ANGKASA N0.7 APRIL 2000 TAHUN X  

Serge Dassault 75 Tahun : Pengembang Industri Pesawat Terbang Perancis

Pesawatnya Digunakan 73 Negara


  Laporan Utama
Airshow
Aerobatik
Cakrawala
Fenomena
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Pesawat Militer
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
PROFIL  

Serge Dassault 75 Tahun :
Pengembang Industri Pesawat Terbang Perancis

Setelah usianya mencapai 75 tahun, ia tak lagi memimpin Dassault Aviation demikian kebijakan perusahaannya. Namun namanya tetap dikenang sebagai pemimpin Dassault Aviation yang sederhana.

Serge Dassault Serge di Asian Aerospace terlihat ramah dan santai menghadapi wartawan - Angkasa/D.N. Yusuf

Patut dihargai kalau Serge Dassault sampai menjelang 75 tahun usianya mampu memimpin Dassault Aviation, industri kedirgantaraan Perancis yang terkenal menghasilkan produk seperti Mirage, Super Etendard, Jaguar, Alpha Jet, patroli maritim Atlantique, biz-jet Falcon, serta pesawat tempur generasi terbaru Rafale. Namun setelah itu, bukan sama sekali ia akan menghilang dari dunia usahanya. Karena sebagai pemilik sebagian besar saham di Dassault Aviation saham lain dimiliki Pemerintah Perancis, ia sedikitnya tetap eksis di dunia yang sarat teknologi tinggi dan penuh tantangan ini.

Bukan cuma itu yang menarik. Serge tipe orang sederhana. Pembawaannya pun santai. Di Asian Aerospace 2000 lalu, ia masih terlihat di antara para petinggi industri dirgantara dunia. Namun penampilannya memang lain dibandingkan petinggi lainnya, ia lebih sederhana dan santai. Ditambah lagi postur tubuhnya yang tidak terbilang tinggi untuk ukuran orang Eropa dan rambutnya yang hitam. Senyum pun tak pernah lepas dari bibirnya.

Sebagai pewaris Avions Marcel Dassault, kelahiran 4 April 1925 ini bisa jadi memang lebih banyak mewarisi bakat ayahnya, Marcel Dassault, pencipta pesawat Mirage dan Mystere. Kemudian ia dipercaya memegang kendali Avions Marcel Dassault, tahun 1988, setelah ayahnya meninggal pada April 1986, dalam usia 94 tahun. Avions Marcel Dassault kemudian berganti nama menjadi Dassault Aviation.

Menarik juga disimak tentang sejarah nama 'Dassault' itu. Marcel yang nama kecilnya Marcel Bloch adalah seorang Yahudi, yang menolak bekerja untuk Nazi hingga dimasukkan ke kamp Buchenwald dan dijatuhi hukuman mati. Kedatangan pasukan sekutu menyelamatkannya dari kematian. Sementara itu, saudara Marcel, Paul, berjuang dalam gerilya (resistance) dengan nama samaran Char d'Assault atau 'tank serbu'.

Dari nama samaran itu, usai perang Marcel dan Paul sepakat mengganti nama belakang mereka menjadi Dassault. Namun ada versi lain yang menyebut, nama Dassault dipakai Marcel untuk menghormati seorang rekannya yang mati di kamp Nazi.

Ketua GIFAS

Serge Dassault Serge Dassault-Angkasa/rb

Sebenarnya Serge sudah berkiprah mengikuti jejak ayahnya sejak tahun 1951. Dia mulai aktif dalam industri milik ayahnya, Generale Aeronautique Marcel Dassault.

Karir awalnya dimulai sebagai direktur yang membawahi pengembangan beberapa jenis pesawat militer, seperti Super Mystere, Etendard serta Mirage III dan IV. Dia kemudian menjadi manajer ekspor dan berhasil menjual Mirage III ke Australia dan Swiss pada awal tahun 1960-an. Tahun 1967 ia memimpin industri elektronik Marcel Dassault.

Wawasannya terus diasah. Pengalamannya pun makin bertambah. Apalagi bakat ayahnya yang jenius, rupanya menurun pula padanya. Maka tak heran, saat ia menggantikan ayahnya memimpin raksasa industri Dassault Aviation, ia sudah siap.

Tapi tantangan memang makin lama makin berat. Apalagi tahun 1993 Serge diserahi tanggung jawab sebagai Presiden GIFAS (Groupement des Industries Francaise Aeronautiques et Spatiales), asosiasi industri aeronautika dan angkasa Perancis. Asosiasi ini beranggotakan lebih dari 2.000 industri kedirgantaraan Perancis dengan produk kedirgantaraan menyeluruh: dari pesawat tempur, pesawat latih, helikopter, pesawat komersial, pesawat bisnis, mesin dan semua jenis perlengkapan pesawat, sistem senjata, hingga satelit dan roket ruang angkasa.

Pada era tahun 1990-an itu, ia harus mampu mempertahankan posisi Perancis sebagai negara kedua di dunia Barat setelah Amerika Serikat dalam industri aeronautika dan angkasa luar. Memang cukup berat. Kondisi negaranya di bidang tersebut pun tidak selalu cerah. Sebut saja perusahaan yang dipimpinnya, yang dalam beberapa tahun terakhir itu kekurangan pesanan pesawat militer. Padahal, itulah kekuatan ekspornya.

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Serge terlihat dapat menyembunyikan kepesimisannya. Berbagai pertanyaan kalangan media yang terkadang menyudutkannya, ditanggapinya dengan optimisme tinggi. Seperti tersiarnya kabar tentang kurangnya dana untuk program Rafale-nya.

"Program Rafale tidak menemui kesulitan apapun. Kami terus melakukan uji coba dengan pesawat Rafale yang sudah ada," katanya (Angkasa, April 1994). Waktu itu, ia begitu optimis, pesanan Rafale untuk AU dan AL Perancis bisa diserahkan tahun 1997, sehingga skadron Rafale yang pertama dapat diaktifkan menjelang tahun 2000.

Optimismenya itu memang bukan cuma omong kosong. Selain memperkenalkan pesawat tempur generasi terbarunya di Asian Aerospace 2000, Dassault juga mengutip prestasinya dengan mengatakan bahwa separuh lebih dari 900 pesawat Airbus yang dipakai maskapai Asia 'ditenagai' produk Dassault. Dengan gencar pula pesawatnya dipromosikan untuk kawasan Asia, yang sampai kini pun untuk pesawat militer masih dikuasai produk-produk AS.

Khusus Rafale, Dassault mengembangkan tiga versi. Rafale C (single-seater), Rafale M (single-seater versi AL), dan Rafale B (two-seater). Ketiga Rafale dengan dua mesin pendorong ini dibuat serupa. Baik mesin, sistem navigasi, sistem manajemen, flight control, dan sistem persenjataannya, semua sama.

Sahabat Habibie

Serge Dassault Bakat yang turun dari ayahnya Marcel Dassault memang tak lepas dari Serge-Angkasa/D.N. Yusuf

Tantangannya bukan cuma mengatasi saingan beratnya, AS dan Uni Soviet dalam industri aeronautika dan angkasa. Dassault juga pernah dikabarkan tersangkut kasus suap-menyuap, menyangkut perdagangan senjata. Pertengahan tahun 1990-an itu, bos Dassault disebut-sebut terkait skandal suap di Belgia. Bahkan Hakim dari Pengadilan Liege di Belgia menerbitkan perintah penahanan terhadapnya. Walau pihak Dassault kemudian membatah keras keterlibatan Serge.

Kasus yang terjadi bersamaan dengan diadakannya Indonesia Air Show 1996 di Jakarta itu sedikitnya juga mengganggu aktivitasnya. Serge dikabarkan 'takut' bepergian ke luar Perancis. Sahabat baik B.J. Habibie ini pun jadi tak hadir saat acara IAS '96, Juni 1996 itu. Padahal sebelumnya ia menyatakan keinginannya untuk datang ke Indonesia.

Tapi kasus tersebut tidaklah jelas. Sampai kini pun tidak ada penyelesaian kongkrit atas keterlibatannya, menghilang begitu saja dan tak diungkap lagi. Aktivitasnya pun kembali seperti sediakala, melanjutkan program-program industrinya yang sampai kini tetap diakui dunia. Ayah empat anak yang yang hobi berburu dan mancing juga bermain golf ini terus berkutat memegang kendali Dassault.

Keberadaan Serge Dassault menjadi suatu kenangan dan sejarah tersendiri, juga bagi Perancis yang memang punya nilai historis tersendiri pada dunia kedirgantaraan. Dia memang bukan Marcel Dassault yang disebut sebagai Bapak pesawat-pesawat jet Mirage dan Mystere Perancis. Tapi, Serge juga dikenal luas oleh kalangan dirgantara dunia. Banyak pula andilnya dalam pengembangan industri dirgantara Perancis.

Selanjutnya mulai tanggal 4 April ini, tampuk pimpinan Dassault Aviation akan dipegang oleh Senior Vice President Dassault Aviation, Charles Edelstenne. Sedangkan Serge akan di belakang layar sebagai pemilik saham terbesar.(nie/ben)



Laporan Utama | Airshow | Aerobatik | Cakrawala | Fenomena | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Pesawat Militer | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media