ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Jet Pribadi Kayak Jet Coaster


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
LOBI  

Machica Mochtar:
Jet Pribadi Kayak Jet Coaster


Siapa duga nasib orang. Gadis desa dari Kabupaten Sengkang sejauh 300 kilometer dari Kota Ujungpandang, hijrah ke Surabaya bermodalkan suara. Lantas, kandas di Jakarta. Begini ceritanya. Suatu hari, tahun 1992, dia diundang ke Jakarta untuk ambil suara. Kebetulan, di tempat sama, sedang berlangsung seleksi penyanyi untuk mengikuti kampanye Golkar. Ternyata, artisnya kurang. Keruan saja mata produser tertuju padanya. Singkat kata, dengan jet pribadi dia meloncat dari kota ke kota "menyuarakan" Golkar. Dari perjalanan panjang itu, pelahap buku-buku otobiografi dan agama ini jadi dekat dengan Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara kabinet Orba. "Siapa duga nasib saya berjodoh dengan Bapak," kata Machica Mochtar, ditemani si buah hati Muhammad Iqbal Ramadhan.

Anak ketiga dari sembilan bersaudara kelahiran 20 Maret 1970 ini, bertutur panjang lebar mulai soal penerbangan sampai reformasi. "Banyak yang lupa kacang dari kulit," jelas artis dangdut yang akrab dipanggil Cica ini melihat perilaku tokoh-tokoh politik saat ini. Berikut petikannya ketika menerima Beny Adrian:

n: Bagaimana kehidupan pribadi Anda sekarang?

n:Beginilah. Bahagia, mesti banyak suara sumbang soal kehidupan pribadi saya. Saya cukup di sini saja (Bintaro-Red), nggak usah di Pondok Indah.

n: Dengan kondisi sekarang, masih sempat naik pesawat?

n: Kalau tidak mendesak, ngapain juga. Bayangkan, ke Ujungpandang sekarang Rp 1,4 juta. Siapa yang kuat. Kalau naik kapal laut, bisa dua hari. Jadi situasinya berubah drastis. Memang dua-tiga tahun lalu, kita rasanya kaya sekali. Pokoknya enak deh. Sekarang, tiket mahal, penerbangannya pun belum tentu ada di setiap rute.

n: Tapi enak dong, bisa naik jet pribadi?

n: Enak sih naik jet pribadi, nyaman dan ekslusif. Tapi jujur, saya ngeri sekali. Habis, pesawatnya kecil, kalau melewati cuaca buruk saya sampai keringat dingin. Beda dengan pesawat komersial (Cica menyebut Boeing-Red), saya yakin dan tak khawatir. Kalau naik jet pribadi itu seperti main-main saja, kayak naik jet coaster yang di Ancol itu, lho.

n: Meski sedang krismon, tetapi Anda masih sempat ke luar negeri kan?

n: Ya, diantaranya ke Jepang.

n: Kesannya?

n: Saya hanya bisa mengomentari soal pelayanan, ya. Pengalaman saya, Garuda dan Sempati masih bagus. Saya pernah terbang dari Fukuoka ke Tokyo. Memang penerbangannya tidak sampai satu jam, tapi masa sekadar snack tidak dikasih, sih. Mana saya belum makan. Saya hanya bisa menggerutu, dasar Jepang.

n: Berarti kita lebih baik?

n: Tidak juga. Ini pengalaman lagi. Saya mau show ke daerah pakai Garuda. Waktu boarding di Cengkareng, petugasnya cuma satu sementara yang antri panjang sekali. Akhirnya apa, saya ditinggal pesawat. Pesawat kan nggak mungkin menunggu saya. Bukan apa-apa juga, kasihan yang jemput saya di bandara. Mereka biasanya dari desa.

n: Ngomong-ngomong, permintaan pementasan masih banyak?

n: Sepi. Kalau dulu bisa 20 kota dalam dua bulan. Sekarang, dua-tiga saja dalam sebulan belum tentu.

Dok. CITRA



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media