Berbeda dengan laporan-laporan sebelumnya, kali
ini Angkasa mengetengahkan 'kutu' yang kabarnya
akan mengacak-acak kerja berbagai jenis komputer. Sang
kutu bernama millenium bug. Kehadirannya di awal
millenium baru nantilah yang memberinya julukan seperti ini.
Menurut Bill Schoen, salah satu orang pertama
yang memperkenalkannya, polah kutu imajiner yang satu
ini akan nampak saat komputer dengan format penulisan
tahun dua digit memasuki tahun 2000. Pembatasan
memori membuatnya tak sanggup membedakan antara tahun
2000 dengan 1900. Jika problem ini tak dikoreksi, sang
kutu misalnya bisa mengacau perhitungan bunga deposito,
tagihan kartu kredit, kontrol lift, pemesanan suku cadang pesawat terbang, sistem
reservasi penerbangan, radar, hingga kendali lalu lintas udara.
Petaka lain yang kini tengah diselidiki dalam dunia penerbangan, adalah
juga 'kemampuannya' membuat bingung piranti penuntun navigasi penerbangan: GPS dan
INS. Dia sanggup mengacak koordinat penerbangan. Bayangkan, apa yang akan terjadi
jika kita berada dalam penerbangan ke London yang sejak dari Jakarta ternyata arahnya
telah melenceng satu derajad saja?
Lebih jauh, yang kini ditakuti para pengguna komputer adalah 'efek
dominonya'. Subsistem kecil yang terpengaruh, namun kerja sistem yang lebih besar di atasnya
ikut terganggu. Maka banyak pihak lalu tergopoh-gopoh menempuh solusi. Berikut
laporan
Rasantika MS, Beny
Adrian, Adeline MT, Dudi
Sudibyo, A. Darmawan, dan Ninok Leksono, tentang sekilas dampak millenium bug di seputar dunia penerbangan.
Mula-mula adalah pertimbangan
praktis untuk menghemat memori
komputer, yang pada masa awal pemanfaatan luas komputer di
tahun 1960-an lalu masih dirasakan
mahal. Dengan dasar pertimbangan tersebut, penulisan tahun yang seharusnya
empat digit seperti tahun 1999 hanya ditulis dua digit terakhir, menjadi 99. Dari
tahun 60 hingga 99 tentu saja tidak ada persoalan. Tetapi, ketika tahun 2000 harus ditulis
00, barulah persoalan dimulai...
Segera saja muncul dugaan
mengenai berbagai hal yang orang tidak tahu persis apa konsekuensinya... Bukankah 00
selain berarti tahun 2000 juga berarti tahun 1900? Bagaimana komputer bisa
membedakan hal itu?
Sekadar ilustrasi, pada tahun 1999
ini majalah Angkasa manajemen baru akan berusia 10 tahun karena lahir Oktober
1989. Pada tahun 2000 seharusnya usia
Angkasa adalah 11 tahun. Tetapi karena
penulisan tahun hanya dua digit, maka pada tahun 2000 nanti usia
Angkasa adalah minus (-) 89 tahun, dari 00 dikurangi 89.
Sebenarnya para pemrogram
komputer tahu dari awal, bahwa penggunaan dua digit untuk penulisan tahun akan
menimbulkan problem karena komputer akan
crash atau memproduksi data salah setelah tidak bisa membedakan
antara tahun 2000 dan 1900. Tetapi mereka beranggapan, bahwa tahun 2000 itu
masih lama, dan model yang mereka pergunakan sudah akan ketinggalan zaman tak
dipakai lagi pada tahun 2000. Dugaan ini ternyata keliru, karena masih saja orang
mempergunakan program dengan tata cara lama. Produsen komputer dan perangkat
lunak juga enggan mencurahkan investasi ekstra dimasa lalu untuk mengkoreksi hal itu.
Kini, mengingat penggunaan
komputer, atau pun peralatan lain yang mengandung elektronik yang menggunakan tata
cara seperti komputer sudah demikian meluas, di perkantoran, di stasiun tenaga, di lift,
di dunia penerbangan (seperti pengatur lalu-lintas
penerbangan/air traffic control), perbankan, maka wajar jika 'prospek
tak diketahui' ini menimbulkan kecemasan luas. kemungkinan bank salah
menghitung bunga, tagihan kartu kredit keliru, pengontrol lift macet, alat navigasi
kehilangan kontrol, serta berbagai kemungkinan
lain, kini menjadi bahan pembicaraan orang seiring dengan
mendekatnya tahun 2000.
Secara umum, berbagai problem potensial karena masalah komputer
ini dirangkum dalam satu istilah yang disebut
'millenium bug', kutu yang datangnya
di saat akan berakhirnya millenium (atau, kala ribuan tahun). Sementara tahun
2000 itu sendiri diringkas dalam singkatan
Y2K (Year Two Kilos).
Tentu saja untuk mengenal
problema ini lebih dekat, orang perlu familiar
dengan berbagai peristilahan komputer, baik yang berkaitan dengan perangkat keras
(hardware) maupun perangkat lunak/program
(software).
Permasalahan Y2K akan muncul di semua peralatan yang
mempergunakan tanggal. Selain pada hardware yakni
pada cip terpasang (embedded chips), dalam lingkup teknis ia juga akan muncul
pada bahasa pemrograman dan compiler, sistem
operasi, sistem sekuriti, sistem
perbankan, sistem pemrosesan transaksi, sistem
telepon, dan sebagainya. Juga ditegaskan, bahwa meski mayoritas problem Y2K
ada di dunia teknologi informasi (IT) atau sistem informasi (IS), masalah ini juga
ada pada sistem lain yang mempergunakan waktu.
Yang mendebarkan hati, sistem
IT/IS pada berbagai bidang dewasa ini sudah demikian kompleks. Bila pada satu
subsistem kecil terkena dampak masalah Y2K, sistem lebih besar di atasnya juga
akan ikut terkena, mengingatkan orang pada efek domino.
Secara teknis, untuk mengatasi
problem Y2K para pengguna harus mengoreksi
semua unsur yang mengandung penanggalan pada komputer dan peralatan
yang dipergunakan. Pada perangkat keras, bisa jadi unsur yang dimaksud sudah tidak
bisa diperoleh lagi karena ibarat suku cadang sudah tidak diproduksi lagi. Pada
perangkat lunak, diperlukan pemrograman ulang. Itu bisa sangat mahal. Ada konsultan
yang menerapkan tarif 1 hingga 2 dollar per baris program. Padahal untuk satu
komputer besar (mainframe), bisa ada 7.000.000
baris program. Bisa dibayangkan berapa besar ongkos yang harus dikeluarkan untuk
mengoreksi problem Y2K ini. Padahal ongkos ini juga masih tergantung pada kapan
orang mengambil keputusan untuk melaksanakan penanggulangan. Kalau keputusan
diambil tiga atau empat tahun
silam, ongkos bisa 1-2 dollar per baris program. Tetapi kalau penanggulangan
dilakukan sekarang dalam situasi kepepet mendekati
deadline, karena tahun 2000 tidak bisa ditunda kedatangannya
konsultan bisa menarik 5-7 dollar per baris program.
Solusi ketiga bila modifikasi dan
pemprograman ulang tak bisa dilakukan adalah memensiunkan perlatan yang dipakai.
Kekhawatiran luas
'Hal Tak Diketahui' yang
disebabkan oleh Problem Y2K ini sempat melahirkan
kekhawatiran di berbagai negara.
Pemerintah-pemerintah di dunia juga diimbau untuk memberi perhatian serius
terhadap problem ini, karena kalau tidak silakan tanggung sendiri itu yang namanya
chaos atau kekalutan, atau bahkan bom atau
katastrof akibat problem Y2K ini.
Disatu pihak diakui, bahwa
kesadaran mengenai masalah Y2K ini sudah meluas di berbagai kalangan, namun di pihak
lain juga diakui, bahwa kalangan politisi yang diandaikan memperlihatkan
kepemimpinan dalam upaya penanggulangan 'bencana' yang bisa datang saat kalender melewati
tanggal 31 Desember 1999 ini,
kurang memberi perhatian memadai.
Pada tingkat dunia, laporan
OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan beranggotakan 20 negara)
yang mengatakan problem Y2K akan mengancam jaringan komputer dan
komunikasi serta sistem elektronik di seluruh
dunia, cukup mendapat perhatian. OECD menyerukan diadakannya pertemuan
puncak membahas masalah Y2K yang diberi nama Global Year 2000 Summit.
Bagi negara-negara kaya dan
maju, seruan penanggulangan problem Y2K lebih mudah ditanggapi. Tetapi bagi
negara-negara Asia yang dilanda krisis, seruan tersebut bisa kurang bergaung.
Sebagaimana diungkapkan oleh lembaga riset Gartner Group Inc. Indonesia adalah
negara Asia yang dinilai akan parah terkena dampak millenium bug. Indonesia
dimasukkan dalam negara yang tingkat persiapannya rendah (kategori empat). Pada
tingkat itu, diperkirakan akan ada 66 persen perusahaan yang terkena dampak
Y2K. (Kompas, 15/1/99)
Negara Asia yang juga ada dalam
tingkat empat adalah RRC, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, dan
Pakistan. Negara Asia yang disebut siap menghadapi masalah Y2K adalah Taiwan, Korea
Selatan, dan Singapura. Ketiga negara ini masuk dalam tingkat dua, dengan hanya 33
persen perusahaan nasional yang akan terkena dampak.
Sementara negara-negara yang
masuk tingkat tiga (dengan 50 persen perusahaan terkena dampak) mencakup India,
Malaysia, Korea Utara dan juga agak mengejutkan Jepang. Siapa yang masuk tingkat
satu dengan hanya 15 persen
perusahaan akan terkena dampak? Di Asia ternyata tidak ada.
Tentang penanggulangan masalah
Y2K ini juga dapat dikemukakan sejumlah hal berikut: Sektor swasta lebih siap
dibanding sektor pemerintah, persiapan perusahaan besar lebih baik dibandingkan
perusahaan kecil, persiapan sektor keuangan
(perbankan) lebih baik dibandingkan sektor industri teknik, transportasi, jasa, dan konstruksi.
Dalam penanggulangan problem
Y2K ini, perangkat dan perlengkapan, juga perusahaan yang sudah menyesuaikan
diri dan terbebas dari dampak masalah Y2K umumnya mendapat predikat
'Y2K Complaint'.