untuk memberikan yang terjujur dan terbaik bagi pulihnya kondisi kita sebagai bangsa dan negara yang tetap bersatu. Kita sudah merindukan dapat terbang, mengangkasa lagi tanpa rintangan di langit nusantara yang jernih biru ini.

Redaksi



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media