Suasana pengujian perpindahan benda tanpa wahana di Laboratorium Innsbruck - Dok. schmuel@tangelo.phys.unm.edu
|
Akan tetapi tunggu dulu, sebelumnya apa yang dimaksud dengan teleportasi itu sendiri? Bagi sebagian besar kita, 'benda' yang satu ini memang pasti belum
familiar. Maklum, selain perancangannya belum final, rangkaian peralatannya hanya ada di laboratorium khusus yang biasa digunakan untuk menguji masalah-masalah fisika kuantum di sebuah universitas di Amerika, yakni di
Universitas Innsbruck.
Sesuai dengan susunan suku-katanya, benda yang satu ini memang tak lain dari sebuah konsep moda transportasi jarak jauh. Akan tetapi berbeda dengan moda transportasi jarak jauh konvensional
seperti jet komersial long-haul Boeing 747, Airbus A340, atau B777 sekalipun; ajaibnya moda transportasi ini tak bermedium. Lalu? Kedengarannya memang mengada-ada: dia tak perlu lagi medium karena
benda atau orang yang diantarnya akan lebih dulu dilebur hingga tingkat atomik/kuanta untuk kemudian 'dikirim' lewat sinyal elektromagnetik, dan segera dibentuk kembali sesuai ujud semula berikut
sifat-sifat aslinya di tempat tujuan dengan teknik yang tak kalah canggih.
Itulah sebabnya, jangan kaget bila peralatan ini bisa mengantar muatannya dalam waktu yang begitu singkat. Kabarnya, untuk jarak
hingga 40.000 kilometer, dia bisa menuntaskannya hanya dalam beberapa detik!
Sama sekali tak ada yang menyalahkan jika untuk sementara ini Anda mungkin hanya tersenyum tak percaya karena
gambarannya yang begitu absurd. Namun yang jelas di Innsbruck, moda transportasi
yang sarat peralatan canggih dan sepenuhnya tergantung fenomena alam ini masih terus-menerus disempurnakan enam
ilmuwan pilihan yang direkrut dari sejumlah institusi yang juga pilihan. Sebaliknya,
mereka nampak begitu optimis karena semua prinsip teknologi yang akan digunakan untuk
membangun moda transportasi ajaib ini telah berhasil ditemukan.
Diantaranya adalah: komputer kapasitas tinggi yang paling tidak telah sanggup merekam seluruh detil tiga dimensi tubuh manusia (seluruhnya mencakup 10 Gigabytes atau setara dengan 10 CD
ROM); teknik pemecahan sandi (enkriptografi); peralatan NMR
(nuclear magnetic resonance) dan ESR (electron spin
resonance) yang bisa digunakan untuk
men-scan sebagian besar atom atau nukleus dari
tubuh manusia; transmiter via satelit yang sanggup mengirim ribuan Gigabytes data hingga ke tempat terpencil seperti yang kini bisa kita saksikan dalam teknologi internet; dan lebih spesifik lagi berkat
jasa Albert Einstein-Boris Podolsky-Nathan Rosen pada tahun 1930-an dunia telah berhasil mengetahui jeroan setiap zat atau benda lewat teori mekanika kuantum. (Teori ini menjelaskan perilaku
unit-unit zat yang paling kecil, yakni kuantum energi berikut partikel-partikel sub-atomnya seperti elektron, proton, dan
quark. Pemahaman atas perilaku partikel-partikel yang sangat kecil ini
serta-merta membuka cakrawala pandang baru ke dalam hukum-hukum fisika atom.)
Keenam ilmuwan yang tengah mempertaruhkan reputasinya itu, adalah Charles Bennett dari Pusat Riset IBM, New York; Gilles Brassard dari Universitas Montreal; Claude Crepeau dari
Laboratorium Informatika de l'Ecole Normale Superieure, Paris; Richard Jozsa dari Universitas Montreal; Asher Peres dari Institut Teknologi Haifa, Israel; dan William K. Wootters dari Williams College, Massachusetts.
Begitu pun, ditengah segala kesan kecanggihannya, ide perancangan sang
teleportasi ternyata luar biasa sederhana. Seperti diungkap Samuel L. Braunstein dalam situs
schmuel @tangelo.phys. unm.edu, idenya hanya berangkat dari peralatan kantor yang begitu sederhana yakni mesin faksimili dan peralatan transporter dari sekuel fiksi-ilmiah
Star Trek.
Star Trek
Jika Anda penggemar serial TV Star Trek, untuk memahami cara kerja atau kegunaan dari teleportasi tentunya memang akan lebih mudah. Dalam serial karya Gene Roddenberry yang dibangun
dengan seting peradaban manusia pada abad 23 tersebut, peralatan ini biasa digunakan para awak
starship (kapal bintang) untuk berpindah tempat dari kapal mereka ke tempat-tempat terpencil atau ke
sesama kapal bintang. Jarak yang direngkuh biasanya mencapai puluhanribu kilometer.
Cara kerjanya memang amat futuristik. Orang atau benda yang akan dipindah sebelumnya diurai dahulu hingga ketingkat kuanta. Selanjutnya dengan transmiter khusus, kuanta-kuanta ini dikirim
dengan kecepatan cahaya menuju sebuah tempat yang posisi koordinatnya telah direkam. Di tempat inilah orang atau benda yang dikirim tadi disusun kembali sesuai ujud dan sifat semula. Seluruhnya
dikendalikan dari mesin transporter di tempat pengiriman.
Alkisah, peralatan tersebut adalah hasil karya ahli teknik Montgomery Scott, awak kapal ruang angkasa USS Enterprise NCC 1701D. Scott berhasil menuntaskannya pada tahun 2369. Peralatan
ini bisa memindahkan benda apapun selama dalam perjalanannya tidak menghadapi perisai medan elektromagnetik. Dalam sekuel Star Trek yang lebih moderen, Lieutenant Commander Data,
melengkapinya dengan teleporter portabel yang dikenal sebagai
Pattern Enhancer.
Namun kini pertanyaannya: akankah alat seperti ini bisa jadi kenyataan? Untuk saat ini memang belum ada seorangpun yang bisa memastikan. Namun dengan terkuaknya satu per satu fenomena
alam dengan segala kekuatannya, adanya revolusi di bidang rekayasa bioteknologi, teknik informatika, serta kian dipahaminya prinsip-prinsip mekanika kuantum, paling tidak telah menekan
derajad 'kemustahilannya'. Bagi para ilmuwan sendiri, selama seluruh prinsip pembangunnya logis dan ilmiah, tak ada sesuatu yang tak mungkin.
Toh, teknologi laser dan ponsel mungil yang sama-sama
dikenalkan dalam serial ini, tanpa diduga kini telah menjadi 'sesuatu' yang biasa-biasa saja.
Hingga sejauh ini, Bennett dan kawan-kawannya sendiri paling tidak telah
mengantungi sejumlah kesuksesan dalam eksperimennya. Diantara yang paling menakjubkan adalah lewat uji
coba teleportasi kuantum yang dilakukan tiga tahun lalu. Kala itu, di Innsbruck, Bennett
berhasil untuk pertama kalinya membuktikan bahwa moda teleportasi
bukanlah sesuatu yang mustahil. Dalam uji-coba ini, mereka berhasil 'mengirim' sebuah foton ke suatu tempat. Dan, ditempat tujuan foton itu didapati dengan fisik dan sifat yang serupa.
Dalam eksperimen ini (lihat bagan 1), persisnya, sebuah stasiun yang diberi kode nama 'Alice' ditugaskan mengirim 'sifat sebuah foton' ke stasiun yang diberi kode nama 'Bob'. Sifat tersebut
adalah polarisasi dengan sudut 45 derajad yang selanjutnya diintepretasikan oleh mesin transporter. Ketika sifat berupa sudut itu dikirim, serentak mesin pulsa foton menembakkan dua foton. Satu
ditangkap detektor 1 untuk diterjemahkan, sedang yang lainnya ditangkap detektor 2 untuk diisi sifat yang dikirim tadi. Rancangan mesin
(lihat foto 1) Bennett dan kawan-kawan ternyata berhasil menjalankan
misi inisial ini.
Meski sang foton tidak pindah secara fisik (hanya sifat dan perilakunya saja yang pindah), salah seorang kolega Charles Bennett bernama Curtis Barrett mengatakan, dengan teleportasi kuantumnya,
keenam ilmuwan telah membuka pintu pengembangan ilmu dan teknologi masa depan. Apa yang
dicapainya semakin menggenapkan keingintahuan manusia akan alam dan jagad raya, bahwa aplikasi yang
terus-menerus dari fenomena fisika telah berkali-kali membuka cakrawala baru.
(adr)