ANGKASA N0.7 APRIL 2000 TAHUN X  

Kekuatan Udara, Terus Maju dan Penting Dikaji


  Laporan Utama
Airshow
Aerobatik
Cakrawala
Fenomena
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Pesawat Militer
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
OPINI  

Kekuatan Udara, Terus Maju
dan Penting Dikaji

Salah satu isu penting manakala berlangsung pameran kedirgantaraan seperti Asian Aerospace, adalah tentang pembangunan kekuatan udara, seperti tercermin dalam rencana-rencana pembelian perlengkapan, seperti pesawat tempur atau latih, helikopter, rudal antipesawat, dan sejenisnya.

Setelah hampir tiga tahun banyak mengerem belanja militer, bangsa-bangsa Asia rupanya kini mulai menengok lagi urusan belanja peralatan militer. Itu juga tidak keliru, karena pertahanan tetaplah hal wajib bagi setiap negara, meski skala dan prioritasnya tetap harus diselaraskan dengan berbagai kepentingan nasional lain.

Keinginan negara-negara Asia untuk kembali menyegarkan program pemutakhiran armada jet dan elemen kekuatan udaranya, rupanya juga dilihat oleh kalangan industri kedirgantaraan dunia. Itu sebabnya di Asian Aerospace 2000, ada Boeing yang memamerkan kecanggihan heli serang Apache AH-64D Longbow karena Singapura membelinya, ada GKN Westland yang memamerkan heli antikapal selam Super Lynx karena Malaysia membelinya. Tak bisa diabaikan pula Dassault yang memamerkan jet tempur Rafale untuk dikaji oleh negara tuan rumah, yang juga sedang dibujuk oleh pembuat jet tempur saingannya. Pesaing Rafale adalah jet Typhoon yang semula dinamai Eurofighter buatan konsorsium empat negara Eropa.

Selain negara Asia, kita juga melihat Yunani yang anggota NATO 8 Maret lalu juga mengumumkan pembelian 16 pesawat Typhoon dalam kontrak senilai lima milyar dollar AS.

Seperti kita ketahui, Typhoon adalah jet tempur generasi baru yang bisa beroperasi dalam segala cuaca. Di antara kemampuannya, ia bisa mendeteksi pesawat musuh di luar jangkauan visual, menetapkan sasaran menurut urutan prioritasnya, mungkin di luar pengetahuan musuh itu sendiri.

Konsorsium Inggris, Spanyol, Jerman dan Italia yang membuat Typhoon ini selain menjual Typhoon untuk angkatan udara negara masing-masing, juga berupaya memperluas pangsa pasarnya. Itu sebabnya, sebuah mock-up Typhoon dibawa ke Singapura untuk diperkenalkan kepada petinggi militer, khususnya dari AU, di kawasan ini.

Sementara itu dari benua Amerika isu penting yang muncul berkaitan dengan pesawat JSF (Joint Strike Fighter) yang kontraknya dijadwalkan diberikan bulan Maret 2000. JSF adalah pesawat tempur generasi mendatang, yang selain terjangkau - relatif tentu saja - juga punya kemampuan ganda, baik untuk pertarungan udara (dogfight) juga pemboman, dan dirancang bisa digunakan tidak saja oleh angkatan udara, tetapi juga untuk angkatan lain yang membutuhkan.

Biaya kombinasi untuk membuat 2.852 unit jet yang akan dibeli oleh AU, AL, dan Marinir dalam jangka 27 tahun sedikitnya 150 milyar dollar untuk nilai dollar sekarang ini. Sementara itu, pasar luar negeri ditaksir bisa mencapai 4.000 unit senilai 200 milyar dollar, menurut satu studi yang dikutip oleh kantor berita Reuters.

Memang di luar nilai pembelian yang menggiurkan tersebut, masih ada sejumlah soal yang sedang dipertimbangkan oleh Departemen Pertahanan AS. Misalnya saja, apakah kontrak yang amat besar tersebut hanya akan diberikan pada pemenang desain, mengingat industri pertahanan Amerika pada umumnya dalam keadaan kurang menguntungkan. Apa tidak sebaiknya order yang diperoleh dibagi-bagi.

DI luar masalah itu, kita melihat bahwa tetap ada antusiasme di kalangan pengelola angkatan bersenjata untuk terus memutakhirkan kekuatan udara. Ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari sejarah konflik dan peperangan mutakhir, dimana kekuatan udara telah memainkan peranan demikian penting, tidak saja dalam Perang Enam Hari di Timur Tengah tahun 1967, tetapi juga khususnya dalam Perang Teluk, dan berikutnya dalam Perang Balkan, dari Bosnia hingga Kosovo di dekade 1990-an.

Atas dasar itulah, meski Indonesia sendiri masih belum dalam posisi untuk memutakhirkan kekuatan udaranya, bahkan sejumlah jet yang sudah diperoleh terpaksa dikembalikan demi efisiensi operasional, konsep kekuatan udara sendiri tetap tidak boleh mati di Indonesia.

Rentang geografis Republik yang seukuran AS, dan terletak dalam lingkungan strategis yang di satu pihak amat dinamis, namun di pihak lain juga mengandung kerawanan, memberi argumen cukup untuk terus menghidup-hidupkan semangat kuat di udara.

Dalam kaitan ini, upaya senior TNI-AU untuk membentuk Klub Kekuatan Udara Indonesia, merupakan upaya yang selaras dengan semangat di atas. Klub diharapkan dapat mengikuti perkembangan kekuatan udara di kawasan dan internasional, dan bisa melahirkan usulan atau rekomendasi mengenai apa yang terbaik bagi Indonesia. (nin)



Laporan Utama | Airshow | Aerobatik | Cakrawala | Fenomena | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Pesawat Militer | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media