Kesibukan di bagian komputasi tiketing konter Garuda Indonesia - Angkasa/D.N. Yusuf
|
SATU hal muncul dengan kuat di Pameran Kedirgantaraan Asian Aerospace 2000 di Singapura Februari lalu adalah banyaknya perusahaan berbasis Internet
yang ambil bagian dalam acara tersebut. Sedikitnya ada tiga perusahaan yang mengetengahkan produk perdagangan elektronik
(e-commerce) dan banyak lagi perusahaan yang berciri
www (world wide web), alias perusahaan berbasis Internet.
Sebagaimana diberitakan oleh jurnal harian Flight Daily
News (22/2), kini memang sedang berlangsung lomba untuk membawa industri penerbangan ke dalam
era e-commerce. Dua pekan menjelang Asian Aerospace 2000 dicatat ada berbagai perusahaan yang mencoba menggaet industri kedirgantaraan yang bernilai 500
milyar dollar ke arah on-line.
Ini misalnya saja dilakukan oleh aviationX. Perusahaan ini memanfaatkan Asian Aerospace 2000 untuk meluncurkan pasar elektronik bisnis-ke-bisnis
(b-to-b) yang ia klaim akan merevolusi industri kedirgantaraan. Tantangan yang ada adalah perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di industri dirgantaraa bisa membeli
dan menjual produk dan layanan secara
on-line dan dengan itu menurunkan biaya pembelian.
Industri lain, khususnya otomotif, sudah lama melihat adanya peluang menurunkan biaya melalui pembelian on-line ini. Sejumlah pengumuman berdirinya
usaha patungan dalam beberapa bulan terakhir juga memperlihatkan kecenderungan sama dalam industri minyak dan gas. Masing-masing digerakkan oleh kebutuhan
untuk mengurangi biaya rantai pasokan.
"Rantai pasokan industri kedirgantaraan sekarang ini terlalu mahal, terlalu lamban, dan juga terlalu tidak efisien," ujar Henrik Schroder, pimpinan aviationX.
Melihat kenyataan itu, maka penghematan waktu dan biaya yang ditawarkan oleh pasar digital seperti yang ia tawarkan kelak akan membuat perdagangan
elektronik bisnis-ke-bisnis dalam industri kedirgantaraan satu kebutuhan. Schroder memperkirakan, penghematan biaya bisa mencapai sekitar 15% untuk pengguna
yang mencari bagian dan komponen melalui jaringan (Internet).
Munculnya argumen semacam yang dilontarkan oleh aviationX tak heran juga mengilhami perusahaan lain. Perusahaan SITA (penyedia telekomunikasi, Swiss)
dan AAR (pemasok komponen dan logistik, AS) di Asian Aerospace 2000 juga meluncurkan
aerospan.com, situs yang akan menawarkan suku cadang,
memperkenalkan para penjualnya, juga lelang dalam bisnis itu. Layanan ini diyakini akan segera diperluas untuk mencakup seluruh area
penerbangan.
Pada saat sama, perusahaan Honeywell, United Technologies (UTC) dan spesialis e-commerce i2 Technologies juga membentuk usaha patungan bernama
MyAircraft.com. Yang akan dimunculkan adalah "pasar
e-business terbuka" untuk "memberi kesempatan kolaborasi bisnis-ke-bisnis, manajemen rantai pasokan,
solusi perencanaan dan pembelian komponen.
Contoh tentu bisa diperluas. Tetapi itulah arah yang ada, bahwa industri kedirgantaraan sekarang ini pun tak mau kalah dengan industri lain untuk
mendaya-gunakan wahana Internet untuk membuatnya lebih efisien. Menurut laporan Goldman Sachs September 1999, industri penerbangan memang merupakan salah
satu industri yang sekarang ini paling rendah dalam tingkat pemanfaatan e-commerce. Tetapi diperkirakan pada tahun 2004, sekitar 35% penjualan bisnis-ke-bisnis
dalam industri ini akan berlangsung melalui Internet.
E-Travel
Kontrol reservasi lewat komputer - Angkasa/D.N. Yusuf
|
Untuk wilayah yang lebih menjangkau kepentingan perorangan, perkembangan yang ada muncul misalnya dari penjualan tiket secara on-line. Proses di sini
disebut lebih cepat dibandingkan pengepakan baju di koper, juga dengan harga yang mungkin membuat agen perjalanan terhenyak (karena jauh lebih rendah). Di AS dan
sebagian Eropa, Internet memang telah mentransformasi industri wisata secara dramatis.
Perkembangan di Asia dalam hal ini masih ketinggalan. Ada situs-situs Internet, yang menawarkan misalnya pemesanan hotel atau konversi mata uang.
Tetapi tingkatnya belum luas dan belum menggantikan efisiensi cara konvensional. Artinya, menemukan situs Internet yang bisa membantu memesankan tiket dan
dengan harga yang Anda inginkan, masih lebih lama dibandingkan memutar nomor telepon agen perjalanan.
Penyebab lambannya Asia dalam dinamika
e-travel ini diduga ada pada maskapai penerbangan di kawasan ini. Memang sebagian besar maskapai sudah
memiliki situs Internet yang memberi informasi jadwal penerbangan dan tujuan penerbangan. Beberapa juga menawarkan pemesanan on-line, tetapi seperti ditulis Yishane
Lee di Time (17/1) tidak untuk semua kota yang dilayani. Misalnya saja situs Japan Airlines di
www.jal.co.jp sekarang memungkinkan masyarakat umum memesan
hanya penerbangan domestik, dan untuk itu orang memerlukan navigator Internet yang bisa membaca bahasa Jepang. Pemesanan on-line Singapore Airlines
di www.sq-etravel.com terbatas melayani pesanan untuk Singapura dan kota-kota di Malaysia, Inggris, dan Australia. Kalau orang mau liburan ke Cebu, layanan itu
belum tersedia.
Selain itu, juga hampir mustahil menemukan tarif diskon untuk perjalanan intra-Asia. Di luar program paket spesial,
website perusahaan penerbangan umumnya menawarkan tarif standar.
Namun di luar situasi yang belum mapan tersebut, toh juga satu kenyataan, bahwa makin banyak maskapai penerbangan, agen perjalanan, yang terjun
dalam Internet untuk mengembangkan e-travel. Di Indonesia pun, makin banyak maskapai asing seperti Lufthansa yang memperlihatkan minat untuk menawarkan
pemesanan tiket secara on-line. Melihat arah ini, cepat atau lambat, masyarakat pengguna akan terbiasa pula dengan kultur baru ini.
Penerbitan dan Kargo
Unsur lain yang tidak kalah menggembirakan adalah makin banyaknya penerbitan yang memiliki situs Internet. Selain majalah
Angkasa yang sedang Anda baca, majalah lain di AS seperti
Aviation Week & Space Technology atau jurnal
Air Power di Inggris, dapat diakses lewat Internet. Selain itu, pabrik-pabrik pesawat
tempur dan komersial, juga membuka diri dengan
website-nya. Ini tentu saja menyenangkan para wartawan, pencinta dirgantara, dan tentu saja para pelanggan dan
calon pembeli, karena informasi dapat diperoleh dengan cara dan biaya yang relatif murah dan cepat.
Seiring dengan itu, tumbuh pula e-commerce yang bukan saja untuk menjual pesawat atau suku cadangnya, tetapi juga untuk barang-barang lain yang
menghasilkan pengaruh pula bagi makin hidupnya kegiatan penerbangan. Gejala ini misalnya dibaca menjelang akhir tahun lalu. Meningkatnya belanja on-line ternyata
juga menguntungkan perusahaan kargo udara.
Ke depan, belanja on-line makin banyak, karena tahun 1999 dibanding tahun 1998 saja meningkat 20-25%, dan ini pula yang diantisipasi oleh perusahaan
kurir seperti Emery Worldwide dan DHL. Yang senang tentu saja perusahaan kargo udara seperti Air Cargo Equipment.
Makin banyak pemain, makin banyak pengguna, itu ciri yang ke depan diyakini oleh kalangan penerbangan menyangkut Internet. Dengan keyakinan itu,
meski membutuhkan waktu, fenomena seperti e-travel dan jual-beli pesawat dan suku cadang menggunakan Internet akan menjadi bagian keseharian, baik dalam
lingkup bisnis/perusahaan maupun individu.
Industri dan kalangan kedirgantaraan Indonesia pun seyogyanya menetapkan visi dan strategi menghadapi era baru ini. Bukan dengan semangat sekadar ikut
arus, tetapi benar-benar dengan kesadaran, bahwa memang Internet memberi dan membuka peluang baru.(*)