Pada 5 Mei 2000 Bumi diregang dari berbagai sisi
|
Spekulasi kalau memang bisa dikatakan demikian atau hasil
perhitungan ini adalah karya dua astronom Amerika, Peter Matulavich dan Lee Auerbach.
Pada bulan Mei 2000 itu, menurut mereka, Bumi persisnya akan diregang gaya tarik yang luar biasa kuat akibat berjajarnya atau berkonjungsinya planet-planet dalam tata
surya kita. Di satu sisi, Bumi akan 'ditarik' Venus, Merkurius, dan Matahari. Sementara di sisi lain, Bumi akan dibetot dua raksasa Jupiter dan Saturnus.
Ide perhitungannya sendiri berangkat dari kasus yang sederhana, yakni perkara gaya tarik Bulan terhadap Bumi yang biasa terjadi di waktu malam. Dalam hal
ini, jika hanya dengan Bulan saja permukaan air di Bumi bisa mengalami pasang, apa yang bakal terjadi jika yang membetot adalah seluruh planet yang ada dalam
tata-surya?
Pada bulan Mei itu, kedua ilmuwan mengungkap, ketika Matahari, Bulan, dan planet-planet dalam tata-surya kita terletak satu garis dengan Bumi, samudera
di Bumi awalnya akan mengalami pasang besar. Permukaan Bumi lalu akan ikut bergeser 25 sentimeter. Dan, yang kemudian jadi pertanyaan: akan kuatkah daerah
retakan Bumi yang selama ini peka gempa itu terhadap resultan dari gaya tarik planet-planet itu? Jika tidak, Bumi bisa dipastikan akan jungkir-balik.
Belum lagi jika menyertakan faktor es di Antartika. Ahli geofisika Inggris, P. Warlow pernah menghitung, bahwa massa es tersebut begitu besar dimana
hanya diperlukan kekuatan sedikit saja untuk ikut menjungkir-balikan Bumi.
Carl Koppeschaar dalam Sigma vol. 21 menulis, baik Matulavich maupun Auerbach mengatakan, pada Mei 2000 itu jumlah gempa dan letusan gunung berapi
di daerah retakan akan bertambah. Sedemikian menyeramkannya, sampai-sampai dua peneliti muda, Dr John Gribbin dari Inggris dan Dr Stephen Plagemann dari
Amerika pada tahun 1974 terpancing untuk membukukannya dalam
The Jupiter Effect: The Planets as Triggers of Devastating
Earthquakes. Gambar sampulnya adalah planet-planet yang berjajar satu garis dengan latar-belakang Matahari yang sedang bergolak.
Entah yang dimaksud sama atau tidak, 'gambar' kehancuran tersebut nampaknya telah tercatat pula dalam sejumlah prasasti. Bangsa Mesir kuno, Maya, dan
bangsa Cina, misalnya, telah menggoreskan pada benda peninggalannya, bahwa suatu hari nanti Bumi akan mengalami malam yang lebih lama daripada biasanya.
Matahari yang terbenam seketika itu pula akan terbit. Selain itu, Kitab Suci ikut mengungkap, Matahari dan Bumi pada suatu ketika akan tiba-tiba berhenti di angkasa.
Inikah kiamat Bumi?
Berlebihan
Guna mengklarifikasi ramalan yang simpang-siur tersebut,
Angkasa pun mengkonfirmasikannya dengan pakar perbintangan dari Observatorium
Bosscha-ITB. Jawabannya ternyata melegakan. Menurut Ketua Jurusan Astronomi ITB yang juga astronom handal Bosscha, Dr Moedji Raharto, tak ada yang perlu dicemaskan
dari peristiwa super-konjungsi tersebut. Kasus ini rupanya telah dipublikasikan secara berlebihan, penuh sensasi, dan spekulatif.
"Kalau pun terjadi, efeknya tak akan sebesar yang diperkirakan ilmuwan-ilmuwan itu. Paling kemungkinan yang terjadi adalah air laut pasang lebih tinggi
dari biasanya. Pasalnya, walau yang terjadi adalah super-konjungsi yang menyertakan planet besar seperti Jupiter, efek gravitasinya (yang menimpa Bumi) tak lebih dari
satu juta kali lebih kecil dari efek yang biasa ditimbulkan Bulan," demikian ungkap Moedji Raharto kepada
Angkasa.
"Pada 5 Mei 2000 itu, letak planet-planet itu pun tak akan lurus sama sekali. Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus ada pada sektor 30 derajat
sementara Bumi pada sektor yang berseberangan," tambahnya. Jadi apa persisnya
sih yang dikatakan Matulavich-Auerbach?
Masih seperti ditulis Carl Koppeschaar, kedua astronom mengungkap, tanda pertama dari malapetaka bakal muncul pada 6 April 2000, yakni Mars dan Jupiter
akan saling mendekat terlebih dulu. Mendekatnya dua planet ini sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa mengingat kedudukan planet-planet memang
senantiasa berubah dan selalu ada kemungkinan saling mendekat.
Namun yang kemudian membuat segalanya akan berbeda,
kata keduanya adalah kejadian pada 16 April. Pada tanggal itu, konjungsi akan kembali terjadi. Kali ini
tiga planet saling berhadapan, yakni Mars-Jupiter pada 23
derajat sebelah timur Matahari, dan Mars-Saturnus berada satu garis, 20
derajat sebelah timur Matahari. Dilihat dari Bumi, pada 16 April itu, planet-planet tersebut berada di belakang Matahari.
Lalu, pada tanggal 28 April, Merkurius dan Venus terhitung akan ikut bergabung pada jajaran planet di belakang Matahari. Keduanya ada pada posisi 12
derajat sebelah barat. Sementara, pada 8 Mei akan ikut pula berjejer Merkurius dan Jupiter. Pada 10 Mei, persisnya akan berjejer: Merkurius-Saturnus, satu derajat
sebelah timur; 17 Mei: Venus-Jupiter, enam derajat sebelah barat; 19 Mei: Merkurius-Mars, 12 derajat sebelah timur; 31 Mei : Jupiter-Saturnus, 17 derajat sebelah barat.
Dalam hal ini, selisih derajat tidaklah penting. Yang perlu diwaspadai justru kedudukan unsur tata-surya itu di langit terhadap Bumi.
Maksudnya: dengan kecepatan yang begitu tinggi, pada Mei 2000 akan didapati Matahari berada di salah satu sisi Bumi, sementara Merkurius, Venus, Mars, Jupiter,
dan Saturnus, di sisi yang lain. Nah, pada 4 Mei, diketahui pula akan muncul Bulan baru untuk Bumi. Ini berarti pada suatu hari akan terjadi susunan Bumi, Bulan, Matahari,
lalu lima planet lain. Pada saat itulah diperkirakan Bumi akan mengalami gaya tarik dengan resultan yang sudah
pol. Akibatnya, samudera di Bumi akan mengalami pasang
yang besar dan berantakanlah Bumi akibat peristiwa ikutannya.
Begitulah kiamat Bumi versi Matulavich-Auerbach. Namun, di lain pihak, kalangan astronom dunia punya sanggahan tersendiri. Seperti disampaikan Moedji
Raharto, gaya pasang di Bumi yang ditimbulkan planit dan benda langit lainnya sebenarnya berbanding terbalik dengan jarak pangkat tiga. Ini berarti, Jupiter sebagai planet
terbesar yang memiliki jarak 927,90 juta kilometer, pada 5 Mei 2000 nanti, kelak akan hanya menyumbang gaya pasang surut sebesar 4,045 x 10^-12 newton atau sekitar
sepersejuta kali gaya pasang surut yang biasa ditimbulkan Bulan (2,478 x 10^-6 newton).
Sumbangsih Matahari pun, tambah Raharto, terbilang kecil. Lebih besar dari Jupiter, tapi hanya berkisar setengah dari yang dilontarkan Bulan. Sementara
yang dilancarkan planet-planet lainnya, setelah dihitung pun paling hanya 10 sampai 100 kali lebih kecil dibanding gaya pasang surut Jupiter dalam Super-konjungsi 2000.
"Ini berarti efeknya memang bisa diabaikan. Dengan demikian, pernyataan bahwa Super-konjungsi 2000 bisa membuat gejolak di Bumi adalah tidak
beralasan sama sekali. Itu amat spekulatif," tandas
Super-konjungsi sendiri, menurut catatan
Angkasa, sudah beberapa kali terjadi (diantaranya pada tahun 1126, 1307, 1666, 1817, 1982), tetapi hingga kini tak
satu pun yang bisa memberi pengaruh segnifikan terhadap planet tempat kita berpijak ini. Akhir kata: benar atau tidak, kita tunggu saja Mei 2000 nanti.
(adr/dari berbagai sumber)