|
| |
 | ORDIRGA
|
|
Syamsul Hadi:
Senang Membuatnya Enggan Menerbangkan
Orang bilang, aeromodeller yang lengkap adalah bisa membuat pesawat model dan pandai menerbangkan. Tapi banyak orang yang hanya bisa
menerbangkan, tidak dapat membuat. Orang semacam ini biasanya langsung beli jadi.
Sebaliknya, amat langka orang bisa membuat enggan menerbangkan. Sebab senang
membuat biasanya senang pula menerbangkan. Karena akan merasa puas, jika
pesawat hasil buatan sendiri bisa diterbangkan dengan baik.
Orang yang senang membuat tapi tak mau menerbangkan kendati untuk
menguji coba hasil karyanya sendiri, adalah
Syamsul Hadi. Selesai membuat, ia percayakan orang lain untuk menguji coba di lapangan.
Laki-laki kelahiran Blitar 17 Desember 1947 ini, belajar membuat pesawat model hanya
dari buku, jadi tidak pernah kursus atau diajari orang.
Setinggi 3 atau 5 cm
"Jika pesawat buatan saya sudah jadi, saya menghidupkan mesin saja dan
hanya menerbangkan atau mengontrol setinggi tiga atau lima centimeter dari
tanah. Pesawat itu saya ikat di halaman rumah yang sempit. Maksudnya jika
terjadi kelainan, tidak jatuh kemana-mana yang bisa mengganggu orang. Saya
sekedar mengetes engine-nya. Jika mesinnya
baik, dan bisa hovering (melayang) setinggi beberapa senti-meter, berarti terbang
lebih tinggi sudah lancar. Orang yang biasa menerbangkan pesawat saya adalah
Tony di Cibubur, seorang aeromodeller yang pernah menjual pesawat model dan
peralatannya di Cikini," demikian pensiunan Pertamina beranak empat ini
menuturkan kepada Angkasa di rumahnya, Kranji.
Jebolan Akademi Teknik Nasional jurusan Sipil ini mulai membuat
pesawat model sejak 1972, kala bertugas di Unit Operasi Produksi Pertamina Wilayah
V Sorong selama tujuh tahun dan aktif mengurusi Pramuka keluarga
Pertamina Sorong. Pertama membuat chuck
glider. Ia hanya belajar dari buku di
perpustakaan kantornya. Kayu balsa dan bahan
lainnya didatangkan dari Jawa.
Setahun kemudian Syamsul mulai membuat pesawat model jenis
"U" Control (Control Line), menggunakan
engine "Tiger", berbahan bakar methanol 2
cc. Namun kegiatan ini tak lancar, berhubung ia sibuk melayani helikopter Pelita
Air Service termasuk membikin helipad (tempat mendarat helikopter) di
beberapa pengeboran minyak di Sorong dan sebagai supervisor perpanjangan landasan
pacu serta apron Lapangan Terbang Jefman di pulau kecil di teluk Sorong.
Tahun 1974 timbul gagasannya untuk bisa membuat helikopter model
jenis Puma. Mengingat tidak ada blue
print helikopter model, maka ia memakai pola heli SA 330
Puma dengan memperkecil skalanya. Sayang 1975 kegiatan ini
macet, karena kegiatan kantor kian padat. Dan baru dilanjutkan setelah pindah ke Jakarta.
Barang loakan
Tahun 1994 sesudah boyongan ke Jakarta, Syamsul aktif lagi
menekuni hobinya, untuk mengisi masa pensiunnya. Kini sehari-harinya yang
dilakukannya hanyalah membuat pesawat model. Ia bekerja sendiri, termasuk
membubut, mengelas, menyolder dan memasang komponen-komponen pesawat model.
Ia sering ke Poncol, Mangga Besar, Pasar Senen, tempat loakan yang menjual
barang bekas dari mobil, sepeda motor dan elektronik untuk dijadikan
komponen pesawatnya. Acap kali ada barang yang cocok dan bisa dipasang di
pesawat modelnya. Tapi kebanyakan harus dibentuk dulu agar dapat menjadi
suku cadang pesawat model. Semua bahan pembuatan pesawat model dicari di
Jakarta saja, kecuali radio control dan
engine, buatan luar negeri.
"Saya memakai barang apa saja, yang bisa dijadikan komponen pesawat model.
Ada pesawat model buatan saya bahannya dari suku cadang sepeda. Bahkan ada
botol minuman dari plastik saya jadikan kanopi pesawat model," sambil berkata ia
menunjuk salah satu pesawat yang kanopinya dari plastik bekas botol minuman.
Bahan untuk pesawat bersayap buatan Syamsul di antaranya kayu balsa,
kain, kertas singkong dan multiple. Untuk
helikopter misalnya alumunium, teflon (plastik campuran),
sterofoam, kayu biasa untuk blade (bilah baling-baling).
Selain pesawat model, kini ia serius pula bikin
engine (jet turbine) untuk pesawat sayap
tetap dan helikopter.
Mesin potong rumput
"Sekarang saya sedang menciptakan heli
Chinook, jenis helikopter berpropeller ganda, memakai sebuah mesin
potong rumput. Satu mesin dua baling-baling. Karena mesin potong rumput terlalu
berat maka saya sedang cari pemecahannya. Saya percaya gagasan saya ini kelak
berhasil. Faktor kesulitan buat helikopter lebih tinggi daripada pesawat sayap tetap.
Saya memang senang pekerjaan yang punya faktor kesulitan besar," tutur Syamsul
yang humoris sambil tertawa.
Jika berhasil mewujudkan heli Chinook, ia berambisi pula membuat
heli untuk keperluan memotret dari udara atau menyemprot hama. Gagasan ini
saat sekarang belum bisa terwujud. Namun suatu saat nanti ia yakin akan terlaksana.
Sementara ini, Syamsul hanya membuat, namun belum mau menjual
hasil karyanya sebab kegiatan ini hanya hobi, belum untuk komersial.
Pesawat model buatan Syamsul antara lain sebuah helikopter tanpa nama.
Panjang 180 cm, berat 3 kg, bermesin Torak 2 tak,
dan blade-nya tiga bilah. RPM baling-baling 780 dan RPM
tail rotor 3.500. Lalu ada pula pesawat sayap
tetap Mustang dengan panjang badan 130 cm, lebar 160
cm, mesinnya Torak 2 Tak (sebelumnya pakai Saito 4 tak). Pesawat ini pernah
dicoba Tony terbang setinggi 600 meter di Cibubur. Syamsul juga pernah membuat
OV-10 Bronco dengan, panjang badan 100
cm, lebar 130 cm, bermesin Torak 2 tak.(mar)
MENPARSENIBUD NAIK TRIKE
Menteri Pariwisata dan Seni Budaya (Menparsenibud) Marzuki Usman,
mencoba terbang dengan trike (gantole bermotor) bersama Ute, sewaktu meninjau Lido Aero
Club, penghujung tahun lalu. Kunjungan Menparsenibud dalam rangka melihat fasilitas
dan kegiatan olahraga dirgantara khususnya dan pariwisata dirgantara umumnya,
disambut Direktur Lido Resor Adnan B. Mokodompit, Manajer Lido Aero Club Eddy Christiono
dan Ketua Pusat Microlight PB FASI Hertriono. Pada kesempatan tersebut Menteri
menyatakan gembira dan mendukung kegiatan olahraga yang punya daya tarik bagi wisatawan
asing. "Menteri bermaksud mencoba terjun tandem dan terbang dengan pesawat ringan di
air strip Lido. Menurut rencana awal minggu pertama Januari, tetapi cuaca tidak
menguntungkan, terpaksa ditunda lain kesempatan," demikian Eddy Christiono yang
akrab dipanggil Eddy Chris, menjelaskan kepada
Angkasa.(mar)
|