ANGKASA N0.7 APRIL 2000 TAHUN X  

Aerobatik : Dasarnya Cuma Spin, Roll, dan Loop


  Laporan Utama
Airshow
Aerobatik
Cakrawala
Fenomena
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Pesawat Militer
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
AEROBATIK  

Aerobatik:
Dasarnya Cuma Spin, Roll, dan Loop

Aerobatik itu indah dan menantang. Penerbangan meliuk-liukan pesawat di udara laksana seorang penari balet beraksi di atas panggung. Itu kesan penonton yang ada di luar pesawat. Bagaimana pilot melakukannya? Apa yang dirasakannya saat ia jungkir balik?

Yak-52 Pesawat Yak-52 tengah terbang manuver inverted di atas pegunungan Jawa Barat-Angkasa/D.N. Yusuf

"It is fun, challenging, sekaligus berbahaya," kata Alex Supelli, penerbang aerobatik Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Aerobatic Team. Yang terjadi di dalam kokpit pesawat rupanya tak seperti bayangan orang yang menyaksikan aerobatik dari darat atau luar kokpit pesawat. Saat jungkir balik itu pilot harus bekerja keras dan berurusan dengan berbagai hal, mulai dari teknik terbang hingga berjuang mempertahankan diri terhadap perubahan gaya gravitasi.

Aerobatik bisa dipertontonkan bila pilot menguasai benar teknik terbang aerobatik. Ia harus tahu bagaimana melakukan loop, roll, atau spin yang merupakan beberapa manuver dasar aerobatik itu dengan baik. Di sisi lain, fisik si penerbangnya harus betul-betul sehat karena manuver aerobatik seringkali menimbulkan gaya gravitasi yang besar dan sering berubah dengan cepat. Perubahan gaya gravitasi yang demikian cepat terkadang membuat orang awam atau mungkin pilot sekalipun merasa mual, pusing, atau kehilangan kesadaran.

"Pertama kali melakukan latihan dasar aerobatik, saya selalu mual dan pusing. Kadang muntah. Tetapi lambat laun rasa itu hilang dengan sendirinya," kata Alex yang bermukim di Bandung.

Adaptasi, itu yang terjadi pada tubuh Alex. Tubuh manusia mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk terhadap perubahan gravitasi ini. Berdasar penelitian, rata-rata orang awam (bukan penerbang) mampu bertahan terhadap gaya gravitasi -2 hingga +5. Itu pun hanya dalam beberapa detik. Pada prakteknya, beberapa manuver menghasilkan gaya gravitasi berkisar 3 hingga +9 atau mungkin lebih besar lagi. Bagi orang awam, kondisi itu akan terasa sangat berat.

Berkenalan lewat spin

Yak-52 Salah satu manuver sulit dalam aerobatik adalah terbang rendah-Angkasa/D.N. Yusuf

Terbang aerobatik memang tidak seperti terbang dalam pesawat komersial yang cenderung 'biasa-biasa' saja. Aerobatik lebih menyerupai terbang dalam kondisi yang 'tidak biasa'. Alex menyebutnya dengan 'terbang dalam kondisi tidak normal'. Dalam aerobatik kondisi seperti itu sengaja diciptakan untuk memperoleh gerakan yang indah dilihat.

Umumnya penonton melihat bahwa tarian si pilot itu indah, tetapi yang terjadi di dalam kokpit ternyata berbeda. Di ruang sempit itu pilot harus bekerja ekstra keras. Dalam kondisi apa pun ia harus mampu mengendalikan pesawatnya. Beberapa manuver akan membuat alat kemudi di dalam kokpit menjadi lebih berat daripada saat terbang normal. Pilot akan menjadi lebih cepat lelah. Lagi pula karena terbang aerobatik selalu berkaitan dengan perubahan ketinggian dan kecepatan pesawat yang berlangsung terus menerus, tidak sedikit pun kesalahan boleh terjadi. Bila pilot kelelahan akan sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan. Tak mampu lagi menguasai pesawat akan berakibat fatal.

Inilah yang menurut Alex merupakan salah satu alasan mengapa aerobatik tidak cocok bagi orang yang mudah emosi. "Pilot aerobatik harus tahu batas kemampuan dirinya. Terlalu percaya diri sangat berbahaya karena akan sangat membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain. Yang tidak kalah penting, ia harus tahu, kapan memulai dan kapan harus berhenti."

Di belakang semua itu, pada intinya aerobatik itu harus indah dilihat. "Aerobatik laksana tarian balet. Seorang penerbang harus mampu meliuk-liukkan pesawatnya dengan sangat sempurna," kata Alex. Aerobatik yang baik bukan hasil pekerjaan semalam. Butuh latihan teratur dan penjiwaan atas gerakan atau manuver itu. Pilot pun harus satu jiwa dengan pesawatnya.

Ada tahap-tahap yang perlu dilalui agar pilot betul-betul menguasai manuver aerobatiknya. Pertama adalah latihan dasar yang memakan 10-15 jam terbang. Manuver pada tahap ini sangat sederhana, antara lain spin, roll, wing-over, dan loop. Pada fase ini penerbang mulai berkenalan dengan aerobatik yang sesungguhnya.

Dalam melakukan manuver dasar itu, pilot akan merasakan efek gerakan pesawat terhadap tubuhnya. Ketika loop berlangsung, pilot akan merasakan gravitasi yang besarnya bervariasi. "Paling tidak ia akan merasakan hingga +3 g." Kata Alex.

Pada manuver sederhana besar gravitasi biasanya berkisar antara -2 hingga +3 g, tetapi manuver yang lebih berat bisa menghasilkan gravitasi antara -3 hingga +9 g. Dan perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Bagi orang awam, perubahan gaya gravitasi yang sangat cepat bisa menimbulkan mual, pusing, muntah, hingga kehilangan kesadaran. Alasan ini antara lain yang membuat aerobatik tampak menakutkan. Apalagi bila dalam kondisi 'abnormal' itu penerbang tak mampu lagi menguasai pesawatnya. Kecelakaan itu hanya bisa dihindari bila pilot menguasai benar teknik terbang aerobatik. Biasanya hal itu diperkenalkan kepada calon penerbang aerobatik sejak awal. Spin dan roll merupakan dua manuver dasar yang diperkenalkan sejak awal kepada calon penerbang aerobatik.

Dalam latihan, spin bisa diperoleh sesaat setelah pilot meng-idle-kan throtlle pesawatnya untuk menurunkan laju pesawat. Beberapa saat kemudian, di mana kecepatan sudah mendekati kecepatan stall-nya (kondisi di mana sayap pesawat kehilangan daya angkat), ia harus menginjak salah satu rudder pesawat. Selanjutnya pesawat akan dengan sendirinya mengalami spin. Ketika masuk dalam spin itu, ketinggian pesawat akan berkurang sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik ketinggian pesawat bisa berkurang 1.000 hingga 2.000 kaki. Kondisi ini menuntut recovery yang cepat dan tepat. Untuk keluar dari spin, pilot harus memposisikan tuas kemudi pada posisi netral untuk menghentikan stall-nya, diikuti dengan menginjak pedal rudder yang lain untuk keluar dari spin.

Yang juga perlu diketahui adalah karakter pesawat itu. Setiap pesawat mempunyai kecepatan keluar dari spin secara berbeda. Ada secara mampu keluar dari kondisi itu dengan sangat cepat, ada yang lambat. Pesawat aerobatik kelas advanced Sukhoi Su-26 mampu keluar dari spin dengan sangat cepat. Begitu pedal rudder berlawanan diinjak, spin langsung berhenti. Sedang pesawat sekelas Yak-52 atau Super Decathlon butuh seperempat sampai setengah putaran untuk berhenti dari kondisi spin itu. Khusus pada Yak-52, bila pesawat memasuki katakanlah tiga kali spin, recover-nya pun butuh tiga kali spin berlawanan.

Perlu manajemen energi

Yak-52 Pesawat aerobatik buatan Rusia sangat terkenal di dunia, bisa bertahan hingga 8g-Angkasa/D.N. Yusuf

Terampil menerbangkan pesawat merupakan modal utama dalam aerobatik. Menurut Alex, rupanya hal itu belum cukup. Aerobatik juga membutuhkan tingkat penguasaan manajemen energi yang baik. Seorang penerbang harus mampu mengatur energi pesawatnya sedemikian rupa sehingga pada saat melakukan manuver pesawat tidak kehabisan energi potensialnya. Manajemen energi yang baik membuat pesawat terus berada pada ketinggian dan terbang dengan aman walau melakukan gerakan-gerakan yang berbahaya.

Contoh kasus adalah saat pesawat melakukan loop. Dengan Su-26 misalnya, loop yang sempurna hanya bisa dilakukan bila kecepatan minimum pesawat 230 km/jam. Bila pesawat belum mencapai kecepatan minimalnya itu, sebaiknya loop tidak dilakukan karena bisa dipastikan pesawat akan kehabisan daya angkat sebelum mencapai puncak lingkaran. Yang terjadi kemudian, pesawat akan memasuki spin.

Dalam aerobatik, perhitungan masalah manajemen energi itu bisa diperoleh lewat indikator ketinggian (altimeter) dan kecepatan pesawat (air speed). Oleh sebab terbang aerobatik merupakan terbang yang sepenuhnya visual, melihat kedua instrumen pesawat itu harus dilakukan secepat kilat. Perhatian utama penerbang bukan hanya instrumen di dalam kokpitnya tetapi juga posisi daratan, langit, dan garis batas horison. Di atas sana, judgement pun sering berubah-ubah selaras dengan perubahan posisi pesawat.

"Ini yang membuat terbang aerobatik terasa membingungkan karena begitu pesawat inverted misalnya, judgement pun harus dilakukan terbalik," kata Alex yang pernah duduk di kursi belakang Hawk Red Arrow saat beraksi di Indonesia Air Show'96. Tetapi semua itu akan dengan mudah terkuasai bila penerbang benar-benar berlatih secara teratur. Menjadi penerbang aerobatik profesional perlu kerja keras dan mental baja. Kematangan mental, kesehatan, disiplin tinggi, dan latihan teratur sangat penting dalam aerobatik. Bila semua itu terpenuhi, niscaya aerobatik menjadi indah dilihat dan nyaman dinikmati dari luar dan dalam kokpit pesawat.(ttg)



Laporan Utama | Airshow | Aerobatik | Cakrawala | Fenomena | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Pesawat Militer | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media