Bangsa Indonesia memang
belum sampai ke Bulan. Tak usah ber-mimpi ke Bulan, industri
pesawat terbang kita yang baru mulai mendisain pesawat
commuter saja masih tersendat-sendat karena biaya. Namun tak perlu berkecil hati karena
diam-diam NASA sebenarnya telah melirik seorang pakar dari Tanah Air
untuk bekerja sama membangun hunian di Bulan dan Mars.
Siapakah dia? Ternyata bukan pakar aeronautika, bukan juga ahli disain pesawat seperti presiden kita. Justru seorang pakar teknik sipil yang
sempat bekerjasama dengan badan antariksa Amerika yang kondang itu. Dia
adalah Prof.Dr.Sahari Besari, guru besar teknik sipil ITB yang juga kerap
membantu penelitian di BPPT.
Setelah mengirim manusia ke permukaan Bulan tahun 1969 dan kini
membangun stasiun ruang angkasa, tak heran jika sasaran badan antariksa AS
bersama negara-negara Eropa dan Jepang adalah membangun hunian di luar Bumi.
Dan inilah yang menarik dari Sahari.
"Definisi civil engineering terbaru
kan lingkungan binaan (built
environment). Nah, habitat di Bulan atau bahkan di Mars sudah
jelas merupakan lingkungan binaan," tuturnya.
Tak hanya ketertarikan itu, Sahari yang telah bergelut di dunia penelitian
dan akademis sejak lulus Teknik Sipil ITB tahun 1958 ini berpendapat, "Penguasaan
teknologi itu untuk survival bangsa kita.
Kita bisa dijajah kembali jika tidak berusaha untuk sejajar dengan negara lain yang
punya modal teknologi."
Beton Bulan
Maka ketika NASA mengadakan seminar tahunan yang mengundang
pakar berbagai disiplin ilmu, Sahari pun menyiapkan presentasi. Yang
pertama bersama rekannya Dr.Ir.Dicky Rezady Munaf pada
ACI-NASA Convention in Extraterrestial
Development di Seattle, April 1997, berjudul
"Solar Energy Analysis for Production of Lunar
Concrete. Setahun kemudian keduanya kembali
menyampaikan presentasi di hadapan para peserta
'SPACE-98: The 6th International Conference and Exposition on Engineering
Construction and Operation in Space' di Albuquerque, New Mexico.
"Kami bergabung dengan Civil Engi-neering Research Foundation (CERF)
yang punya program penelitian untuk habitat di Bulan. Banyak sekali penelitian lain
dari berbagai negara." Tim Sahari mengkhusus-kan pada salah satu penelitian
NASA mengenai beton Bulan (Lunar concrete).
"Jangan bayangkan membangun hunian di Bulan seperti membangun
rumah di Bumi," katanya. Sekadar gambaran, di permukaan Bulan yang tak
terlindung atmosfir seperti Bumi setiap saat ada
hujan meteorit. Maka habitat di Bulan akan seperti
bunker, "harus minimal 60 sentimeter di bawah beton."
Mengecor beton di satelit alami Bumi ini pun tak sesederhana membuat
jalan layang. "Pertama, peralatan yang bisa diangkut pesawat ulang-alik terbatas,
masa mau bawa cangkul? Kedua, lingkungannya dengan gravitasi seperenam gravitasi
Bumi dan tanpa lapisan atmosfir sangat berbeda. Beton itu jika langsung ditaruh di
ruang hampa akan habis airnya, padahal di Bumi saja butuh 28 hari untuk
mengeras sempurna," jelas pria kelahiran
Semarang, Desember 1932 ini.
Gambarannya begini, untuk mem-bangun rumah kita harus mencampur
air, semen dan kerikil (aggregate). Namun
tidak semudah itu di Bulan. Mula-mula air harus diproses dulu dari hidrogen yang
dibawa dari Bumi dengan batuan bulan salah satunya
ilmenite. Lalu kerikil (aggregate) dan semen pun harus diproses, juga
dari batuan Bulan. Kemudian untuk mencampurnya, perlu peralatan pengadukan
spesial tentunya jauh lebih kompleks dari pengaduk semen yang kerap terlihat
di proyek-proyek bangunan.
Singkatnya, Prof.Sahari mengajukan usulan metode pengadukan beton
Bulan berdasarkan pre-packed aggregate
concept semen dan air yang dicampur menjadi bubur
(grout) diinjeksikan ke cetakan yang telah berisi aggregate. Proses yang
dipresentasikan Sahari di New Mexico dua tahun lalu ini bisa menghemat tempat dan
biaya karena tak perlu lagi membawa peralatan pengadukan. "Bayangkan saja,
untuk 'menitipkan' payload di pesawat ulang-alik biayanya 50.000 dollar AS
perkilogram. Padahal peralatan concrete batching
plant atau pengadukan beton pasti rumit dan besar," tutur Sahari.
Bayar sendiri-sendiri
Mahal memang biaya payload di pesawat ulang-alik. Mahal juga
biaya penelitian berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan NASA untuk berbagai
proyek antariksanya. Seperti diungkap pemegang gelar
master of science bidang rekayasa struktur dari Cornell University,
Ithaca, New York, AS (1963) dan gelar doktoral (PhD) dari University of
Wisconsin, Madison, AS (1973) ini, "Teknologi
itu makin maju tentunya makin mahal, bahkan akhirnya tidak bisa dinikmati
masyarakat luas yang tidak mampu."
Tak perlu sampai ke masyarakat tak mampu (setara bangsa kita yang
sudah masuk kategori 'miskin'), Amerika Serikat yang adidaya sendiri tak mampu
membiayai seluruh penelitian NASA. "Maka mereka pun mengajak negara-negara
lain berpartisipasi. Mangkanya jangan kira penelitian lalu presentasi saya di
New Mexico dan Washington itu disponsori NASA. Kami harus mencari dana
sendiri untuk seluruh penelitian hingga kunjungan ke AS," tukas Sahari.
Untuk menyiasati minimnya dana, ia harus 'menjual' penelitiannya ke
perusahaan atau sponsor. Namun, "Tentunya tak ada sponsor yang mau membiayai
'beton bulan', sudah tidak (belum) terpakai di Indonesia, aplikasinya oleh negara
maju pun masih jauh di masa depan," tuturnya.
Maka Sahari bersama timnya juga harus pandai-pandai membuat penelitian
yang bisa dipakai untuk masa kini di Indonesia sekaligus cocok untuk masa depan di
Bulan. "Metode pre-packed aggregate concrete
ini sudah juga digunakan untuk perbaikan jembatan-jembatan tua di Jakarta
dan Batam," tambahnya.
Peneliti
Alhasil, Sahari sempat ditawari pekerjaan di perusahaan, namun
pada akhirnya ia lebih memilih profesi sebagai peneliti dan dosen. "Ketika
menemukan sesuatu yang belum dikuasai orang lain, ada kepuasaan untuk berada di
depan. Kepuasan itu bertambah ketika saya membagikan pengetahuan itu kepada
mahasiswa-mahasiswa saya," jelasnya.
Ia sempat menjabat executive vice president bidang
electronic computing dan structural
engineer di sebuah perusahaan (1976), toh tak lama kemudian ia
kembali ke almamaternya. Namun sambil bergurau ia menambahkan, "Tapi kalau
ditawari jadi presiden saya tidak menolak!"
Penelitian bersama NASA sebenarnya hanya satu dari puluhan penelitian
yang dikerjakan Prof.Dr.Sahari sebagai Guru Besar ilmu Struktur maupun anggota
pakar Jembatan Jawa Sumatera di BPPT. Ia pun banyak mengikuti seminar di
manca negara; sebut saja Norwegia, Australia, Barcelona (Spanyol), Paris (Perancis),
dan di berbagai tempat di Belanda. Sedemikian banyaknya pertemuan ilmiah yang
diikutinya, Sahari pun tak bisa menyebut pasti kapan dan apa saja. "Sebab mengikuti
seminar atau pertemuan-pertemuan para ilmuwan di luar negeri itu penting
agar kita tidak ketinggalan."
Kutu di atas kutu
Sejak lulus sebagai sarjana teknik 1960 hingga saat ini Sahari masih setia
mengajar di almamaternya, Institut Teknologi Bandung alias
MIT-nya Indonesia (mBandung Institut of
Technology). Mengajar program S1, S2 hingga doktoral (S3),
ayah sepasang putra dan putri ini antara lain menangani mata kuliah struktur
beton, bahan beton, dan metode numerik.
Baik mata kuliah yang diajar Sahari maupun spesialisasi master dan
PhD-nya hampir tak berhubungan dengan dunia penerbangan apalagi
aerospace. Toh dalam perjalanan karirnya, Sahari kerap
'terpanggil' ke bidang ini. Jauh sebelum
presentasinya di NASA mengenai metode pencampuran untuk beton Bulan, Sahari
pernah bekerja lebih dari setahun di pabrik
pesawat Lockheed, Burbank, California (1974-1976) sebagai
research consultant.
"Usai menyelesaikan doktoral di University of Wisconsin, Madison,
saya ditawari proyek penelitian di Lockheed tentang optimasi struktur untuk
pesawat ulang-alik Columbia yang ketika itu kelebihan beban," jelasnya. Dengan
restu dari rektor ITB, Sahari bekerja di Lockhed hingga proyek penelitiannya usai.
Kembali ke pekerjaan yang telah ditekuninya lebih tiga dekade,
bagaimana Sahari menyikapi para mahasiswa yang berkiprah ke politik alias turun
berdemonstrasi ke jalan? "Saya sudah dua kali
mengalami masa seperti ini: pertama sekitar tahun 1965, dan sekarang ini. Ya,
saya selalu merestui selama apa yang mereka perjuangkan benar."
Di waktu luang, Sahari gemar bertanam anggrek ia bahkan membaca
berbagai buku tentang tanaman epifit ini.
Saat-saat santai di rumah oleh Sahari diisi dengan mengikuti acara-acara olahraga dari
televisi dan mendengarkan musik klasik. Pernahkah ia jenuh dengan suasana kampus
dan laboratorium? "Tidak pernah! Justru
inilah profesi yang paling menantang bagi saya karena selalu menemukan sesuatu
yang baru."
Dalam sebuah makalahnya Sahari mengutip Jonathan Swift,
so, nat 'ralists observe, a flea hath smaller fleas that
on him prey, and these have smaller fleas to bite 'em, and so proceed ad
infinitum. "Teknologi itu seperti kutu yang di
atasnya ada kutu lagi, di atas kutu itu ada kutu
lagi. Suatu teknologi di atasnya selalu ada teknologi lagi dan demikianlah
lapisan teknologi tak terbatas." (ade)