|
| |
 | CAKRAWALA
|
|
Dipindahkan Setelah 53 Tahun
Marsdya (Pur) Soejono tengah melakukan pemakaman kembali jenazah Adisucipto di desa Ngoto, Yogyakarta - Dispen AU
|
Akhirnya, setelah 53 tahun berlalu, kedua jenazah pahlawan nasional Agustinus Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh beserta istri masing-masing dipindahkan ke
Monumen Perjuangan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di desa Ngoto, Yogyakarta. Banyak pertanyaan serupa mengalir dari berbagai pihak, termasuk wartawan, kenapa baru
sekarang dipindahkan.
Sebelumnya, kedua tokoh besar di lingkungan TNI AU ini di makamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kuncen I dan Kuncen II. Namanya juga TPU, Kuncen I dan II
terletak di tengah-tengah pemukiman masyarakat, yang kalau setiap tahun TNI AU menggelar upacara militer di sana, suasananya kurang mendukung. Terlalu sesak hingga
mengurangi kekhusukkan. Secara klise, dari dulu sebenarnya sudah terlontar keinginan untuk memindahkan, walau tidak pernah terealisasi.
Waktu terus berjalan, dari satu upacara ke upacara berikutnya, dari tahun ke tahun, hingga muncul keinginan dari TNI AU untuk memindahkan kedua makam ke Taman
Makam Pahlawan (TMP), Semaki. Namun, kedua keluarga menolak. Mereka tidak ingin kedua orang tua mereka dipisahkan dari istri masing-masing, disamping persyaratan TMP
sendiri yang tidak mengizinkan selain pahlawan. Apa akal? Hingga suatu hari terbetik pemikiran dari KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan untuk memindahkan kedua jenazah ke Ngoto.
Begitulah. Pada tanggal 14 Juli 2000, tepat pukul 8.50 WIB, prosesi pemindahan jenazah dengan inspektur upacara Marsdya (Pur) HM Soedjono dimulai. Menjawab
pertanyaan mengapa baru sekarang dipindahkan, Kadispenau Marsma TNI Bachrum Rasir dengan diplomatis mengatakan jawabannya ada pada waktu. "Pemikirannya sudah lama, tapi baru
kali ini terealisasi. Yaitu tadi, masalah waktu saja," jelas Bachrum. Namun pernyataan bernada menyesal justru terlontar dari
mantan KSAU Saleh Basarah. "Kenapa dari dulu tidak
pernah terpikir oleh kita untuk memindahkannya ke sini," aku Saleh usai upacara.
Komplek makam seluas 9.832 m2 yang bersebelahan dengan monumen Hari Bakti TNI AU dan diperkirakan menghabiskan dana pembangunan sekitar Rp 1,5 milyar,
terbilang megah. Di kedua sisi komplek pemakaman didirikan dua bangunan (tepatnya emperan) dengan sentuhan arsitektur Jawa. Satunya untuk makam, satunya lagi difungsikan
sebagai galeri foto. Kedua bangunan dipisahkan oleh lapangan yang selanjutnya akan digunakan sebagai lokasi upacara. Sementara di sisi kanan komplek, bisa ditemui diorama
yang memperlihatkan kronologis peristiwa tragis yang terjadi pada tanggal 29 Juli 1947. "Dengan diorama ini, berarti sejarahnya tidak akan terbantahkan lagi," kata Marsekal
Hanafie Asnan satu ketika kepada Angkasa.
Upacara pemakaman kembali kedua jenazah pahlawan nasional ini berlangsung khidmat. Dihadiri oleh Wakil KSAU Marsdya TNI Mudjiono Said beserta beberapa perwira
tinggi dilingkungan TNI AU. Kedua keluarga pahlawan yang diterbangkan khusus dengan sebuah pesawat
Hercules sehari sebelumnya, mengaku terharu dengan penghargaan
yang ditunjukkan TNI AU lewat pemindahan makam orangtua mereka. "Semoga ini menjadi semangat bagi warga TNI AU," kata Toddy, putra
Adisutjipto.(ben)
Kosek Hanudnas I Aman
Diprediksikan tugas Kohanudnas dewasa ini diarahkan kepada terwujudnya konsepsi strategis pengembangan Hanudnas tahun 2000, yang diperkirakan akan
menghadapi ancaman bercirikan multi dimensional. Hal tersebut dikemukakan Panglima Kohanudnas Marsda TNI Sonny Rizani, dalam acara serah terima jabatan (sertijab) Panglima
Kosek Hanudnas I di Halim Perdanakusuma (29/6) dari pejabat lama Marsma TNI Djoko Soeyanto kepada Marsma TNI Koesmadi. Djoko, alumni AAU 1973, selanjutnya menjabat
Kepala Staf Koopsau I. Sedangkan Panglima Kosek I yang baru, Koesmadi (lulusan AAU 1972), sebelumnya menjabat Pati Staf Ahli KSAU Bidang Sospol. Dijelaskan Sonny, konsep
strategis pengembangan Hanudnas 2000 berintikan desakkan untuk menutup sesegera mungkin wilayah udara yang selama ini disebut rawan pelanggaran. Untuk itu, "Kita akan
meningkatkan kemampuan pertahanan udara," jelas Sonny. Dalam kaitan itu juga, beberapa waktu yang lalu Sonny beserta staf telah melakukan kunjungan kerja selama empat hari ke
Papua. Kunjungan ini dimaksudkan, untuk melihat dari dekat wilayah udara nasional di Papua. Perjalanan ini menurut Sonny juga terkait erat dengan rencana TNI mengembangkan
Kosek IV di Biak. Pada kesempatan ini, Djoko mengatakan bahwa selama dia menjabat Pangkosek I, wilayah udara Kosek I relatif
aman.(ben)
|