ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Langkah Adiwoso Selamatkan Garuda

Branson Gagal Keliling Dunia dengan Balon

Tim Lineger Gagal Sebelum Terbang


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
TEKNOLOGI  

Branson Gagal Keliling Dunia dengan Balon

RICHARD Branson adalah milyarder Inggris yang senang petualangan. Pemilik maskapai penerbangan Virgin Atlantic ini dikenal sebagai pencinta terbang dengan balon udara.

Pada tanggal 18 Desember lalu, bersama dengan bekas saingan utamanya Steve Fossett asal Amerika Branson mencoba mengelilingi dunia nonstop dengan balon udara panas. Bersama dengan dua balonis di atas adalah perancang balon asal Swedia Per Lindstrand.

Balon Branson mengudara dari kota Marakesh, Maroko, 18 Desember 1998. Misi ini terpaksa harus diakhiri pada Hari Natal 25 Desember 1998 dengan balon mencebur Samudera Pasifik, tepatnya 15 mil dari Pulau Oahu, Hawaii, pukul 09.40 waktu setempat.

Dalam 'pendaratan' di laut atau ditching ini, peledak yang harusnya berfungsi guna memisahkan balon dan kapsul penumpang macet, hingga selubung raksasa

balon tetap terikat dengan kapsul awak. Dengan angin yang bertiup dengan kecepatan 15 knot, kapsul pun terseret selama 20 menit di antara gelombang setinggi hampir tiga meter, sampai akhirnya awak bisa melompat keluar kapsul.

Begitu terapung di laut, dua helikopter HH-65A milik Penjaga Pantai AS yang sebelumnya sudah disiagakan, segera menolong ketiga awak. Itulah akhir pengembaraan terakhir Branson dkk.

Pengalaman Mendebarkan

Selama penerbangan, ketiga awak meng-hadapi beragam tantangan. Paling mencolok dari semuanya tentu saat melewati wilayah RRC. Balon meleset dari koridor masuk yang sudah disetujui, sehingga penguasa Cina meminta balon untuk mendarat.

Menanggapi tuntutan itu, para balonis mengatakan, bahwa tidak aman untuk mendarat di kawasan pegunungan, sehingga mereka pun terus terbang. Sementara itu PM Inggris Tony Blair pun turun tangan, sehingga awak dapat diijinkan terbang lintas melalui rute yang baru.

Sekadar catatan, sejak itu RRC seperti dikutip Aviation Week & Space Techno- logy (4/1) mengetatkan memberikan ijin bagi penerbangan balon lain yang akan melintasi negara tersebut. Ini telah memaksa satu tim dari Swiss yang akan melakukan usaha penerbangan keliling dunia menangguhkan penerbangan, menunggu hasil perundingan yang dilakukan pemerintah Swiss dengan pemerintah Cina untuk mendapat ijin terbang lintas.

Pengalaman lain yang tak kalah mendebarkan tentunya adalah saat mereka menjelang 'mendarat' di Samudera Pasifik. Pada malam Natal lalu, Branson justru berjuang keras agar balonnya tetap mengudara. Para awak sempat bercita-cita menikmati daging kalkun di atas kontinental AS. Di luar harapan mereka, balon terjebak dalam tekanan udara rendah, hingga ketinggian pun sulit dipertahankan.

Saat itu, peluang yang ada oleh pengelola proyek di Inggris disebut 50-50. Peluang yang ada adalah sesegera mungkin masuk dalam angin timur yang kencang. Padahal ketika dalam tekanan udara rendah, kecepatan balon hanya 20 mil per jam.

Mengetahui peluang yang mereka miliki hanya separuh, para awak pun memberitahu Penjaga Pantai AS di Hawaii mengenai dilema yang mereka hadapi. Pilihan toh harus diambil, yaitu kalau memang situasi tidak memungkinkan, mereka harus memutuskan turun pada titik dimana mereka bisa ditolong.

Rupanya inilah yang akhirnya diambil oleh para awak setelah mereka melihat tidak ada jalan keluar yang bisa membawa mereka ke angin kencang sementara bahan bakar tinggal untuk empat-lima hari lagi.

Operasi Rutin

Bagi satuan Penjaga Pantai di Hawaii, menyelamatkan awak balon di siang hari sudah dinilai rutin. Operasi baru menjadi sulit jika Branson harus turun di laut malam hari atau lebih jauh lagi dari pantai.

Setelah mendapat laporan mengenai kesulitan yang dihadapi Branson dkk, para staf di Stasiun Udara Barbers Point di Oahu segera melepas ke udara sebuah pesawat Hercules C-130 guna mencek arah dan kecepatan angin di udara. Informasi yang mereka peroleh diteruskan ke para balonis yang menjelang Natal sudah mendekati Hawaii.

Pusat penyelamatan Penjaga Pantai AS ini juga menjalin komunikasi dengan pusat pengendali misi balon di Uxbridge, Inggris, guna mengkoordinasi kegiatan penyelamatan.

Satu-satunya kerisauan yang ada adalah jika balon akan ditching di malam hari, saat jarak masih 200 mil dari Oahu. Ini 50 mil di luar jangkauan helikopter HH-65A.

Untunglah balon yang diangkat oleh udara panas dan helium ini masih punya cukup bahan bakar gas propana untuk membuatnya terus mengudara menjelang Natal tersebut, sehingga posisi balon dapat dibawa lebih dekat lagi ke Hawaii.

Meskipun demikian, jalannya operasi penyelamatan bukannya tanpa ketegangan sama sekali. Ketegangan itu muncul saat balon tercebur ke laut, mekanisme pelepasan kapsul dan balon tak bekerja, sehingga balon yang tingginya 50 meterdan garis tengah 40 meter itu seperti layar yang menyeret kapsul.

Setelah Branson dan Fossett bisa lompat ke air, heli HH-65A pertama segera mendekat untuk penyelamatan. Perenang dari heli terjun ke air untuk membantu Branson dan Fossett bergegas ke keranjang penyelamat heli.

Berikutnya, Lindstrand pun bisa melompat ke air, dan ditolong oleh heli kedua. Sekadar catatan, ketiga balonis di atas saat terjun ke air mengenakan baju pelampung.

Untuk penyelamatan itu, para balonis menawarkan biaya penggantian, tetapi para pejabat Penjaga Pantai mengatakan, pihaknya tidak punya cara untuk mengurus tagihan.

Setelah menolong awak, terpikir pula untuk menolong balonnya sendiri, yang selubungnya mengangkut 1,1 juta kaki kubik helium, dan dirancang untuk mengangkut kapsul bertekanan ini hingga ke ketinggian 40.000 kaki. Seusai penyelamatan awak, kapsul masih terus terseret ombak, sementara selubung balon perlahan-lahan mengempis. Pihak Penjaga Pantai selanjutnya mencoba melacak balon dan kapsul tersebut. Kapal penyelamat yang disewa oleh pengelola misi yang dilengkapi dengan derek besar juga disiapkan.

Mengenai hasilnya, apa yang dicapai Branson dkk dari Maroko ke Hawaii ternyata masih 100 mil lebih pendek dibandingkan rekor yang dibukukan oleh Fossett dalam upaya solo keliling dunia dengan balon bulan Agustus 1998. Total jarak yang ditempuh Branson adalah 8.200 mil (13.120 km). Ini adalah separuh dari jarak yang harus ia lalui. Meskipun demikian, pihak pengelola misi Branson mengatakan, misi terakhir ini adalah penerbangan balon berawak pertama yang melintasi Asia dan yang pertama terbang di atas Himalaya.

Dalam misi yang gagal ini, Branson kalah taruhan sebesar 300.000 dollar. Tetapi Branson tidak kecewa, karena menurut dia, apa yang dialaminya selama seminggu itu adalah pengembaraan terbesar di dalam hidupnya. Seandainya saja Branson berhasil memenuhi rencananya, ia akan mendapat hadiah tiga juta dollar, yang sudah ia nyatakan akan ia sumbangkan ke yayasan amalnya.

Seusai penyelamatan, dalam satu konferensi pers Branson yang kini berusia 48 tahun dan sebelumnya sudah dua kali berihtiar memecahkan rekor besar terakhir dalam dunia penerbangan ini masih belum bisa menegaskan, apakah ia akan mencoba lagi upaya tersebut di masa yang akan datang.

Apa pun jawabannya, ia tentu sudah paham benar, bahwa tantangan terbesar dalam misi seperti itu adalah berhadapan dengan Samudera Pasifik yang maha luas, dengan pola cuaca yang juga tak selalu bisa diramalkan.

Selain itu, seperti yang ia alami di RRC, tantangan politik tidak jarang bisa muncul lebih rumit daripada tantangan cuaca. Di Cina, ijin baru hanya muncul setelah pucuk pemerintahan ikut campur tangan. Mereka juga harus menghindari wilayah udara Korea Utara yang menolak memberi ijin. Mereka juga harus berunding dengan penguasa Rusia dan Iran agar dapat menerbangi koridor sempit di antara wilayah udara kedua negara tersebut, setelah kedua negara menolak wilayah udara mereka digunakan untuk penerbangan ini.

Sebagaimana dikemukakan oleh pengelola misi, angin dan cuaca serta bahan bakar adalah masalah yang mereka ketahui. Yang tidak mereka sukai adalah urusan mengenai masalah politik.

Misi terakhir Branson ini, seandainya mulus, membutuhkan waktu 12 hingga 15 hari untuk menyelesaikannya. Misi tersebut adalah yang terakhir dari hampir 20 misi bertujuan sama.(nin)



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media