Memasuki tahun 1950, peluru-peluru kendali permukaan-ke-udara
(surface-to-air), permukaan-ke-permukaan
(surface-to-surface) dan udara-ke-permukaan (air-to-surface), termasuk peluru kendali yang diluncurkan
dari bawah laut, telah menjadi bagian yang penting dalam penyusunan
kekuatan perang negara-negara maju. Permukaan disini dimaksudkan adalah air
atau daratan, dan selanjutnya peluru kendali lebih dikenal dengan istilah rudal.
Penggunaan pesawat terbang untuk ke- perluan operasi taktis, masih dikembangkan namun penggunaannya menjadi berkurang seiring dengan menurunnya
konflik yang menyebabkan terjadinya perang setelah tahun 1950-an.
Pada saat Amerika Serikat (AS) terlibat perang Korea, angkatan udaranya
masih menggunakan pesawat-pesawat propeller peninggalan perang dunia kedua,
yang kemudian mengembangkan penggunaan pesawat-pesawat terbang bermesin
jet seperti F-80 dan F-86 untuk dapat mengimbangi pesawat MiG-15 buatan Rusia
yang kemudian terkenal sebagai ajang perang udara pertama di dunia bagi
pesawat-pesawat bermesin jet.
Ajang perang ini dapat berkembang optimal, karena dengan
pertimbangan politis, maka angkatan udara dan
satuan udara Angkatan Laut AS, dibatasi hanya dapat melaksanakan operasi-operasi
penyekatan, yang tujuannya untuk membatasi ruang gerak pasukan musuh,
memutuskan jalur logistiknya dengan melaksanakan penembakan udara-ke-darat dan
atau pengeboman.
MiG Alley
Dengan demikian tidaklah dapat dikaji lebih mendalam kekuatan sebenarnya
dari keunggulan pesawat-pesawat terbang AS terhadap pesawat-pesawat tempur
Rusia, namun banyak para pengamat militer melihat dalam ajang perang Korea
ini sebenarnya pesawat-pesawat tempur Uni Soviet (sekarangRusia) sudah
terlihat setingkat lebih unggul dalam kemampuan manuver pada panggung perang udara.
Rusia pada perang Korea, menggunakan Yak-9 dan MiG-15
Fagot yang oleh AS sendiri pada saat itu dijuluki sebagai
"the best fighter in the world" melihat
kemampuannya yang luar biasa pada saat melakukan air-to-air combat. Demikian
tinggi kemampuannya, sampai ada satu area di udara barat Korea dinamakan "MiG
Alley" karena daerah tersebut dikawal ketat
oleh MiG-15 tidak bisa ditembus oleh pesawat-pesawat AS.
Sementara itu AS sendiri pada perang Korea menggunakan F-82
Twin Mustang, P-51, F-80, F-84
Thunderjet, F-86 Sabre dan B-29. Diakhir perang, AS
mengklaim telah menjatuhkan 918 pesawat musuh dan kehilangan 147 pesawatnya.
Tentunya Rusia memiliki angka-angka yang jauh berbeda dan berlawanan dengan
pernyataan resmi Amerika yang dipublikasikan
kepada umum.
Vietnam
Pada ajang perang Vietnam, persenjataan telah makin berkembang termasuk
penggunaan pesawat-pesawat tempur jet yang bahkan telah memasuki era jet
supersonik. AS menggunakan F-105 dan F-4
Phantom untuk menghadapi pesawat Rusia yang terdiri dari MiG-17 dan MiG-21.
Pada perang Vietnam inilah untuk pertama kali digunakan secara
besar-besaran surface-to-air missile (SAM) sebagai
salah satu komponen penting dalam sistim pertahanan udara. Teknologi
elektronik juga menjadi sangat berpengaruh dalam perang ini dengan mulai banyak
digunakannya bom laser-guided maupun yang
optically-guided. Demikian pula penggunaan sistem deteksi rudal serta
radar-jamming countermeasures. Juga roket
baik yang air-to-air maupun yang air-to-ground.
Penggunaan kapal induk sebagai pangkalan pesawat-pesawat tempur
menjadi begitu berperan dibanding dengan apa yang dilakukan pada Perang Dunia
Kedua. Disamping itu dalam Perang Vietnam inilah dikembangkan sistem pengisian
bahan bakar pesawat di udara oleh pesawat terbang tanker sebagai upaya AS dalam
meningkatkan radius of action serta kemampuan
manuver pesawat-pesawat tempurnya dalam melawan pesawat-pesawat produk Rusia.
Dalam ajang Perang Vietnam terlihat AS agak kewalahan dalam
menghadapi keampuhan pesawat-pesawat tempur buatan Rusia. Untuk air-to-air combat
Vietnam menggunakan MIG-17 dan MiG-19, sementara AS mengandalkan F-4
Phantom-nya. Pesawat AS lainnya yang banyak terlibat dalam perang Vietnam antara
lain F-100, OV-10 Bronco, C-123, C-130 dan
C-7 Trash Haulers, selain itu digunakan
pula F-105, F-111 dan B-52 sebagai pembom.
Pada Perang Vietnam ini pulalah pesawat helikopter meningkat menjadi
senjata tempur yang signifikan dengan pengembangan perannya dalam misi-misi
observasi, combat tactical transport dan
combat medical evacuation.
Tercatat pula dalam perang Vietnam ini, pengembangan pesawat C-47
Dakota yang dipersenjatai senapan mesin
kaliber 12,7 mm di ekornya, sangat banyak membantu gerakan pasukan darat di
bawah, pesawat ini dikenal kemudian dengan C-47
gun-ship.
Pada perang ini Rusia menggelar 2.300 surface-to-air missiles, ribuan
penangkis serangan udara berbagai kaliber serta
tidak kurang dari 180 pesawat MiG.
Perang Teluk
Pada bulan Januari 1991, peranan kekuatan udara dalam perang modern
secara spektakuler didemonstrasikan dalam perang di Teluk Persia yang
kemudian populer dengan nama Perang Teluk. Penyerangan yang langsung
dilaksanakan jauh ke garis belakang Irak dengan
misi menghancurkan sasaran-sasaran penting seperti pusat komando dan
pengendalian (Kodal) Saddam Hussein termasuk di dalamnya Kodal sistem pertahanan
udara nasional Irak, fasilitas komunikasi, depo-depo perbekalan logistik serta
kedudukan markas pasukan elit Irak. Dengan demikian, keunggulan di udara segera
beralih kepada kekuatan pasukan Koalisi yang segera memudahkan gerakan pasukan
darat untuk tanpa kerja keras dapat mengambil alih kekuatan di Irak serta
membebaskan kembali Kuwait.
Penyerangan awal menggunakan rudal
Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang AL di Teluk Persia, seiring
dengan itu pesawat-pesawat F-117A pembom yang tidak dapat terdeteksi radar
melaksanakan misinya menghancurkan sasaran dengan menggunakan
smart bomb yang laser-guided. Bersamaan dengan itu dalam
misi yang sama beroperasi F-4G Wild Weasel yang dilengkapi dengan HARM
anti-radar missiles.
Demikianlah pada menit-menit pertama sudah dapat dilumpuhkan
efektivitas instalasi sistem pertahanan udara modern
Irak dan dengan demikian memudahkan bergeraknya pesawat-pesawat tempur
lain Koalisi seperti F-14, F-15 dan F-16 serta pembom F/A-18 yang segera
menciptakan air superiority. A-10
Thunderbolt yang dilengkapi Gatling-gun dengan
heat seeking atau rudal dengan optically
guided Maverick melaksanakan operasi
bantuan tembakan udara bagi unit pasukan tempur darat dengan menghancurkan
kendaraan-kendaraan tempur Irak.
Helikopter-helikopter AH-64 Apache dan AH-1
Cobra menembakkan rudal Hellfire dengan laser-guided untuk
menghancurkan tank-tank di darat dengan tuntunan dari pengamat di darat maupun dari
helikopter pandu di udara. Seluruh pengendalian operasi serangan awal ini
dibantu data yang diperoleh dari pengamatan E-3A AWACS yang mempunyai fasilitas
canggih dengan memanfaatkan data dari hubungan yang melekat dengan satelit
Pentagon. Tidak kurang pula peran dari pembom tua B-52 yang telah diperpanjang usianya.
Pesawat-pesawat lainnya yang terlibat dalam Perang Teluk ini antara lain
lebih kurang 500 MiG-29 dan Mirage F-1s buatan Perancis. Selama lebih kurang lima
minggu Perang Teluk telah dilaksanakan 88.000 misi tempur dan lebih dari 90.000 ton
bom yang telah dijatuhkan.
Pada operasi Badai Gurun ini, AU AS telah mengerahkan pesawat
tankernya dengan penerbangan sebanyak 15.000
sorties dengan mengisi tidak kurang dari 46.000 pesawat. Sementara itu
pesawat-pesawat angkut mereka yang terdiri dari C-130, C-141 dan C-5
Galaxy telah mengangkut sebanyak 482.000 personil serta
lebih dari 515.000 ton kargo angka yang fantastis ini merupakan empat kali
lebih banyak dari apa yang dilakukan pada Berlin Airlift sepanjang tahun antara
1948-1949 selama 15 bulan.
Secara keseluruhan perang Teluk telah melibatkan lebih dari 2.600 pesawat
terbang yang 1.900 diantaranya adalah pesawat dari Amerika Serikat
(Chappy Hakim, dari berbagai sumber)