Gripen mampu beroperasi dari jalan raya-Johnny Lindah/Saab
|
SAAB pertama kali merencanakan ide pencegat Swedia untuk era 90-an pada
Paris Airshow tahun 1981. Semua ini dipicu oleh kebutuhan pengganti penempur ringan bertempat duduk ganda SAAB 105. Mengapa
tak sekalian merancang pengganti AJ-37
Viggen yang saat itu memasuki usianya yang ke sepuluh, begitu pikir SAAB. Sekitar 1,87 miliar dollar AS bakal diperkirakan habis untuk membuat lima purwarupa.
Seperempatnya dipakai untuk pengembangan perangkat penginderaan infra merah yang berfungsi saat harus terbang dalam kondisi cuaca buruk. Atau lebih dikenal sebagai
FLIR-Forward Looking Infra Red. Nilai ini juga termasuk
pesanan 30 buah seri pertama Gripen untuk Flyvapnet. Awalnya hanya 110 buah yang bakal dipesan oleh AU negara Nordik itu.
Rupanya dana segitu gede membuat para wakil rakyat bergidik mendengarnya. Adalah Partai Sosial Demokrasi
(SDP-Social Democratic Party) yang mati-matian menentang. Pemborosan adalah alasan
utamanya. Bahkan orang pertama SDP, Olaf Palme menganggap rencana ini bak "proyek penjelajah Belgrano", kapal AL Argentina yang ditenggelamkan Inggris dalam Perang Malvinas. Penempur yang 25 persen berbadan
fiber-karbon komposit ini akan bernasib sama dengan
Arrow-nya Canada di era 50-an (baca
Angkasa September 1999). Flyvapnet-pun mengalah dengan mencoba beberapa pencegat buatan luar Swedia. Pemburu macam F-16
Fighting Falcon , F-20 Tigershark dan terakhir F/A-18
Hornet pernah dicobanya. Namun semua dirasa kurang cocok. Alasannya, tak ada satupun yang sanggup beroperasi mandiri dari jalan raya . Ciri khas yang melekat pada
pencegat asal negeri Viking ini.
Sesaat program ini boleh dibilang menemui jalan buntu. Sampai pada tahun 1981,
ketika sebuah kapal selam Uni-Soviet terdampar di pantai Swedia. Kapal dari kelas
Whiskey buatan tahun 60-an ini menyangkut
karang dekat Pangkalan AL Swedia, Karlskrona. Diduga kapal selam yang dikomandani Pytron Gushin ini sedang mengamati kegiatan AL Swedia. Flygvapnet yang saat itu masih memakai
Viggen tidak dapat langsung menurunkannya untuk "mengobok-obok" Laut Baltik. Lantaran harus memodifikasi
fighter murni ini terlebih dahulu. Sedang 14 buah heli AKS (Anti Kapal Selam) Boeing-Vertol 107/KV-107 (kembaran CH-46
Sea Knight-Red) yang dimiliki AL kewalahan mencari kapal selam gaek ini.
Peristiwa ini dianggap mencoreng kemampuan militer Swedia. Swedia harus memiliki perangkat yang mumpuni untuk merondai wilayahnya dari penyusup-penyusup asing. Partai liberal yang berkuasa setelah
pemilu pada tahun itu rupanya meng"amini" program pengembangan Gripen. Apalagi opini masyarakat akibat peristiwa penyusupan kapal selam asing itu mulai terbentuk. Tepatnya pada bulan September 1982, secara resmi
program ini mulai dijalankan.
Gado-gado canggih
Penempur pertama generasi ke empat yang operasional pertama kali di dunia-Johnny Lindah/Saab
|
Walau diakui sebagai buatan dalam negeri, namun beberapa perangkatnya diambil dari produksi akhir di luar Swedia. Sebut saja sistem roda pendarat yang diambil dari buatan A.P. Precision Hydraulics, Inggris.
Dengan sistem ini, ketinggian pesawat dari permukaan landasan memungkinkan pemasangan senjata dengan mudah. Sedang sistem navigasi terpadu
(INS-Invertial Navigation System) dibuat oleh Honeywell, Amerika. Perangkat
ini sebenarnya membantu pilot untuk mendarat di sembarang tempat tanpa bantuan dari menara pengawas
(ATC-Air Traffic Control). Terakhir adalah kanon tunggal 27 milimeter yang
mampu menyemburkan peluru hingga 1.700 biji permenitnya, diambil dari Mauser, Jerman. Pihak SAAB mengklaim hal ini sebagai jalan menghemat dana.
Fighter canggih serba-guna berteknologi gado-gado.
Awalnya SAAB meluncurkan lima buah purwarupa JAS. Masing-masing adalah tipe 2102, 2105, 2107,2108 dan 2110. Hanya tiga konfigurasi yang mendekati kebutuhan. SAAB 2102
merupakan tipe dengan bentuk yang masih konvensional. Bermesin tunggal dengan lubang masuk udara
(air intake) di tengah serta sayap tekuk
(swept wing). Bentuk SAAB 2107 boleh dibilang adalah yang terumit ketimbang ketiga tipe lainnya.
Walau tetap mengandalkan mesin tunggalnya, namun rancangan ini memiliki air intake di bagian atas badan. Serupa dengan North American YF-107-nya Amerika atau Mikoyan 701-nya Rusia. Penempatan air intake ini
bertujuan untuk menghindari tersedotnya benda-benda asing saat harus mendarat/tinggal landas di daerah terpencil. Walau juga menggunakan sayap delta, namun sayap ekor dibuat rendah. Persenjataan sebagian besar disimpan
dalam badannya. Sedangkan tipe terakhir adalah 2110 yang bentuknya sama dengan Gripen yang ada sekarang. Walau memiliki hidung yang lebih lancip. Konfigurasi terakhir inilah yang akhirnya terpilih. JAS sendiri
merupakan kepanjangan dari Jakt Attact
Spaning, atau berarti pemburu, penyerang darat, dan pengintai.
Salah satu kunci keunggulan Gripen terletak pada dapur pacunya. Sebuah mesin Volvo RM-12
ber-afterburner yang tak lain adalah jiplakan mesin General Electric F-404 buatan Amerika dipercaya untuk
menerbangkan burung besi seberat 7,4 ton itu. Dengan tenaga segede 17.000 lb pencegat ini dapat terbang supersonik di segala ketinggian. Hanya dibutuhkan waktu tiga detik saja dari posisi
idle menuju ke full afterburner. Tambahan
lagi, mesin yang 60 persen komponennya masih didatangkan dari AS ini memiliki piranti anti tabrakan dengan burung.
Keunggulan informasi
Kokpit Gripen dengan tampilan multi fungsi-Saab
|
Prinsip pertempuran udara dimasa datang adalah
first look, first shoot, first kill. Singkatnya pemenang
dog fight adalah siapa yang "melihat" musuh terlebih dulu. Salah satu kuncinya adalah keunggulan informasi.
Keunggulan informasi (information
superiority) merupakan filosofi yang ditawarkan. Kemampuan ini pun merupakan nilai lebih dibanding pencegat yang ada saat ini. Hanya Tornado F-3 saja yang boleh dibilang
berfilosofi hampir mirip. Itupun sistem yang diterapkan masih di bawah Gripen. Sedangkan F/A-18D
Super Hornet dan Eurofighter Typhoon masih dalam taraf pengembangan.
Filosofi ini dipenuhi dengan pengunaan layar tampilan serba-guna
(MPD-Multi Purpose Display) di bagian tengah kokpit Gripen. Bak sebuah "mata dewa", layar ini menginformasikan target sasaran baik udara
maupun darat, arah, dan keterangan navigasi lainnya. Semua informasi ini bukan hanya didapat dari udara, namun merupakan jaringan terpadu dengan satuan didarat maupun laut. Selain itu keadaan pesawat kawan juga dapat
diketahui. Seorang pilot Gripen dapat mengetahui banyaknya bahan bakar, jumlah dan jenis persenjataan milik temannya yang masih tersisa. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Selain itu MPD juga akan mengingatkan bila Gripen berada
pada jarak tembak pesawat musuh.
Sistem pengendusan alias radar dipercayakan pada Ericsson/Ferranti tipe PS-05. Selain berfungsi sebagai perangkat pengendusan udara-udara, radar ini juga bekerja untuk udara-darat secara simultan. Beradius
aktif sejauh 120 kilometer dengan besar sasaran hanya segede sedan. Jarak ini sesuai dengan penggunaan rudal udara-udara jarak jauh AMRAAN. Sistem ini juga akan mengoreksi jalannya rudal selama menuju sasaran.
Sistem radar ini kemudian dihubungkan dengan komputer berkemampuan tinggi, Ericsson SDS-80. Mampu mengolah data, enam sampai tujuh juta operasi tiap detiknya. Komputer jenis ini juga digunakan
untuk menangani sistem-sistem lainnya. Semisal panel kokpit dan perangkat
electronic warning (EW). Panel instrumen yang terdiri dari tiga layar ini ditampilkan
pixel perpixel sehingga mirip tampilan pada layar TV
pada umumnya. Layar pertama untuk data penerbangan, layar kedua adalah MPD, dan layar terakhir menampilkan situasi sekitar pesawat.
Pernah celaka
Rupanya kecanggihan penempur seharga 25 juta
dollar AS sebuah ini ada batasnya. Hal ini terbukti saat pesawat bersayap delta dengan
canard (dua sayap kecil pada bagian
depan-red) terhempas ke darat. Pada pameran kedirgantaraan di dekat Stockholm pada Bulan Agustus 1993 sebuah Gripen melakukan belokan tajam
(bank). Boleh dibilang terlalu tajam. Lantaran sistem kemudinya lebih sensitif ketimbang pesawat lain pada
umumnya. Akibatnya penempur itu bermanuver kelewat batas, sehingga
stall. Tambah lagi instrumen pemberi isyarat posisi terlambat bekerja. Tanpa ampun pencegat yang kursi pilotnya dapat naik untuk pertempuran jarak dekat
ini menghujam dalam posisi tegak. Kecuali kotak hitam perekam, seluruh reruntuhan buru-buru "diungsikan".
Lars Radestrom, sang pilot berhasil menyelamatkan diri dengan kursi pelontar. Menurutnya, komputer melakukan koreksi yang kebablasan. Ketika pesawat diluruskan kembali, tiba-tiba badannya mendongak
dan terombang-ambing. Lars terlambat untuk mengkoreksinya kembali. Tak pelak lagi musibah ini mengancam kelangsungan hidup Gripen.
Dari peristiwa ini pihak SAAB mendapatkan beberapa kelemahan yang masih melekat dalam penempur abad 21 ini. Margin pengamanan pada sistem kemudi Gripen kurang besar. Kekurangan ini masih
ditambah dengan belum terbiasanya pilot. Dengan kata lain penggabungan perilaku mesin-manusia masih kurang pas. Diperlukan masa transisi yang benar-benar akurat untuk menyiapkan para awak Gripen.
Tidak laku?
SAAB juga menelurkan versi export dari Gripen dengan kode JAS-39 X (X untuk kode negara pemakai). Sasaran pertamanya adalah "sobat lama" Finlandia yang pernah menggunakan J-35
Draken. Sekitar 67 Draken dan MiG-21 yang sudah uzur memang sudah saatnya untuk diganti. Tercatat
Mirage 2000-5, F/A-18 Hornet, F-16
Fighting Falcon dan MiG-29 Fulcrum menjadi saingannya. Untuk ini SAAB tak segan-segan mengirim
20 versi kursi tunggal dan lima versi kursi gandanya untuk dicoba pilot Finlandia. Apa boleh buat penempur berkecepatan mach dua ini rontok oleh Hornet. Lantaran Mc Donnell Douglas (waktu
itu-red) sanggup memberikan sistem
offset bagi pengadaan 57 jet yang berhabitat di kapal induk itu.
Harapan yang tertumpu pada AU Swiss juga sirna gara-gara pengadaan 34 pencegat barunya juga jatuh ke tangan Hornet. Hungaria sebagai negara ex-Blok Timur ternyata tetap setia dengan mendatangkan 28
Fulcrum dari Russia. Bahkan Italia lebih memilih menyewa
Tornado surplus RAF, sebelum Typhoon menjadi tulang punggung kekuatan udaranya. Gripen dibayang-bayangi oleh julukan sebagai fighter canggih yang tak laku.
Namun ketakutan ini pupus saat Afrika Selatan membeli 28 Gripen pada Bulan Desember 1999 untuk menggantikan armada
Cheetah-nya. Setelah bertarung dengan
Mirage 2000-5. Boleh dibilang angin segar
ini berhembus setelah SAAB melakukan kerja-sama dengan Bae, Inggris. Lantaran dengan ini SAAB dapat memakai jaringan pemasaran BAE yang sudah begitu menggurita. Selain itu Bae sendiri tidak merasa
produknya terancam dengan ikut memasarkan Gripen. Pasalnya kelas penempur yang masuk ke jajaran Flygvapnet pada tahun 1994 ini berada diantara
Typhoon dan Hawk versi 200. Tapi yang jelas kehadirannya sebagai
penempur generasi keempat pertama yang operasional memang patut diacungi jempol. Lihat saja "teman seangkatannya", semacam
Typhoon, Rafale, maupun F-22
Raptor yang masih dalam taraf pengembangan. Sampai saat ini
sudah sekitar 80 Gripen yang masuk AU Swedia, dari 204 yang rencananya
dipesan.(avi/berbagai sumber)