AA-2 Atol rudal buatan Uni Soviet - Angkasa/D.N. Yusuf
|
Menengok kembali sejarah keberadaannya, teknologi misil bisa dibilangberasal dari Cina. Sejalan dengan ditemukannya bubuk mesiu pada abad ke-11, Cina sudah mendesain sebuah misil darat-ke-darat primitif. Primitif karena waktu itu tentara Cina hanya
menempatkan sejumlah besar bubuk mesiu dalam tabung logam silinder dan menempelkannya pada sebuah panah raksasa. Konsep dasarnya mirip petasan berlidi yang banyak ditemukan di Indonesia. Pada prakteknya, rudal primitif buatan Cina ini berdaya rusak rendah. Namun
demikian, gemuruh suaranya mampu memekakkan telingga dan memporakporandakan tentara lawan.
Pada abad ke-18 teknologi yang kurang lebih sama kembali dipakai dalam perang. Kali antara tentara Inggris melawan tentara Kesultanan Mysore (wilayah yang sekarang dikenal sebagai India). Selama perang berlangsung, pemanfaatan roket dalam perang itu
mengilhami militer sejumlah negara yang sedang berperang untuk mengembangkan teknologi roket primitif itu ke tingkat yang lebih moderen.
Ahli roket Inggris, Sir William Congreve berhasil mengembangkan misil berbasis roket Cina. Roket Congreve mampu meluncur dan menghancurkan musuh pada jarak yang lebih jauh. Kehebatan misil Congreve bisa disaksikan dalam perang melawan Napoleon di
Boulogne tahun 1806, di mana 18 kapal perang Inggris sempat menembakkan 30 ton bom roket selama satu jam. Setahun kemudian Inggris mendemonstrasikannya lagi. Kali ini, menghancurkan Copenhagen dengan bom roket berkekuatan total 375 ton. Dalam waktu singkat,
teknologi roket ini berkembang bak jamur di musim hujan. Perancis, Italia, Austria, Amerika, dan Rusia mulai menggunakannya.
Memasuki era perang dunia, roket sudah sedemikian berkembang. K. E. Tsiolkovsky dari Rusia, Robert H. Goddard dari Amerika, dan Herman Oberth dari Jerman merupakan tiga nama yang cukup berperan dalam perkembangan roket pada era ini, terutama
untuk kepentingan militer. Bila Tsiolkovsky memilih mengembangkan teori roket modern, propulsi, perjalanan ruang angkasa, dan peluru kendali, Robert Goddard memilih mengembangkan roket berbahan bakar
propellant cair. Roket Goddard berhasil meluncur pada 16
Maret 1926.
Lain lagi dengan Herman Obert yang waktu itu memimpin
Society for Space Flight Jerman. Seperti organisasi yang dipimpinnya, ia mendalami teknologi penerbangan luar angkasa dengan cita-cita sampingan mengembangkan teknologi misil. Sayangnya, ketika
Hitler berkuasa, perkumpulan itu dibubarkan dan diakuisisi oleh angkatan bersenjata Jerman.
Tahun 1937, dibawah pengawasan AB Jerman, Wernher von Braun, kepala ilmuwan perkumpulan yang dibubarkan Hitler itu, berhasil mengembangkan roket V-1 dan V-2 berbahan bakar cair. Kedua misil itu dikembangkan khusus untuk kepentingan militer Jerman
waktu itu. Militer Jerman berperan langsung dalam periode pengembangan V-1 dan V-2. V-1 lebih diperuntukkan bagi kepentingan AU. Bentuknya lebih kecil dari V-2, tetapi ia mampu mengangkut satu ton hulu ledak sejauh 250 mil dengan kecepatan 400 mil perjam.
Mengendalikannya pun mudah, tinggal mengarahkan hidung roket ke sasaran dan meluncurkannya. Bila bahan bakar habis, V-1 jatuh dan meledak setelah menghantam sesuatu. Berawal dari V-1 dan V-2 ini, teknologi roket dan misil berkembang pesat, tentu saja sebagian besar
dimanfaatkan guna kepentingan militer
IR lebih populer
Falcon sempat menjadi pesaing Sidewinder - Rockets & Missiles of World War III
|
Berawal dari teknologi roket primitif hingga roket masa perang dunia, sejumlah negara memikirkan mengembangkan teknologi ini lebih jauh. Jerman kembali menjadi yang pertama kali mengembangkan misil
air-to-air, yakni setelah mereka berhasil
mengembangkan X-3, peluru kendali udara-ke-udara berpemandu sinyal radio yang dipancarkan lewat sebuah kabel. X-3 berhasil dikembangkan dan diluncurkan untuk pertama kalinya pada tahun 1944 dari sebuah pesawat tempur AU Jerman (Luftwaffe). Sayang, meski tahap penelitian
dan pengembangan X-3 telah selesai, misil udara-ke-udara itu tidak pernah memasuki tahap produksi dan tentu saja tak pernah memasuki tahap operasi.
Teknologi Jerman yang justru membuat Amerika dan Sekutunya terkesima adalah roket tak berpemandu R4/M. Kehebatannya terletak pada sistem propulsi dan spin stabilisernya. Sistem yang diterapkan pada roket inilah yang diadopsi oleh AU Amerika
dalam mengembangkan misil udara-ke-udara atau udara-ke-darat generasi pertama.
Tahun 1950-an menjadi tahun-tahun pertama perkembangan misil udara-ke-udara. Pada era ini Amerika berhasil mengembangkan
Sidewinder, sementara Soviet mengembangkan AA-1
Alkali. Kedua misil ini mempunyai sitem penjejak sasaran yang berbeda.
Bila Sidewinder menggunakan penjejak infra merah (IR), Alkali justru memanfaatkan teknologi radar. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Sistem infra merah bekerja berdasar anggapan bahwa setiap benda selalu memancarkan energi panas dalam gelombang infra merah. Semakin panas benda tersebut, gelombang infra merah yang dipancarkan pun semakin besar. Namun nyatanya, tidak semua
gelombang infra merah bisa dimanfaatkan guna kepentingan militer, terutama dalam teknologi misil. Sistem persenjataan militer umumnya hanya menggunakan salah satu dari dua
spectrum gelombang infra merah, 2-3 micron (suhu berkisar 27°C) atau 8-14 micron (suhu berkisar
427-527°C).
Dalam beberapa kasus, sistem penjejak IR ini sangat menguntungkan. Kelebihan IR antara lain, bila sistem IR misil rudal telah berhasil melacak dan mengunci target, pilot bisa langsung melepaskan misil berpemandu IR-nya. Begitu lepas dari rel, misil itu dengan
sendirinya mengejar sasaran hingga mengenainya atau jatuh akibat kehabisan bahan bakar. Dan pilot tak perlu lagi memandu misil yang tengah meluncur itu. Sehingga begitu pilot melepaskan misilnya, ia pun bisa mencari sasaran lain untuk dihancurkan.
Dewasa ini sistem IR telah banyak mengalami peningkatan antara lain dalam hal sensitifitas, kemampuan membedakan target, dan dengan tambahan sistem optik misil menjadi lebih akurat menghantam sasaran. Peningkatan sistem ini tentu saja ikut
meningkatkan kualitas misil.
Sistem kendali lain yang juga diterapkan pada AAM adalah penjejak
semi active radar homing (SARH) dan active radar
homing. Bisa digambarkan bahwa generasi pertama penjejak radar misil udara-ke-udara yang berkembang pada awal 50-an masih menggunakan
data analog yang diproses oleh komponen elektronik yang sederhana. Sebagian masih menggunakan tabung-tabung vakum, yang tentu saja sangat memakan tempat karena bentuknya yang besar. Pada awal tahun 1960-an, sistem alalog ini mulai ditinggalkan dan beralih ke
sistem digital. Sejak saat itu, sistem digital ini terus berkembang dengan memanfaatkan sistem elektronik yang baru dan canggih semacam pemanfaatan teknologi silikon atau microelektronik.
Uni Soviet pernah menerapkan sistem pemandu radar pada misil udara-ke-udara generasi pertama, AA-1 Alkali. Alkali mulai dikembangkan awal tahun 1950. Sepanjang pengetahuan Negara Barat, Alkali merupakan misil udara-ke-udara berpemandu buatan Soviet
yang pertama kali memasuki tahap operasional. Alkali yang pertama kali terlihat menempel pada pylon MiG-17P ini menggunakan radar berfrekwensi I-band (9.300-9.400 MHz).
Kedua sistem penjejak ini tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keuntungan sistem IR adalah mampu mengarahkan misil ke targetnya tanpa bantuan sistem lain di dalam pesawat. Ini tentunya akan memperkecil biaya operasi rudal
berpemandu IR. Tetapi, pada umumnya sistem IR ini mempersempit ruang operasi misil. Misil berpemandu IR saja umumnya tak bisa beroperasi tatkala cuaca buruk atau pada ketinggian rendah di mana target umumnya berada. Dalam banyak kasus juga ditemukan kekurangan
bahwa sistem IR sangat kurang efektif untuk menghancurkan sasaran selain dari belakang karena sistem IR hanya mencari panas berdasar udara panas yang keluar dari ekor pesawat tetapi sulit mencari panas yang keluar dari sisi lain pesawat.
Kekurangan itu rupanya tidak dialami oleh penjejak radar. Radar mampu membuat misil bekerja dalam segala kondisi cuaca. Kelemahannya justru pada daya pancar gelombang radar. Misil baru bisa mengunci sasaran bila gelombang yang dipancarkan dan diterima
seeker cukup kuat. Dalam prakteknya, kemampuan mencari dan mengunci sasaran rupanya bisa dilakukan dengan bantuan radar pesawat. Ini tentu saja membutuhkan perangkat radar yang kompatibel dengan sistem pada misil tersebut. Dan ini membuat biaya operasional
misil tersebut menjadi lebih mahal ketimbang memasang misil berpemandu IR.
Mirip tapi tak sama
AIM-9 P4 Sidewinder - Angkasa/D.N. Yusuf
|
Dari sekian banyak rudal air-to-air buatan Amerika, AIM-9 Sidewinder menjadi populer karena kesederhanaan dan kehebatannya menghancurkan pesawat lawan. Berbentuk silinder, Sidewinder dilengkapi dengan
roll stabilizing rear wing/rolleron (sayap
penyeimbang pada ujung belakang rudal) dan sepasang sayap
double-delta di hidungnya. Kabarnya, sayap double delta ini berfungsi meningkatkan manuverabilitas rudal saat melesat pada kecepatan supersoniknya. Misil buatan Amerika yang mampu menandingi Sidewinder dalam
jumlah adalah misil dinasti Falcon yang dioperasikan oleh AU Amerika. Falcon boleh dikata lebih unggul dari Sidewinder generasi pertama, karena selain menggunakan
seeker IR bisa juga memanfaatkan penjejak radar semi aktif (SARH).
Pesaing utama Sidewinder dari belahan dunia lain adalah rudal AA-1 Alkali yang dikembangkan Soviet pada era 1950-an. Bentuknya sedikit lebih besar dibandingkan Sidewinder. Alkali yang terlihat pertama kali tahun 1958 ini mampu menjelajah hingga lima mil
pada kecepatan mendekati kecepatan supersonik. Generasi kedua rudal udara-udara Soviet adalah AA-2
Atoll berkecepatan mach 2,5. Muncul pertama kali tahun 1961, ia disebut-sebut sebagai jiplakan Sidewinder karena bentuknya yang mirip AIM-9B. Sebagai pengganti
Atoll, pada tahun 1970-an Soviet mengembangkan AA-8
Aphid yang mampu menjelajah sejauh 3,5 mil pada kecepatan mach 3. Spesifikasinya menempatkan Aphid sebagai pesaing Falcon.
Mitsubishi Jepang mengembangkan Sidewinder menjadi AAM-1 dan AAM-2. Sementara Israel mengembangkannya menjadi
Shafrir pada tahun 1961, disusul kemudian
Phyton 3 yang tampak untuk pertama kalinya pada tahun 1981 di Paris Air Show.
Tahun 1954, Hughes Aircraft Amerika mengembangkan Falcon sebagai pendamping Sidewinder. Peluru kendali ini selain bisa menggunakan pemandu IR juga
memanfaatkan semi-active radar homing (SARH) dan mulai diproduksi masal pada tahun 1954. Falcon yang
punya kecepatan mach 2,8 hingga mach 4 itu dikabarkan mulai dipakai oleh AU
Amerika tahun 1956.
Keluarga Falcon terus berkembang. Dalam jumlah sempat menjadi pesaing ketat Sidewinder. Tahun 1958, Hughes mengembangkan AIM-26A berhulu ledak nuklir dan AIM-26B berhulu ledak konvensional. Karena dikuatirkan akan berdampak negatif terhadap
penerbang yang membawanya, AIM-26A tidak dikembangkan lebih lanjut. Keluarga Falcon yang terakhir adalah AIM-4D yang diperkenalkan tahun 1963. Kombinasi teknologinya menempatkan AIM-4D sebagai misil jarak pendek yang sangat cepat dan efektif.
Inggris tak ketinggalan. Sejak tahun 1949 mereka berusaha mengembangkan
Fireflash yang mampu melaju dengan kecepatan mach 2. Sistem pemandunya lain dari senjata sekelasnya. Untuk mencari sasarannya, Fireflash dilengkapi dengan
radar beam riding. Meski tak pernah dipesan untuk kepentingan operasional, sebanyak 300 buah disediakan untuk kepentingan penelitian di lingkungan AU Inggris.
Peluru kendali Inggris yang terbilang sukses adalah
Firestreak berpemandu infra merah. Mulai dikembangkan tahun 1951, Firestreak pernah mempersenjatai
Javelin, Sea Vixen, dan Lightning. Berdasar pengalaman mereka, British Aerospace mengembangkan SRAAM (short
range air-to-air missile). Program pengembangannya dimulai tahun 1970 dan dibatalkan tahun 1974.
Perancis merupakan negara yang juga mengembangkan peluru kendali udara-udara. Satu jenis misil produksi mereka yang terkenal adalah RS550
Magic buatan SA Matra. Matra mulai mengembangkan keluarga Magic yang juga merupakan pesaing ketat Sidewinder
ini sejak tahun 1968. Disebutkan RS550 mampu melaju dengan kecepatan mach 3 dan dilengkapi dengan penjejak infra merah.
Negara berkembang seperti Afrika Selatan dan Brasil pun rupanya tak mau ketinggalan. Afrika Selatan berhasil mengembangkan
Whiplash dan V3 Kukri berpenjejak infra merah. Kukri yang berdaya jelajah 4,7 kilometer itu masuk tahap produksi massal tahun
1975. Sementara Piranha Brasil tidak pernah memasuki tahap produksi massal.
AIM-54 Phoenix, rudal menengah jauh-Rockets & Missiles of World War III
|
Rudal udara-udara MLMS (Amerika), HATCP (Perancis), RBS 70 (Swedia) bisa dibilang tidak umum karena diadopsi dari rudal tentangan dan dipasang pada helikopter untuk keperluan perang
udara-udara.
Lagi-lagi Amerika sukses mengembangkan rudal udara-ke-udara jarak sedang. Kali ini, mengembangkan AIM-7
Sparrow yang dikembangkan Raytheon. Sparrow merupakan rudak jarak sedang berkemampuan menghancurkan musuh dalam segala kondisi cuaca.
Seperti halnya Sidewinder, Sparrow bisa dipakai mempersenjatai hampir segala jenis pesawat tempur, baik buatan Amerika seperti F-4, F-14, F-15, F-16, F/A-18, hingga pesawat buatan negara barat lain. Perjalanan Sparrow cukup panjang. Dari yang hanya rudal berkecepatan
mach 4 berdaya jelajah 96 kilometer hingga sebuah rudal yang mempunyai kemampuan lebih, seperti pada model AIM-7P yang mengalami peningkatan pada sistem indera, kemampuan terbang dan daya hancur. Sparrow mulai dikembangkan tahun 1950.
Di Inggris, Sparrow dikembangkan menjadi Sky
Flash. Tahap pengembangan dimulai tahun 1969. Sayang, baru bulan November 1975 British Aerospace berhasil melakukan uji tembak di lapangan. Rudal yang dilengkapi dengan sistem pengindera MSDS yang
bekerja pada I-band ini mampu terbang hingga mach 4 sejauh 50 kilometer.
Aspide buatan Italia merupakan salah satu pesaing Sky Flash. Aspide yang dikembangkan pertengahan tahun 1970-an mempunyai spesifikasi mirip dengan Sparrow. Dikabarkan, Aspide telah menggantikan peran Sparrow di AU Italia.
Di belahan timur, untuk menandingi Sparrow dan Sky Flash, Rusia mengembangkan AA-3
Anab yang merupakan rudal jarak jauh pertama yang berhasil dikembangkan Rusia. Pertama kali dikembangkan dengan penjejak radar dan infra merah pada tahun 1961.
Russia pun menjadi negara pertama yang mampu mengembangkan rudal udara-udara terbesar setelah mengembangkan AA-6
Acrid pada akhir tahun 1950-an. Rudal ini dibuat dengan spesifikasi mampu terbang setinggi 70.000 kaki pada kecepatan mach 4 dan bertugas
menghancurkan pembom B-70 Amerika.
Rudal udara-udara yang terbilang rumit dan mahal adalah
Phoenix buatan Hughes Amerika. Phoenix dikembangkan tahun
1960 dan disebut-sebut merupakan senjata utama F-14A
Tomcat. Pengembangannya dimaksudkan untuk menggantikan AIM-47 Falcon.
Phoenix mampu terbang pada kecepatan mach 5 dengan daya jelajah hingga 180 kilometer. Rudal yang mulai diproduksi tahun 1973 ini berharga 500.000 dollar per buahnya. Pesaing
Phoenix adalah Advanced Intercept Air-to-air Missile (AIAAM) yang
dikembangkan tahun 1982.
Sejalan dengan perjalanan waktu, Sparrow pun dinilai mulai usang. AIM-120 AMRAAM merupakan penggantinya. Tahun 1980 Jerman Barat, Inggris, dan Amerika menandatangani sebuah MoU tentang kerjasama pengembangan
AM-RAAM. Konfigurasi AMRAAM mirip dengan Sparrow, yang membedakan hanya kecepatan, daya jelalah, dan daya
hancurnya. AMRAAM yang dilengkapi dengan penjejak radar aktif itu mampu terbang pada kecepatan mach 4 sejauh 48
kilometer. AMRAMM dipakai untuk mempersenjatai F-15,
F-16, F/A-18, F-4F Jerman, Sea Harrier, dan perangkat senjata darat-udara Norwegia (NASAMS). Tahap
pengembangan selajutnya, kini Raytheon sedang bekerja untuk memadukan kinerja AMRAAM sehingga mampu mempersenjatai F-22, EF-2000, JAS-39
Gripen, JA-37 Viggen, Harrier II Plus,
Tornado, dan Hawk.
Bersaing terus
Misil jarak pendek yang digotong ini cocok untuk melumpuhkan lawan saat dogfight - British Aerospace
|
Perang dingin sudah berakhir. Lomba senjata sudah tak seketat dulu lagi. Bukan berarti tidak ada. Amerika dan negara-negara Eropa masih terus mengembangkan persenjataan yang lebih canggih, juga dalam hal senjata udara-ke-udara. Siapa yang bakal keluar
sebagai pemenang?
Akhir abad XX Amerika dan Inggris tampak bersaing ketat. Tampaknya Inggris ingin mematahkan supremasi Amerika dalam pengembangan misil udara-ke-udara, baik senjata untuk kepentingan
dog-fight maupun untuk jarang sedang. Amerika sebenarnya tak mau
kalah. Sejak tahun 1995, negara ini merancang AIM-9X sebuah misil sebagai AIM-9 Sidewinder. Inggris pun tak mau kalah dan mengembangkan misil jarak sedang Staff Requirement Air (SRA) 1239 untuk mempersenjatai Eurofighter 2000
(Typhoon) mereka.
Dalam hal misil jarak dekat, Uni Soviet tampaknya bergerak lebih awal. Tahun 1980-an negara Tirai Besi ini pernah mengembangkan Vympel R-37 (NATO memberinya kode AA-11
Archer). Misil jarak sedang ini masuk operasional akhir tahun 1980-an dan
dipakai mempersenjatai Su-27 dan MiG-29. Archer ditakuti karena kecerdasannya. Misil ini selain dilengkapi dengan
thrust-vectoring system guna menunjang kemampuan manuvernya, juga bisa dihubungkan dengan helm terbang tempur moderen yang dilengkapi dengan
sistem target.
Bagi negara pesaing, kepintaran Archer justru merupakan kegelisahan mereka. Menandingi kemampuan Archer, Israel mengembangkan Python 4 yang juga dilengkapi dengan thrust vectoring dan bisa dihubungkan dengan sistem target pada helm penerbang.
Yang membedakan Python 4 dari Archer adalah jendela target misilnya. Archer disebut-sebut mempunyai jendela target sebesar 45 derajat, sementara Python 4 mempunyai jendela seeker yang lebih luas, hingga 60 derajat.
Amerika sendiri kini sedang mengembangkan AIM-9X yang merupakan generasi terbaru AIM-9 Sidewinder. Kini AIM-9X masih terus dalam tahap pengembangan. Tampaknya Amerika kini memang sedang berada pada fase vakum dalam perkembangan misil
udara-ke-udara. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang lagi getol mengembangkan misil udara-ke-udara jarak pendek dan menengah.
Tahun 1987, Kementrian Pertahanan Perancis meminta Matra mengembangkan MICA
(Missile d'Interception, de Combat et
d'Autodefense) misil jarak pendek dan menengah berpemandu IR dan radar. Nick Cook pengamat masalah militer yang juga
koresponden Jane's Defence Weekly mengemukakan bahwa MICA ini merupakan misil jarak pendek dan menengah pertama buatan Perancis yang mampu menjejak target yang masih berada pada jarak 60 kilometer. Sedianya misil ini akan dipakai untuk mempersenjatai Mirage
2000-5 Perancis. Melihat spesifikasinya, keberadaan MICA bakal menambah ramai pasar misil dunia. Kemungkinan besar MICA akan bersaing ketat dengan AA-11 Archer dan Phyton 4 karena sistem targetnya sama-sama bisa dihubungkan pada helm terbang tempur.
Lalu bagaimana dengan Rusia? Negara pecahan Uni Soviet ini rupanya tak mau ketinggalan. Beberapa tahun belakangan negara ini tengah berupaya mengembangkan misil jarak pendek dan menengah yang juga berpemandu IR dan radar, selain mengembangkan
AA-11 Archer ternyata masih ada AA-10 Alamo dan AA-12
Adder yang juga akan mempersenjatai pesawat jet tempur generasi Su-27 dan Su-35 Rusia. Jadi meski perang dingin telah berakhir, lomba senjata rupanya masih saja
berlangsung.(ttg)