ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Bila Indonesia ke Bulan

Tidak Usah Muluk-muluk, Jadi Petani Saja

Bintang Jasa Utama untuk Wiweko Soepono

SIAPA - SIAPA

  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
PROFIL  


"Kado ulang tahun' bagi Garuda Indonesia yang ingin diperlihatkan Roekanto Djokomono patut dihargai. Kado itu berupa sebuah lukisan pesawat DC-10 Garuda yang terbang di antara awan-awan putih di atas kanvas berukuran 80 X 100 cm.

"Awannya hasil rekaan saya, melihat dari potret. Pesawatnya juga saya lukis mencontoh dari potret. Yang sulit bikin huruf yang ada di badan pesawat. Bagaimana?" tanyanya pada Angkasa. Untuk ukuran pelukis bukan profesional, lukisan mantan pilot VVIP Garuda yang sempat menerbangkan Soekarno dan Soeharto sewaktu jadi presiden ini cukup bagus.

Saat ditemui pertengahan Desember lalu kondisi mantan direktur utama PT Aerowisata ini tampak sehat. Tapi ia mengakui, dua bulan sebelumnya sempat terbaring sakit. "Lukisan pesawat itu saya buat setelah saya sembuh, selesai sekitar satu bulan."

Roekanto memang hobi melukis, selain mencipta lagu sebuah lagu ciptaannya pernah menjadi yang terbaik dalam Festival Lagu Populer Indonesia dan dikirim ke ajang internasional. Lukisannya kebanyakan potret diri. Kalau melukis pesawat memang baru satu-dua, itupun tidak ada lagi dalam koleksinya. "Ada satu lukisan pesawat Garuda yang ada di rumah teman saya," ujarnya.

Saat ini ia punya keinginan untuk melukis obyek-obyek menarik tentang Sunda Kelapa tempo dulu seperti kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan, di samping melukis pesawat terbang. Rencananya, ia ingin membuat semacam buklet yang berisi foto-foto lukisannya itu dan akan diluncurkan pada 23 Agustus nanti, saat usianya 70 tahun.

Selain lukisan, Roekanto juga ingin memberikan pengalamannya bagi Garuda. "Sekarang ini karyawan jarang diingatkan tentang hal-hal kecil yang patut dilakukan, misalnya cara menerima telepon yang baik. Contoh lain, kalau kita tanya, apa sih tujuan tugas pengangkut barang ke pesawat? Sebenarnya kita bisa memberikan jawaban yang sederhana, yaitu lima menit sebelum pintu ditutup, barang-barang itu sudah beres masuk pesawat. Tidak berbeda juga bagi petugas pasasi, catering, pengisi bahan bakar, atau petugas lainnya. Five minutes, everything close. Tidak sulit, kan?" jelasnya. (nie)


Pensiun bukan berarti meninggalkan segalanya. Bagi Capt. M. Soemartono, usai bertugas di Merpati Nusantara ada keinginan untuk memberikan kenang-kenangan yang patut direnungkan, terutama bagi para pilot muda. Dia ingin menanamkan rasa memiliki yang mendalam dengan mengenalkan Merpati berdasarkan sejarahnya.

"Merpati itu lahir di Banjarmasin, tahun 1962, di tengah situasi ekonomi negara yang sulit. Jadi, bukan di ibukota Jakarta, di tengah-tengah pesta pora kemajuan ekonomi," katanya.

Dikemaslah sebuah buku kecil hasil tulisannya yang berisi pengalaman dan sekelumit pengetahuannya di Merpati. Buku ini ia persembahkan pada saat pelepasannya dari Merpati, 28 Januari 1999.

Karir penerbang yang masuk Merpati sejak 1962 ini beragam. Mulai dari menerbangkan pesawat Dakota sampai simulator BAe-146, yang hanya beberapa saat dimiliki Merpati, dan mengantongi sekitar 25.000 jam terbang. Namun sejak pertengahan tahun '80-an ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. "Pekerjaan pilot juga bukan cuma di pesawat," katanya.

Ada yang unik dalam diri captain yang pernah menerbangkan Dakota, VC-8, VC-9, F-27, HS-748, DC-9 dan L-100 Hercules ini. "Saya selalu menerbangkan pesawat-pesawat bekas dan sudah tua, sampai pesawat-pesawat itu tidak pernah lagi diterbangkan karena uzur," ungkapnya.

Suatu kali terbetik komentar dari seorang instruktur British Airways, tempat di mana pilot-pilot Merpati pernah dilatih. "Merpati hanya mengelola young pilot and old aircraft." Komentar itu memang benar. Merpati hampir selalu menerima pesawat 'lungsuran' yang sudah mendekati masa akhir operasinya. "Tidak heran kalau Merpati adalah airlines yang paling banyak memiliki 'makam' pesawat," kata Soemartono.

Bapak tiga putra-putri kelahiran Semarang, 13 Januari 1939 ini baru menyadari bahwa pilihannya menjadi seorang penerbang itu sungguh tidak ternilai. "Dulu alasan saya masuk Curug itu ingin melihat tempat-tempat di seluruh penjuru dunia dan ingin selalu sehat. Kedua alasan itu memang dapat dipenuhi bila menjadi seorang pilot. Dan ternyata, kedua alasan itu juga menjadi harta yang sangat tidak ternilai." (nie)


Baru 18 hari menjabat Komandan Pangkalan TNI AU Tanjung Pandan, Letnan Kolonel Lek Bambang Tridjoyono, SE (45) terpaksa sibuk bukan main. Betapa tidak, pangkalan yang dipimpinnya menjadi tuan rumah kegiatan latihan operasi udara tingkat komando utama "Latihan Operasi Udara Strategis Halau 98" yang berlangsung tiga hari. Padahal, ia juga harus mengenalkan diri pada para pejabat setempat.

Kesibukannya bertambah kala pagi menjelang upacara

penyambutan rombongan perwira tinggi ABRI, 17 Desember 1998, udara di atas Bandara Buluh Tumbang tidak bersahabat disertai hujan. Sejauh mata memandang, awan gelap memayungi Pulau Belitung. Perwira kelahiran Semarang yang biasanya ramah dan periang ini terlihat bingung. Sebentar-sebentar ia menengadah ke awan gelap.

Beberapa jam kemudian baru Bambang bisa tersenyum. Salah satu pesawat yang membawa romobongan itu berhasil mendarat. "Cuaca di sini sukar ditebak. Sering terjadi dari keadaan terang tiba-tiba gelap dan turun hujan. Bisa juga sebaliknya. Buktinya sekarang ini. Tadi pagi langit gelap dan hujan deras. Tapi sekarang cerah dan ada sinar matahari," kata perwira lulusan AAU tahun 1975 ini.

Sewaktu masuk AAU, ia tidak tahu mau masuk ke bagian apa. Dia diterima di bagian elektronika dan ternyata disukainya. Sebagian besar pengabdiannya dihabiskan di satuan radar. Dia pernah bertugas di Satrad 251 Lanud Iswahyudi, Satrad 255 Balikpapan, Kosek Hanudnas II di Ujungpandang dan komandan Satrad 201 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

"Walaupun biasanya tempat tugas sepi, saya tidak merasa jenuh atau bosan. Saya mengisi kesepian itu dengan berbagai kesibukan, di antaranya rajin membaca. Dapat dua keuntungan, kan? Kesepian teratasi, ilmu bertambah," kata Bambang yang menikah 1983 namun masih belum punya momongan ini.

Lulusan Seskoau 1994 ini pernah mendapat kesempatan belajar di Electronic Warfare Officer Course yang merupakan wing pendidikan bagi perwira elektronika dan navigasi di Mather Air Force Base, AS, sewaktu berpangkat kapten. "Kursus yang berlangsung empat setengah bulan dan diikuti beberapa puluh perwira dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Pakistan dan Jerman mengesankan saya. Karena saya se bagai satu-satunya perwira Indonesia yang dikirim dan berhasil meraih nilai terbaik, di atas 90 (Distinguished Diploma) bersama seorang letnan kolonel dari Angkatan Udara Mesir," ungkapnya. (mar)


Punya arti tersendiri bagi Hotma Siregar menjadi petugas protokol empat direktur utama Garuda Indonesia. "Kepuasan yang didapat tidak dapat diukur dengan apapun, hanya Allah Swt yang tahu," katanya.

Bila sudah begitu, bisa dibilang tidak ada duka berarti selama ia melakukan tugasnya. "Paling-paling meyakinkan istri perihal pekerjaan saya. Apalagi terkadang juga menyita waktu untuk keluarga."

Tugas melayani atasan dan sikap ingin menolong sudah tertanam dalam diri Hotma, selain luwes dalam bergaul. "Tidak mudah kan, kalau seseorang harus 'masuk' ke dalam lingkungan keluarga atasan. Dengan atasan, saya selalu berusaha memahami kebiasaan-kebiasaannya dan menciptakan suasana menyenangkan."

Sejak tahun 1994 Hotma bertugas sebagai protokol Garuda yang melayani direktur utama dari Wage Moeljono, Soepandi, Robby Djohan sampai yang sekarang Abdul Gani. Dua dirut yang disebut pertama dari kalangan birokrat, sedangkan dua yang terakhir dari swasta. "Tentu karakteristik mereka berbeda. Yang birokrat sangat protokoler, yang swasta lebih bebas. Terlepas dari itu, saya bersikap seakan mereka itu Bapak saya, bukan sebagai bos," ujar Bapak sepasang putra-putri ini.

Sebenarnya ia bergabung dengan Garuda sejak tahun 1982. "Saya baru lulus SMA. Masuk Garuda ingin bisa jalan-jalan, apalagi bila sampai ke luar negeri. Waktu itu saya sebagai tenaga honorer bagian ticketing." Tapi setelah dua tahun, ia keluar dan kuliah di Fakultas Ekonomi UKI Jakarta. Tahun 1990, ia kembali ke Garuda, diterima menjadi karyawan tetap di bagian audit.

Rupanya kelahiran Jakarta, 1 Nopember 1962 ini lebih berminat menjadi petugas protokol. Dari sinilah mulai tercapai keinginannya jalan-jalan. Bahkan hampir tiap kali sang dirut ke luar negeri dan melakukan perjalanan VVIP Presiden, ia sering di dekatnya. Beberapa kali ia juga melaksanakan Haji dan Umrah.

"Ada syarat utama jadi petugas protokol ini. Kita harus jujur! Wah..., banyak sekali godaannya. Kalau tidak jujur, tidak akan ada lagi kepercayaan dari siapapun," katanya di sela-sela acara peresmian pengoperasian enam pesawat Boeing 737 seri 300 dan 500, 2 Januari lalu di GMF, Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. (nie)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media