ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Bila Indonesia ke Bulan

Tidak Usah Muluk-muluk, Jadi Petani Saja

Bintang Jasa Utama untuk Wiweko Soepono

SIAPA - SIAPA

  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
PROFIL  

Bintang Jasa Utama untuk Wiweko Soepono

Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama, salah satu bintang tertinggi negara kepada Wiweko Soepono yang dinilai telah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan dunia dirgantara Indonesia, khususnya pada flag carrier Garuda Indonesia.

Selain Wiweko, pemerintah juga memberi tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya kepada Captain Roekanto Djokomono, pilot senior Garuda yang dinilai telah berhasil merintis dan mempelopori untuk kemajuan penerbangan di Indonesia, khususnya di Garuda Indonesia.

Penganugerahan bintang jasa tersebut diberikan dalam peringatan tahun emas 50 tahun Garuda Indonesia, 26 Januari lalu dalam acara yang berlangsung di Garuda Maintenance Facility (GMF) Bandara Soekarno-Hatta. GMF adalah salah satu fasilitas Garuda Indonesian Airways (kini Garuda Indonesia) yang dirintis pembangunannya oleh Wiweko Soepono. Fasilitas lainnya adalah pusat boga (catering), pusat pelatihan Duri Kosambi dan dua hotel berbintang di Bali.

Di bawah kendali Wiweko Soepono, Garuda menjelma menjadi maskapai penerbangan terkemuka di dunia menjadi airline terbesar di belahan bumi selatan dengan 79 pesawat jumbo, badan lebar dan sempit. Flag carrier Indonesia ditempatkan pada posisi kedua terbesar setelah Japan Air Lines di Asia, Wiweko sekaligus menempatkan Garuda menjadi salah satu maskapai penerbangan kelas dunia.

Kunci? Ia pernah mengungkapkan kepada Angkasa, dua unsur kredibilitas dan pemupukan modal. Terobosan pertamanya saat Wiweko membawa Garuda ke dalam pasar modal internasional tahun 1972. Begitu tingginya kredibilitas yang dibangunnya, sehingga sebuah konsorsium bank di bawah pimpinan The Chase Manhattan Bank, AS, memberi pinjaman untuk membeli sebuah pesawat DC-9.

108 juta dollar AS

Terobosan inilah yang menjadi picu ekspansi Garuda hingga November 1984 setelah mengabdi 16 tahun pada BUMN ini, Wiweko diberhentikan Presiden Soeharto. Ia mewariskan 79 pesawat senilai 1,2 milyar dollar AS dan surplus cash 108 juta dollar AS serta dana taktis sekitar 4 juta dollar AS kepada penggantinya.

Salah satu warisan transparansi yang ditinggalkannya, yakni laporan tahunan yang dituangkan dalam buku Annual Report yang memuat posisi keuangan Garuda, rencana pengembangan perusahaan, dan informasi lain yang dapat dipergunakan menganalisa kondisi perusahaan secara menyeluruh.

Unsur dasar kredibilitas dan pemupukan modal tersebut, diperoleh Wiweko Soepono dalam pengalaman zaman perjuangan 1949 dari Indonesian Airways yang ia pimpin di Burma (Myanmar sekarang). Bermodalkan sebuah Dakota DC-3 "Seulawah" sumbangan rakyat Aceh, armadanya berkembang-biak, bahkan menghadiahkan sebuah Dakota kepada Pemerintah Burma.

Saat ambil alih kendali Garuda Indonesian Airways 22 Februari 1968, keadaannya hampir mirip seperti keadaan sekarang. Wiweko harus membangun dari "puing" yang ada, juga terpaksa melaksanakan pemangkasan karyawan dari 6.000 menjadi 3.000 orang agar perusahaan bisa sehat. Begitu pula kini, trio Tanri Abeng-Robby Djohan- Abdulgani membangun Garuda dari kebobrokan akibat missmanagement, KKN dan sebagainya. Mereka juga harus merumahkan sekitar 3.000 orang, diantaranya pada tahap pertama, 1.596 tenaga dengan pesangon golden handshakes Rp 110 milyar.

"Sekarang Garuda sudah enak, sudah gampang. Nggak ada lagi KKN keluarga Soeharto segala itu," ujar Robby Djohan, kini Preskom Garuda Indonesia.

Pada pagelaran di Hotel Sahid pada hari bersejarah tersebut, memperkenalkan seragam baru dan semangat baru Garuda yang baru bernuansa reformasi, menurut Abdulgani yang menggantikan Robby Djohan sebagai direktur utama, optimis tahun 1999 bisa meraup laba bersih.

"Diperkirakan pendapatan Garuda tahun ini sekitar Rp 7 trilyun dan keuntangan operasional sekitar Rp 600 milyar. Setelah dipotong dengan kerugian-kerugian, pajak dan lain-lainnya, keuntungan bersihnya diperkirakan Rp 280 milyar," ujar Abdulgani.(ds)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media