Salah satu isu penting manakala berlangsung pameran kedirgantaraan seperti Asian Aerospace, adalah tentang
pembangunan kekuatan udara, seperti tercermin dalam rencana-rencana pembelian perlengkapan, seperti pesawat tempur atau latih,
helikopter, rudal antipesawat, dan sejenisnya.
Setelah hampir tiga tahun banyak mengerem belanja militer, bangsa-bangsa Asia rupanya kini mulai menengok lagi
urusan belanja peralatan militer. Itu juga tidak keliru, karena pertahanan tetaplah hal wajib bagi setiap negara, meski skala
dan prioritasnya tetap harus diselaraskan dengan berbagai kepentingan nasional lain.
Keinginan negara-negara Asia untuk kembali menyegarkan program pemutakhiran armada jet dan elemen
kekuatan udaranya, rupanya juga dilihat oleh kalangan industri kedirgantaraan dunia. Itu sebabnya di Asian Aerospace 2000, ada
Boeing yang memamerkan kecanggihan heli serang Apache AH-64D
Longbow karena Singapura membelinya, ada GKN Westland
yang memamerkan heli antikapal selam Super
Lynx karena Malaysia membelinya. Tak bisa diabaikan pula Dassault yang
memamerkan jet tempur Rafale untuk dikaji oleh negara tuan rumah, yang juga sedang dibujuk oleh pembuat jet tempur
saingannya. Pesaing Rafale adalah jet
Typhoon yang semula dinamai Eurofighter buatan konsorsium empat negara Eropa.
Selain negara Asia, kita juga melihat Yunani yang anggota NATO 8 Maret lalu juga mengumumkan pembelian 16
pesawat Typhoon dalam kontrak senilai lima milyar dollar AS.
Seperti kita ketahui, Typhoon adalah jet tempur generasi baru yang bisa beroperasi dalam segala cuaca. Di
antara kemampuannya, ia bisa mendeteksi pesawat musuh di luar jangkauan visual, menetapkan sasaran menurut urutan
prioritasnya, mungkin di luar pengetahuan musuh itu sendiri.
Konsorsium Inggris, Spanyol, Jerman dan Italia yang membuat Typhoon ini selain menjual Typhoon untuk angkatan
udara negara masing-masing, juga berupaya memperluas pangsa pasarnya. Itu sebabnya, sebuah mock-up Typhoon dibawa ke
Singapura untuk diperkenalkan kepada petinggi militer, khususnya dari AU, di kawasan ini.
Sementara itu dari benua Amerika isu penting yang muncul berkaitan dengan pesawat JSF (Joint Strike Fighter)
yang kontraknya dijadwalkan diberikan bulan Maret 2000. JSF adalah pesawat tempur generasi mendatang, yang selain terjangkau
- relatif tentu saja - juga punya kemampuan ganda, baik untuk pertarungan udara
(dogfight) juga pemboman, dan dirancang
bisa digunakan tidak saja oleh angkatan udara, tetapi juga untuk angkatan lain yang membutuhkan.
Biaya kombinasi untuk membuat 2.852 unit jet yang akan dibeli oleh AU, AL, dan Marinir dalam jangka 27 tahun
sedikitnya 150 milyar dollar untuk nilai dollar sekarang ini. Sementara itu, pasar luar negeri ditaksir bisa mencapai 4.000 unit senilai
200 milyar dollar, menurut satu studi yang dikutip oleh kantor berita
Reuters.
Memang di luar nilai pembelian yang menggiurkan tersebut, masih ada sejumlah soal yang sedang dipertimbangkan
oleh Departemen Pertahanan AS. Misalnya saja, apakah kontrak yang amat besar tersebut hanya akan diberikan pada
pemenang desain, mengingat industri pertahanan Amerika pada umumnya dalam keadaan kurang menguntungkan. Apa tidak
sebaiknya order yang diperoleh dibagi-bagi.
DI luar masalah itu, kita melihat bahwa tetap ada antusiasme di kalangan pengelola angkatan bersenjata untuk
terus memutakhirkan kekuatan udara. Ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari sejarah konflik dan peperangan mutakhir,
dimana kekuatan udara telah memainkan peranan demikian penting, tidak saja dalam Perang Enam Hari di Timur Tengah tahun
1967, tetapi juga khususnya dalam Perang Teluk, dan berikutnya dalam Perang Balkan, dari Bosnia hingga Kosovo di dekade 1990-an.
Atas dasar itulah, meski Indonesia sendiri masih belum dalam posisi untuk memutakhirkan kekuatan udaranya,
bahkan sejumlah jet yang sudah diperoleh terpaksa dikembalikan demi efisiensi operasional, konsep kekuatan udara sendiri tetap
tidak boleh mati di Indonesia.
Rentang geografis Republik yang seukuran AS, dan terletak dalam lingkungan strategis yang di satu pihak amat
dinamis, namun di pihak lain juga mengandung kerawanan, memberi argumen cukup untuk terus menghidup-hidupkan semangat
kuat di udara.
Dalam kaitan ini, upaya senior TNI-AU untuk membentuk Klub Kekuatan Udara Indonesia, merupakan upaya yang
selaras dengan semangat di atas. Klub diharapkan dapat mengikuti perkembangan kekuatan udara di kawasan dan internasional, dan
bisa melahirkan usulan atau rekomendasi mengenai apa yang terbaik bagi Indonesia.
(nin)