ANGKASA N0.5 FEBRUARI 1999 TAHUN IX  

Awas Millenium bug

Antisipasi TNI AU

Ringan Tapi Bikin Sibuk

SIAGA Y2K


  Utama
Ekonomi
Teknologi
Bandara
Ordirga
Opini
Militer
Notam
Kokpit
Origami
Fenomena
Cakrawala
Lobi
Surat
Profil

 
LAPORAN UTAMA  

Awas Millenium bug !

Berbeda dengan laporan-laporan sebelumnya, kali ini Angkasa mengetengahkan 'kutu' yang kabarnya akan mengacak-acak kerja berbagai jenis komputer. Sang kutu bernama millenium bug. Kehadirannya di awal millenium baru nantilah yang memberinya julukan seperti ini.

Menurut Bill Schoen, salah satu orang pertama yang memperkenalkannya, polah kutu imajiner yang satu ini akan nampak saat komputer dengan format penulisan tahun dua digit memasuki tahun 2000. Pembatasan memori membuatnya tak sanggup membedakan antara tahun 2000 dengan 1900. Jika problem ini tak dikoreksi, sang kutu misalnya bisa mengacau perhitungan bunga deposito, tagihan kartu kredit, kontrol lift, pemesanan suku cadang pesawat terbang, sistem reservasi penerbangan, radar, hingga kendali lalu lintas udara.

Petaka lain yang kini tengah diselidiki dalam dunia penerbangan, adalah juga 'kemampuannya' membuat bingung piranti penuntun navigasi penerbangan: GPS dan INS. Dia sanggup mengacak koordinat penerbangan. Bayangkan, apa yang akan terjadi jika kita berada dalam penerbangan ke London yang sejak dari Jakarta ternyata arahnya telah melenceng satu derajad saja?

Lebih jauh, yang kini ditakuti para pengguna komputer adalah 'efek dominonya'. Subsistem kecil yang terpengaruh, namun kerja sistem yang lebih besar di atasnya ikut terganggu. Maka banyak pihak lalu tergopoh-gopoh menempuh solusi. Berikut laporan Rasantika MS, Beny Adrian, Adeline MT, Dudi Sudibyo, A. Darmawan, dan Ninok Leksono, tentang sekilas dampak millenium bug di seputar dunia penerbangan.

Mula-mula adalah pertimbangan praktis untuk menghemat memori komputer, yang pada masa awal pemanfaatan luas komputer di tahun 1960-an lalu masih dirasakan mahal. Dengan dasar pertimbangan tersebut, penulisan tahun yang seharusnya empat digit seperti tahun 1999 hanya ditulis dua digit terakhir, menjadi 99. Dari tahun 60 hingga 99 tentu saja tidak ada persoalan. Tetapi, ketika tahun 2000 harus ditulis 00, barulah persoalan dimulai...

Segera saja muncul dugaan mengenai berbagai hal yang orang tidak tahu persis apa konsekuensinya... Bukankah 00 selain berarti tahun 2000 juga berarti tahun 1900? Bagaimana komputer bisa membedakan hal itu?

Sekadar ilustrasi, pada tahun 1999 ini majalah Angkasa manajemen baru akan berusia 10 tahun karena lahir Oktober 1989. Pada tahun 2000 seharusnya usia Angkasa adalah 11 tahun. Tetapi karena penulisan tahun hanya dua digit, maka pada tahun 2000 nanti usia Angkasa adalah minus (-) 89 tahun, dari 00 dikurangi 89.

Sebenarnya para pemrogram komputer tahu dari awal, bahwa penggunaan dua digit untuk penulisan tahun akan menimbulkan problem karena komputer akan crash atau memproduksi data salah setelah tidak bisa membedakan antara tahun 2000 dan 1900. Tetapi mereka beranggapan, bahwa tahun 2000 itu masih lama, dan model yang mereka pergunakan sudah akan ketinggalan zaman tak dipakai lagi pada tahun 2000. Dugaan ini ternyata keliru, karena masih saja orang mempergunakan program dengan tata cara lama. Produsen komputer dan perangkat lunak juga enggan mencurahkan investasi ekstra dimasa lalu untuk mengkoreksi hal itu.

Kini, mengingat penggunaan komputer, atau pun peralatan lain yang mengandung elektronik yang menggunakan tata cara seperti komputer sudah demikian meluas, di perkantoran, di stasiun tenaga, di lift, di dunia penerbangan (seperti pengatur lalu-lintas penerbangan/air traffic control), perbankan, maka wajar jika 'prospek tak diketahui' ini menimbulkan kecemasan luas. kemungkinan bank salah menghitung bunga, tagihan kartu kredit keliru, pengontrol lift macet, alat navigasi kehilangan kontrol, serta berbagai kemungkinan lain, kini menjadi bahan pembicaraan orang seiring dengan mendekatnya tahun 2000.

Secara umum, berbagai problem potensial karena masalah komputer ini dirangkum dalam satu istilah yang disebut 'millenium bug', kutu yang datangnya di saat akan berakhirnya millenium (atau, kala ribuan tahun). Sementara tahun 2000 itu sendiri diringkas dalam singkatan Y2K (Year Two Kilos).

Tentu saja untuk mengenal problema ini lebih dekat, orang perlu familiar dengan berbagai peristilahan komputer, baik yang berkaitan dengan perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak/program (software).

Permasalahan Y2K akan muncul di semua peralatan yang mempergunakan tanggal. Selain pada hardware yakni pada cip terpasang (embedded chips), dalam lingkup teknis ia juga akan muncul pada bahasa pemrograman dan compiler, sistem operasi, sistem sekuriti, sistem perbankan, sistem pemrosesan transaksi, sistem telepon, dan sebagainya. Juga ditegaskan, bahwa meski mayoritas problem Y2K ada di dunia teknologi informasi (IT) atau sistem informasi (IS), masalah ini juga ada pada sistem lain yang mempergunakan waktu.

Yang mendebarkan hati, sistem IT/IS pada berbagai bidang dewasa ini sudah demikian kompleks. Bila pada satu subsistem kecil terkena dampak masalah Y2K, sistem lebih besar di atasnya juga akan ikut terkena, mengingatkan orang pada efek domino.

Secara teknis, untuk mengatasi problem Y2K para pengguna harus mengoreksi semua unsur yang mengandung penanggalan pada komputer dan peralatan yang dipergunakan. Pada perangkat keras, bisa jadi unsur yang dimaksud sudah tidak bisa diperoleh lagi karena ibarat suku cadang sudah tidak diproduksi lagi. Pada perangkat lunak, diperlukan pemrograman ulang. Itu bisa sangat mahal. Ada konsultan yang menerapkan tarif 1 hingga 2 dollar per baris program. Padahal untuk satu komputer besar (mainframe), bisa ada 7.000.000 baris program. Bisa dibayangkan berapa besar ongkos yang harus dikeluarkan untuk mengoreksi problem Y2K ini. Padahal ongkos ini juga masih tergantung pada kapan orang mengambil keputusan untuk melaksanakan penanggulangan. Kalau keputusan diambil tiga atau empat tahun silam, ongkos bisa 1-2 dollar per baris program. Tetapi kalau penanggulangan dilakukan sekarang dalam situasi kepepet mendekati deadline, karena tahun 2000 tidak bisa ditunda kedatangannya konsultan bisa menarik 5-7 dollar per baris program.

Solusi ketiga bila modifikasi dan pemprograman ulang tak bisa dilakukan adalah memensiunkan perlatan yang dipakai.

Kekhawatiran luas

'Hal Tak Diketahui' yang disebabkan oleh Problem Y2K ini sempat melahirkan kekhawatiran di berbagai negara. Pemerintah-pemerintah di dunia juga diimbau untuk memberi perhatian serius terhadap problem ini, karena kalau tidak silakan tanggung sendiri itu yang namanya chaos atau kekalutan, atau bahkan bom atau katastrof akibat problem Y2K ini.

Disatu pihak diakui, bahwa kesadaran mengenai masalah Y2K ini sudah meluas di berbagai kalangan, namun di pihak lain juga diakui, bahwa kalangan politisi yang diandaikan memperlihatkan kepemimpinan dalam upaya penanggulangan 'bencana' yang bisa datang saat kalender melewati tanggal 31 Desember 1999 ini, kurang memberi perhatian memadai.

Pada tingkat dunia, laporan OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan beranggotakan 20 negara) yang mengatakan problem Y2K akan mengancam jaringan komputer dan komunikasi serta sistem elektronik di seluruh dunia, cukup mendapat perhatian. OECD menyerukan diadakannya pertemuan puncak membahas masalah Y2K yang diberi nama Global Year 2000 Summit.

Bagi negara-negara kaya dan maju, seruan penanggulangan problem Y2K lebih mudah ditanggapi. Tetapi bagi negara-negara Asia yang dilanda krisis, seruan tersebut bisa kurang bergaung. Sebagaimana diungkapkan oleh lembaga riset Gartner Group Inc. Indonesia adalah negara Asia yang dinilai akan parah terkena dampak millenium bug. Indonesia dimasukkan dalam negara yang tingkat persiapannya rendah (kategori empat). Pada tingkat itu, diperkirakan akan ada 66 persen perusahaan yang terkena dampak Y2K. (Kompas, 15/1/99)

Negara Asia yang juga ada dalam tingkat empat adalah RRC, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Pakistan. Negara Asia yang disebut siap menghadapi masalah Y2K adalah Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura. Ketiga negara ini masuk dalam tingkat dua, dengan hanya 33 persen perusahaan nasional yang akan terkena dampak.

Sementara negara-negara yang masuk tingkat tiga (dengan 50 persen perusahaan terkena dampak) mencakup India, Malaysia, Korea Utara dan juga agak mengejutkan Jepang. Siapa yang masuk tingkat satu dengan hanya 15 persen perusahaan akan terkena dampak? Di Asia ternyata tidak ada.

Tentang penanggulangan masalah Y2K ini juga dapat dikemukakan sejumlah hal berikut: Sektor swasta lebih siap dibanding sektor pemerintah, persiapan perusahaan besar lebih baik dibandingkan perusahaan kecil, persiapan sektor keuangan (perbankan) lebih baik dibandingkan sektor industri teknik, transportasi, jasa, dan konstruksi.

Dalam penanggulangan problem Y2K ini, perangkat dan perlengkapan, juga perusahaan yang sudah menyesuaikan diri dan terbebas dari dampak masalah Y2K umumnya mendapat predikat 'Y2K Complaint'.



Utama | Ekonomi | Teknologi | Bandara | Ordirga | Opini
Militer | Notam | Kokpit | Origami | Fenomena | Cakrawala | Lobi | Surat | Profil

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media