Astronot pesawat ulang-alik Endeavour asal Jepang, Dr Mamoru Mohri, mengungkapkan keinginannya agar negara-negara Asia bisa berkolaborasi dan bekerjasama di ruang angkasa. Baginya, hal ini penting mengingat bangsa-bangsa Asia hingga saat belum juga bisa memanfaatkan antariksa seoptimal mungkin seperti yang telah ditunjukkan lewat kolaborasi Eropa dan kolaborasi AS-Rusia.
"Sebagai wakil dari negara Asia yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan ikut program ulang-alik AS, saya benar-benar ingin agar pada suatu saat nanti negara-negara seperti Korea, Thailand, dan Indonesia bisa bersatu dan berkolaborasi di atas sana," ujar Mamoru Mohri kepada Angkasa, usai memberi ceramah ilmiah di BPPT, Jakarta, Rabu (6/9).
Sesuai pengalamannya dalam misi Space Shuttle Endeavour STS-99 yang meluncur ke orbit Bumi Februari lalu, dalam ceramahnya Mohri mengungkapkan, bahwa sebagai spesialis misi dia bertugas mengoperasikan radar topografi (SRTM, Shuttle Radar Topography Mission) buatan Jerman untuk merekam data topografi tiga dimensi dari permukaan Bumi. Misi ini terutama ditujukan untuk keperluan pemantauan lingkungan, sumber daya alam, pemetaan tata ruang dan pemantauan bencana alam. Termasuk direkam dalam data yang disimpan dalam 350 kaset ini adalah wilayah Indonesia.
Lewat misi STS-99 itu, Indonesia rupanya menuai ‘kebahagiaan khusus’. Itu karena Mohri tak lupa membawa banner lambang Lapan dan bendera Indonesia sebagai salah satu bentuk perhatian Jepang terhadap negara-negara Asia. Banner yang dibawa dalam bentuk Official Flight Kit ini, Rabu (6/9) lalu secara simbolis dikembalikan kepada Menristek Dr AS Hikam disaksikan Ketua Lapan Dr Mahdi Kartasasmita, pejabat Lapan dan BPPT, serta sejumlah ilmuwan Indonesia lainnya.
Menurut Mahdi, perhatian Jepang untuk Lapan sendiri sebenarnya telah dimanifestasikan sejak lama. Salah satu yang terpenting adalah bantuan berupa fasilitas penerima dan pengolah data satelit penginderaan jauh JERS-1 yang kini berdiri di Stasiun Bumi Pare-pare, Sulawesi Selatan. Selain itu atas sponsor NASDA (Badan Ruang Angkasa Jepang), juga ikut dalam penelitian ozon di Indonesia.
Mohri adalah Doktor ilmu kimia lulusan Universitas Flinders Australia. Pada tahun 1985, atas promosi NASDA, dirinya terpilih menjadi Payload Specialist pada proyek uji pengolahan material utama Spacelab-J. Ia kemudian bergabung dengan pusat pelatihan calon astronot pada tahun 1996 dan dua tahun kemudian resmi menjadi Mission Specialist. Selain beruntung menjadi awak ulang-alik, ia juga terpilih menjadi salah satu dari delapan calok awak Stasiun Ruang Angkasa Internasional asal Jepang. (adr)