Engine test cell di UMC
|
Peluang bisnis perawatan mesin pesawat terbang terbuka luas dengan nilai yang tinggi. Sebut saja prediksi Aviotech International, yang menyatakan bahwa ratusan
engine atau mesin pesawat memerlukan perawatan di bengkel-bengkel yang punya kapabilitas tinggi.
"Kami belum menghitung lebih rinci lagi jumlah mesin yang perlu perawatan setiap tahun. Tapi dalam konferensi ini saja, yang skalanya tidaklah terlalu besar, kami
memperkirakan 100 engine yang akan kami tangani selama tahun 2000-2001. Nilainya pun cukup besar, 64 juta dollar AS," ujar Ismail R. Razak, President Aviotech International di sela-sela acara
"Aviotech 2000-Sales Conference", 16-18 Februari 2000 di Bali.
Nilai tersebut didapat dari kerjasama Garuda Maintenace Facility (GMF) dengan Air Niugini senilai 10 juta dollar AS, bengkel perawatan Thai Airways dengan Biman Bangladesh
senilai 16 juta dollar, GMF dengan Global Aviation Support Inc. senilai 20 juta dollar, GMF dengan Biman International Airframe senilai 6 juta dollar, Universal Maintenance Center (UMC)
dengan Global senilai 10 juta, dan UMC dengan Avio International Industrial Equipment senilai 2 juta dollar.
Bengkel-bengkel perawatan pesawat terbang yang punya kapabilitas tinggi berpeluang besar untuk meraup bisnis ini. Bagaimana dengan di Indonesia, yang punya GMF salah
satu strategic business unit (SBU)-nya Garuda Indonesia, UMC suatu direktorat di PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP), Merpati Maintenance Facility (MMF) salah satu
SBU-nya Merpati Nusantara, dan bengkel-bengkel perawatan berskala kecil lainnya?
Ternyata, bengkel-bengkel tersebut bukannya tak ada peminat. GMF, salah satunya, diakui punya kapasitas yang cukup besar untuk dipasarkan ke luar, di samping merawat
pesawat-pesawat milik Garuda sendiri.
Simak saja penuturan Ismail, "Bengkel-bengkel kita, misalnya GMF itu, kurang bisa memasarkan produknya dengan baik. Padahal promosi itu kan sangat perlu.
Negosiasi-negosiasi dengan pihak asing, itu perlu dikembangkan."
Promosi bengkel
Hanggar Thai Airways
|
Demikianlah Aviotech mencoba menjembatani pertemuan antara bengkel perawatan dan pengguna jasanya itu, di samping berbagai pihak yang terlibat semisal penyuplai suku
cadang. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang aviasi untuk memberikan jasa dan dukungan
logistik pesawat terbang, Aviotech berkepentingan untuk memberikan peluang-peluang
bisnis itu, terutama bagi bengkel-bengkel yang ada di kawasan Asia. Kali ini tema konferensi adalah
Expansion in the shrinking market.
"Kini pasar memang makin sempit. Lihat saja di
Eropa, yang kondisi pasarnya sudah melemah. Asia pun dilanda berbagai krisis, walau sekarang ini sudah menunjukkan
tanda-tanda perbaikan ekonomi. Tapi penyempitan pasar itu mendorong kita di sini untuk membuktikan suatu makna yang lebih baik dari sebuah penjualan, lebih mengontrol biaya dan
meningkatkan produksi," kata Ismail.
Melalui kantor distriknya yang tersebar di 16 negara tujuh negara bergabung pada tahun 1999, termasuk Cina dan Turki, Aviotech tengah gencar mempromosikan GMF, UMC
dan bengkel perawatan milik Thai International Airways. "Ketiga bengkel perawatan itu memiliki kapabilitas yang beragam. Dengan demikian kita bisa mempromosikan mereka dan
saling mengisi," kata Ismail.
Dua tahun lalu, Aviotech menyelenggarakan konferensi yang sama, juga di Bali. Hasilnya memang tidak mengecewakan. GMF, misalnya, mendapat tiga tahun kontrak perawatan
mesin pesawat terbang milik Biman Bangladesh Airlines. Tahun 1999 lalu, GMF merawat tiga mesin
Spey 555 mesin pesawat F-28 Biman Bangladesh, di samping kontrak perawatan lainnya.
Menurut Kepala Perawatan Engine GMF Nuah Sembiring, kapasitas GMF dapat merawat empat engine Spey per bulan. Tapi tahun lalu GMF baru bisa merawat 20 engine. "Tahun
2000 ini sudah ada kontrak untuk 40 engine, tujuh di antaranya milik Garuda sendiri," katanya.
Biman Bangladesh sendiri memang tidak memiliki bengkel perawatan pesawat, untuk jenis apapun. Padahal menurut Mofizul Islam dari Aviotech Bangladesh, Biman memiliki
armada 12 pesawat termasuk dua ATP yang
grounded. Ke-10 pesawat lainnya terdiri dari lima DC-10-30, dua A310-300 dan tiga F-28.
Di samping itu, kata Mofizul, Bangladesh juga memiliki tiga perusahaan penerbangan carter dengan armada pesawat-pesawat kecil, yakni GMG yang mengoperasikan
Dash-8, Parabad dengan Y-21 buatan RRC dan Aero Bangal yang kini sudah tak operasi lagi. Jelaslah, Bangladesh memerlukan bengkel-bengkel perawatan pesawat di luar negaranya.
"Saat ini ada 16 fasilitas perbaikan dan perawatan pesawat yang dipakai Bangladesh. Selain GMF, antara lain ada bengkel Singapore Airlines, SATS di Singapura, AJ Walker di
Inggris untuk merawat DC-10 termasuk penyuplai suku cadang dan vendor, serta Aerosystem di Amerika Serikat," ujar Mofizul.
Tak usah jauh-jauh ternyata. Pasar bengkel perawatan pesawat juga ada di depan mata. Papua Niugini, negara tetangga terdekat ke propinsi Papua itu, salah satunya, juga
memerlukan fasilitas perawatan pesawat bagi flag
carrier-nya, Air Niugini. "Utusannya yang kemudian meninjau GMF beberapa saat lalu, begitu terkagum-kagum dengan fasilitas dan hanggar
yang luas. Untuk mendalami kerjasama GMF dengan Air Niugini itu, kami sudah mencapai tahap pembicaraan dengan duta besarnya di Jakarta," tutur Ismail. Air Niugini akan merawat
lima pesawat CASA-nya.
GMF dan Thai Technic
Perbincangan sebelum konferensi Aviotech 2000
|
Di konferensi itu, GMF sebenarnya punya peranan besar. Sayangnya hanya negosiasi ringan yang berlangsung. Walau tak dipungkiri, beberapa kontrak baru segera
ditandatangani. Bahkan di Asian Aerospace 2000 di Singapura yang baru lewat, GMF menandatangani berbagai kontrak kerja sama dengan berbagai pihak, antara lain Camar Nuansa Airservice, Mofaz
Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur dan Inkopau.
GMF yang menjadi SBU Garuda sejak tahun 1996 ini memiliki 1.400 karyawan. Di areal seluas 115 hektar yang berlokasi di kawasan Bandara Soekarno-Hatta dengan fasilitas tak
kalah dengan bengkel perawatan lain di luar, GMF menangani perawatan semua armada Garuda, juga pihak luar. GMF memang menangani berbagai jasa, yakni perawatan dan
overhaul pesawat, komponen, dan engine, juga perawatan
ground support equipment (GSE) dan pendukungnya. Didukung pula oleh
approval dari berbagai negara Asia, termasuk FAA yang baru-baru ini
diraih kembali.
Selain di negara-negara tetangga dan kawasan Asia lainnya, Aviotech pun mempromosikan GMF ke berbagai negara melalui kantor distrik Aviotech di seluruh dunia. Global
Aviation Support yang merupakan anggota RAM Aviation Group, bersama Aviotech International menawarkan GMF di Kanada, Amerika Serikat dan semua negara di Amerika Selatan.
Aviotech berusaha membangkitkan keandalan GMF dengan meminimalkan biaya produksi, kualitas dan kecepatan, untuk bersaing di pasar bebas.
Di sisi lain, Aviotech bekerjasama dengan RAM membawahi empat perusahaan beragam yang memberikan pelayanan manajemen perawatan mesin pesawat, berpusat di AS
untuk menghimpun fasilitas seperti komponen dan suku cadang di Batam atau Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Sebagai cikal bakal perusahaan tersebut, telah dibentuk Aviotech
Assets Management (AAM). Pembentukannya terilhami dari pendirian AirLiance Materials oleh United Airlines, Lufthansa Technic dan Air Canada, yang dapat mengurangi beban biaya
bagi airlines dan fasilitas perawatan.
"Lebih dari 50 milyar AS aset yang diinvestasikan dalam suku cadang di seluruh, dan ada banyak inefisiensi di sana. Katakanlah, tidak kurang dari 20 persennya yang tak efisien itu,
dan bila ada efisiensi maka ada penghematan 10 juta dollar per tahun di tubuh airlines dan perawatan pesawat," kata Ismail. Merupakan suatu upaya untuk penghematan biaya suku cadang
bila Aviotech membentuk AAM itu.
Selain GMF, Departemen Teknik Thai International Airways juga berkesempatan untuk dipasarkan. "Kami merupakan bagian dari Thai Airways. Saat ini kami punya armada
75 pesawat," kata Bunpot Bourpul, Direktur Pengawas Departemen Teknik Thai Airways.
Menurut Technical Marketing & Sales Thai Pakasit Chanvinij, departemennya berlokasi di Bandara Internasional Bangkok dengan areal 17 hektar. Selain itu, pusat perawatan
pesawat lainnya dibangun di U-Tapao, 125 km dari Bangkok atau dekat Pantai Pattaya. Luas arealnya 24 hektar dengan investasi 120 juta dollar AS. Di U-Tapao ini terdapat 488 staf, di antara
4.228 staf departemen teknik.
Aviotech sendiri memasarkan perawatan pesawat Airbus Biman Bangladesh ke Thai ini. Sebelumnya, Merpati Nusantara dan Sempati Air juga pernah merawat A300-600 dan
A300-B4 ke Thai Teknik.
UMC di Bandung
Bengkel perawatan pesawat yang awalnya bergabung dengan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dengan nama UMC dibentuk 23 Agustus 1986 juga berupaya
untuk menunjukkan keberadaannya. UMC yang bernaung di bawah PT NTP itu, sejak 23 Juni 1998 berdiri sendiri. Namun areal bengkelnya yang 4,5 hektar tetap berada di kawasan IPTN
di Bandung.
Dengan 400 karyawannya, NTP berusaha keras untuk tetap eksis di bidangnya. Apalagi sejak IPTN sudah 'tak terdengar' lagi kiprahnya. Menurut Vice President & General
Manager UMC Aero Engine Services Agus Supraptomo, pihaknya tidak pernah berhenti berproduksi. UMC cukup punya kapabilitas untuk merawat mesin JT8D mesin pesawat B737-200.
Adalah UMC yang begitu terbebani dengan adanya pajak impor (bea masuk) material atau suku cadang 10 persen. "Karena suku cadang itu merupakan komponen terbesar dalam
biaya perawatan, antara 60-80 persennya," kata Agus yang didampingi Ragional Manager NTP Rinaldi Z. Djamal. "Memang tenaga manusia kita masih lebih murah sekitar 30 persen dari
tenaga luar. Tapi nilai itu tak berarti dibandingkan dengan biaya material yang besar. Bagaimana kita dapat bersaing?" tambah Agus yang mengaku, tidaklah heran kalau banyak engine
dan perawatan komponen lainnya jatuh ke luar negeri.
Menurut Agus, GMF masih bisa bersaing dan menekan biaya perawatannya karena suku cadang bebas pajak impor. "GMF kan masih belum lepas dari induknya, Garuda. Coba
kalau dia lepas, sebentar lagi kan akan berdiri sendiri, pajak yang 10 persen itu akan terasa dalam penghitungan biaya," ujarnya. Memang, bagi perusahaan angkutan niaga, termasuk untuk
moda darat, laut dan udara, pemerintah sudah membebaskan bea masuk suku cadang yang 10 persen itu, sesuai Kepres No. 37/1998 yang diperbarui dengan Kepres No. 204/1999.
Agus mengatakan, "Dalam kondisi ekonomi yang masih belum pulih ini, cara berpikir pelaku bisnis penerbangan perlu melihatnya secara makro, dilihat untuk kelangsungan
jangka panjang. Bila bengkel kami berkembang, pemerintah juga yang akan memperoleh pajak yang besar. Coba kalau
nggak jalan?"
Karena itulah, UMC meminta pemerintah untuk menghapus bea masuk komponen, juga bagi bengkel-bengkel perawatan pesawat yang di Indonesia jumlahnya masih bisa dihitung
dengan jari itu. "Kami akan memberi masukan kepada IAMSA agar membawanya kepada pemerintah," ucap Agus.
Menteri Perhubungan Agum Gumelar, saat diminta tanggapannya mengatakan, "Saya rasa, kalau soal
overhaul ke luar negeri itu sangat terpulang kepada penilaian si empunya
pesawat. Mereka kan ingin yang murah dan baik. Di situ persaingannya. Jadi, kita punya bengkel-bengkel perawatan pesawat itu harus meningkatkan kemampuannya. Kalau soal pajak tadi,
saya rasa tak ada kendalanya. Untuk bersaing, bagaimana menciptakan manajemen yang bagus. Sebenarnya, salah satu keunggulan yang harus ditingkatkan, untuk meningkatkan daya
saing itu, ya manajemennya."
Boleh jadi masih banyak yang perlu dibenahi agar bisnis penerbangan di Indonesia patut diperhitungkan. Agum optimis, prospek angkutan udara Indonesia ke depan cukup
bagus. Departemennya pun diupayakan untuk dibenahi, terutama pembenahan sumber daya manusia. Di samping itu, menurut Agum, departemen perhubungan berusaha untuk
menghapus peraturan-peraturan yang sudah tak relevan lagi dengan zaman ini. "Tapi semua itu perlu proses,"
katanya. (nie)