Banyak yang mengira, kalau Tjandra
Wibowo yang presenter juga produser beberapa acara di SCTV itu ibu dari dua atau
tiga anak. "Aduh, mati deh..," tanggapnya dengan gelak tawa. Tapi, bisa jadi kesan itu muncul, sebab di layar kaca mantan Putri Remaja
tahun 1985 dan juara lomba karya ilmiah itu selalu terlihat lebih tenang, sangat dewasa, dan yang paling penting lagi, senantiasa
tampak sumringah.
Apakah yang terakhir itu tuntutan dari SCTV? "Ah,
nggak juga. Itulah diri saya," jawabnya singkat, masih dengan derai
tawa namun penuh makna. Tapi dalam beberapa sesi sesekali Tjandra terlihat agak judes juga. "Secara
nggak sadar biasanya kalau sedang membacakan berita kriminal atau penindasan," ungkapnya kepada Wartawan
Angkasa, Roni Sontani, dalam perbincangan
panjang di akhir pekan, di Jakarta bulan lalu.
"Dunia jurnalistik khususnya TV, ternyata dunia saya," lanjut dara kelahiran Bogor bernama lengkap Sutjiati Eka
Tjandrasari itu. "Padahal jadi reporter pun, tak punya bekal sama sekali. Pendidikan saya Biologi IPB. Tahun 1991 saya diterima TPI saat
kuliah tinggal skripsi. Itupun karena saya ingin kerja paruh waktu saja. Ternyata jadi reporter menyita waktu banyak. Maka awalnya
saya sempat stres juga. Ujung-ujungnya skripsi tertunda satu setengah tahun. Setiap hari saya pulang jam empat pagi.
Eh, baru dua bulan kerja, saya dikirim ke empat negara Eropa untuk membuat liputan festival bunga. Coba,
gimana nggak gentar? Saya benar-benar learning by
doing. TPI berjasa besar bagi saya."
Angkasa (*): Apakah Anda juga pernah meliput dunia penerbangan?
Tjandra Wibowo (#): Itu tugas liputan pertama saya ketika pindah ke SCTV. Lagi-lagi saya dihadapkan pada bidang yang jauh
dari bidang saya. Tapi bagi saya, ketika ditugaskan untuk mengerjakan sesuatu, maka saya akan sungguh-sungguh mengerjakannya.
Saya ditugaskan membuat liputan 30 menit mengenai penerbangan pertama N-250 tahun 1995. Sebelum berangkat, saya tanya
sana-sini. Dan, orang pertama yang saya hubungi, itu adalah Bp. Dudi Sudibyo, Redpel Angkasa. Walau saya tidak kenal sebelumnya. Saya
minta diajari hal-hal tentang N-250.
* : Lalu, makna apa yang Anda tangkap setelah melakukan liputan itu?
<># : Disinilah, dalam hati saya bergejolak dualisme. Kalau mau jujur, sebenarnya saya tidak suka negeri ini mendahulukan
proyek mercusuar IPTN, sementara rakyat masih menjerit dan
keteteran dimana-mana. Secara teknologi, bolehlah N-250 itu
hebat, meskipun waktu terbang itu satu rodanya tidak bisa masuk 'kan? Lebih dari itu, saya tidak setuju konsep bahwa negara harus
punya sesuatu yang canggih di mata dunia. Itu 'kan sama saja
make-up. Maka, akhirnya liputan itu saya beri judul "N-250: Gengsi
Sebuah Negara?" Bagi saya, pesawat bukan ukuran gengsi.
* : Tapi, bukankah untuk alih teknologi itu kita memang memerlukan investasi dan waktu yang lama?
# : Oke, saya setuju, membangun IPTN itu tidak segampang membalik tangan. Justru disitulah masalahnya, berapa besar alokasi
dana yang harus ditanamkan. Sementara memasarkan produk pesawat itu tidak segampang menjual kacang goreng. Kalau produknya
tidak laku, mau bilang apa kita? Saya lebih setuju IPTN itu dibuat menjadi lembaga riset saja dulu. Karena ada yang lebih penting,
yakni bagaimana pemerintah bisa memberikan pendidikan ekonomi yang baik kepada masyarakat. Mulailah dari bawah,
pertanian misalnya. Sekarang 'kan jadinya telat. Mau bilang
back to nature, sementara orangnya sudah kemana-mana.
Nggak salah juga kalau negara kena krisis.
* : Wah, ternyata Anda suka mengembangkan pikiran yang kritis juga ya?
# : Ah, jangan terlalu dilebih-lebihkan. Sejak SMA memang saya suka berorganisasi. Di IPB pun saya aktif membidani
berbagai organisasi kampus dan mengembangkannya hingga berprestasi. Dulu saya suka ngotot kalau berdiskusi dengan teman. Itu
idealisme mahasiswa. Jadi kalau kata-kata saya tadi ada yang menyinggung, anggap saja itu idealisme saya zaman dulu!