ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Pasca Angkutan Lebaran, Krisis itu Terasa Lagi


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
OPINI  

Pasca Angkutan Lebaran, Krisis itu Terasa Lagi

SAAT liburan Natal, Tahun Baru, dan Lebaran lalu, bisnis penerbangan nasional bisa sejenak menghibur diri. Garuda Indonesia sebagai contoh, pada musim liburan tersebut menambah sampai 38 kali penerbangan -setara hampir 4.000 tempat duduk untuk rute-rute gemuk Jakarta-Solo, -Yogyakarta, -Surabaya, dan -Denpasar.

Hal itu tentu saja dilakukan setelah dilakukan survai di kantor-kantor perwakilan Garuda di kota-kota tersebut. Yang juga cukup menarik, pada masa permintaan meningkat tersebut, Garuda tidak menaikkan harga tiket.

Kini Lebaran telah berlalu, maka pengelola maskapai penerbangan pun kembali akan bertanya, apakah keadan ekonomi masyarakat sudah akan pulih lagi. Ini boleh jadi sebuh retorika, karena selintas saja orang segera tahu, ekonomi belum pulih.

Beberapa waktu terakhir juga dapat diamati adanya gejala yang punya pengaruh terhadap industri angkutan penerbangan. Salah satu yang menonjol adalah bahwa dengan merosotnya daya beli masyarakat, baik karena susutnya pendapatan maupun naiknya harga barang dan jasa karena inflasi, tiket penerbangan pun semakin tak terjangkau.

Selanjutnya muncul value change atau pergantian nilai. Orang yang semula di masa "normal" naik pesawat, kini naik kereta, atau kapal laut, yang tiketnya relatif lebih terjangkau. Jadi kereta api dan kapal laut telah menjadi industri "pergantian nilai" yang kini populer.

Tanpa Lebaran atau musim libur lain pun kedua industri angkutan di atas tampak selalu penuh. (Apalagi di tengah situasi politik dan keamanan di tengah jalan kurang meyakinkan, sehingga niatan untuk berkendaraan ke luar kota pun ikut surut).

Industri angkutan udara pun terpinggirkan dari pilihan utama, kecuali bagi mereka yang benar-benar masih leluasa dalam bidang finansialnya, atau mereka yang harus menjalankan tugas kantor yang mendesak, atau juga urusan keluarga yang mendesak, seperti saudara meninggal.

Di luar itu, konsumen sudah rela berkompromi: tidak apa-apa perlu waktu lebih lama dengan naik kereta, yang penting ekonomis dan tetap sampai ke tujuan.

Lalu kapan semuanya akan kembali ke kondisi normal lagi? Terus terang jawabannya memprihatinkan. Meski ada sejumlah sinyal mengandung harapan, industri angkutan udara Asia diperkirakan masih akan tetap dalam krisis hingga memasuki dekade mendatang. Hal ini, juga akan diikuti dengan perubahan fundamental dalam sektor ini. Perkiraan ini dikemukakan oleh Pusat Penerbangan Asia-Pasifik.

Menurut Peter Harbison, Direktur Pelaksana Pusat yang berpusat di Sydney ini, "Feature unik krisis dewasa ini bukan hanya kedalaman dan keluasan dampak regional, tetapi juga kala waktu konsekuensial sebelum semua baik kembali." Atau dalam bahasa lain, bukan saja krisis ini membuat rusak parah secara luas industri ini, tetapi juga perlu waktu lama untuk memulihkannya.

"Kejutan awal terasa tajam dan menyakitkan, namun perdarahan tetap berlangsung hinga lewat tahun 1999," ujar Harbison seperti dikutip kantor berita AFP.

Penghasilan perusahaan penerbangan merosot 10 persen per tahun (dan kita yakin di Indonesia kemerosotan pasti lebih besar mengingat negara kita adalah yang terlanda krisis paling parah.) Sementara itu, tingkat utang yang ditanggung oleh sejumlah maskapai menggelembung, dan menjadi tak terbayar untuk jangka menengah.

Laporan badan pengkajian Australia ini juga menyoroti, bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi penentu tumbuh tidaknya perjalanan (travel) yang utama diramalkan turun di banyak negara Asia, dengan sebagian malah dengan laju minus.

Dengan prakiraan muram untuk ekonomi dunia, sementara perusahaan penerbangan merupakan barometer konsisten dari perkembangan ekonomi, maka dalam skala global pun keadaan penerbangan memang tidak menggembirakan. Kolom ini bulan silam mengungkapkan, bagaimana raksasa seperti Boeing pun dipaksa untuk menurunkan tingkat produksi, dan lebih buruk lagi, memberhentikan hampir 50.000 karyawannya dalam kurun setahun ini. Itu pun masih dengan catatan, kalau ekonomi dunia belum membaik, hal di atas bisa terus berlangsung.

Situasi seperti itu lah yang kini memang riil dihadapi oleh maskapai penerbangan nasional dan regional. Harapan tentu harus kita hidup-hidupkan untuk bisa lolos dari jepitan situasi ini segera. Yang penting tentu saja lolos dulu, survived, dan tetap mengutamakan keselamatan dalam operasi yang diliputi keprihatinan. Syukur ada Tahun Baru dan Lebaran yang memberi hiburan sekadarnya.(nin)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media