Sebagaimana juga terjadi pada bidang-bidang lain, dunia penerbangan ikut merasakan pengaruh yang
dilahirkan oleh Internet. Di satu pihak, penyebarluasan informasi penerbangan semakin diperkuat oleh teknologi ini,
hal yang membuat semua pihak mulai dari pengelola industri, pengguna jasa angkutan udara, biro perjalanan,
dan bahkan wartawan serta peminat kedirgantaraan dimudahkan urusannya dalam mendapatkan dan
mengirimkan informasi. Sebaliknya kalangan industri yang berkaitan dengan kedirgantaraan pun tampak
bersemangat memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan kegiatan bisnisnya. Pengamatan
Angkasa di arena Pameran Kedirgantaraan Asia (Asian Aerospace) 2000 di Singapura akhir Februari lalu telah memperkuat
keyakinan tersebut.
Dengan latar belakang itulah majalah kita terbitan ini, mencoba menampilkan soal pemanfaatan
Internet oleh berbagai kalangan dan industri kedirgantaraan. Mungkin saja perkembangan yang ada dewasa ini
masih dalam tahap yang awal. Namun apabila melihat kecenderungan yang ada, maka Internet dalam
dunia penerbangan akan mengalami pertumbuhan cepat dan bahkan akan mempengaruhi tampilan dan
kegiatan dunia penerbangan sebagaimana terjadi pada bidang-bidang lainnya.
Selain mengangkat masalah teknologi tersebut, bulan ini
Angkasa juga menyajikan berbagai laporan menarik lainnya, seperti wawancara khusus dengan Komandan Seskoau Marsekal Muda TNI Zeky
Ambadar, yang bulan Februari lalu tampil mewakili Indonesia/ TNI-AU dalam konferensi internasional khusus
mengenai kekuatan udara. Dalam konferensi penting di Singapura itu, ia antara lain menegaskan sikap Indonesia
yang menentang pemanfaatan angkasa luar sebagai arena baru untuk lomba persenjataan.
Meski sudah merdeka, Timor Timur masih menjadi berita hangat. Opsi merdeka, sempat membuat
suasana di Bumi Loro Sae memanas. Beberapa kali, radar TNI AU mendeteksi adanya sejumlah penerbangan gelap
yang dilakukan oleh pesawat-pesawat asing di kawasan itu. Menyadari tugas dan tanggung jawab yakni
mengamankan wilayah udara Indonesia, TNI AU segera menggelar operasi guna mencegah masuknya pesawat-pesawat
asing ke wilayah Indonesia. Sejumlah Hawk 100 dan 200 dipindahkan ke El Tari, menyusul kemudian dua
OV-10 Bronco, dan F-5 Tiger II. Semasa operasi, sejumlah penerbangnya sempat memergoki pesawat asing
yang melakukan berbagai macam provokasi lewat udara. Lettu Pnb. Budi Achmadi, penerbang F-5 Tiger II
dari Skadron Udara 14 mencoba menuturkan kisah operasinya. Dibumbui dengan perkenalannya dengan
Fernando Fernandes, pengungsi Timor Timur yang ditampung di Lanud El Tari Kupang.
Peristiwa lainnya yang ingin kita tampilkan adalah pengalaman tiada duanya dari seorang
penerbang tempur Soviet, tatkala pesawat MiG-25 yang dikendalikannya meledak ketika terbang pada kecepatan
Mach 2,6 di ketinggian 61.000 kaki. Pilot tersebut, Alexander Konovalov harus melontarkan dirinya seketika,
dan ajaib bahwa dia selamat sekalipun kecepatan pesawatnya begitu tinggi. Kisahnya disadur dari majalah
Air Forces Monthly dari Inggris yang kini mulai menjalin kerjasama dengan
Angkasa dalam tukar informasi/berita. Dalam nomor ini, kita juga dapat mengikuti sosok terkenal dalam industri kedirgantaraan dunia, yaitu
Serge Dassault. Ia bulan April ini mengundurkan diri dari pucuk eksekutif Dassault Aviation Perancis, yang
selama ini terkenal dengan produknya berupa pesawat tempur
Mystere, Mirage, Super
Etendard, dan Rafale.
Akhir kata, kami para pengelola Angkasa tidak lupa menyampaikan "Dirgahayu TNI-AU dalam
memasuki ulang tahunnya yang ke-54. Semoga kepak sayapmmu tetap mampu memberikan pengawalan, lindungan,
dan rasa aman bagi segenap bangsa Indonesia di Tanah Air dari Sabang sampai Merauke".
Redaksi