Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan
tanda kehormatan Bintang Jasa Utama, salah satu bintang tertinggi
negara kepada Wiweko Soepono yang dinilai telah
memberi sumbangan besar terhadap perkembangan dunia dirgantara
Indonesia, khususnya pada flag carrier Garuda Indonesia.
Selain Wiweko, pemerintah juga memberi tanda
kehormatan Satyalancana Wira Karya kepada Captain Roekanto
Djokomono, pilot senior Garuda yang dinilai telah berhasil merintis
dan mempelopori untuk kemajuan penerbangan di
Indonesia, khususnya di Garuda Indonesia.
Penganugerahan bintang jasa tersebut diberikan
dalam peringatan tahun emas 50 tahun Garuda Indonesia, 26
Januari lalu dalam acara yang berlangsung di Garuda
Maintenance Facility (GMF) Bandara Soekarno-Hatta. GMF adalah salah
satu fasilitas Garuda Indonesian Airways (kini Garuda
Indonesia) yang dirintis pembangunannya oleh Wiweko Soepono.
Fasilitas lainnya adalah pusat boga
(catering), pusat pelatihan Duri Kosambi dan dua hotel berbintang di Bali.
Di bawah kendali Wiweko Soepono, Garuda
menjelma menjadi maskapai penerbangan terkemuka di dunia
menjadi airline terbesar di belahan bumi selatan dengan 79
pesawat jumbo, badan lebar dan sempit. Flag carrier Indonesia
ditempatkan pada posisi kedua terbesar setelah Japan Air Lines di
Asia, Wiweko sekaligus menempatkan Garuda menjadi salah
satu maskapai penerbangan kelas dunia.
Kunci? Ia pernah mengungkapkan kepada
Angkasa, dua unsur kredibilitas dan pemupukan modal.
Terobosan pertamanya saat Wiweko membawa Garuda ke dalam
pasar modal internasional tahun 1972. Begitu tingginya
kredibilitas yang dibangunnya, sehingga sebuah konsorsium bank di
bawah pimpinan The Chase Manhattan Bank, AS, memberi
pinjaman untuk membeli sebuah pesawat DC-9.
108 juta dollar AS
Terobosan inilah yang menjadi picu ekspansi Garuda
hingga November 1984 setelah mengabdi 16 tahun pada BUMN
ini, Wiweko diberhentikan Presiden Soeharto. Ia mewariskan
79 pesawat senilai 1,2 milyar dollar AS dan surplus
cash 108 juta dollar AS serta dana taktis sekitar 4 juta dollar AS
kepada penggantinya.
Salah satu warisan transparansi yang ditinggalkannya,
yakni laporan tahunan yang dituangkan dalam buku
Annual Report yang memuat posisi keuangan Garuda, rencana
pengembangan perusahaan, dan informasi lain yang dapat
dipergunakan menganalisa kondisi perusahaan secara menyeluruh.
Unsur dasar kredibilitas dan pemupukan
modal tersebut, diperoleh Wiweko Soepono dalam
pengalaman zaman perjuangan 1949 dari Indonesian Airways yang
ia pimpin di Burma (Myanmar sekarang). Bermodalkan sebuah
Dakota DC-3 "Seulawah" sumbangan
rakyat Aceh, armadanya berkembang-biak, bahkan
menghadiahkan sebuah Dakota kepada Pemerintah Burma.
Saat ambil alih kendali Garuda Indonesian
Airways 22 Februari 1968, keadaannya hampir mirip seperti
keadaan sekarang. Wiweko harus membangun dari "puing"
yang ada, juga terpaksa melaksanakan pemangkasan
karyawan dari 6.000 menjadi 3.000 orang agar perusahaan bisa
sehat.
Begitu pula kini, trio Tanri Abeng-Robby Djohan-
Abdulgani membangun Garuda dari kebobrokan akibat
missmanagement, KKN dan sebagainya. Mereka juga harus merumahkan
sekitar 3.000 orang, diantaranya pada tahap pertama, 1.596
tenaga dengan pesangon golden handshakes Rp 110 milyar.
"Sekarang Garuda sudah enak, sudah gampang.
Nggak ada lagi KKN keluarga Soeharto segala itu," ujar Robby Djohan,
kini Preskom Garuda Indonesia.
Pada pagelaran di Hotel Sahid pada hari bersejarah
tersebut, memperkenalkan seragam baru dan semangat baru Garuda
yang baru bernuansa reformasi, menurut Abdulgani yang
menggantikan Robby Djohan sebagai direktur utama, optimis tahun
1999 bisa meraup laba bersih.
"Diperkirakan pendapatan Garuda tahun ini sekitar Rp
7 trilyun dan keuntangan operasional sekitar Rp 600
milyar. Setelah dipotong dengan kerugian-kerugian, pajak dan
lain-lainnya, keuntungan bersihnya diperkirakan Rp 280 milyar," ujar Abdulgani.(ds)