RICHARD Branson adalah milyarder Inggris yang senang petualangan. Pemilik maskapai penerbangan Virgin
Atlantic ini dikenal sebagai pencinta terbang dengan balon udara.
Pada tanggal 18 Desember lalu,
bersama dengan bekas saingan utamanya Steve Fossett asal Amerika Branson
mencoba mengelilingi dunia nonstop dengan balon udara panas. Bersama dengan dua
balonis di atas adalah perancang balon asal Swedia Per Lindstrand.
Balon Branson mengudara dari
kota Marakesh, Maroko, 18 Desember 1998. Misi ini terpaksa harus diakhiri pada
Hari Natal 25 Desember 1998 dengan balon mencebur Samudera Pasifik, tepatnya
15 mil dari Pulau Oahu, Hawaii, pukul 09.40 waktu setempat.
Dalam 'pendaratan' di laut atau
ditching ini, peledak yang harusnya
berfungsi guna memisahkan balon dan kapsul penumpang macet, hingga selubung raksasa
balon tetap terikat dengan kapsul
awak. Dengan angin yang bertiup dengan kecepatan 15 knot, kapsul pun terseret
selama 20 menit di antara gelombang setinggi hampir tiga meter, sampai akhirnya
awak bisa melompat keluar kapsul.
Begitu terapung di laut, dua
helikopter HH-65A milik Penjaga Pantai AS yang sebelumnya sudah disiagakan,
segera menolong ketiga awak. Itulah akhir pengembaraan terakhir Branson dkk.
Pengalaman Mendebarkan
Selama penerbangan, ketiga awak
meng-hadapi beragam tantangan. Paling mencolok dari semuanya tentu saat
melewati wilayah RRC. Balon meleset dari koridor masuk yang sudah disetujui,
sehingga penguasa Cina meminta balon untuk mendarat.
Menanggapi tuntutan itu, para
balonis mengatakan, bahwa tidak aman untuk mendarat di kawasan pegunungan,
sehingga mereka pun terus terbang. Sementara itu PM Inggris Tony Blair pun turun
tangan, sehingga awak dapat diijinkan terbang lintas melalui rute yang baru.
Sekadar catatan, sejak itu RRC
seperti dikutip Aviation Week & Space
Techno- logy (4/1) mengetatkan memberikan ijin bagi penerbangan balon lain yang
akan melintasi negara tersebut. Ini telah memaksa satu tim dari Swiss yang akan
melakukan usaha penerbangan keliling dunia menangguhkan penerbangan,
menunggu hasil perundingan yang dilakukan pemerintah Swiss dengan pemerintah
Cina untuk mendapat ijin terbang lintas.
Pengalaman lain yang tak kalah
mendebarkan tentunya adalah saat mereka menjelang 'mendarat' di Samudera
Pasifik. Pada malam Natal lalu, Branson justru berjuang keras agar balonnya
tetap mengudara. Para awak sempat bercita-cita menikmati daging kalkun di
atas kontinental AS. Di luar harapan mereka, balon terjebak dalam tekanan udara
rendah, hingga ketinggian pun sulit dipertahankan.
Saat itu, peluang yang ada oleh pengelola proyek di Inggris disebut
50-50. Peluang yang ada adalah sesegera mungkin masuk dalam angin timur
yang kencang. Padahal ketika dalam tekanan udara rendah, kecepatan balon hanya
20 mil per jam.
Mengetahui peluang yang mereka miliki hanya separuh, para awak
pun memberitahu Penjaga Pantai AS di Hawaii mengenai dilema yang mereka
hadapi. Pilihan toh harus diambil, yaitu kalau memang situasi tidak
memungkinkan, mereka harus memutuskan turun pada
titik dimana mereka bisa ditolong.
Rupanya inilah yang akhirnya
diambil oleh para awak setelah mereka melihat tidak ada jalan keluar yang bisa
membawa mereka ke angin kencang sementara bahan bakar tinggal untuk empat-lima hari lagi.
Operasi Rutin
Bagi satuan Penjaga Pantai di
Hawaii, menyelamatkan awak balon di siang hari sudah dinilai rutin. Operasi baru
menjadi sulit jika Branson harus turun di laut
malam hari atau lebih jauh lagi dari pantai.
Setelah mendapat laporan
mengenai kesulitan yang dihadapi Branson dkk, para staf di Stasiun Udara Barbers Point di
Oahu segera melepas ke udara sebuah pesawat Hercules C-130 guna mencek arah
dan kecepatan angin di udara. Informasi yang mereka peroleh diteruskan ke para
balonis yang menjelang Natal sudah mendekati Hawaii.
Pusat penyelamatan Penjaga Pantai
AS ini juga menjalin komunikasi dengan pusat pengendali misi balon di Uxbridge,
Inggris, guna mengkoordinasi kegiatan penyelamatan.
Satu-satunya kerisauan yang ada
adalah jika balon akan ditching di malam
hari, saat jarak masih 200 mil dari Oahu. Ini 50 mil di luar jangkauan helikopter HH-65A.
Untunglah balon yang diangkat
oleh udara panas dan helium ini masih punya cukup bahan bakar gas propana
untuk membuatnya terus mengudara menjelang Natal tersebut, sehingga posisi balon
dapat dibawa lebih dekat lagi ke Hawaii.
Meskipun demikian, jalannya
operasi penyelamatan bukannya tanpa ketegangan sama sekali. Ketegangan itu muncul
saat balon tercebur ke laut, mekanisme pelepasan kapsul dan balon tak
bekerja, sehingga balon yang tingginya 50 meterdan garis tengah 40 meter itu seperti
layar yang menyeret kapsul.
Setelah Branson dan Fossett bisa
lompat ke air, heli HH-65A pertama segera mendekat untuk penyelamatan.
Perenang dari heli terjun ke air untuk membantu Branson dan Fossett bergegas ke
keranjang penyelamat heli.
Berikutnya, Lindstrand pun bisa melompat ke air, dan ditolong oleh
heli kedua. Sekadar catatan, ketiga balonis di atas saat terjun ke air mengenakan
baju pelampung.
Untuk penyelamatan itu, para
balonis menawarkan biaya penggantian, tetapi para pejabat Penjaga Pantai
mengatakan, pihaknya tidak punya cara untuk
mengurus tagihan.
Setelah menolong awak, terpikir pula untuk menolong balonnya sendiri,
yang selubungnya mengangkut 1,1 juta kaki kubik helium, dan dirancang
untuk mengangkut kapsul bertekanan ini hingga ke ketinggian 40.000 kaki.
Seusai penyelamatan awak, kapsul masih terus terseret ombak, sementara selubung
balon perlahan-lahan mengempis. Pihak Penjaga Pantai selanjutnya mencoba melacak
balon dan kapsul tersebut. Kapal penyelamat yang disewa oleh pengelola misi yang
dilengkapi dengan derek besar juga disiapkan.
Mengenai hasilnya, apa yang
dicapai Branson dkk dari Maroko ke Hawaii ternyata masih 100 mil lebih
pendek dibandingkan rekor yang dibukukan oleh Fossett dalam upaya solo keliling
dunia dengan balon bulan Agustus 1998. Total jarak yang ditempuh Branson adalah 8.200
mil (13.120 km). Ini adalah separuh
dari jarak yang harus ia lalui. Meskipun demikian, pihak pengelola misi
Branson mengatakan, misi terakhir ini adalah penerbangan balon berawak pertama
yang melintasi Asia dan yang pertama terbang di atas Himalaya.
Dalam misi yang gagal ini, Branson
kalah taruhan sebesar 300.000 dollar. Tetapi Branson tidak kecewa, karena menurut
dia, apa yang dialaminya selama seminggu itu adalah pengembaraan terbesar di
dalam hidupnya. Seandainya saja Branson berhasil memenuhi rencananya, ia akan
mendapat hadiah tiga juta dollar, yang sudah ia
nyatakan akan ia sumbangkan ke yayasan amalnya.
Seusai penyelamatan, dalam
satu konferensi pers Branson yang kini berusia 48 tahun dan sebelumnya sudah dua
kali berihtiar memecahkan rekor besar terakhir dalam dunia penerbangan ini
masih belum bisa menegaskan, apakah ia akan mencoba lagi upaya tersebut di masa
yang akan datang.
Apa pun jawabannya, ia tentu
sudah paham benar, bahwa tantangan terbesar dalam misi seperti itu adalah
berhadapan dengan Samudera Pasifik yang maha luas, dengan pola cuaca yang juga tak selalu
bisa diramalkan.
Selain itu, seperti yang ia alami di
RRC, tantangan politik tidak jarang bisa muncul lebih rumit daripada tantangan cuaca.
Di Cina, ijin baru hanya muncul setelah pucuk pemerintahan ikut campur tangan.
Mereka juga harus menghindari wilayah udara Korea Utara yang menolak memberi
ijin. Mereka juga harus berunding dengan penguasa Rusia dan Iran agar dapat
menerbangi koridor sempit di antara wilayah udara kedua negara tersebut, setelah kedua
negara menolak wilayah udara mereka digunakan untuk penerbangan ini.
Sebagaimana dikemukakan oleh pengelola misi, angin dan cuaca serta
bahan bakar adalah masalah yang mereka ketahui. Yang tidak mereka sukai adalah
urusan mengenai masalah politik.
Misi terakhir Branson ini,
seandainya mulus, membutuhkan waktu 12 hingga 15 hari untuk menyelesaikannya.
Misi tersebut adalah yang terakhir dari hampir 20 misi bertujuan
sama.(nin)