"Kado ulang tahun' bagi Garuda Indonesia yang
ingin diperlihatkan Roekanto Djokomono patut dihargai. Kado
itu berupa sebuah lukisan pesawat DC-10 Garuda yang terbang
di antara awan-awan putih di atas kanvas berukuran 80 X 100 cm.
"Awannya hasil rekaan saya, melihat dari potret.
Pesawatnya juga saya lukis mencontoh dari potret. Yang sulit bikin
huruf yang ada di badan pesawat. Bagaimana?" tanyanya pada
Angkasa. Untuk ukuran pelukis bukan profesional, lukisan mantan
pilot VVIP Garuda yang sempat menerbangkan Soekarno dan
Soeharto sewaktu jadi presiden ini cukup bagus.
Saat ditemui pertengahan Desember lalu kondisi
mantan direktur utama PT Aerowisata ini tampak sehat. Tapi
ia mengakui, dua bulan sebelumnya sempat terbaring
sakit. "Lukisan pesawat itu saya buat setelah saya sembuh,
selesai sekitar satu bulan."
Roekanto memang hobi melukis, selain mencipta lagu
sebuah lagu ciptaannya pernah menjadi yang terbaik
dalam Festival Lagu Populer Indonesia dan dikirim ke
ajang internasional. Lukisannya kebanyakan potret diri. Kalau
melukis pesawat memang baru satu-dua, itupun tidak ada lagi
dalam koleksinya. "Ada satu lukisan pesawat Garuda yang ada
di rumah teman saya," ujarnya.
Saat ini ia punya keinginan untuk melukis
obyek-obyek menarik tentang Sunda Kelapa tempo dulu seperti
kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan, di samping melukis pesawat
terbang. Rencananya, ia ingin membuat semacam buklet yang
berisi foto-foto lukisannya itu dan akan diluncurkan pada 23
Agustus nanti, saat usianya 70 tahun.
Selain lukisan, Roekanto juga ingin memberikan
pengalamannya bagi Garuda. "Sekarang ini karyawan jarang
diingatkan tentang hal-hal kecil yang patut dilakukan, misalnya
cara menerima telepon yang baik. Contoh lain, kalau kita tanya,
apa sih tujuan tugas pengangkut barang ke pesawat? Sebenarnya
kita bisa memberikan jawaban yang sederhana, yaitu lima
menit sebelum pintu ditutup, barang-barang itu sudah beres
masuk pesawat. Tidak berbeda juga bagi petugas pasasi,
catering, pengisi bahan bakar, atau petugas lainnya.
Five minutes, everything close. Tidak sulit, kan?" jelasnya.
(nie)
Pensiun bukan berarti meninggalkan
segalanya. Bagi Capt. M. Soemartono, usai bertugas di
Merpati Nusantara ada keinginan untuk memberikan
kenang-kenangan yang patut direnungkan, terutama
bagi para pilot muda. Dia ingin menanamkan rasa
memiliki yang mendalam dengan mengenalkan Merpati berdasarkan sejarahnya.
"Merpati itu lahir di Banjarmasin, tahun
1962, di tengah situasi ekonomi negara yang sulit.
Jadi, bukan di ibukota Jakarta, di tengah-tengah pesta
pora kemajuan ekonomi," katanya.
Dikemaslah sebuah buku kecil hasil tulisannya yang
berisi pengalaman dan sekelumit pengetahuannya di Merpati. Buku
ini ia persembahkan pada saat pelepasannya dari Merpati, 28
Januari 1999.
Karir penerbang yang masuk Merpati sejak 1962 ini
beragam. Mulai dari menerbangkan pesawat
Dakota sampai simulator BAe-146, yang hanya beberapa saat dimiliki Merpati, dan
mengantongi sekitar 25.000 jam terbang. Namun sejak pertengahan tahun
'80-an ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.
"Pekerjaan pilot juga bukan cuma di pesawat," katanya.
Ada yang unik dalam diri captain yang pernah
menerbangkan Dakota, VC-8, VC-9, F-27, HS-748, DC-9 dan L-100
Hercules ini. "Saya selalu menerbangkan pesawat-pesawat bekas dan sudah
tua, sampai pesawat-pesawat itu tidak pernah lagi diterbangkan
karena uzur," ungkapnya.
Suatu kali terbetik komentar dari seorang instruktur
British Airways, tempat di mana pilot-pilot Merpati pernah
dilatih. "Merpati hanya mengelola young pilot and old
aircraft." Komentar itu memang benar. Merpati hampir selalu menerima
pesawat 'lungsuran' yang sudah mendekati masa akhir operasinya.
"Tidak heran kalau Merpati adalah
airlines yang paling banyak memiliki 'makam' pesawat," kata Soemartono.
Bapak tiga putra-putri kelahiran Semarang, 13 Januari 1939
ini baru menyadari bahwa pilihannya menjadi seorang penerbang
itu sungguh tidak ternilai. "Dulu alasan saya masuk Curug itu
ingin melihat tempat-tempat di seluruh penjuru dunia dan ingin
selalu sehat. Kedua alasan itu memang dapat dipenuhi bila
menjadi seorang pilot. Dan ternyata, kedua alasan itu juga menjadi
harta yang sangat tidak ternilai." (nie)
Baru 18 hari menjabat Komandan Pangkalan TNI AU
Tanjung Pandan, Letnan Kolonel Lek Bambang Tridjoyono,
SE (45) terpaksa sibuk bukan main. Betapa tidak, pangkalan yang
dipimpinnya menjadi tuan rumah kegiatan latihan operasi udara
tingkat komando utama "Latihan Operasi Udara Strategis Halau 98"
yang berlangsung tiga hari. Padahal, ia juga harus mengenalkan diri
pada para pejabat setempat.
Kesibukannya bertambah kala pagi menjelang
upacara
penyambutan rombongan perwira tinggi ABRI, 17 Desember 1998, udara di atas Bandara Buluh Tumbang tidak bersahabat
disertai hujan. Sejauh mata memandang, awan gelap memayungi
Pulau Belitung. Perwira kelahiran Semarang yang biasanya ramah
dan periang ini terlihat bingung. Sebentar-sebentar ia menengadah
ke awan gelap.
Beberapa jam kemudian baru Bambang bisa tersenyum.
Salah satu pesawat yang membawa romobongan itu berhasil
mendarat. "Cuaca di sini sukar ditebak. Sering terjadi dari keadaan
terang tiba-tiba gelap dan turun hujan. Bisa juga sebaliknya.
Buktinya sekarang ini. Tadi pagi langit gelap dan hujan deras. Tapi
sekarang cerah dan ada sinar matahari," kata perwira lulusan AAU
tahun 1975 ini.
Sewaktu masuk AAU, ia tidak tahu mau masuk ke bagian
apa. Dia diterima di bagian elektronika dan ternyata
disukainya. Sebagian besar pengabdiannya dihabiskan di satuan radar.
Dia pernah bertugas di Satrad 251 Lanud Iswahyudi, Satrad
255 Balikpapan, Kosek Hanudnas II di Ujungpandang dan
komandan Satrad 201 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
"Walaupun biasanya tempat tugas sepi, saya tidak
merasa jenuh atau bosan. Saya mengisi kesepian itu dengan
berbagai kesibukan, di antaranya rajin membaca. Dapat dua
keuntungan, kan? Kesepian teratasi, ilmu bertambah," kata Bambang
yang menikah 1983 namun masih belum punya momongan ini.
Lulusan Seskoau 1994 ini pernah
mendapat kesempatan belajar di Electronic Warfare Officer
Course yang merupakan wing pendidikan bagi
perwira elektronika dan navigasi di Mather Air Force Base, AS,
sewaktu berpangkat kapten. "Kursus yang
berlangsung empat setengah bulan dan diikuti beberapa puluh
perwira dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Pakistan
dan Jerman mengesankan saya. Karena saya se
bagai satu-satunya perwira Indonesia yang dikirim dan
berhasil meraih nilai terbaik, di atas 90 (Distinguished
Diploma) bersama seorang letnan kolonel dari Angkatan Udara Mesir,"
ungkapnya. (mar)
Punya arti tersendiri bagi Hotma
Siregar menjadi petugas protokol empat direktur utama Garuda Indonesia. "Kepuasan yang
didapat tidak dapat diukur dengan apapun, hanya
Allah Swt yang tahu," katanya.
Bila sudah begitu, bisa dibilang tidak ada duka berarti
selama ia melakukan tugasnya. "Paling-paling meyakinkan istri
perihal pekerjaan saya. Apalagi terkadang juga menyita waktu
untuk keluarga."
Tugas melayani atasan dan sikap ingin menolong sudah
tertanam dalam diri Hotma, selain luwes dalam bergaul. "Tidak mudah
kan, kalau seseorang harus 'masuk' ke dalam lingkungan keluarga
atasan. Dengan atasan, saya selalu berusaha memahami
kebiasaan-kebiasaannya dan menciptakan suasana menyenangkan."
Sejak tahun 1994 Hotma bertugas sebagai
protokol Garuda yang melayani direktur utama dari
Wage Moeljono, Soepandi, Robby Djohan sampai yang sekarang Abdul Gani. Dua dirut yang
disebut pertama dari kalangan birokrat, sedangkan dua yang terakhir dari swasta.
"Tentu karakteristik mereka berbeda. Yang birokrat sangat protokoler, yang swasta lebih bebas.
Terlepas dari itu, saya bersikap seakan mereka itu Bapak saya,
bukan sebagai bos," ujar Bapak sepasang putra-putri ini.
Sebenarnya ia bergabung dengan Garuda sejak tahun 1982.
"Saya baru lulus SMA. Masuk Garuda ingin bisa
jalan-jalan, apalagi bila sampai ke luar negeri. Waktu itu saya sebagai
tenaga honorer bagian ticketing." Tapi setelah dua tahun, ia keluar
dan kuliah di Fakultas Ekonomi UKI Jakarta. Tahun 1990, ia
kembali ke Garuda, diterima menjadi karyawan tetap di bagian audit.
Rupanya kelahiran Jakarta, 1 Nopember 1962 ini
lebih berminat menjadi petugas protokol. Dari sinilah mulai
tercapai keinginannya jalan-jalan. Bahkan hampir tiap kali sang dirut
ke luar negeri dan melakukan perjalanan VVIP Presiden, ia sering
di dekatnya. Beberapa kali ia juga melaksanakan Haji dan Umrah.
"Ada syarat utama jadi petugas protokol ini. Kita
harus jujur! Wah..., banyak sekali godaannya. Kalau tidak
jujur, tidak akan ada lagi kepercayaan dari siapapun,"
katanya di sela-sela acara peresmian pengoperasian enam
pesawat Boeing 737 seri 300 dan 500, 2 Januari lalu di
GMF, Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. (nie)