ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Senang Membuatnya Enggan Menerbangkan


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
ORDIRGA  

Syamsul Hadi:

Senang Membuatnya Enggan Menerbangkan

Orang bilang, aeromodeller yang lengkap adalah bisa membuat pesawat model dan pandai menerbangkan. Tapi banyak orang yang hanya bisa menerbangkan, tidak dapat membuat. Orang semacam ini biasanya langsung beli jadi. Sebaliknya, amat langka orang bisa membuat enggan menerbangkan. Sebab senang membuat biasanya senang pula menerbangkan. Karena akan merasa puas, jika pesawat hasil buatan sendiri bisa diterbangkan dengan baik.

Orang yang senang membuat tapi tak mau menerbangkan kendati untuk menguji coba hasil karyanya sendiri, adalah Syamsul Hadi. Selesai membuat, ia percayakan orang lain untuk menguji coba di lapangan. Laki-laki kelahiran Blitar 17 Desember 1947 ini, belajar membuat pesawat model hanya dari buku, jadi tidak pernah kursus atau diajari orang.

Setinggi 3 atau 5 cm

"Jika pesawat buatan saya sudah jadi, saya menghidupkan mesin saja dan hanya menerbangkan atau mengontrol setinggi tiga atau lima centimeter dari tanah. Pesawat itu saya ikat di halaman rumah yang sempit. Maksudnya jika terjadi kelainan, tidak jatuh kemana-mana yang bisa mengganggu orang. Saya sekedar mengetes engine-nya. Jika mesinnya baik, dan bisa hovering (melayang) setinggi beberapa senti-meter, berarti terbang lebih tinggi sudah lancar. Orang yang biasa menerbangkan pesawat saya adalah Tony di Cibubur, seorang aeromodeller yang pernah menjual pesawat model dan peralatannya di Cikini," demikian pensiunan Pertamina beranak empat ini menuturkan kepada Angkasa di rumahnya, Kranji.

Jebolan Akademi Teknik Nasional jurusan Sipil ini mulai membuat pesawat model sejak 1972, kala bertugas di Unit Operasi Produksi Pertamina Wilayah V Sorong selama tujuh tahun dan aktif mengurusi Pramuka keluarga Pertamina Sorong. Pertama membuat chuck glider. Ia hanya belajar dari buku di perpustakaan kantornya. Kayu balsa dan bahan lainnya didatangkan dari Jawa.

Setahun kemudian Syamsul mulai membuat pesawat model jenis "U" Control (Control Line), menggunakan engine "Tiger", berbahan bakar methanol 2 cc. Namun kegiatan ini tak lancar, berhubung ia sibuk melayani helikopter Pelita Air Service termasuk membikin helipad (tempat mendarat helikopter) di beberapa pengeboran minyak di Sorong dan sebagai supervisor perpanjangan landasan pacu serta apron Lapangan Terbang Jefman di pulau kecil di teluk Sorong.

Tahun 1974 timbul gagasannya untuk bisa membuat helikopter model jenis Puma. Mengingat tidak ada blue print helikopter model, maka ia memakai pola heli SA 330 Puma dengan memperkecil skalanya. Sayang 1975 kegiatan ini macet, karena kegiatan kantor kian padat. Dan baru dilanjutkan setelah pindah ke Jakarta.

Barang loakan

Tahun 1994 sesudah boyongan ke Jakarta, Syamsul aktif lagi menekuni hobinya, untuk mengisi masa pensiunnya. Kini sehari-harinya yang dilakukannya hanyalah membuat pesawat model. Ia bekerja sendiri, termasuk membubut, mengelas, menyolder dan memasang komponen-komponen pesawat model. Ia sering ke Poncol, Mangga Besar, Pasar Senen, tempat loakan yang menjual barang bekas dari mobil, sepeda motor dan elektronik untuk dijadikan komponen pesawatnya. Acap kali ada barang yang cocok dan bisa dipasang di pesawat modelnya. Tapi kebanyakan harus dibentuk dulu agar dapat menjadi suku cadang pesawat model. Semua bahan pembuatan pesawat model dicari di Jakarta saja, kecuali radio control dan engine, buatan luar negeri.

"Saya memakai barang apa saja, yang bisa dijadikan komponen pesawat model. Ada pesawat model buatan saya bahannya dari suku cadang sepeda. Bahkan ada botol minuman dari plastik saya jadikan kanopi pesawat model," sambil berkata ia menunjuk salah satu pesawat yang kanopinya dari plastik bekas botol minuman.

Bahan untuk pesawat bersayap buatan Syamsul di antaranya kayu balsa, kain, kertas singkong dan multiple. Untuk helikopter misalnya alumunium, teflon (plastik campuran), sterofoam, kayu biasa untuk blade (bilah baling-baling). Selain pesawat model, kini ia serius pula bikin engine (jet turbine) untuk pesawat sayap tetap dan helikopter.

Mesin potong rumput

"Sekarang saya sedang menciptakan heli Chinook, jenis helikopter berpropeller ganda, memakai sebuah mesin potong rumput. Satu mesin dua baling-baling. Karena mesin potong rumput terlalu berat maka saya sedang cari pemecahannya. Saya percaya gagasan saya ini kelak berhasil. Faktor kesulitan buat helikopter lebih tinggi daripada pesawat sayap tetap. Saya memang senang pekerjaan yang punya faktor kesulitan besar," tutur Syamsul yang humoris sambil tertawa.

Jika berhasil mewujudkan heli Chinook, ia berambisi pula membuat heli untuk keperluan memotret dari udara atau menyemprot hama. Gagasan ini saat sekarang belum bisa terwujud. Namun suatu saat nanti ia yakin akan terlaksana.

Sementara ini, Syamsul hanya membuat, namun belum mau menjual hasil karyanya sebab kegiatan ini hanya hobi, belum untuk komersial.

Pesawat model buatan Syamsul antara lain sebuah helikopter tanpa nama. Panjang 180 cm, berat 3 kg, bermesin Torak 2 tak, dan blade-nya tiga bilah. RPM baling-baling 780 dan RPM tail rotor 3.500. Lalu ada pula pesawat sayap tetap Mustang dengan panjang badan 130 cm, lebar 160 cm, mesinnya Torak 2 Tak (sebelumnya pakai Saito 4 tak). Pesawat ini pernah dicoba Tony terbang setinggi 600 meter di Cibubur. Syamsul juga pernah membuat OV-10 Bronco dengan, panjang badan 100 cm, lebar 130 cm, bermesin Torak 2 tak.(mar)


MENPARSENIBUD NAIK TRIKE

Menteri Pariwisata dan Seni Budaya (Menparsenibud) Marzuki Usman, mencoba terbang dengan trike (gantole bermotor) bersama Ute, sewaktu meninjau Lido Aero Club, penghujung tahun lalu. Kunjungan Menparsenibud dalam rangka melihat fasilitas dan kegiatan olahraga dirgantara khususnya dan pariwisata dirgantara umumnya, disambut Direktur Lido Resor Adnan B. Mokodompit, Manajer Lido Aero Club Eddy Christiono dan Ketua Pusat Microlight PB FASI Hertriono. Pada kesempatan tersebut Menteri menyatakan gembira dan mendukung kegiatan olahraga yang punya daya tarik bagi wisatawan asing. "Menteri bermaksud mencoba terjun tandem dan terbang dengan pesawat ringan di air strip Lido. Menurut rencana awal minggu pertama Januari, tetapi cuaca tidak menguntungkan, terpaksa ditunda lain kesempatan," demikian Eddy Christiono yang akrab dipanggil Eddy Chris, menjelaskan kepada Angkasa.(mar)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media