ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

GENERASI TERBARU MiG MUNCUL

PESAWAT ANGKASA BARU

MENGURANGI KEBISINGAN

AIRBUS MENCAPAI TUJUANNYA


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
NOTAM  



GENERASI TERBARU MiG MUNCUL

Dalam suatu upacara yang meriah, Rusia membuka selubung pesawat tempur MiG generasi terbaru, yang dianggap sebagai tandingan dari pesawat tempur tercanggih AS, F-22 Raptor. Pesawat yang diperkenalkan untuk umum 12 Januari di sebuah pangkalan udara bersalju dekat Moskwa itu belum diterbangkan. Pesawat ini dinamakan MFI, singkatan dari kata bahasa Rusia multifunktsionalny instrebitel yang artinya adalah pesawat tempur multiperan. Pihak pembuatnya, MAPO-MiG menyatakan pesawat terbarunya ini akan mampu menandingi bahkan mengalahkan kinerja F-22. Seperti halnya pesawat AS itu, pesawat Rusia ini juga mempunyai sistem thrust vectoring, yang antara lain memungkinkan pesawat ini berbelok lebih tajam. Selain itu pesawat ini juga berkemampuan stealth, sulit ditangkap radar karena bentuk maupun material kompositnya. Pesawat ini digerakkan dua mesin Saturn/Lyulka AL-41F, dan mampu melakukan penerbangan jarak jauh dalam kecepatan supersonik antara Mach 1.6 dan 1.8 tanpa afterburner. Perancang utama MFI, Mikhail Korzhuyev mengatakan, pesawatnya akan diterbangkan pertama kali bulan Februari. Pesawat ini mulai dikembangkan tahun 1980-an, dan pengenalannya pertama kepada umum ini diduga untuk menarik perhatian soal pendanaannnya. Pemerintah diharapkan menyediakan dana untuk uji coba maupun pengembangan model-model MFI selanjutnya. Kabarnya, Cina menaruh perhatian dan bersedia menawarkan dana untuk pengembangan dan produksi bersama pesawat tempur tercanggih Rusia ini. Sebelumnya, program pengembangan pesawat ini yang di kalangan Barat dikenal sebagai "Proyek 1.42" itu sangat dirahasiakan, bahkan rencana pengenalannya untuk umum pun ditunda beberapa kali. (rb)

FREKUENSI RADIO DAN JASA TELKOM

Departemen Perhubungan memberlakukan biaya penggunaan dan penyelenggaraan jasa frekuensi radio dan jasa telekomunikasi (jastel) sesuai Keputusan Menhub No. KM 75 Tahun 1998 yang merupakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Demikian siaran pers departemen perhubungan, Desember lalu. Sebelumnya, untuk hal tersebut berlaku Keputusan Menparpostel No. KM 263/KU.056/MPTT-1991 tentang Petunjuk Pelaksanaan Administrasi Keuangan Pengelolaan Biaya Hak Penggunaan Frekuensi Radio dan Keputusan Menparpostel No. KM 48/KU.056/MPPT-1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Administrasi Keuangan Pengelolaam Biaya Hak Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi, yang kini tidak berlaku lagi. Para pengguna jasa dapat menyetor langsung biaya tersebut ke dalam rekening kas negara melalui rekening bendahara penerima pada bank pemerintah. Atau pelanggan menyetor langsung kepada bendaharawan penerima setelah menerima surat pemberitahuan pembayaran pada proses perizinan frekuensi radio dari Ditjen Postel. Untuk penyelenggaraan jastel dikenakan biaya hak penggunaan (BHP) jastel sebesar 1 persen dari pendapatan operasi sesuai peraturan yang berlaku. Penerimaan BHP tersebut akan digunakan untuk biaya pembinaan, pengawasan dan kegiatan operasional Ditjen Postel dan Kanwil Dephub. (nie)

KEUNTUNGAN BUMN MASIH KECIL

Kinerja BUMN masih di bawah standar meski sudah banyak tujuan yang telah dicapai dengan memberikan sumbangan besar terhadap pembangunan nasional. Namun hal itu dicapai dengan penggunaan biaya yang besar dan berlebihan. Meneg Pendayaagunaan BUMN Tanri Abeng mengungkapkan hal itu dalam acara peluncuran buku "Masterplan untuk Reformasi Badan Usaha Milik Negara", pertengahan Desember lalu di Jakarta. Bahkan, katanya, sebelum terjadi krisis moneter tahun 1997, lebih dari setengah BUMN yang ada memiliki kinerja yang kurang memuaskan. Tahun itu, dari 160 BUMN hanya menghasilkan keuntungan Rp 11,8 trilyun dari Rp 462 trilyun modal yang ditanam. Itu berarti hanya menghasilkan tingkat kembalian sebesar 2,6 persen. Dengan tingkat kembalian sekecil itu, maka sangat sulit untuk mendukung keadaan sekarang yang sulit ini, mengingat biaya modal selama periode tersebut sekurang-kurangnya 10 kali dari tingkat kembalian tersebut. Maka pada era ini perlu ada reformasi BUMN dengan tujuan harus mengarah kepada pencapaian kembalian atas modal secara berkesinambungan, minimum sebesar biaya modal. BUMN harus mampu meningkatkan kualitas, juga privatisasi yang transparan, mengurangi campur tangan politik, mendapat akses ke pasar modal dan teknologi internasional, dapat mengubah budaya korporasinya serta memperluas kepemilikan perusahaan. (nie)

TARIF TAKSI DARI SOEKARNO-HATTA

Banyaknya keluhan pengguna jasa taksi dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, melahirkan kebijakan dari PT Angkasa Pura (AP) II, sebagai pengelola bandara. Berdasarkan Keputusan Dirjen Perhubungan Darat Nomor SK.66/KU.506/DRJD/98 tertanggal 19 Maret 1998 dikeluarkan biaya kompensasi taksi per zona. Kompensasi itu berupa penambahan biaya yang disebutnya 'Km kosong' dan 'waktu tunggu'. Ada tiga zona, yakni zona I untuk wilayah yang dekat (sampai Kebon Jeruk), zona II jarak sedang (wilayah-wilayah Bumi Serpong Damai, Kemayoran, Tebet) dan zona III jarak jauh (wilayah-wilayah Pasar Minggu, Kepala Gading, Ciputat sampai Kodya Bogor). Tarif tambahan terdiri dari biaya kompensasi untuk km kosong Rp 3.000 dan waktu tunggu masing-masing untuk zona I Rp 7.500, zona II Rp 6.000 dan zona III Rp 4.500. Jadi, di samping tarif berdasarkan argo taksi, ada tambahan biaya untuk zona I Rp 10.500, zona II Rp 9.000 dan Zona III Rp 7.500. Menurut Direktur Operasi AP II Moeljono, keputusan itu mulai berlaku Januari 1999. "Biaya kompensasi itu untuk mengatasi keengganan sopir taksi mengangkut penumpang jarak dekat. Tarif ini masih lebih murah daripada taksi borongan atau biaya tambahan yang diminta sopir taksi di tengah jalan. Jadi, bila di samping tarif argo, sopir taksi meminta tambahan sesuai biaya di atas, itu memang resmi," katanya. (nie)

BUKAKA EKSPOR GARBARATA

Lima unit garbarata atau 'belalai gajah' resmi dilepas Menteri Perhubungan Giri Soeseno untuk diberangkatkan ke Hong Kong. Ke-5 garbarata itu merupakan unit ke-300 garbarata buatan PT Bukaka Teknik Utama (BTU) yang akan digunakan di Bandara Internasional Check Lap Kok, Hong Kong. Sejak mulai dioperasikan, 1 Juli 1998, Check Lap Kok telah menggunakan 76 garbarata Bukaka, dan tahun ini menambah 20 unit untuk pengembangan bandara. Menurut Dirut PT BTU Achmad Kalla, sampai saat ini Bukaka selesai memasang 259 garbarata yang dioperasikan oleh sembilan bandara di Jepang, lima di Thailand, dua di Malaysia dan tiga di Indonesia serta di Singapura, Hong Kong dan Wuhan Tianhe Cina. Tahun ini Bukaka memproduksi 49 garbarata untuk Check Lap Kok, Imam Khomaeni (Iran) 14 unit, Mandalay (Myanmar) sembilan unit dan Ngurah Rai (Denpasar) enam unit. Prospek pemasaran garbarata bernama "Rampway" ini cukup baik, terutama di luar negeri. Rampway hasil rancang bangun dan rekayasa 200 tenaga ahli dalam negeri ini sudah mendapat sertifikasi ISO 9001 sejak 1992 dan yang pertama di dunia. Desain terakhir Rampway Bukaka disebut sebagai Glass Bridge yang dindingnya terbuat dari kaca. Saat ini rampway kaca itu telah beroperasi 46 unit di Bandara Internasional Sepang dan satu di Bandara Subang, keduanya di Malaysia, serta masing-masing datu unit di Nagasaki, Tsushima dan Kumamoto, ketiganya bandara di Jepang. "Glass Bridge ini sekarang menjadi trend di bandara di dunia," ujar Rahmat Ismail, vice president Bukaka. Selain garbarata, Bukaka juga memproduksi baggage handling system, runway sweeper, line marker, vacuum sewer, dan mobil pemadam kebakaran. (nie)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media