ANGKASA N0.7 APRIL 2000 TAHUN X  

Antara VIP Antar Benua dan Heli AKS


  Laporan Utama
Airshow
Aerobatik
Cakrawala
Fenomena
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Pesawat Militer
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
AIRSHOW  

Antara VIP Antar Benua
dan Heli AKS

Pasar Asia bangkit. Klise memang. Tapi itulah gambaran selintas yang tersirat selama berlangsungnya Asian Aerospace 2000 di Singapura. Pesanan pesawat sipil dan militer kembali mengalir.

Boeing B-737-700 BBJ BBJ Ditawarkan seharga 40 juta sampai 50 juta dollar AS - Boeing

Inilah pertarungan terakbar akhir abad lalu, dan mungkin akan berketerusan sampai abad ini. Dua raksasa produsen pesawat, Boeing dan Airbus, seperti dua pelari sprint yang tengah kejar-kejaran menuju garis finish. Belum ketahuan siapa yang akan jadi pemenang. Tapi kepercayaan besar dari Airbus dengan melihat pertumbuhan kawasan Asia yang mencapai 6,1 persen dan perkiraan permintaan pesawat berkapasitas 400 penumpang mencapai 660 pesawat, memancing Airbus untuk sesegera mungkin meluncurkan si super jumbo Airbus A-3XX akhir tahun ini. Boeing yang menguasai Asia-Pasifik dengan B-747, setidaknya pasti akan tercambuk.

Berbagai upaya, tentu, dilakukan Boeing walau pasar Asia telah digenggaman karena pesaingnya Airbus juga tengah mengincar pasar yang sama. Salah satu upaya Boeing, adalah menjalin kerjasama dengan perusahaan General Electric (GE) dalam pengembangan pesawat VIP Boeing Business Jet (BBJ). Secara teknis BBJ dikembangkan dari B-737-700 generasi terbaru. Ide BBJ dianggap sebagai jawaban Boeing atas tingginya permintaan terhadap pesawat berbadan lebih besar yang mampu terbang melebihi 6.000 mil laut (sekitar 11 ribu kilometer). Wakil presiden BBJ Manfred Schindler yang selalu mendemonstrasikan kehebatan produknya dalam setiap ajang pameran kedirgantaraan dengan terbang non-stop dari Geneva bergumam singkat di Asian Aerospace 2000, "Perjalanan yang mengagumkan."

Mengingat AA2000 ajang pertama di millenium ketiga, Boeing sengaja memboyong sekaligus dua BBJ ke Bandara Changi Singapura yang sekaligus sebagai kedatangannya yang pertama. Untuk wilayah Asia, maskapai nasional Malaysia MAS, merupakan negara pertama meneken kontrak pembelian BBJ saat berlangsungnya Langkawi International Maritime and Aviation Exposition, Desember 1997. Dengan pemesanan itu, Malaysia dicatat Boeing sebagai negara pemesan ke-29.

11.000 km non-stop

Interior BBJ Interior BBJ sekelas hotel berbintang lima - Boeing

BBJ dengan dasar B-737-700 memang khusus dirancang untuk memuaskan kebutuhan akan pesawat-pesawat pribadi atau VIP. Pesawat yang pengembangannya diumumkan tahun 1996 ini, merupakan perpaduan serasi dari B-737-700 (badan 33,6 meter) dan B-737-800 (mengadopsi sayap, landing gear, dan sembilan tanki tambahan). Dibanding pesawat sekelas untuk VIP seperti Gulfstream V atau Airbus A-319CJ, BBJ menempatkan dirinya setingkat di atas. Baik dari avionik, daya jelajah, penggunaan mesin terlaris di dunia CFM56 produksi CFM International yang merupakan perusahaan gabungan antara GE dan Snecma Perancis, sampai desain interior.

Tidak sekadar untuk mengisi permintaan pesawat VIP, Boeing juga memanjakan kostumernya dengan menawarkan pesawat yang mampu terbang melebihi 11 ribu kilometer dengan kecepatan 0,82 Mach sebanding dengan ground speed 550 mil/jam. Dengan kemampuan ini, alhasil BBJ mampu menjalani rute penerbangan langsung dari New York-Tokyo, London- Johannesburg, atau Los Angeles - Paris.

Sebagai upaya memuaskan kostumernya, divisi BBJ menawarkan tiga model interior mulai dari kapasitas 8, 25, sampai 50 tempat duduk. Namun begitu, desain ini bukan harga mati karena kepuasan pemesan dalam arti interior sesuai kebutuhan pemesan jadi perhatian utama. "Kami menawarkan kepada pelanggan sebuah standar pelayanan yang sangat tinggi, termasuk suku cadang, dan 24 jam layanan pemeliharaan mesin," kata Phil Condit, Presiden Boeing satu ketika di tahun 1996 saat pertama kali memperkenalkan BBJ.

Untuk pilot, disediakan ruang khusus istirahat full reclined. Kokpitnya dilengkapi navigasi standar dan peralatan komunikasi, termasuk head up display (HUD) dari Flight Dynamics. Serta dua komputer flight management dan tiga radio VHF.

Baru-baru ini, BBJ kembali merampungkan penerbangan keliling dunianya dengan pilot William Christophe. Sebagai pilot-uji BBJ, Christophe telah membukukan 100.000 mil perjalanan sejak Oktober tahun lalu. Perjalan terakhir sebelum akhirnya turut meramaikan AA2000, mengambil rute langsung dari Geneva - Bangkok. Lalu meneruskan ke Cairns di Australia - Sydney-Tahiti-Van Nuys-California - Geneva. Penerbangan ini diikuti sendiri oleh Schindler beserta 14 penumpang lainnya.

Saat ini juga tengah dikembangkan BBJ2, dengan badan lebih panjang 20 kaki karena disulap dari B-737-800. Sebuah pesawat BBJ dihargai 40 juta dollar AS. Sementara BBJ2, dijual lebih mahal sekitar 55 juta dollar AS. Sejak diperkenalkan, total 56 BBJ yang menggunakan winglets sudah dipesan.

Perseteruan Lynx dan Seasprite

Super Seasprite Kaman menawarkan Super Seasprite untuk pasar Asia-Pasifik - Kaman

Hampir mirip dengan masalah yang dihadapi TNI AL, AL Malaysia juga tengah berpikir keras untuk menetapkan pengganti helikopter anti kapal selam (AKS) Westland Wasp HAS Mk 1 yang sudah terbilang 'uzur'. Walau Malaysia turut kehimbas krismon, namun negara jiran ini bisa dikatakan telah 'bangkit'. Setidaknya enam helikopter Westland Super Lynx senilai 100 juta poundsterling masuk daftar belanjaan AL Malaysia (RMN), disamping daftar lain berupa helikopter tempur CSH-2 Rooivalk dan helikopter angkut taktis Mi-17 Hip. Sementara AL Australia (RAN) memesan 11 helikopter Kaman SH-2G(A) Super Seasprite, yang pengirimannya diperkirakan pertengahan tahun 2002. Pesanan RAN dijejali Sistem Avionik Taktik Terintegrasi dari Litton Guidance.

TNI AL yang mengoperasikan sepuluh Wasp sejak tahun 1980, sebenarnya juga tengah mengincar pengganti helikopter AKS. Kepala Dinas Penerbangan TNI AL Laksma Bambang Supangkat ketika dihubungi Angkasa mengatakan, bahwa untuk mengganti dengan Super Lynx sepertinya tidak mungkin mengingat harga dan perawatannya yang tinggi. TNI AL diduga tengah menjatuhkan pilihan kepada pesawat lapis kedua. "Mungkin Panther," jelas Bambang. Aerospatiale SA 365 Panther, merupakan helikopter serbaguna yang juga dioperasikan sebagai penjaga pantai oleh Amerika (US Coast Guard).

Banyak pilihan, tentu kalau dananya tersedia, bisa dijatuhkan. Mulai dari produk AS, Inggris, Perancis, Italia, atau Rusia. Setidaknya dua helikopter, SH-2G Super Seasprite buatan Kaman, Amerika dan HAS.Mk 8 Super Lynx buatan GKN Westland Helicopter, Inggris, boleh jadi perhatian. Kedua helikopter ini memainkan peran besar dalam Perang Teluk. Setidaknya 15 rudal udara-permukaan Sea Skua Lynx menghantam sasaran dengan telak. Begitu juga Seasprite. Heli inilah yang mencaritahu posisi ranjau laut yang ditebar Irak.

Satu negara di Pasifik, New Zealand, akhir tahun ini dipastikan akan menerima Super Seasprite pertama dari empat yang dipesan pada tahun 1997 untuk menggantikan Wasp. SH-2G(NZ) AL New Zealand (RNZN) ini akan dilengkapi dengan radar telephonics APS-143(V)3, FLIR AAQ-22 pengindera panas, dan Litton Amacon LR-100 electronic support measures. Sementara kokpit analognya, diambil dari sistem navigasi taktis Litton ASN-150. Supaya tidak kikuk beradaptasi dengan teknologi Super Seasprite, RNZN telah mengoperasikan SH-2F Seasprite untuk menjembatani teknologi Wasp dan Super Seasprite.

Umumnya pesawat patroli maritim dan AKS, radar Super Seasprite mampu mendeteksi target pada jarak lebih dari 80 Nm, dibanding kira-kira 15 mil dari radar frigate yang dimiliki AL-nya. Walau Malaysia hampir dipastikan membeli Super Lynx, pihak Kaman masih merilis di AA2000 bahwa Malaysia sepertinya akan menyeleksi SH-2F sebagai transisi dari Wasp. Kejutan dari pihak Kaman, diduga berkaitan dengan program peremajaan armada patroli pantai (OPV) yang tengah dikompetisikan Malaysia. Seasprite sendiri sudah terbang sejak tahun 1959.

Sangat jelas, pertarungan akan alot antara GKN dan Kaman. Malaysia sangat membutuhkan pesawat patroli pantai dan AKS, seperti juga Indonesia, untuk mengamankan jalur selat Malaka yang sangat rawan perompak dan pelayaran gelap. Ancaman kapal selam, sampai detik ini masih dianggap sebagai momok paling menakutkan bagi setiap angkatan laut. Untuk itulah, sebuah AKS minimal harus berkemampuan mencari, menghubungi markas, mendekati, menyerang, perang jarak dekat, dan mencerai-beraikan kekuatan musuh. Karena tuntuan itulah, sebuah AKS dihargai sangat tinggi. Jangan heran, perangkat elektroniknya justru lebih mahal dari pesawatnya.

Mengutip Marc Holloran dari GKN (Flight Daily News, 23/3), bahwa pihaknya sangat yakin Malaysia membeli Super Lynx yang sudah dipesan tahun lalu. Namun saat bersamaan, Kaman juga terus melakukan pendekatan-pendekatan kepada negara Asia-Pasifik lainnya. Pembeli potensial lainnya disebutkan Kaman, Thailand dan Filipina. Saat bersamaan lagi, Westland membenarkan bahwa pihaknya akan tetap mendukung pemeliharaan Wasp Malaysia. Begitu terus.

Meminjam istilah jawara, Super Seasprite maupun Super Lynx adalah heli pilih-tanding. Hanya saja dari segi 'umur', Lynx lebih muda dari rivalnya Seasprite. Dari segudang prestasi yang sudah diukir Lynx sejak terbang perdana tahun 1971, maka Inggris mengembangkan Lynx untuk menghadapi pertempuran tahun 2010. Perubahan dominan terletak pada pemakaian bilah rotor komposit, dengan daya dorong lebih besar. Penggantian ini menjadikan Lynx helikopter tercapat pada tahun 1986. Perangkat elektronisnya juga turut dibenahi. Semua sistem komunikasi, sensor, dan persenjataan dapat dikendalikan hanya dari dua layar di kokpit. Selain itu, penerapan sistem CDU (control display unit) memungkinkan pesawat beroperasi dengan aman saat siang atau malam.(ben/avi)



Laporan Utama | Airshow | Aerobatik | Cakrawala | Fenomena | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Pesawat Militer | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media