Salah satu manuver sulit dalam aerobatik adalah terbang rendah-Angkasa/D.N. Yusuf
|
Terbang aerobatik memang tidak seperti terbang dalam pesawat komersial yang cenderung 'biasa-biasa' saja. Aerobatik lebih menyerupai terbang dalam
kondisi yang 'tidak biasa'. Alex menyebutnya dengan 'terbang dalam kondisi tidak normal'. Dalam aerobatik kondisi seperti itu sengaja diciptakan untuk memperoleh
gerakan yang indah dilihat.
Umumnya penonton melihat bahwa tarian si pilot itu indah, tetapi yang terjadi di dalam kokpit ternyata berbeda. Di ruang sempit itu pilot harus bekerja
ekstra keras. Dalam kondisi apa pun ia harus mampu mengendalikan pesawatnya. Beberapa manuver akan membuat alat kemudi di dalam kokpit menjadi lebih berat
daripada saat terbang normal. Pilot akan menjadi lebih cepat lelah. Lagi pula karena terbang aerobatik selalu berkaitan dengan perubahan ketinggian dan kecepatan pesawat
yang berlangsung terus menerus, tidak sedikit pun kesalahan boleh terjadi. Bila pilot kelelahan akan sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan. Tak mampu
lagi menguasai pesawat akan berakibat fatal.
Inilah yang menurut Alex merupakan salah satu alasan mengapa aerobatik tidak cocok bagi orang yang mudah emosi. "Pilot aerobatik harus tahu batas
kemampuan dirinya. Terlalu percaya diri sangat berbahaya karena akan sangat membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain. Yang tidak kalah penting, ia harus tahu,
kapan memulai dan kapan harus berhenti."
Di belakang semua itu, pada intinya aerobatik itu harus indah dilihat. "Aerobatik laksana tarian balet. Seorang penerbang harus mampu meliuk-liukkan
pesawatnya dengan sangat sempurna," kata Alex. Aerobatik yang baik bukan hasil pekerjaan semalam. Butuh latihan teratur dan
penjiwaan atas gerakan atau manuver itu. Pilot pun harus satu jiwa dengan pesawatnya.
Ada tahap-tahap yang perlu dilalui agar pilot betul-betul menguasai manuver aerobatiknya. Pertama adalah latihan dasar yang memakan 10-15 jam
terbang. Manuver pada tahap ini sangat sederhana, antara lain spin, roll,
wing-over, dan loop. Pada fase ini penerbang mulai berkenalan dengan aerobatik yang sesungguhnya.
Dalam melakukan manuver dasar itu, pilot akan merasakan efek gerakan pesawat terhadap tubuhnya. Ketika loop berlangsung, pilot akan merasakan gravitasi
yang besarnya bervariasi. "Paling tidak ia akan merasakan hingga +3 g." Kata Alex.
Pada manuver sederhana besar gravitasi biasanya berkisar antara -2 hingga +3 g, tetapi manuver yang lebih berat bisa menghasilkan gravitasi antara -3 hingga +9
g. Dan perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Bagi orang awam, perubahan gaya gravitasi yang sangat cepat bisa menimbulkan mual, pusing,
muntah, hingga kehilangan kesadaran. Alasan ini antara lain yang membuat aerobatik tampak
menakutkan. Apalagi bila dalam kondisi 'abnormal' itu penerbang tak mampu
lagi menguasai pesawatnya. Kecelakaan itu hanya bisa dihindari bila pilot menguasai benar teknik terbang aerobatik. Biasanya hal itu diperkenalkan kepada
calon penerbang aerobatik sejak awal. Spin dan roll merupakan dua manuver dasar yang diperkenalkan sejak awal kepada calon penerbang aerobatik.
Dalam latihan, spin bisa diperoleh sesaat setelah pilot
meng-idle-kan throtlle pesawatnya untuk menurunkan laju pesawat. Beberapa saat kemudian, di mana
kecepatan sudah mendekati kecepatan stall-nya (kondisi di mana sayap pesawat
kehilangan daya angkat), ia harus menginjak salah satu
rudder pesawat. Selanjutnya pesawat akan dengan sendirinya mengalami spin. Ketika masuk dalam spin itu, ketinggian pesawat akan berkurang sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik ketinggian pesawat
bisa berkurang 1.000 hingga 2.000 kaki. Kondisi ini menuntut
recovery yang cepat dan tepat. Untuk keluar dari spin, pilot harus memposisikan tuas kemudi pada posisi
netral untuk menghentikan stall-nya, diikuti dengan menginjak pedal rudder yang lain untuk keluar dari spin.
Yang juga perlu diketahui adalah karakter pesawat itu. Setiap pesawat mempunyai kecepatan keluar dari spin secara berbeda. Ada secara mampu keluar dari
kondisi itu dengan sangat cepat, ada yang lambat. Pesawat aerobatik kelas
advanced Sukhoi Su-26 mampu keluar dari spin dengan sangat cepat. Begitu pedal rudder
berlawanan diinjak, spin langsung berhenti. Sedang pesawat sekelas Yak-52 atau
Super Decathlon butuh seperempat sampai setengah putaran untuk berhenti dari kondisi spin
itu. Khusus pada Yak-52, bila pesawat memasuki katakanlah tiga kali spin, recover-nya pun butuh tiga kali spin berlawanan.
Perlu manajemen energi
Pesawat aerobatik buatan Rusia sangat terkenal di dunia, bisa bertahan hingga 8g-Angkasa/D.N. Yusuf
|
Terampil menerbangkan pesawat merupakan modal utama dalam aerobatik. Menurut Alex, rupanya hal itu belum cukup. Aerobatik juga membutuhkan
tingkat penguasaan manajemen energi yang baik. Seorang penerbang harus mampu mengatur energi pesawatnya sedemikian rupa sehingga pada saat melakukan
manuver pesawat tidak kehabisan energi potensialnya. Manajemen energi yang baik membuat pesawat terus berada pada ketinggian dan terbang dengan aman walau
melakukan gerakan-gerakan yang berbahaya.
Contoh kasus adalah saat pesawat melakukan loop. Dengan Su-26 misalnya, loop yang sempurna hanya bisa dilakukan bila kecepatan minimum pesawat 230
km/jam. Bila pesawat belum mencapai kecepatan minimalnya itu, sebaiknya loop tidak dilakukan karena bisa dipastikan pesawat akan kehabisan daya angkat
sebelum mencapai puncak lingkaran. Yang terjadi kemudian, pesawat akan memasuki spin.
Dalam aerobatik, perhitungan masalah manajemen energi itu bisa diperoleh lewat indikator ketinggian
(altimeter) dan kecepatan pesawat (air
speed). Oleh sebab terbang aerobatik merupakan terbang yang sepenuhnya visual, melihat kedua instrumen pesawat itu harus dilakukan secepat kilat. Perhatian utama penerbang
bukan hanya instrumen di dalam kokpitnya tetapi juga posisi daratan, langit, dan garis batas horison. Di atas sana,
judgement pun sering berubah-ubah selaras dengan
perubahan posisi pesawat.
"Ini yang membuat terbang aerobatik terasa membingungkan karena begitu pesawat inverted misalnya, judgement pun harus dilakukan terbalik," kata Alex
yang pernah duduk di kursi belakang Hawk Red Arrow saat beraksi di Indonesia Air Show'96. Tetapi semua itu akan dengan mudah terkuasai bila penerbang
benar-benar berlatih secara teratur. Menjadi penerbang aerobatik profesional perlu kerja keras dan mental baja. Kematangan mental, kesehatan, disiplin tinggi, dan latihan
teratur sangat penting dalam aerobatik. Bila semua itu terpenuhi, niscaya aerobatik menjadi indah dilihat dan nyaman dinikmati dari luar dan dalam kokpit
pesawat.(ttg)