|
| |
 | BANDARA
|
|
Ketaping, Bandara Pengganti Paling Siap
Sembilan belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Akankah benar-benar terwujud keinginan masyarakat Sumatera Barat untuk memiliki bandara baru pengganti Bandara Tabing,
setelah sekian lama menanti?
Terminal Bandara Tabing yang khas, bangunannya berbentuk Bagonjong - Angkasa/Reni R
|
Pembangunan Bandara Ketaping belumlah dalam bulan-bulan ini. Tapi pemerintah pusat, melalui kunjungan Menteri Perhubungan Agum Gumelar, 16 Mei 2000 ke lokasi bakal Ketaping di
Sumatera Barat, telah menyatakan bahwa pembangunan bandara baru itu akan dimulai Desember 2000. Dalam kunjungannya, Menteri sekaligus meresmikan bangunan proyek untuk seluruh aktivitas
pembangunan Ketaping.
Pembangunan Ketaping rupanya sudah dinanti-nanti warga setempat. "Ketaping itu sudah menjadi dambaan masyarakat Sumbar," jelas Martunus Said, Kepala Kanwil Departemen Perhubungan
Sumbar. Siapa mengira kalau pemindahan Bandara Tabing sudah direncanakan sejak tahun 1981. Menteri Perhubungan saat itu Rusmin Nurjadin menyatakan alasannya, Tabing sudah tak layak dari segi
keselamatan penerbangan komersial.
Gubernur Sumbar waktu itu Azwar Anas serta merta menerjemahkannya untuk memindahkan bandara ke lokasi lain. Katanya, ada tanah yang bisa dijadikan peruntukan bandara pengganti
Tabing. Kemudian, masyarakat pun melepaskan tanahnya di lokasi tersebut. Jadilah tanah itu sekarang seluas 800 hektar, bakal lokasi bandara baru yang dikenal sebagai Ketaping, sekitar 20 km arah utara Padang.
Saat itu memang tidak ada letupan-letupan ketidakpuasan masyarakat tentang tanah itu. Tapi tahun-tahun terakhir ini, masyarakat yang merasa mendapat ganti rugi tak sepadan, ada juga yang
menuntut haknya. Pihak proyek berusaha untuk peka dengan kondisi sosial seperti itu. Dan memang, suatu yang sepatutnya kalau pelaksana proyek melibatkan mereka untuk aktivitas pembangunannya.
"Kami berusaha untuk melibatkan masyarakat setempat. Satu contoh, pembangunan gedung proyek ini yang terbagi dalam 13 paket senilai 700 juta rupiah. Mahal kan? Tapi ini dilakukan
untuk melibatkan pengusaha-pengusaha kecil lokal yang bermodal kecil," kata Nur Isnin Istiartono, Kepala Proyek Bandara Ketaping. Bukan itu saja, pihak proyek juga menghimpun masyarakat
setempat, terutama angkatan kerjanya, untuk dilibatkan dalam pelatihan yang nanti terkait dengan kegiatan bandara.
Di areal Ketaping itu kini baru ada bangunan proyek tersebut. Jalan menuju bangunan itu masih berupa tanah berbatu, sekitar 2 km dari perempatan
by pass arah Padang-Teluk Bayur-Bukittinggi.
Bakal landasan dan terminalnya masih berupa alang-alang, sebagian masih digarap penduduk dengan tanaman yang menghasilkan. "Sebelumnya kami mengizinkan, asal tanaman yang cepat menghasilkan
seperti palawija. Tapi mulai sekarang, kami tidak mengizinkan untuk pembukaan lahan lagi," kata Nur Isnin.
Ketaping dianggap lokasi yang strategis, dan paling siap untuk dijadikan bandara. Tanahnya datar hampir tak ada
obstacle (hambatan). "Jadi, tunggu apalagi, sebenarnya," kata Nur Isnin.
Rupanya soal dana masih menjadi titik tolak belum dibangunnya Ketaping. Padahal dana dari JIBC (Japan Bank for International Cooperation) atau dulu disebut OECF sebesar 200 juta dollar AS
sudah tersedia. Bahkan PT Angkasa Pura (AP) II sebagai pengelola Bandara Tabing bersedia mengeluarkan dana pendamping Rp 30 milyar.
Bandara Tabing
Alat navigasi Tabing masih belum dilengkapi dengan radar dan ILS - Angkasa/Reni R
|
Bandara Tabing yang sekarang dioperasikan memang dianggap memiliki obstacle bagi sebuah bandara yang ingin dikembangkan. Selain cuaca yang kerap tak menentu, apalagi saat musim barat
yang anginnya kencang, pesawat yang mendarat pun baru aman dengan
positive landing. Terkadang penumpang bertanya-tanya, "Mendaratnya
kok sangat tidak nyaman?" Karena sekitar 3,6 km di
selatan landasan terdapat bukit-bukit yang bisa membahayakan penerbangan.
Sebenarnya, landasan sepanjang 2.150 x 45 meter itu sudah memakai perkerasan yang kuat, hingga bisa tahan memikul beban sekelas pesawat A320. Tapi memang demikian aturannya, bila tidak
ingin pesawat meluncur hingga ke luar landasan. Belum lagi alat navigasi udara yang belum dilengkapi radar dan ILS (Instrument Landing System).
Bangunan terminalnya masih sama sejak tahun 1980-an, hanya ada penambahan kanopi depan yang dibangun tahun 1993. "Memang tak ada pembangunan berarti bagi Tabing, mengingat
kondisinya," kata H.M. Marhamis, Kepala Cabang AP II Bandara Tabing.
Tabing juga terlalu dekat ke kota Padang, hanya berjarak 8 kilometer di sebelah utara. Hambatannya sangat besar untuk perluasan bandara, termasuk kebisingan yang akan mengganggu kota
Padang. Lalu lintas udara dan aktivitas bandara terkadang tidak lancar, yang berdampak pada kurangnya kenyamanan pada pelayanan. "Tabing itu sulit tertib, karena hanya sebagian kecil saja kawasannya
yang dikuasai pengelola bandara," kata Martunus.
Hal itu dibenarkan Marhamis, "Ini tanah TNI AU. Dari 84 hektar areal Tabing ini, hanya 10 persennya yang dikelola Angkasa Pura II." Karena itulah, beberapa jenis usaha dipegang TNI AU,
seperti pengusahaan taksi, parkir dan juga pemasangan
billboard.
Jelaslah, pihak AP II tak dapat mengembangkan aspek pengelolaan bandara. Padahal ada suara-suara yang mengatakan bahwa sebaiknya tentara tak melakukan bisnis seperti itu lagi. Untuk itu,
menurut Marhamis, AP II sudah melakukan pendekatan-pendekatan kepada TNI AU. Pemecahan persoalannya sampai kini memang belum terlihat nyata. Namun setidaknya ada upaya-upaya agar pelayanan
kepada pengguna jasa bandara dapat ditingkatkan.
"Kami memang tidak ingin membuat citra bahwa di bandara itu segala serba sulit. Sistem bandara itu mudah. Mudah itu bukan berarti memudah-mudahkan, kan? Memang ada
pembatasan-pembatasan, tapi ada kemudahan-kemudahan. Bandara ini milik bersama. Mari kita bangun dengan kerja profesional. Dengan begitu, bandara bisa jadi sektor ekonomi yang bisa dikembangkan," kata Marhamis.
Tabing yang masuk pengelolaan AP II sejak tahun 1994 itu masih termasuk bandara yang belum mencetak keuntungan. Kerugian rata-rata per tahun Rp 5,8 milyar. Namun tahun 1999, kinerja
bandara membaik, hingga kerugian tahun itu berkurang 36 persennya. "Tahun ini pun kerugian sekitar angka itu. Kami memang sudah memperbaiki kinerja, bahkan di lingkungan AP II kami mendapat
penghargaan untuk kinerja terbaik."
Kerugian itu mencakup untuk dana pemeliharaan dan operasional bandara yang tak sedikit. Padahal pemasukan dari antara lain
airport tax, landing fee, dan konsesi tidaklah besar, apalagi
beberapa sektor usaha memang masih dikelola TNI AU.
Pesawat yang datang ke Tabing hanya 5-6 pesawat atau 10-12 pergerakan per hari. Jumlah penumpang yang datang dan berangkat per hari rata-rata 565 orang . Bongkar/muat kargo belum besar,
hanya 1.334 ton muat dan 2.025 ton bongkar selama 1999. Bandingkan dengan tahun 1996, masa paling baik bagi Tabing dalam lima tahun terakhir. Pergerakan pesawat mencapai 28 per hari dengan
penumpang 1.294 orang per hari, sedangkan bongkat/muat kargo mencapai 4.464 ton.
Tabing sudah disinggahi pesawat Malaysia dan Singapura, yakni Pelangi Air yang terbang empat kali seminggu Padang-Kuala Lumpur dengan F-50 dan SilkAir dengan A320/A319 dua kali
seminggu Padang-Singapura. Penerbangan ke Jakarta dilayani Garuda Indonesia dengan B737-300 atau F-28 dua kali dan Mandala Airlines dengan B737-200 satu kali sehari. Merpati Nusantara terbang rute
Medan-Padang-Batam dengan F-28 empat kali seminggu.
"Load factor penerbangan itu sudah cukup memadai. Apalagi yang Merpati itu, terkadang permintaan cukup tinggi," kata Marhamis.
Potensi wilayah Sumbar masih bisa digali. Ekspor ikan tuna yang terkenal lezat masih bisa digalakkan. Hasil-hasil hutan dan tambang juga merupakan potensi daerah yang belum dioptimalkan.
Belum lagi kepariwisataan, yang perlu terus dipromosikan. Sayangnya, sampai sekarang masih belum ada konsep dan filosofi pariwisata Sumbar, agar promosi bisa sesuai dengan konsep tersebut. Padahal
Mentawai adalah salah satu obyek wisata yang mulai dilirik wisatawan asing (lihat box).
Menanti Ketaping Sampai saat ini masyarakat Sumbar memang masih bertanya-tanya, akankah bandara baru di Ketaping akan terwujud? Nur Isnin optimis, Ketaping betul-betul akan dibangun akhir tahun ini,
paling lambat awal tahun depan.
Namun belum ada publikasi yang gencar untuk itu. Perencanaan yang masih dipakai adalah
master plan tahun 1994/1995 yang dibuat Pacific Consultants International, Tokyo dan PT Dacrea
Avia, Jakarta. Rencana pembangunan tahap I itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan lalu lintas udara tahun 2005 yang diharapkan dibangun tahun 1997 dan selesai tahun 2000. Perencanaan yang
lengkap, termasuk maket terminalnya yang beratap gadang dilengkapi dua garbarata. Padahal menurut Nur Isnin, terminalnya nanti belum akan dilengkapi belalai gajah.
Nur Isnin juga ingin menyuarakan bahwa Ketaping bisa jadi contoh sebuah bandara yang dapat dengan cepat mengembalikan utang pembangunannya. Dengan konsep bandara kota
(city airport) Ketaping bisa jadi sumber pendapatan daerah yang potensial. Tak heran bila ada keinginan untuk mendesak pemda agar juga melimpahkan dana bagi pembangunannya.
Tertundanya proyek tersebut memang karena berbagai kendala. Apalagi kemudian, krisis ekonomi menjadi hambatan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Tapi bila pemerintah pusat sudah
memberikan lampu hijau, bukan hal mustahil kalau pemerintah daerah setempat juga memberi dukungan penuh demi terwujudnya Bandara Ketaping, yang akan menjadi pintu gerbang Sumatera Barat.
(nie)
|