ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Bila Indonesia ke Bulan

Tidak Usah Muluk-muluk, Jadi Petani Saja

Bintang Jasa Utama untuk Wiweko Soepono

SIAPA - SIAPA

  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
PROFIL  

Marsekal Muda TNI Lambert Silooy:
"Tidak Usah Muluk-muluk, Jadi Petani Saja"

Itulah cita-cita Marsekal Muda Lambert Franciscus Silooy bila pensiun tiba lima tahun mendatang. Ia baru empat bulan lalu diangkat sebagai Asrena (Asisten Perencanaan) Kepala Staf Angkatan Udara. Sebelum jabatan baru ini, Lambert bermarkas di Surabaya sebagai Komandan Komando Pendidikan Angkatan Udara. "Mau apa saya sesudah pensiun? Merecokin adik-adik disini? Itu easy job tetapi saya pikir itu kuno. Saya nggak suka begitu. Saya ingin mandiri dan produktif," ujar penerbang MiG-15 (1972), F-86 Sabre (1973) dan instruktur penerbang F-5 Tiger II (1980) ini.

Lahir di lingkungan perkebunan tebu dan pabrik gula Persana Baru, Cirebon 1 Mei 1948. Namun usia tiga bulan sudah diboyong ayahnya, Willem Silooy dan ibunya, Siti Veronica ke kota kembang Bandung. Mungkin karena lingkungan kelahirannya dulu itu, maka kemandirian dan produktivitas yang dimaksud ia temukan pada pertanian. Terlebih lagi sejak muda marsekal yang satu ini suka alam, dasar kuat bagi nalurinya untuk mencoba bertani.

Lahan pertanian yang ia persiapkan menyongsong masa pensiun pun masih di bumi Parahyangan di Maribaya, tidak jauh dari Bandung, kota tempat Lambert menyelesaikan SMA-B (1966). Dalam uji cobanya pun, marsekal yang tadinya dianggap "bodoh" membeli tanah terjal di kawasan lembah yang kaya akan sumber air tetapi kendaraan tidak bisa masuk, ternyata sukses dengan panen kentangnya awal Januari lalu. Inilah yang makin memotivasi dirinya untuk memwujudkan cita-citanya nanti setelah purna bakti di TNI AU, menjadi orang sederhana petani!

Medio Januari lalu, suami Maria Suskasanti dan ayah Fransiska serta Nyong HG mengungkapkan cita-citanya tersebut kepada RB Sugiantoro dan Dudi Sudibyo serta fotografer D.N. Jusuf di ruang kerja barunya di Mabes TNI AU, Cilangkap. "Saya senang dengan clean desk policy (Presiden AS Jimmy) Carter. Karena itu saya tidak mau taruh kerjaan banyak (di atas meja). Saya sikat lalu saya lempar ke bawah, nggak saya bawa ke rumah," begitu seloroh pelari 10.000 meter dan sprinter 400 meter saat masih jadi taruna Akabri Bagian Udara (1970). Itu pulalah mengapa meja kerja marsekal berbintang dua ini dengan hotline telepon merah yang menjadi salah satu pelengkapnya, bersih dari tumpukan map-map.

Dalam perbincangan asyik ini, selain topik jadi petani, Marsda Lambert Silooy, pengagum mantan PM Inggris, Margaret Thatcher, menuturkan pula berbagai hal. Mulai dari keadaan dunia kedirgantaraan nasional sekarang, olahraga di dalam rumah, hingga masalah bidang tugasnya. Tidak ketinggalan, dengan asyik ia bercerita tentang ilmu silat dogfight penerbang Indonesia lawan pilot AS. Berikut petikannya:

Angkasa (n ) Inspirasi atau dorongan apa yang membuat Marsekal terdorong masuk TNI AU dan menjadi penerbang?

Marsda Lambert Silooy (n) : Saya tertarik Angkatan Udara sejak kecil karena tahun 1955 saya melihat Pak Leo Wattimena dan Pak Rusmin (Nurjadin - mantan KSAU dan Menhub) menerbangkan pesawat Vampire. Waktu itu saya baru berusia tujuh tahun lagi main layang-layang di depan Gedung Sate. Begitu Vampire lewat semua orang berteriak: "Leo, Leo .. Rusmin, Rusmin..." Waahh, hebat. Itu yang membuat saya tertarik jadi penerbang. Puji Tuhan, ternyata kesempatan diberikan juga kepada saya menjadi penerbang.

Saya masuk Akabri yang pertama kali berintegrasi antar Angkatan di Magelang tahun 1967. Pak Bagio (maksudnya Jenderal TNI Subagio HS, sekarang KSAD), Pak Johny Lumintang itu satu angkatan, Akabri I. Juga Pak Agus Wijaya, Pak Luhut, semua satu angkatan lulusan tahun 1970. Jadi setahun penuh semua di Magelang, baru (kemudian) kita dipisah yang Darat tetap di Magelang, yang Udara pindah ke Yogyakarta, Polisi ke Sukabumi dan Laut ke Surabaya. Bulan terakhir sebelum dilantik, kita kumpul lagi selama satu bulan.

n : Semua tentunya lulusan SMA B. Marsekal sendiri lulusan dari mana?

n : Dari SMA Aloysius, Bandung. Itu sekolah anak-anak laki semua (sambil ketawa - Red). Tapi saya senang melihat sekarang sudah coed, satu kelas sudah campur, ada tiga putrinya. Saya tanya sama Bruder waktu saya masih Kapten, (jawabnya): Ya, supaya tahu di dunia ini ada juga perempuan. Kenapa tidak dari dulu? Rugi. Selama enam tahun, di SMP dan SMA, laki semua. No cewek. Begitu masuk Akabri, cowok semua lagi....

n : Lalu pilihan ke pilot tempur, apakah ada pengaruh kisah Pak Leo?

n : Ya, kalau boleh saya dari awal ingin menjadi penerbang tempur. Lulus Akademi kebetulan Amerika Serikat menawarkan kepada TNI Angkatan Udara untuk mengirim calon penerbangnya sekolah di USAF, Angkatan Udara AS. Nah, ketika itu saya sedang di Sekbang, Yogya. Dua orang terpilih, Kolonel Pnb. Sudahlan dan saya. Lichting pertama ke Amerika dulu adalah lichting Pak Saleh Basarah dan Pak Omar Dani, 60 orang ke Taloa atau the 60 Taloans, tahun 1950. Baru 20 tahun kemudian di tahun 1970, kami berdua berangkat. Nah, baru setelah itu datang yunior saya dua lagi, Jeffry lalu Zeky Ambadar terus sampai tahun 1976, Eris, Suryadarma terakhir.

Kami ditempatkan di Vance Air Force Base, di negara bagian Oklahoma. Di sana saya terbang dengan pesawat T-37 dan T-38, versi lain F-5. Jadi saya sudah menerbangkan pesawat supersonik sejenis F-5. Kembali ke Indonesia karena ingin jadi penerbang fighter dan kebetulan nilai saya cukup, saya ditempatkan di Kemayoran dimana masih ada sisa MiG-15 dan 17. Saya sempat menerbangkan MiG-15 di Skadron 12 Kemayoran. Sementara Pak Holky cs ke Australia ambil Sabre. Setelah datang di Madiun, saya bergabung dengan mereka tahun 1973 di (Skadron 14) Iswahyudi, Madiun.

n : Kesan Marsekal mengendalikan pesawat MiG?

n : Saya banyak terbang di Amerika dengan pesawat T-38 (Talon). Waduuuh itu pesawat mulus, pakai AC, bersih. Padahal MiG-15 kan lebih tua, kabelnya kelihatan dan bau oli Rusia itu... Memang beda. Rusia masalah comfortnya sangat kurang dibanding sama Amerika. Jam terbang saya dengan MiG-15 sedikit, hanya sekadar untuk terbang selama setahun. Kemudian ada policy, MiG harus dimatikan begitu datang F-86 Sabre. Selain Sabre saya juga menerbangkan T-33 (T-Bird) kemudian F-5 tahun 1980 bersama Pak Prihadi.

Asisten Perencanaan KSAU bertubuh tegap atletis ini, dalam meniti jenjang karirnya pernah dua kali mengikuti pendidikan di Australia. Pertama saat sekolah instruktur penerbang di RAAF (Royal Australian Air Force/AU Australia), ia lulus tahun 1976. Delapan tahun kemudian, kembali Lambert ke Australia, kali ini di Seskoau Australia (RAAFSC), lulus tahun 1984.

Namanya mulai dikenal secara luas saat bergabung dalam Tim Aerobatik Sabre bersama (sekarang Marsekal) Suyitno, Suprihadi, Syahril, Pieter dan Zeky. "Itu zaman saya masih muda," ujar Lambert. "Sekarang anak-anak F-16, waah bagus-bagus, saya senang melihatnya." Lambert yang pernah menjabat Dan Skadron 14 (1985), lalu Kadisops Lanud Iswahyudi (1989), kemudian Wadan Lanud Iswahyudi (1993), memang tidak sempat menjadi pilot F-16. Tapi sempat menerbangkan jet tempur fly-by-wire ini dari back seat bersama Kol. Pnb. Wartoyo ketika lawan F-15 Angkatan Udara AS dalam latihan Cope West di Medan.

Lulusan Sesko ABRI tahun 1991 dan Lemhanas (1994) serta Dosen Kewiraan (1994), pernah pula dipercayai memangku jabatan Komandan Lanud Adisutjipto (1995). Dua tahun kemudian ia ditugaskan ke Surabaya sebagai Wakil Komandan Kodikau, kemudian sebagai Komandan Kodikau (1998). Belum genap setahun di Kodikau, 15 September 1998, Lambert Silooy, diangkat sebagai Asrena KSAU.

Lambert menemukan pasangannya Maria Suskasanti, sewaktu masih Karbol (sebutan lain taruna) di Yogya via seorang rekannya. "Bapaknya seorang polisi, waktu itu namanya Danres atau sekarang sebutannya Kapolres di Sleman. Mereka pindah ke Blora lalu saya nikah di kota itu. Kenal dengan Maria waktu ia sekolah perkebunan di Yogya," ceritanya.

Begitu melekatnya kota gudeg sehingga bagi Lambert dan keluarganya, Yogya ibarat rumah kedua mereka. Terlebih lagi home base Angkatan Udara secara historis adalah Yogyakarta.

"The home of the Air Force itu di Yogya, sehingga setiap 29 Juli kita selalu upacara di Yogya. Kalau 9 April (hari TNI AU) boleh di sini, tapi 29 Juli.. Yogya!"

n : Sebelum F-5, apakah A-4 Skyhawk sudah ada atau belum?

n : Datangnya berdekatan, tapi saya tidak masuk dalam Skyhawk. Pak Irawan Saleh (Asops Kasau) yang di sana dan baru dari sana Pak Irawan pindah ke F-5 jadi Dan Skadron F-5. Saya waktu itu masuk Sesko di Australia, tahun 84. Nah pulang dari Australia, saya menjadi Dan Skadron di F-5 selama tiga tahun, kemudian masuk Staf Perencanaan sebagai Pabandya Bangkuat Alutsista Renstrat Srenau.

n : Dalam latihan melawan F-15 USAF, pesawat Marsekal apakah terlibat juga dalam "dogfight" dengan pesawat Amerika?

n : Oooohh iya. Asyik tuh. Karena pesawatnya gedeee itu tuh seperti menembak (pesawat) Dakota saja (sambil ketawa). F-15 itu besar dan Amerika prinsipnya mengandalkan pada weaponary-nya. Nah, waktu kita merencanakan latihan sama Amerika, kita bilang harus level yang sama. Jadi F-15 tidak boleh pakai Sparrow. Tidak boleh pakai peluru kendali jarak jauh. Okey, kita bilang ini F-16 dan ini F-15, kita mulai pada posisi sama yaitu bawa kanon dan Sidewinder. Nah, kita bertempur di sana, dua lawan dua.

Asyik, karena si F-15 dia kan maksimum g 'kan cuma 7,3g. Nah, F-16 kan 9g dan ringan. Wah jadi enak nekuknya. Hey, we all turned them! Mereka bilang tidak ada perang begini, maunya pakai peluru kendali, tetapi kan kita tidak punya Sparrow. Tapi mereka happy. Mereka datang dari Kusan (Korea). Pernah turun F-16 dari Misawa (Jepang) latihan sama F-16 kita. Waktu itu saya sudah kolonel dan sudah Kapsubditlat di sini. Saya agak kecewa, karena mereka itu adalah anak-anak air-to-ground, yang biasa mengebom. Heavy-nya itu ngebom saja. Nah, anak-anak kita itu tidak, mereka 50-50 air-to-air, dogfights dan ngebom.

Jadi anak-anak kita senang yang air-to-air, sehingga mereka kalah. Jadi nggak enak. Amerika kemudian menjanjikan akan kirim F-15 yang air-to-air. Nah, di situ kita bisa main. Meski F-16 mereka lebih canggih (versi) C/D sedang kita A/B, spesifikasi F-16-nya untuk air-to-ground karena penerbang Amerika ada yang dibagi dalam skadron yang khusus untuk mengebom, sedikit air-to-air, mungkin 70 persen air-to-ground, sehingga kalau ngebom jagoan. Hanya 30 persen yang air-to-air. Sedang kita, 50-50 jadi air-to-air OK, air-to-ground OK. Jadi waktu F-15 datang, enak kita mainnya. Imbang! Mereka anggap kita sebagai sparing partner.

n : Selain latihan dengan Amerika, TNI AU juga pernah latihan dengan Angkatan Udara negara ASEAN dan Australia. Dapatkah Marsekal memberi gambaran latihan-latihan tersebut. Apakah ada juga dogfight-nya?

n : Begini, kalau kita latihan sama negara ASEAN, kita tidak melaksanakan dogfights, ya karena rikuh begitu. Jadi latihannya menembak sasaran yang sama dari sudut berbeda. Jadi no hurt feelings karena itu dijaga betul-betul. Jadi latihannya ditujukan terhadap common threat.

Kalau dengan Australia terakhir saya dengar sudah seperti Amerika. Tapi dulu setengah mati, sukar sekali dapat izinnya. Sekarang tidak lagi dan sudah bisa. Itu yang saya dengar, karena saya sudah tidak terlibat lagi karena waktu itu sudah di Kodik. Mereka pakai F-18 Hornet. Tapi waktu di Kasubditlat di bawah operasi, saya terlibat karena tugasnya ikut merencanakan latihan seperti ini, baik di dalam negeri maupun luar negeri seperti dengan Malaysia, Singapura, Thailand dan Amerika Serikat.

n : Bagaimana tanggapan mereka, khususnya Amerika mengenai latihan bersama dengan TNI AU. Puaskah mereka?

n : Dalam obrolan dengan Dan Skadron mereka di Medan, dia menyeletuk : Hey mate, kita under estimate sama kalian! Lho kenapa? Saya kira kamu seperti orang-orang Timur Tengah. Kenapa sih? Orang di sana kan orang kaya raya, mana mau dia air-to-air. Mana mau keluar keringat tarik 9g. Nggak mau dia. Sehingga dia pikir kita kayak mereka maunya aerobatik, fly-pass, yang enak-enak saja. Bukan yang tempur. Jadi mereka senang.

Saya sempat tawarkan sama mereka untuk terbang dengan F-16 type B kita, dual seater. Send your pilot, sit there and fight. Tapi mereka nggak mau, jangan. Karena apa? Mereka tidak bawa F-15 dual seater. Mereka pintar tidak bawa yang dual seater dengan alasan supaya kalau kita tawarkan begitu, terpaksa kan mereka juga menawarkan. Nah kalau kita di F-15 akan tahu taktik mereka. Itu yang dihindari.

n : Sebegitu jauh sudah berapa kali TNI AU latihan sama USAF?

n : Tiga kali. Pertama F-5 kita lawan F-16 Amerika, lalu F-16 mereka lawan F-16 kita. Lalu F-15 mereka sama F-16 kita.

n : Dari situ kelihatan bahwa yang namanya sumber daya manusia itu sangat menentukan, bukan hanya alutsistanya saja. Jadi bagaimana penerbang kita mendapatkan ilmunya?

n : Sekarang saya tanya, upamanya datang ke fasilitas ABRI, masuk pangkalan dilarang memotret. Dilarang memotret apanya sih? Itu foto di Jane's Book sudah lengkap sekali. Yang tidak boleh adalah yang saya bilang tadi bagaimana taktiknya, bagaimana fight-nya. Itu ilmu silat. Itu yang rahasia.

n : Seperti ilmu silat, setiap negara atau tiap orang mungkin mempunyai kekhasan sendiri. Bagaimana dengan kemampuan universal dalam ilmu ini?

n : Ada. Jadi seperti tinju ada jab, ada hook, ada upper cut. Itu sama pada dogfight ini. Ada pukulan-pukulan universal. Tapi kalau sudah main, kan lain kondisinya. Pesawat musuh ada di sini, ada di sana, segala penjuru. Jadi harus dihadapi basic-nya ada, tapi harus kita kembangkan dan akhirnya improvisasi, inovasi dan sebagainya. Nah itu latihan tiap hari yang disebut siklus profisiensi.

Waktu saya di Australia dan Amerika, hanya dapat dasarnya saja. Very basic. Begitu F-5 datang, kaget kita kok begini kalau dogfight. Orang Amerika cukup fair. Mereka berikan basic- nya, sudah itu kita kirim penerbang ke Amerika untuk advance combat, lalu kirim lagi untuk fighter weapon instructor course.

Fighter weapon instructor course, FWIC, itu ilmu silat yang paling tinggi. Kita minta untuk F-16, belum dikasih. Ini top-nya sekolah fighters. Baru Israel, NATO dan sekutu dekat AS yang diberi. Kalau Top Gun itu adalah US Navy dengan latihan perang-perangannya yang disebut Red Flags. Kalau USAF adalah FWIC itu. Mungkin kita bisa kirim penerbang F-16 sebagai observer saja ke FWIC.

n : Pengalaman Pak Lambert mulai dari lapangan sebagai pilot tempur, kemudian Dan Skadron lalu ke Kodik dan kini ke Perencanaan, bagaimana kita membacanya?

n : Kalau di ABRI, saya ambil gampangnya yaitu di Angkatan Udara ini kita operasional. Semua yang saya kerjakan adalah operasional. Karena itu kita harus masuk mulai dari wilayah pendidikan, dan dari pendidikan kita harus punya pengalaman di staf dan kewilayahan (teritorial) seperti saya sewaktu di Adisutjipto. Ini harus dipenuhi sehingga dianggap sudah cukup luas wawasan dan pengalamannya. Sehingga persoalan dari bawah apa pun, dia dinilai tahu. Sekalipun demikian, banyak juga yang saya nggak tahu, misalnya keuangan.

Tapi kita mengharapkan setiap perwira TNI AU selalu berpikir sebagai seorang penerbang dan akan melaksanakan misinya. Jadi harus mission oriented apa pun dia buat. Dan itu artinya selalu misi TNI AU.

n : Terkait dengan misi itu dan melihat keprihatinan sekarang ini, termasuk di dunia kedirgantaraan nasional kita, bagaimana Pak Lambert melihatnya dan ke depan itu apa yang harus kita perhatikan, agar bisa bertahan, paling tidak keluar dari ini?

n : Kalau kita bicara kedirgantaraan nasional berarti dua aspek. Sipil dan ABRI. Saya mulai dari sipil saya lihat sekarang dunia maskapai penerbangan betul-betul menyedihkan. Sempati collapse. Bouraq dan Mandala mengecil. Terus Merpati juga sudah sangat berkurang. Lalu Garuda, setelah mengalami krisis, juga memprihatinkan. Mereka betul-betul menghadapi masalah berat dalam krisis moneter ini. Kita bisa bayangkan kalau suku cadang itu kan bayarnya pakai dollar, sedangkan uangnya untuk beli yang didapat dari tiket penumpang hanya kecil, berarti lama-lama akan habis.

Sedang di ABRI dia kan tidak untuk menghasilkan uang. ABRI memberi jasa keamanan rasa tenteram, rasa aman. Namun dengan krismon ini, tentunya juga dukungan untuk mempertahankan kekuatan dan kemampuan pesawat akan berkurang karena suku cadangnya dalam dollar.

Saya lihat dampaknya tentunya ke masalah rasa aman apabila misalnya ABRI sampai tidak bisa berada di mana-mana. Saya ambil ilustrasi, kalau di satu daerah, di luar Jawa ada trouble, cara paling cepat untuk ke sana tentu dengan pesawat. Sehingga kalau pesawat kita sampai berkurang kesiapannya, bagaimana mau memobilitas ABRI?

Itu yang saya lihat dalam situasi kedirgantaraan nasional kita sekarang ini. Sipil dan ABRI, cukup memprihatinkan. Tentunya ini berakibat pula kepada pembangunan nasional. Tetapi kita harapkan tentunya di kemudian hari makin baiklah meski makan waktu.

n : Dengan melihat kondisi seperti sekarang, maka bagaimana prioritas dalam perencanaan untuk tetap menjaga minimal terpelihara rasa aman, ketenteraman, dan mobilitas tinggi itu?

n : Pertama, beri prioritas kepada pesawat angkut. Sebagai contoh, persepsi ancaman kita sekarang kan lebih banyak dari dalam ketimbang dari luar. Kita tidak punya musuh. Di dalam, trouble spots saya lihat. Karena itu prioritas Angkatan Udara sekarang adalah kesiapan pesawat angkut Hercules, Fokker, CN235, dan helikopter. Ini prioritas utama supaya mobilitas ABRI itu tinggi.

Kedua, azas manfaat dengan memanfaatkan betul jam-jam terbang yang notabene sudah sangat kurang. Kemudian ketiga adalah membina attitude dari personel. Mereka harus tahu, apa sih yang terjadi? Jangan hanya beri perintah: Hei kau, manfaatkan jam terbangmu sebaik mungkin. Tanpa dia tahu kenapa. Dengan ini mereka sadar sekali bahwa kita sedang prihatin, sehingga sikap kerjanya pun lebih efisien.

Selanjutnya adalah penghematan dalam segala bidang. Kalau misalnya di skadron menghemat kabel, kawat, oli maka jangan seenaknya saja misalnya lap mesin masih cukup bersih, sebentar sudah dibuang. Ini penghematan harus total, komprehensif. Sama juga penghematan di jam terbang, artinya kalau terbang, tolong betul-betul on time, jangan sampai lama menunggu di bawah. Jangan menghidupkan mesin terlalu lama baru bertolak karena terhalang segala macam. Atau ke tujuan, jangan holding terlalu lama.

n : Masalah penghematan dan attitude, itu kan berkaitan erat dengan kultur. Jadi bukan hanya sekadar masalah disiplin yang diterapkan tapi juga kultur dari dalam ...

n : Makanya saya pakai attitude, bukan disiplin. Saya harapkan mereka itu ada sense of belonging, rasa memiliki tadi yang harus betul-betul dari dalam. Misalnya dalam skadron, di lapangan yang terpenting adalah keteladanan. Seorang komandan harus bisa menjadi guru, bapak, dan sahabat bagi anak buah. Seperti kita di rumah dengan anak-anak. Jadi kalau dia bilang jaga kebersihan, dia jangan malu untuk jongkok, ambil puntung rokok dan buang di tempat sampah, meskipun dia bisa saja perintah: hei ambil ini! Tapi alangkah baiknya kalau dia beri contoh. Itu keteladanan. Saya kira bangsa kita masih perlu itu.

n : Kembali ke masalah prioritas tersebut, pesawat sipil kan bisa membantu angkutan udara militer bila diperlukan ataupun sebaliknya. Bagaimana pandangan Marsekal mengenai ini?

n : Saya ambil contoh di Australia Qantas tahun 1984 hanya punya 24 pesawat Boeing 747. Kebetulan direktur operasinya mantan pilot Mirage Angkatan Udara Australia, dia bilang: within two 24 hours kita bisa ubah semua pesawat kargonya Qantas ini untuk militer. Jadi di atas untuk troop seats-nya, di bawah dikosongkan untuk memuat barang militer segala macam. Dia bilang Qantas siap apabila diperlukan untuk tugas-tugas militer apabila negara membutuhkan. Sebaliknya di Indonesia seperti baru-baru ini Hercules (Angkatan Udara) angkut sembako ke Irian Jaya, itu masuk prioritas. Ini adalah sospol kita, sospol ABRI.

n : Terkait dengan prioritas tersebut adalah jam terbang. Bagaimana Angkatan Udara dalam kondisi sekarang yang serba terbatas, menjaga profisiensi penerbangnya?

n : Tugas pokok TNI AU itu sangat tergantung pada dua hal, yakni pada materi atau material dan sumber daya manusia. Material, entah itu pesawat, radar bisa dipertahankan kondisinya. Nah, untuk penerbang atau manusianya agar bisa dipertahankan kesiapannya, kemampuannya kita targetkan antara 9 sampai 15 jam per bulan per orang. Ini sudah cukup untuk menjaga proficiency, skill-nya.

Waktu saya di Amerika Serikat ke skadron F-16 saya tanya : hei, berapa jam sebulan you terbang? Yaa, sekitar 15 sampai 20 jam. Dia balik tanya : kau berapa? Saya kadang-kadang dapat 20 jam terbang (waktu kondisinya normal - Red). Wow, kau beruntung! katanya. Jangan sangka Amerika Serikat yang kaya raya lalu boros... tidak. Dia betul-betul berhitung dan dianggap 15 sampai 20 jam itu skill bisa dipertahankan.

Apabila rupiah tambah merosot (pernah Rp 16.000/dollar), misalnya sampai Rp 20.000, kita punya kiat untuk mengatasinya. Sebagian dari penerbang ditempatkan di staf agar yang lain bisa mendapat utuh 10 jam atau 12 jam terbang. Kemudian gantian mereka yang di staf. Karena kalau tidak, mereka hanya mendapat setengah "kuenya" enam jam masing-masing. Setidak-tidaknya sekitar setahun, mereka diberi kesempatan mendapat pengalaman di staf. Menambah wawasan si kapten muda atau letnan satu.



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media