Dengan berkekuatan 3.000 personel, Korps Pasukan Khas TNI-AU tengah
menghadapi tantangan berat mengingat tugasnya yang harus mengamankan seluruh pangkalan
udara (lanud) yang sarat dengan teknolog canggih dan mahal. Bahkan untuk menangani sepuluh
lanud utama milik TNI-AU pun masih terasa kurang. Untuk itu Pemerintah akan mendukung
jika pimpinan TNI-AU berniat meningkatkan kekuatannya.
Demikian salah satu dukungan yang disampaikan Presiden Abdurrahman Wahid
ketika mengunjungi Mako Paskhas TNI-AU 25 Maret lalu di Margahayu, Bandung. Hadir juga
dalam acara ini Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Panglima TNI Laksamana TNI Widodo
AS, KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan, dan Mendiknas Yahya Muhaimin.
Masih butuh dukungan personel lebih banyak
|
Menurut pihak TNI-AU, jika memang segalanya memungkinkan, jumlah tersebut
secara bertahap akan ditingkatkan menjadi 6.000 personel. Dalam kaitan ini disinggung juga
mengenai kian pentingnya pendidikan bagi para personel Paskhas mengingat tanggung jawabnya
dalam menjaga perangkat canggih tadi. "Untuk itu Saya mohon dalam perencanaan
mendatang, masalah tersebut dimasukkan, dan Paskhas sudah waktunya diperkenankan belajar ke
luar negeri untuk meningkatkan kemampuannya", demikian ujar Presiden.
Dalam kesempatan itu, kepada wartawan, Komandan Korpaskhasau, Marsma TNI
Nano Suratno mengungkapkan, selain kurangnya personel, pihaknya juga menghadapi
masalah persenjataan anti serangan udara yang kian uzur. Jika memang memungkinkan, kesatuan
TNI-AU ini memerlukan sejumlah rudal anti serangan udara untuk menggantikan kanon-kanon
anti serangan udaranya yang sudah tua. Alut sista ini nantinya akan berfungsi sebagai
pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan udara
rendah.(avi)