SAAT liburan Natal, Tahun Baru, dan Lebaran lalu, bisnis penerbangan nasional bisa sejenak menghibur diri. Garuda Indonesia sebagai
contoh, pada musim liburan tersebut menambah
sampai 38 kali penerbangan -setara hampir 4.000
tempat duduk untuk rute-rute gemuk Jakarta-Solo, -Yogyakarta, -Surabaya, dan -Denpasar.
Hal itu tentu saja dilakukan setelah dilakukan survai di kantor-kantor perwakilan Garuda
di kota-kota tersebut. Yang juga cukup menarik, pada masa permintaan meningkat
tersebut, Garuda tidak menaikkan harga tiket.
Kini Lebaran telah berlalu, maka pengelola maskapai penerbangan pun kembali akan
bertanya, apakah keadan ekonomi masyarakat sudah akan pulih lagi. Ini boleh jadi sebuh
retorika, karena selintas saja orang segera tahu,
ekonomi belum pulih.
Beberapa waktu terakhir juga dapat diamati adanya gejala yang punya pengaruh terhadap
industri angkutan penerbangan. Salah satu yang
menonjol adalah bahwa dengan merosotnya daya beli masyarakat, baik karena susutnya
pendapatan maupun naiknya harga barang dan jasa karena
inflasi, tiket penerbangan pun semakin tak terjangkau.
Selanjutnya muncul value change atau pergantian
nilai. Orang yang semula di masa "normal" naik pesawat,
kini naik kereta, atau kapal laut, yang tiketnya relatif lebih
terjangkau. Jadi kereta api dan kapal laut telah menjadi industri
"pergantian nilai" yang kini populer.
Tanpa Lebaran atau musim libur lain pun kedua
industri angkutan di atas tampak selalu penuh. (Apalagi di tengah
situasi politik dan keamanan di tengah jalan kurang meyakinkan,
sehingga niatan untuk berkendaraan ke luar kota pun ikut surut).
Industri angkutan udara pun terpinggirkan dari pilihan
utama, kecuali bagi mereka yang benar-benar masih leluasa
dalam bidang finansialnya, atau mereka yang harus menjalankan
tugas kantor yang mendesak, atau juga urusan keluarga yang
mendesak, seperti saudara meninggal.
Di luar itu, konsumen sudah rela berkompromi: tidak
apa-apa perlu waktu lebih lama dengan naik kereta, yang
penting ekonomis dan tetap sampai ke tujuan.
Lalu kapan semuanya akan kembali ke kondisi normal
lagi? Terus terang jawabannya memprihatinkan. Meski ada
sejumlah sinyal mengandung harapan, industri angkutan udara
Asia diperkirakan masih akan tetap dalam krisis hingga
memasuki dekade mendatang. Hal ini, juga akan diikuti dengan
perubahan fundamental dalam sektor ini. Perkiraan ini dikemukakan
oleh Pusat Penerbangan Asia-Pasifik.
Menurut Peter Harbison, Direktur Pelaksana Pusat
yang berpusat di Sydney ini, "Feature unik krisis dewasa ini
bukan hanya kedalaman dan keluasan dampak regional, tetapi juga
kala waktu konsekuensial sebelum semua baik kembali." Atau
dalam bahasa lain, bukan saja krisis ini membuat rusak parah secara
luas industri ini, tetapi juga perlu waktu lama untuk memulihkannya.
"Kejutan awal terasa tajam dan menyakitkan,
namun perdarahan tetap berlangsung hinga lewat tahun 1999,"
ujar Harbison seperti dikutip kantor berita
AFP.
Penghasilan perusahaan penerbangan merosot 10 persen
per tahun (dan kita yakin di Indonesia kemerosotan pasti lebih
besar mengingat negara kita adalah yang terlanda krisis paling
parah.) Sementara itu, tingkat utang yang ditanggung oleh
sejumlah maskapai menggelembung, dan menjadi tak terbayar
untuk jangka menengah.
Laporan badan pengkajian Australia ini juga
menyoroti, bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi penentu
tumbuh tidaknya perjalanan (travel) yang utama diramalkan turun
di banyak negara Asia, dengan sebagian malah dengan laju minus.
Dengan prakiraan muram untuk ekonomi dunia,
sementara perusahaan penerbangan merupakan barometer konsisten
dari perkembangan ekonomi, maka dalam skala global pun
keadaan penerbangan memang tidak menggembirakan. Kolom ini
bulan silam mengungkapkan, bagaimana raksasa seperti Boeing
pun dipaksa untuk menurunkan tingkat produksi, dan lebih
buruk lagi, memberhentikan hampir 50.000 karyawannya dalam
kurun setahun ini. Itu pun masih dengan catatan, kalau ekonomi
dunia belum membaik, hal di atas bisa terus berlangsung.
Situasi seperti itu lah yang kini memang riil dihadapi
oleh maskapai penerbangan nasional dan regional. Harapan
tentu harus kita hidup-hidupkan untuk bisa lolos dari jepitan
situasi ini segera. Yang penting tentu saja lolos dulu,
survived, dan tetap mengutamakan keselamatan dalam operasi yang
diliputi keprihatinan. Syukur ada Tahun Baru dan Lebaran yang
memberi hiburan sekadarnya.(nin)