Siapa duga nasib orang. Gadis desa dari Kabupaten
Sengkang sejauh 300 kilometer dari Kota Ujungpandang, hijrah ke Surabaya bermodalkan suara. Lantas, kandas di Jakarta.
Begini ceritanya. Suatu hari, tahun 1992, dia diundang ke Jakarta
untuk ambil suara. Kebetulan, di tempat sama, sedang
berlangsung seleksi penyanyi untuk mengikuti kampanye Golkar.
Ternyata, artisnya kurang. Keruan saja mata produser tertuju
padanya. Singkat kata, dengan jet pribadi dia meloncat dari kota ke
kota "menyuarakan" Golkar. Dari perjalanan panjang itu,
pelahap buku-buku otobiografi dan agama ini jadi dekat
dengan Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara kabinet Orba.
"Siapa duga nasib saya berjodoh dengan Bapak," kata
Machica Mochtar, ditemani si buah hati Muhammad Iqbal Ramadhan.
Anak ketiga dari sembilan bersaudara kelahiran 20
Maret 1970 ini, bertutur panjang lebar mulai soal penerbangan
sampai reformasi. "Banyak yang lupa kacang dari kulit," jelas
artis dangdut yang akrab dipanggil Cica ini melihat perilaku
tokoh-tokoh politik saat ini. Berikut petikannya ketika
menerima Beny Adrian:
n: Bagaimana kehidupan pribadi Anda sekarang?
n:Beginilah. Bahagia, mesti banyak suara sumbang
soal kehidupan pribadi saya. Saya cukup di sini saja
(Bintaro-Red), nggak usah di Pondok Indah.
n: Dengan kondisi sekarang, masih sempat naik pesawat?
n: Kalau tidak mendesak, ngapain juga. Bayangkan,
ke Ujungpandang sekarang Rp 1,4 juta. Siapa yang kuat. Kalau
naik kapal laut, bisa dua hari. Jadi situasinya berubah drastis.
Memang dua-tiga tahun lalu, kita rasanya kaya sekali. Pokoknya
enak deh. Sekarang, tiket mahal, penerbangannya pun belum
tentu ada di setiap rute.
n: Tapi enak dong, bisa naik jet pribadi?
n: Enak sih naik jet pribadi, nyaman dan ekslusif. Tapi
jujur, saya ngeri sekali. Habis, pesawatnya kecil, kalau
melewati cuaca buruk saya sampai keringat dingin. Beda dengan
pesawat komersial (Cica menyebut Boeing-Red), saya yakin dan
tak khawatir. Kalau naik jet pribadi itu seperti main-main
saja, kayak naik jet coaster yang di Ancol itu,
lho.
n: Meski sedang krismon, tetapi Anda masih sempat ke
luar negeri kan?
n: Ya, diantaranya ke Jepang.
n: Kesannya?
n: Saya hanya bisa mengomentari soal pelayanan, ya.
Pengalaman saya, Garuda dan Sempati masih bagus. Saya
pernah terbang dari Fukuoka ke Tokyo. Memang penerbangannya tidak sampai satu jam, tapi masa
sekadar snack tidak dikasih, sih. Mana saya belum
makan. Saya hanya bisa menggerutu, dasar Jepang.
n: Berarti kita lebih baik?
n: Tidak juga. Ini pengalaman lagi. Saya mau
show ke daerah pakai Garuda. Waktu
boarding di Cengkareng, petugasnya cuma satu sementara yang antri panjang
sekali. Akhirnya apa, saya ditinggal pesawat. Pesawat kan
nggak mungkin menunggu saya. Bukan apa-apa juga, kasihan yang
jemput saya di bandara. Mereka biasanya dari desa.
n: Ngomong-ngomong, permintaan pementasan masih banyak?
n: Sepi. Kalau dulu bisa 20 kota dalam dua bulan. Sekarang, dua-tiga saja dalam
sebulan belum tentu.
Dok. CITRA