ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Langkah Adiwoso Selamatkan Garuda

Branson Gagal Keliling Dunia dengan Balon

Tim Lineger Gagal Sebelum Terbang


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
TEKNOLOGI  

Langkah Adiwoso Selamatkan Garuda

Badai krisis moneter menghantam telak banyak perusahaan di Asia. Ada yang bertumbangan, tapi ada pula yang bertahan. Berikut kiat penyelamatan diri ACeS ketika konsorsium bank-nya terkena default.

Pedang krisis moneter memang tak kenal siapa pun. Ketika mata pedangnya melibas kemana-mana selama dua tahun lalu, tak ayal banyak perusahaan bertumbangan. Selebihnya, ada yang memilih tiarap. Tetapi sebagian lagi, hebatnya, masih ada yang tetap berusaha maju. Asia Cellular Satellite (ACeS), anak perusahaan PT Pasifik Satelit Nusantara, adalah contohnya.

Dengan segala kesigapannya, menjelang sumber pendanaannya limbung, perusahaan yang tengah mempersiapkan jaringan telekomunikasi selular berbasis satelit geosinkronus bernama Garuda yang merengkuh hingga nyaris ke seluruh wilayah Asia ini, telah mengambil ancang-ancang penyelamatan.

Seperti diungkap Manajer Pemasaran-nya, Gema Suria, pihaknya memang sempat deg-degan ketika tahun-tahun lalu badai krismon mulai mengancam bank-bank di Indonesia. Pasalnya, selain didukung equity dari para pemegang sahamnya, sejumlah bank yang tergabung dalam sebuah konsorsium telah menjadi sumber pendanaannya.

"Kalau ada yang terlikuidasi hingga bank yang bersangkutan default, loan agreement kami 'kan akan terganggu. Dan, kenyataannya memang ada yang terkena. Namun sebelum semua terjadi, Pak Adiwoso telah mengambil langkah penyelamatan," tuturnya kepada Angkasa. Adiwoso yang dimaksud tak lain adalah bosnya, Adi R. Adiwoso, pengusaha muda yang telah lama malang-melintang dalam bisnis persatelitan di Indonesia.

Singkat kata, dalam sebuah perjalanan bisnis ke AS, Adi berhasil menggaet Lockheed Martin Global Telecommu-nications yang bersedia ikut mendukung bisnis ACeS. LMGT tak lain adalah anak Lockheed Martin, yang dalam dunia kedirgantaraan dikenal sebagai pencetak pesawat angkut berat C-130 Hercules dan F-16 Fighting Falcon. Resminya, 5 Januari lalu, di Bethesda, Maryland, AS, perusahaan ini bersedia menanamkan investasi yang selanjutnya menjadi 30 persen kepemilikan saham di ACeS.

Pucuk dicinta ulam tiba. Kucuran dana ini disebutkan tergolong besar, karena selain sanggup memenuhi keperluan dana operasi awal, sisanya masih bisa digunakan untuk membuat satelit ACeS kedua, yakni Garuda-2 satelit yang mula-mula akan menjadi back-up Garuda-1 yang akan diluncurkan akhir Mei atau paling tidak awal Juni tahun ini. Menurut rencana peluncuran ini akan dilaksanakan dari Pusat Peluncuran Baikonur di Kazakhtan, Rusia, dengan menggunakan roket pendorong raksasa Proton.

Mengejar pasar Asia

Satelit yang konsepnya dibuat sendiri oleh ACeS tersebut, secara fisik tergolong besar. Bahkan jauh lebih besar ketimbang Palapa C, satelit Palapa terbesar yang dikuasai PT Satelindo. Antenanya berdiameter 12 meter, sementara Palapa C hanya 3 meter. Begitu pula dengan daya pancarnya: jika Palapa C hanya 4 kilowatt, Garuda mencapai 13 kilowatt. Keunggulan lainnya: Garuda tercatat sebagai satkom pertama yang menerapkan Digital Channelizer, yakni sejenis komputer yang mampu mengubah (switch) kanal secara otomatis dari L-band (yang biasa digunakan komunikasi ponsel) ke C-band (untuk komunikasi antar gateway), demikian pula sebaliknya. Berat satelit yang kontrak pembuatannya diserahkan kepada Lockheed Martin ini sekitar 4,5 ton.

"Sistem ACeS menunjukkan bagaimana penemuan sistem rekayasa dan perencanaan jaringan dapat mengangkat sistem jaringan telekomunikasi ke tingkat yang baru. Investasi di ACeS merupakan kepercayaan kami bukan hanya saja pada segi kualitas teknologi sistem dan perencanaannya, tetapi juga terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Asia," begitu sambut CEO LMGT, John V. Sponyoe dalam acara penandatanganan kesepakatan kerjasama ACeS-LMGT.

Seperti pernah dikemukakan Adiwoso kepada Angkasa, jaringan bisnisnya memang memerlukan satelit sebesar ini. Pasalnya, sesuai cita-cita, Garuda harus bisa menyangga layanan telekomunikasi (berupa ponsel, fix-phone, short message, voice mail, store, forward fax, dan high power paging) hingga kepada dua juta pelanggan dari wilayah Asia yang ingin dikejarnya. Lebih jauh, dengan Garuda-2, ACeS bahkan berambisi memperlebar wilayahnya hingga kawasan Eropa Timur dan sebagian Utara Afrika, yang memungkinkan pelanggan ACeS menggunakan handset yang sama untuk menjangkau rekannya mulai dari Papua Nugini hingga Turki.

Mau tahu mengapa ACeS hingga memiliki ambisi sejauh ini? Menurut mereka, bisnis ini direngkuhnya mengingat kian tinggi dan jauhnya perjalanan bisnis yang mengandalkan sistem satelit komunikasi bergerak. Begitu pun diakuinya, lingkup bisnis seperti ini selanjutnya memang akan berhadapan dengan para pesaingnya seperti Iridium, Odyssey, Orbocomm, dan Globalstar yang jangkauannya lebih mendunia.

Namun, seperti dikatakan Adiwoso, "Masalahnya buat apa memikirkan dunia, kalau frekuensi bisnis di Asia-Pasifik saja sudah tergolong besar. Dari 3 milyar penduduk di wilayah ini, kurang dari 25 persen mempunyai akses ke sambungan telepon biasa dan kurang dari 11 persen mempunyai akses ke telepon bergerak. Dengan demikian, secara bersama-sama, regional yang mencakup dataran geografis, yang luas dan bervariasi, membuat Asia Pasifik menjadi pasar terbaik di dunia untuk jasa satelit bergerak."

Lebih lanjut ACeS mengungkap, pasar dunia untuk jasa satelit bergerak diperkirakan akan mencapai 35 milyar dollar setiap tahunnya pada tahun 2003, dimana Asia diperkirakan menguasai sepertiganya.

Sebagai catatan, hadirnya LMGT dalam susunan pemegang saham ACeS selanjutnya memang mengubah komposisi semula. Jika saham perusahaan yang telah dirintis lima tahun lalu itu semula dikuasai Pasifik Satelit Nusantara (Indonesia), Jasmine International Public Company Ltd. (Thailand), dan Philippines Long Distance Telephone Company (Filipina) dengan komposisi berimbang: sepertiga-sepertiga; kehadiran LMGT dengan 30 persen sahamnya membuat ketiga perusahaan hanya memperoleh 70 persen saham yang kemudian dibagi tiga.

Namun, ungkap Gema Suria, hantaman krisis ekonomi di Thailand sendiri belakangan telah membuat komposisi kembali berubah. Dalam hal ini, akibat kesulitan finansial JIPC baru-baru menjual sebagian sahamnya kepada PSN dan PLDT, hingga komposisinya menjadi 30:29:9 untuk PSN,PLDT,JIPC. Jika segalanya berjalan lancar, komersialisasi ACeS sendiri diperkirakan akan dimulai pada November-Desember 1999.(adr)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media