Gus Dur mau beli pesawat kepresidenan. Di luar negeri, adalah hal wajar seorang kepala negara terbang dengan pesawat khusus kepresidenan macam Air Force One. Cerita menjadi lain ketika Direktur Utama Boeing Phil Condit menawarkan Boeing B-737/800 kepada Presiden Abdurrachman Wahid sewaktu berkunjung ke Seattle, Amerika, (5/9). Seperti dikutip Kompas, ketika itu Condit menawarkan pesawat Boeing B-737-800 berharga sekitar 50-60 juta dollar AS (Rp. 415-498 milyar) kepada Presiden
Menanggapi tawaran Boeing, Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli menyatakan setuju Presiden membeli pesawat itu mengingat kapasitas pesawat yang dipakai selama ini terlalu besar. "Pesawat Garuda terlalu besar karena memuat 300-400 orang. Padahal untuk perjalanan presiden ke dalam dan luar negeri hanya membawa 30-40 penumpang. Jadi sayang kalau menggunakan pesawat berbadan besar. Apalagi saat ini traffic Garuda sangat tinggi dan penumpangnya banyak, "ujar Rizal Ramli, Rabu (6/9).
Namun kalangan Dewan Perwakilan Rakyat tidak setuju dengan alasan pembelian pesawat itu justru akan menambah defisit anggaran. "DPR akan menolaknya karena menambah defisit," tegas dari Ketua Panitia Anggaran Abdullah Zainie di sela-sela pembahasan RAPBN 2001 di Gedung MPR/DPR. "DPR tidak melarang pemerintah mengajukan rencana itu Tapi kemungkinan besar, DPR akan menolaknya," tegas Abdullah Zainie dari Fraksi Partai Golkar ini
Terlepas dari pro dan kontra, tawaran Condit itu patut dipertimbangkan mengingat spesifikasi pesawat yang di-rollout pertama kali tanggal 30 Juni 1997 itu cukup baik. B-737-800 merupakan pesawat turunan dari B-737 yang mulai dikembangkan awal tahun 1960-an. Boeing 737 mulai diluncurkan pada bulan Februari 1965 sebagai pesawat transpor penumpang jarak pendek pendamping B-707 dan B-727 yang lebih besar. Lufthansa menjadi operator penerbangan internasional yang pertama kali mengoperasikan B-737-100 sejak akhir tahun 1967. Tahun 1968,Boeing mulai mengembangkan versi baru B-737 yang berseri 200. Antara tahun 1966 hingga 1988 Boeing telah memproduksi sebanyak 1.114 B-737/200. Berbekal sukses 737/200 Boeing mengembangkan tiga versi lagi yakni seri -300, -400, -500 yang menggunakan struktur materi lebih baik dengan teknologi mesin, avionik, dan aerodinamika yang lebih moderen. Generasi B-737 yang terbaru adalah 737-600 yang mampu mengangkut 110-132 penumpang, 737-700 berpenumpang 126-149 orang, 737-800 yang berkursi 162-189. B-737-900 merupakan seri paling akhir. Dan sejauh ini banyak negara telah mengoperasikan atau tengah menunggu pesanan B-737-800. Kalau pun sekarang Indonesia menginginkannya, pesanan baru terwujud pada tahun 2001 dengan catatan negara lain mau mengalah dan memberikan pesawat yang mereka pesan untuk pemerintah Indonesia. Selama ini Indonesia hanya masuk daftar tunggu Boeing. (ttg)