ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Bila Indonesia ke Bulan

Tidak Usah Muluk-muluk, Jadi Petani Saja

Bintang Jasa Utama untuk Wiweko Soepono

SIAPA - SIAPA

  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
PROFIL  

Bila Indonesia ke Bulan

Bangsa Indonesia memang belum sampai ke Bulan. Tak usah ber-mimpi ke Bulan, industri pesawat terbang kita yang baru mulai mendisain pesawat commuter saja masih tersendat-sendat karena biaya. Namun tak perlu berkecil hati karena diam-diam NASA sebenarnya telah melirik seorang pakar dari Tanah Air untuk bekerja sama membangun hunian di Bulan dan Mars.

Siapakah dia? Ternyata bukan pakar aeronautika, bukan juga ahli disain pesawat seperti presiden kita. Justru seorang pakar teknik sipil yang sempat bekerjasama dengan badan antariksa Amerika yang kondang itu. Dia adalah Prof.Dr.Sahari Besari, guru besar teknik sipil ITB yang juga kerap membantu penelitian di BPPT.

Setelah mengirim manusia ke permukaan Bulan tahun 1969 dan kini membangun stasiun ruang angkasa, tak heran jika sasaran badan antariksa AS bersama negara-negara Eropa dan Jepang adalah membangun hunian di luar Bumi. Dan inilah yang menarik dari Sahari. "Definisi civil engineering terbaru kan lingkungan binaan (built environment). Nah, habitat di Bulan atau bahkan di Mars sudah jelas merupakan lingkungan binaan," tuturnya.

Tak hanya ketertarikan itu, Sahari yang telah bergelut di dunia penelitian dan akademis sejak lulus Teknik Sipil ITB tahun 1958 ini berpendapat, "Penguasaan teknologi itu untuk survival bangsa kita. Kita bisa dijajah kembali jika tidak berusaha untuk sejajar dengan negara lain yang punya modal teknologi."

Beton Bulan

Maka ketika NASA mengadakan seminar tahunan yang mengundang pakar berbagai disiplin ilmu, Sahari pun menyiapkan presentasi. Yang pertama bersama rekannya Dr.Ir.Dicky Rezady Munaf pada ACI-NASA Convention in Extraterrestial Development di Seattle, April 1997, berjudul "Solar Energy Analysis for Production of Lunar Concrete. Setahun kemudian keduanya kembali menyampaikan presentasi di hadapan para peserta 'SPACE-98: The 6th International Conference and Exposition on Engineering Construction and Operation in Space' di Albuquerque, New Mexico.

"Kami bergabung dengan Civil Engi-neering Research Foundation (CERF) yang punya program penelitian untuk habitat di Bulan. Banyak sekali penelitian lain dari berbagai negara." Tim Sahari mengkhusus-kan pada salah satu penelitian NASA mengenai beton Bulan (Lunar concrete).

"Jangan bayangkan membangun hunian di Bulan seperti membangun rumah di Bumi," katanya. Sekadar gambaran, di permukaan Bulan yang tak terlindung atmosfir seperti Bumi setiap saat ada hujan meteorit. Maka habitat di Bulan akan seperti bunker, "harus minimal 60 sentimeter di bawah beton."

Mengecor beton di satelit alami Bumi ini pun tak sesederhana membuat jalan layang. "Pertama, peralatan yang bisa diangkut pesawat ulang-alik terbatas, masa mau bawa cangkul? Kedua, lingkungannya dengan gravitasi seperenam gravitasi Bumi dan tanpa lapisan atmosfir sangat berbeda. Beton itu jika langsung ditaruh di ruang hampa akan habis airnya, padahal di Bumi saja butuh 28 hari untuk mengeras sempurna," jelas pria kelahiran Semarang, Desember 1932 ini.

Gambarannya begini, untuk mem-bangun rumah kita harus mencampur air, semen dan kerikil (aggregate). Namun tidak semudah itu di Bulan. Mula-mula air harus diproses dulu dari hidrogen yang dibawa dari Bumi dengan batuan bulan salah satunya ilmenite. Lalu kerikil (aggregate) dan semen pun harus diproses, juga dari batuan Bulan. Kemudian untuk mencampurnya, perlu peralatan pengadukan spesial tentunya jauh lebih kompleks dari pengaduk semen yang kerap terlihat di proyek-proyek bangunan.

Singkatnya, Prof.Sahari mengajukan usulan metode pengadukan beton Bulan berdasarkan pre-packed aggregate concept semen dan air yang dicampur menjadi bubur (grout) diinjeksikan ke cetakan yang telah berisi aggregate. Proses yang dipresentasikan Sahari di New Mexico dua tahun lalu ini bisa menghemat tempat dan biaya karena tak perlu lagi membawa peralatan pengadukan. "Bayangkan saja, untuk 'menitipkan' payload di pesawat ulang-alik biayanya 50.000 dollar AS perkilogram. Padahal peralatan concrete batching plant atau pengadukan beton pasti rumit dan besar," tutur Sahari.

Bayar sendiri-sendiri

Mahal memang biaya payload di pesawat ulang-alik. Mahal juga biaya penelitian berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan NASA untuk berbagai proyek antariksanya. Seperti diungkap pemegang gelar master of science bidang rekayasa struktur dari Cornell University, Ithaca, New York, AS (1963) dan gelar doktoral (PhD) dari University of Wisconsin, Madison, AS (1973) ini, "Teknologi itu makin maju tentunya makin mahal, bahkan akhirnya tidak bisa dinikmati masyarakat luas yang tidak mampu."

Tak perlu sampai ke masyarakat tak mampu (setara bangsa kita yang sudah masuk kategori 'miskin'), Amerika Serikat yang adidaya sendiri tak mampu membiayai seluruh penelitian NASA. "Maka mereka pun mengajak negara-negara lain berpartisipasi. Mangkanya jangan kira penelitian lalu presentasi saya di New Mexico dan Washington itu disponsori NASA. Kami harus mencari dana sendiri untuk seluruh penelitian hingga kunjungan ke AS," tukas Sahari.

Untuk menyiasati minimnya dana, ia harus 'menjual' penelitiannya ke perusahaan atau sponsor. Namun, "Tentunya tak ada sponsor yang mau membiayai 'beton bulan', sudah tidak (belum) terpakai di Indonesia, aplikasinya oleh negara maju pun masih jauh di masa depan," tuturnya.

Maka Sahari bersama timnya juga harus pandai-pandai membuat penelitian yang bisa dipakai untuk masa kini di Indonesia sekaligus cocok untuk masa depan di Bulan. "Metode pre-packed aggregate concrete ini sudah juga digunakan untuk perbaikan jembatan-jembatan tua di Jakarta dan Batam," tambahnya.

Peneliti

Alhasil, Sahari sempat ditawari pekerjaan di perusahaan, namun pada akhirnya ia lebih memilih profesi sebagai peneliti dan dosen. "Ketika menemukan sesuatu yang belum dikuasai orang lain, ada kepuasaan untuk berada di depan. Kepuasan itu bertambah ketika saya membagikan pengetahuan itu kepada mahasiswa-mahasiswa saya," jelasnya.

Ia sempat menjabat executive vice president bidang electronic computing dan structural engineer di sebuah perusahaan (1976), toh tak lama kemudian ia kembali ke almamaternya. Namun sambil bergurau ia menambahkan, "Tapi kalau ditawari jadi presiden saya tidak menolak!"

Penelitian bersama NASA sebenarnya hanya satu dari puluhan penelitian yang dikerjakan Prof.Dr.Sahari sebagai Guru Besar ilmu Struktur maupun anggota pakar Jembatan Jawa Sumatera di BPPT. Ia pun banyak mengikuti seminar di manca negara; sebut saja Norwegia, Australia, Barcelona (Spanyol), Paris (Perancis), dan di berbagai tempat di Belanda. Sedemikian banyaknya pertemuan ilmiah yang diikutinya, Sahari pun tak bisa menyebut pasti kapan dan apa saja. "Sebab mengikuti seminar atau pertemuan-pertemuan para ilmuwan di luar negeri itu penting agar kita tidak ketinggalan."

Kutu di atas kutu

Sejak lulus sebagai sarjana teknik 1960 hingga saat ini Sahari masih setia mengajar di almamaternya, Institut Teknologi Bandung alias MIT-nya Indonesia (mBandung Institut of Technology). Mengajar program S1, S2 hingga doktoral (S3), ayah sepasang putra dan putri ini antara lain menangani mata kuliah struktur beton, bahan beton, dan metode numerik.

Baik mata kuliah yang diajar Sahari maupun spesialisasi master dan PhD-nya hampir tak berhubungan dengan dunia penerbangan apalagi aerospace. Toh dalam perjalanan karirnya, Sahari kerap 'terpanggil' ke bidang ini. Jauh sebelum presentasinya di NASA mengenai metode pencampuran untuk beton Bulan, Sahari pernah bekerja lebih dari setahun di pabrik pesawat Lockheed, Burbank, California (1974-1976) sebagai research consultant.

"Usai menyelesaikan doktoral di University of Wisconsin, Madison, saya ditawari proyek penelitian di Lockheed tentang optimasi struktur untuk pesawat ulang-alik Columbia yang ketika itu kelebihan beban," jelasnya. Dengan restu dari rektor ITB, Sahari bekerja di Lockhed hingga proyek penelitiannya usai.

Kembali ke pekerjaan yang telah ditekuninya lebih tiga dekade, bagaimana Sahari menyikapi para mahasiswa yang berkiprah ke politik alias turun berdemonstrasi ke jalan? "Saya sudah dua kali mengalami masa seperti ini: pertama sekitar tahun 1965, dan sekarang ini. Ya, saya selalu merestui selama apa yang mereka perjuangkan benar."

Di waktu luang, Sahari gemar bertanam anggrek ia bahkan membaca berbagai buku tentang tanaman epifit ini. Saat-saat santai di rumah oleh Sahari diisi dengan mengikuti acara-acara olahraga dari televisi dan mendengarkan musik klasik. Pernahkah ia jenuh dengan suasana kampus dan laboratorium? "Tidak pernah! Justru inilah profesi yang paling menantang bagi saya karena selalu menemukan sesuatu yang baru."

Dalam sebuah makalahnya Sahari mengutip Jonathan Swift, so, nat 'ralists observe, a flea hath smaller fleas that on him prey, and these have smaller fleas to bite 'em, and so proceed ad infinitum. "Teknologi itu seperti kutu yang di atasnya ada kutu lagi, di atas kutu itu ada kutu lagi. Suatu teknologi di atasnya selalu ada teknologi lagi dan demikianlah lapisan teknologi tak terbatas." (ade)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media