Acara pembukaan Fasida Jambi dimeriahkan acara joy flight dengan C-130 Hercules TNI AU - Angkasa/ttg
|
Setiap daerah di Indonesia mempunyai ciri khas dan buah tangan berbeda dan unik. Pertama kali menginjakkan kaki di Jambi, Angkasa bertanya kepada seseorang di sana. "Apa oleh-oleh khas Jambi?" Jawabannya, "Ada dodol durian, duku,
atau kopi." Jadi itu sebagian oleh-oleh khas dari Jambi.
Bertemu dengan para pengembang olahraga dirgantara di sana,
pikiran itu segera berubah. Apalagi ketika mereka menyebut-nyebut bakal mengembangkan olahraga ini di pelosok Jambi.
Wah, pasti akan ada sesuatu yang khas lainnya dari sana.
"Saat ini kita sedang menjual semua potensi Jambi," kata Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin saat pengukuhan Kepengurusan Fasida Jambi, 10 Maret 2000 di Jambi. Pariwisata merupakan salah satu potensi yang akan dijualnya. Dalam hal wisata,
potensi Jambi cukup besar. Jambi punya antara lain Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Berbak. Di sana pemandangan alamnya indah. Ada gunung, danau, gua, juga seni budaya yang tinggi.
Sejalan dengan perkembangan olahraga dirgantara di Jambi, keindahan alam Jambi bisa terjual. Gantole atau paralayang bisa memacu pertumbuhan wisata di sana. Apalagi sarananya cukup lengkap. Kerinci sudah memiliki Bandara Depati
Parbo, tinggal mengelolanya lebih lanjut.
"Kami harapkan, 20 persen dari 7 juta wisatawan Singapura singgah di Jambi di mana 10 persennya diharapkan akan mengunjungi Kerinci. Jumlah itu bagi kita sudah cukup besar. Selain Kerinci, Jambi juga akan menjual keindahan
Taman Nasional Berbah, di sana ada hutan hujan tropis terbesar di dunia dan bukit 30," Gubernur berpromosi.
Promosi Gubernur ini mendapat sambutan hangat dari Ketua Umum Fasida Jambi, H. Arifin Manap. "Kerinci sangat potensial untuk olahraga gantole dan paralayang. Kami akan mencoba mengembangkan kedua olahraga ini di sana."
Tetapi sepertinya jalan masih panjang. Sekarang Jambi baru mempunyai beberapa orang atlet dari dua cabang olahraga: terjun payung (16 orang) dan aeromodeling (7 orang).
Meski demikian, potensi perkembangannya sangat besar. Ini terlihat ketika, beberapa atlet terjun payung, trike, paralayang, paramotor, dan aeromodelling mendemonstrasikan kebolehannya, ratusan warga sekitar Bandar Udara Sultan
Thaha sangat antusias menyaksikan. Bahkan saat joy
flight dengan pesawat C-130 Hercules dibuka, mereka menyerbu pesawat dan berebut naik walau keempat baling-baling pesawat masih berputar kencang. Sangat mungkin, bila cita-cita Gubernur
tercapai, orang Jambi yang Angkasa tanyai itu mampu menyebut satu lagi oleh-oleh khas Jambi, "terbang di atas
Kerinci."(ttg)