ANGKASA N0.7 APRIL 2000 TAHUN X  

Suatu Hari di Perbatasan Timor


  Laporan Utama
Airshow
Aerobatik
Cakrawala
Fenomena
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Pesawat Militer
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
KISAH NYATA  

Suatu Hari di Perbatasan Timor

Tidakkah sangat indah bila pembunuhan keji itu diakhiri, dan kita dapat menikmati hidup tanpa saling menyakiti. Saya benci permainan ini, namun hanya inilah yang bisa saya lakukan sekarang....

Combat air patrol F-5 ditempatkan di kawasan Timor ketika keadaan mulai memanas - Kpt. Pnb. Agung Sasongkojati

Timor-Timur akan menjadi fenomena tersendiri bagi sejarah bangsa kita dari generasi ke generasi. Dimulai dengan kedatangan bangsa kita sebagai pahlawan, dan diakhiri dengan berbagai kekisruhan, tuduhan banditisme, dan pengusiran. Dalam proses kemerdekaan wilayah tersebut, berjuta rasa, isak tangis, bahkan nyanyian caci maki, menghiasi suasana hati bangsa kita. Tapi itulah akhir sebuah perjuangan. Hanya ada dua pilihan, kalah atau menang. Berada diantara keduanya hanya menimbulkan siksaan tiada tara bagi mereka yang tahu arti kata patriot.

Dalam proses menuju kemerdekaan Timor Timur, kita tahu berbagai macam kekacauan terjadi di wilayah tersebut. Menjelang jajak pendapat, TNI AU sudah mengantisipasi situasi dan kondisi di wilayah tersebut dengan menggelar kekuatan untuk mengamankan kedaulatan udara di udara. Pada awalnya, Kohanudnas mengadakan Operasi Elang Jaya dengan mengerahkan pesawat-pesawat Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12. Operasi berlangsung pada saat pra dan pasca jajak pendapat. Kekuatan ini masih ditambah pesawat-pesawat OV-10 Bronco dari Skadron Udara 1.

Kedua kekuatan tersebut telah bekerja keras siang malam dalam mengamankan wilayah udara Timor Timur dan Timor Barat. Setelah kekuatan-kekuatan tersebut di atas dianggap sudah cukup lama di stand by-kan di sekitar wilayah tersebut, Mabes TNI AU menganggap perlu untuk menunjuk Skadron lainnya untuk menggantikan tugas pengamanan di wilayah Timor Barat. Maka ditunjuklah Skadron Udara 14 dengan pesawat F-5 Tiger II-nya untuk menjadi kekuatan baru di pangkalan udara El Tari.

Sesungguhnya saat paling genting terjadi ketika para penerbang Hawk 100/200 masih berada di sana. Dalam kurun waktu itu, berbagai macam provokasi udara dilakukan kekuatan asing untuk mengacaukan situasi di Timtim. Dan penerbang-penerbang Hawk kita dengan mental baja menjalankan tugas tersebut dengan baik. Namun demikian, kehadiran flight F-5 di pangkalan udara El Tari juga telah membawa kenangan tersendiri bagi para anggota yang terlibat, termasuk saya yang ada di dalamnya. Sesuatu yang singkat, kadang-kadang membawa kenangan yang abadi... Begitu kira-kira.

Bertemu dengan Nando

AIM-9 Sidewinder Berbekal AIM-9 Sidewinder, F-5 siap mengamankan wilayah tugas dari serangan lawan - Dudi "Phantom" Achmadi

Saya rela anak saya mati di kokpit pesawat tempur, asalkan Tuhan memberi kesempatan yang sungguh indah itu kepadanya... kesempatan untuk menjadi penerbang tempur.

Tiga pesawat tempur F-5 Tiger II sedang berjalan menuju parking area di pangkalan udara El Tari, yang terletak berseberangan dengan bandara Kupang, NTT. Saya kebetulan berada di kokpit depan, pesawat terdepan. Di kokpit belakang ada flight leader Mayor Nanang 'Scorpio', mantan instruktur di Sekolah Penerbang TNI AU, yang pada saat operasi Elang Sakti kali ini menjadi penerbang paling senior, juga menjadi komandan flight. Di pesawat kedua ada Kapten Harris Robin. Seperti halnya Scorpio, Robin adalah senior saya di AAU, saat ini menjadi salah satu elementleader di F-5. Di pesawat ketiga ada Edi Red Bull, alumnus IDP (Ikatan Dinas Pendek) dan salah satu elemen leader di Skadron Udara 14. Kami baru saja menyelesaikan perjalanan dari home base di Pangkalan Udara Iswahyudi Madiun, sebuah tempat dimana impian-impian anak-anak muda tentang penerbang tempur dimulai.

Rute ferry flight (istilah kami untuk menyebut pergeseran pesawat) adalah Madiun - Ngurah Rai - Kupang. Untuk rute ini, Mayor Nanang sebagai leader, dengan wing man Kapten Ramot Spaniel dan Kapten Harris Robin. Di Ngurah Rai, flight pesawat F-5 short stop untuk mengisi bahan bakar. Saya sempat melihat betapa besarnya perhatian orang-orang di bandara pada pesawat F-5. Walaupun setiap hari melihat pesawat melintas, mereka masih juga memelototi pesawat F-5 yang sedang melaksanakan touch and go sampai masuk parking area. Dari Iswahyudi ke Ngurah Rai, kebetulan saya masih ikut pesawat C-130 Hercules sebagai advance team bersama Kapten Ronny Red Fox dan Lettu Edi Red Bull. Sehingga saya sudah datang duluan di Ngurah Rai. Pada saat di Ngurah Rai, saya sedikit membayangkan andaikan home base pesawat saya di tempat itu... wah banyak sekali kegiatan saya setiap malam minggu.

Saat selanjutnya penerbangan dari Ngurah Rai ke El Tari, Mayor Nanang lalu memerintahkan saya untuk on seat di pesawat F-5F menggantikan Lettu Arwani Bob Cat. Ada sebuah fenomena yang terlihat dengan jelas di ketinggian 20.000 kaki, pembentukan awan cumulonimbus (CB) dengan ukuran super besar. Awan aktif inilah yang sering makan korban pesawat. Beberapa tahun lalu salah satu pesawat F-5 masuk ke awan CB di atas Palembang, dan akibatnya sungguh fatal. Bentuk pesawat pun seperti terpelintir. Untungnya, saat terjadi pembentukan awan CB tersebut, ketiga F-5 sudah melewati area tersebut. Sehingga kami bisa mendarat di pangkalan udara El Tari dengan aman.

Pada saat pesawat berjalan masuk area parking El Tari, sambil mematikan beberapa instrumen di kokpit, saya sempat mencuri pandang di kedua ujung sayap pesawat. Kedua sayap pesawat sudah dipasang rudal AIM-9 P-2. Dalam hati, pasti gempar bila suatu saat rudal mahal ini sempat melesat dari ujung sayap pesawat, apalagi kalau kena pesawat musuh, pasti penerbangnya akan dikenang sepanjang sejarah. AIM-9 adalah rudal udara jarak pendek dengan sistem penjejak infra merah. Rudal jenis ini adalah rudak tipe lama, karena hanya bisa ditembakkan dari belakang lawan, untuk mengejar panas infra merah yang keluar dari ekor pesawat musuh. Sedangkan yang baru adalah AIM-9 P-4. Rudal ini bisa ditembakkan dari segala arah. Rudal AIM-9 P-4 digunakan oleh pesawat F-16 dan Hawk 100/200 kita.

Saat turun dari pesawat, dan menyelesaikan administrasi penerbangan, ada satu kegiatan yang selalu saya ingat mulai sebelum berangkat mengikuti Operasi Pengamanan Udara di perbatasan Timor Leste, yaitu menyimpan pistol. Kecuali terbang, saya tidak mau bepergian di sekitar Kupang dengan membawa barang berbahaya itu. Lebih baik saya berantem dengan jurus silat hit and run, daripada dilaporkan ke Komnas HAM. Beberapa saat kami harus menunggu kedatangan pesawat angkut C-130 Hercules yang membawa ground crew dan peralatan pesawat. Nah, pada saat itulah langkah saya tergerak untuk mendekati seorang pemuda daerah yang sedang bercengkrama dengan anak kecil, yang nampak begitu tertarik dengan pesawat saya. Saya jabat tangannya dan kami pun ngobrol kesana-kemari.

Sebuah perkenalan, yang sampai sekarang masih membekas dalam ingatan saya. Dia adalah seorang pemuda asli Timor Timur bernama Fernando Fernandes, dan putrinya Rika. Di El Tari, statusnya adalah pengungsi yang ditampung di pangkalan. Saat di Dili sendiri, Nando yang yatim dari kecil telah dibesarkan oleh kebaikan lingkungan angkatan udara. Dari kecil hidup berjualan es di sekolah sambil bantu-bantu di pangkalan, namun pada saat pergi dari Dili dan mengungsi ke Kupang, dia berstatus sebagai ketua Partai Daulat Rakyat Timtim. Di Kupang kebetulan di ditampung di pangkalan El Tari, atas kebaikan komandan pangkalan El Tari, Letkol PNB Supriyanto Basuki. Beliau adalah mantan penerbang C-130 Hercules, yang juga mantan instruktur di sekolah penerbang TNI AU.

Nasionalisme yang tak pernah luntur, walaupun sekarang terlunta-lunta, membuat persahabatan saya dan Nando semakin erat. Hari-hari saya di luar kegiatan penerbangan, saya luangkan untuk mampir ke tempat penampungan Nando yang ternyata istrinya seorang mantan wartawati. Perlu diketahui, istri nando masih kemenakan Presiden CNRT, Xanana Gusmao. Sebuah suasana yang asyik, apalagi si kecil Rika sudah bisa memanggil nama saya bila saya nampak di rumahnya. Mereka adalah orang-orang yang tulus dalam membela kecintaan mereka kepada Indonesia. Mereka harus dihargai, dihormati.

Suatu saat Nando pernah mengatakan kepada saya, di dekat pesawat F-5. Rangkaian kata-kata yang paling saya ingat dan sering menggugah ingatan saya kepadanya "Mas... saya rela anak saya mati di kokpit pesawat tempur, asalkan Tuhan memberi kesempatan yang sungguh indah itu kepadanya... kesempatan untuk menjadi penerbang tempur." Ini mungkin karena rasa kagumnya yang teramat sangat kepada pesawat tempur.

Combat Air Patrol (CAP)

CAP yang dalam istilah kita disebut patroli pengamanan udara, telah mulai ada sejak ketegangan pra PD I dimulai. Pada saat itu pesawat yang berfungsi sebagai pesawat pengintai, masih melakukan patroli satu pesawat. Tidak ada istilah formasi atau kerjasama di udara. Dimulai dengan keberhasilan Oswald Boelcke dalam menemukan berbagai macam taktik dasar pertempuran udara, maka CAP mulai dilaksanakan dengan formasi.

Formasi CAP yang digunakan sampai sekarang dikembangkan untuk pertama kali pada masa awal perang sipil di Spanyol yang menyulut terjadinya PD II. Pada tahun 1937, Jerman baru saja mendapatkan pesawat baru Me-109, namun dalam jumlah terbatas. Enam pesawat baru Me-109 Jerman lalu berdatangan di Spanyol, yaitu Messerschmitt Me-109. Mereka harus dengan segera mem back up pro fasis Spanyol. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, namun kedatangan pesawat-pesawat ini mempunyai arti sendiri dalam perkembangan taktik pertempuran udara. Sebelumnya, elementer tempur terkecil harus terdiri dari tiga pesawat terbang dengan Vic formation atau echelon. Namun karena jumlah Me-109 yang sedikit mengharuskan mereka untuk terbang formasi dua pesawat. Ide ini timbul dari Oberleutnan Gunther Lutzow, Komandan Flight Me-109 yang datang pertama kali di Spanyol, dan penggantinya, Oberleutnan Joachim Schlichting.

Setelah dilaksanakan beberapa kali penerbangan, maka ditemukan formasi terbaik untuk terbang dua pesawat, yaitu line abreast. Dalam formasi ini kedua pesawat terbang sejajar dengan jarak 200 yard. Dalam berbagai latihan yang dilaksanakan, didapatkan kenyataan bahwa formasi looses pair atau dalam bahasa Jerman Rotte (formasi jauh) ini, lebih tangguh dibanding formasi-formasi lain yang sebelumnya digunakan. Setelah itu mereka menemukan formasi in trail, dan fighting wing. Formasi pesawat yang lebih besar menggunakan dasar yang diambil dari formasi dua pesawat. Metode formasi dua pesawat ini masih dipakai hingga saat ini.

Pesawat Hawk dan F-5 yang mengadakan patroli udara di perbatasan Timtim juga masih mewarisi taktik tersebut di atas. Namun demikian, pesawat-pesawat tempur modern sudah dilengkapi dengan radar pesawat, juga radar permukaan yang menambah situation of awareness dari penerbang. Radar bagaikan mata manusia, semakin jauh dan luas kemampuan pandangnya maka semakin mudahlah dia mengenali situasi di sekitarnya. Saat itu flight F-5 yang sudah di up grade kemampuan oleh SABCA, yaitu pesawat double seat F-5F TL-0516 dan single seat F-5E TS-0501. Karena kemampuan avionik yang lebih baik, pesawat hasil up grading selalu bertindak sebagai leader dalam melaksanakan CAP.

Peralatan yang banyak membantu pelaksanaan CAP F-5 adalah Global Positioning Sistem (GPS). Peralatan navigasi berbasis pancaran satelit ini tidak diragukan lagi sebagai penemuan paling fenomenal di dunia penerbangan dalam 50 tahun terakhir, selain kaca mata malam Night Vision Goggles (NVG). Sebenarnya akan lebih conform lagi bila GPS sudah diintegrasikan di seluruh pesawat modern. Namun kemampuan negara kita yang terbatas belum memungkinkan untuk melakukan modernisasi secara besar-besaran.

Benteng Jepang

Awak F-5 Dari kiri ke kanan, Lettu. Pnb. Harris "Robin", Edi "Red Bull" dan Lettu Pnb Budi "Phantom" Achmadi.

Salah satu peralatan yang sangat mendukung dalam pengamanan udara di wilayah perbatasan Timtim adalah Skadron Radar 251 yang terdapat di Buraen. Radar (Radio Detection and Ranging) buatan Thomson Perancis ini sebelumnya berada di Madiun, namun menjelang jajak pendapat dipindahkan mendekat ke perbatasan. Radar ini berfungsi sebagai radar early warning dan ground control interception, yaitu kemampuan menuntun pesawat tempur mencari target yang diinginkan. Jarak jangkau radar ini adalah 250 mil.

Suatu saat kami pernah mengechek kemampuan radar ini dengan terbang rendah di bawah 2.500 kaki di atas laut dengan jarak 180 mil dari Kupang. Ternyata radar masih bisa menditeknya. Hanya gelinya, awak radar menyebutkan ketinggian kami adalah 5.000 kaki. Padahal kami sudah menyambar-nyambar di atas ombak laut. Radar ini sengaja di-tempatkan di pantai selatan NTT, meng-hadap ke lautan lepas dimana di seberang sana ada benua Australia dan seluruh armadanya.

Suatu hari Komandan Skadron Radar 251, Letkol Antonius Widyo, mengajak seluruh penerbang F-5 untuk berkunjung ke Buraen. Maka berangkatlah saya kesana. Untuk mencapai Buraen sebenarnya hanya memerlukan waktu satu jam. Namun jalan yang dilalui begitu kecil, dan senyap. Apalagi saat kesana, hari sudah mulai senja. Untuk mencapai posisi radar, kita harus keluar dari jalan aspal dan memasuki jalan tanah kurang lebih sepanjang tiga km. Namun dari kejauhan tersebut, kita sudah bisa melihat radar yang sedang berputar melaksanakan kegiatan identifikasi udara. Bila ada target yang masuk dalam sapuan radar, operator akan menginformasikan ke pangkalan El Tari sebagai pangkalan pesawat tempur, lewat pancaran frekuensi radio Stasiun Bumi Kecil (SBM) yang dimiliki oleh Komandan Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Dan pesawat-pesawat kami akan melesat ke angkasa.

Letkol Widyo adalah salah seorang anggota tim yang ikut keluar masuk hutan untuk mencari tempat yang cocok buat penggelaran radar. Setelah mengelilingi pesisir selatan NTT, maka didapatkanlah Buraen. Ihwalnya adalah seorang penduduk yang mengatakan ada sebuah goa/benteng peninggalan Jepang yang terdapat di tebing dekat pantai. Pikir tim pencari lokasi, pasti tempat itu istimewa. Orang Jepang mempunyai strategi yang luar biasa, sehingga benteng di pantai Burean itu perlu dikunjungi.

Bagi kami para penerbang tempur di Madiun, kehebatan Jepang dalam menyusun rencana operasi tempur sudah menjadi legenda. Pada saat Iswahyudi (saat itu bernama Maospati) menjadi pangkalan utama Sekutu di Jawa pada PD II, maka Jepang menyusun rencana jitu untuk menyerbu pangkalan ini. Jepang mengirim agen-agennya jauh hari sebelum penyerangan. Mereka menggalang masyarakat pribumi di sekitar pangkalan untuk menanam kol. Ternyata, pertanian kol tersebut bila dilihat dari angkasa akan membentuk anak panah yang mengarahkan pesawat-pesawat Jepang menuju Maospati. Pangkalan ini benar-benar lumpuh total saat pesawat-pesawat Dai Nippon datang menyerang. Itulah legenda kol Madiun. Sehingga bisa jadi petani kol yang sekarang masih banyak terdapat di sekitar Madiun atau area Gunung Lawu Magetan, masih keturunan orang Jepang.

Dan ternyata Buraen memang benar-benar istimewa. Goa yang sudah tertutup dengan ilalang dan pohon perdu itu memiliki wilayah pandang yang sangat luas ke arah lautan. Jepang saat itu memang berencanan menyerang Sekutu di Australia. Dan pangkalan udara El Tari menjadi salah satu pangkalan yang duigunakan sebagai penghubung menuju ke sana. Ada sebuah rel senapan mesin yang bisa berputar 360 derajat, namun sudah dalam keadaan berkarat.

Beberapa waktu sebelumnya, goa itu dikeramatkan oleh orang setempat. Namun beberapa orang yang telah berhasil masuk ke goa, mereka mendapatkan kendaraan motor sisa tentara Dai Nippon. Melihat kondisi daerah seputar goa yang penuh dengan batu granit, saya tak dapat membayangkan penderitaan romusha yang dipekerjakan membangun benteng itu. Sebuah goa yang telah berubah menjadi sebuah kantor yang nyaman. Dan disanalah radar Buraen, indera penglihat kekuatan udara kita di perbatasan Timor Leste itu dipasang.

Kekuatan Baru di Timur

Mayor Pnb. Nanang Mayor Pnb. Nanang "Scorpio" Santoso

Dengan meningkatnya gangguan keamanan di wilayah timur Indonesia, TNI AU memang menghadapi tantangan yang cukup berat dengan tugas yang dimiliki. Kita lihat betapa beratnya tugas yang diemban oleh skadron tempur untuk mengamankan wilayah-wilayah tersebut. Karena ketiadaan kekuatan yang memadai, maka ada istilah moving squadron. Sebuah skadron harus digeser kekuatannya karena ditempat tersebut, TNI AU belum memiliki kekuatan yang memadai. Apalagi dalam operasi pengamanan di wilayah perbatasan Timor Leste. TNI AU memindahkan sebuah kekuatan perang mendekat di conflict area.

Tidak hanya kemampuan pesawat yang dilakukan CAP saja yang dipikirkan, namun kekuatan yang bisa mengcover dan melindungi selama kekuatan kita masih on the ground pun harus dipikirkan. Kita harus memiliki radar permukaan yang baik, memiliki rudal pertahanan udara yang mampu melindungi pesawat dan alutsista kita yang ada di bawah, dan lain-lainnya. Tugas yang berat bukan?

Hari-hari akhir operasi kami memang dihiasi beberapa kali perubahan jadwal kepulangan. Dari komando atas, kami hanya diperintahkan stand by namun tetap siaga operasi penuh. Yang menambah ruwetnya permasalahan, frekuensi hujan semakin meninggi. Kami tidak bisa pergi jauh-jauh dari pesawat, kecuali membawa radio HT yang jumlahnya sangat terbatas, agar selalu termonitor oleh Komandan Flight. Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya perintah untuk return to base pun tiba pada suatu sore. Walaupun sesaat, namun pengalaman selama mengikuti kegiatan di pangkalan udara El Tari tersebut sudah memberikan kenangan tersendiri seluruh flight. (Budhi "Phantom" Achmadi, Penerbang F-5 Tiger TNI AU)



Laporan Utama | Airshow | Aerobatik | Cakrawala | Fenomena | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Pesawat Militer | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media