Badai krisis moneter menghantam telak banyak perusahaan di Asia. Ada
yang bertumbangan, tapi ada pula yang bertahan. Berikut kiat penyelamatan
diri ACeS ketika konsorsium bank-nya terkena default.
Pedang krisis moneter memang tak kenal siapa pun. Ketika mata pedangnya melibas kemana-mana selama
dua tahun lalu, tak ayal banyak perusahaan bertumbangan. Selebihnya, ada
yang memilih tiarap. Tetapi sebagian lagi, hebatnya, masih ada yang tetap
berusaha maju. Asia Cellular Satellite (ACeS),
anak perusahaan PT Pasifik Satelit Nusantara, adalah contohnya.
Dengan segala kesigapannya, menjelang sumber pendanaannya
limbung, perusahaan yang tengah mempersiapkan jaringan telekomunikasi selular
berbasis satelit geosinkronus bernama
Garuda yang merengkuh hingga nyaris ke
seluruh wilayah Asia ini, telah mengambil ancang-ancang penyelamatan.
Seperti diungkap Manajer
Pemasaran-nya, Gema Suria, pihaknya memang sempat
deg-degan ketika tahun-tahun lalu badai krismon mulai mengancam bank-bank
di Indonesia. Pasalnya, selain didukung
equity dari para pemegang sahamnya,
sejumlah bank yang tergabung dalam sebuah konsorsium telah menjadi sumber pendanaannya.
"Kalau ada yang terlikuidasi
hingga bank yang bersangkutan default,
loan agreement kami 'kan akan terganggu.
Dan, kenyataannya memang ada yang terkena. Namun sebelum semua terjadi, Pak
Adiwoso telah mengambil langkah penyelamatan," tuturnya kepada
Angkasa. Adiwoso yang dimaksud tak lain adalah
bosnya, Adi R. Adiwoso, pengusaha muda yang telah lama malang-melintang dalam
bisnis persatelitan di Indonesia.
Singkat kata, dalam sebuah
perjalanan bisnis ke AS, Adi berhasil menggaet Lockheed Martin Global
Telecommu-nications yang bersedia ikut mendukung bisnis ACeS. LMGT tak lain adalah
anak Lockheed Martin, yang dalam dunia kedirgantaraan dikenal sebagai
pencetak pesawat angkut berat C-130
Hercules dan F-16 Fighting Falcon. Resminya, 5
Januari lalu, di Bethesda, Maryland, AS,
perusahaan ini bersedia menanamkan investasi yang selanjutnya menjadi 30 persen
kepemilikan saham di ACeS.
Pucuk dicinta ulam tiba. Kucuran
dana ini disebutkan tergolong besar, karena selain sanggup memenuhi keperluan
dana operasi awal, sisanya masih bisa digunakan untuk membuat satelit ACeS kedua,
yakni Garuda-2 satelit yang mula-mula akan menjadi
back-up Garuda-1 yang akan diluncurkan akhir Mei atau paling
tidak awal Juni tahun ini. Menurut rencana peluncuran ini akan dilaksanakan
dari Pusat Peluncuran Baikonur di Kazakhtan, Rusia, dengan menggunakan
roket pendorong raksasa Proton.
Mengejar pasar Asia
Satelit yang konsepnya dibuat
sendiri oleh ACeS tersebut, secara fisik tergolong besar. Bahkan jauh lebih besar
ketimbang Palapa C, satelit Palapa terbesar
yang dikuasai PT Satelindo. Antenanya berdiameter 12 meter, sementara Palapa
C hanya 3 meter. Begitu pula dengan daya pancarnya: jika Palapa C hanya 4
kilowatt, Garuda mencapai 13 kilowatt. Keunggulan lainnya: Garuda tercatat sebagai
satkom pertama yang menerapkan Digital
Channelizer, yakni sejenis komputer yang mampu mengubah
(switch) kanal secara otomatis dari L-band (yang biasa
digunakan komunikasi ponsel) ke C-band (untuk komunikasi antar
gateway), demikian pula sebaliknya. Berat satelit yang kontrak
pembuatannya diserahkan kepada Lockheed Martin ini sekitar 4,5 ton.
"Sistem ACeS menunjukkan
bagaimana penemuan sistem rekayasa dan perencanaan jaringan dapat
mengangkat sistem jaringan telekomunikasi ke
tingkat yang baru. Investasi di ACeS merupakan kepercayaan kami bukan hanya saja
pada segi kualitas teknologi sistem dan perencanaannya, tetapi juga terhadap
prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Asia," begitu sambut CEO LMGT, John
V. Sponyoe dalam acara penandatanganan kesepakatan kerjasama ACeS-LMGT.
Seperti pernah dikemukakan
Adiwoso kepada Angkasa, jaringan bisnisnya memang memerlukan satelit sebesar
ini. Pasalnya, sesuai cita-cita, Garuda harus bisa menyangga layanan
telekomunikasi (berupa ponsel, fix-phone, short
message, voice mail, store, forward fax,
dan high power paging) hingga kepada dua juta pelanggan dari wilayah Asia yang
ingin dikejarnya. Lebih jauh, dengan Garuda-2, ACeS bahkan berambisi
memperlebar wilayahnya hingga kawasan Eropa Timur dan sebagian Utara Afrika, yang
memungkinkan pelanggan ACeS menggunakan
handset yang sama untuk menjangkau rekannya mulai dari Papua Nugini
hingga Turki.
Mau tahu mengapa ACeS hingga memiliki ambisi sejauh ini? Menurut
mereka, bisnis ini direngkuhnya mengingat kian tinggi dan jauhnya perjalanan bisnis
yang mengandalkan sistem satelit komunikasi bergerak. Begitu pun diakuinya,
lingkup bisnis seperti ini selanjutnya memang akan berhadapan dengan para pesaingnya
seperti Iridium, Odyssey, Orbocomm, dan
Globalstar yang jangkauannya lebih mendunia.
Namun, seperti dikatakan
Adiwoso, "Masalahnya buat apa memikirkan
dunia, kalau frekuensi bisnis di Asia-Pasifik saja sudah tergolong besar. Dari 3
milyar penduduk di wilayah ini, kurang dari 25 persen mempunyai akses ke
sambungan telepon biasa dan kurang dari 11 persen mempunyai akses ke telepon
bergerak. Dengan demikian, secara bersama-sama, regional yang mencakup dataran
geografis, yang luas dan bervariasi, membuat Asia Pasifik menjadi pasar terbaik di dunia
untuk jasa satelit bergerak."
Lebih lanjut ACeS mengungkap,
pasar dunia untuk jasa satelit bergerak diperkirakan akan mencapai 35 milyar
dollar setiap tahunnya pada tahun 2003, dimana Asia diperkirakan menguasai sepertiganya.
Sebagai catatan, hadirnya LMGT
dalam susunan pemegang saham ACeS selanjutnya memang mengubah komposisi
semula. Jika saham perusahaan yang telah dirintis lima tahun lalu itu semula dikuasai
Pasifik Satelit Nusantara (Indonesia), Jasmine International Public Company
Ltd. (Thailand), dan Philippines Long Distance Telephone Company (Filipina)
dengan komposisi berimbang: sepertiga-sepertiga; kehadiran LMGT dengan 30
persen sahamnya membuat ketiga perusahaan hanya memperoleh 70 persen saham
yang kemudian dibagi tiga.
Namun, ungkap Gema Suria,
hantaman krisis ekonomi di Thailand sendiri belakangan telah membuat
komposisi kembali berubah. Dalam hal ini, akibat kesulitan finansial JIPC baru-baru
menjual sebagian sahamnya kepada PSN dan PLDT, hingga komposisinya menjadi
30:29:9 untuk PSN,PLDT,JIPC. Jika segalanya berjalan lancar, komersialisasi ACeS
sendiri diperkirakan akan dimulai pada November-Desember
1999.(adr)