Pengalaman naik pesawat terbang yang tak mungkin bisa dilupakan
Myra Dyar Junor, tentu ketika dia dan orangtuanya dalam perjalanan dari Belgia ke Jakarta. Pesawat Sabena yang
ditumpanginya, tiba-tiba anjlok sekian meter. "Kena turbulensi kali ya. Pokoknya saya takut sekali. Sambil berdoa, saya pasrah kepada Tuhan," aku Myra yang menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Belanda.
Namun bukan berarti, pesawat terbang adalah benda yang menakutkan di depan matanya. "Hidup mati itu di tangan Tuhan." Ternyata lagi, "Saya sangat senang dengan pesawat terbang, kesannya
jalan-jalan gitu. I like to fly," tutur ibu dua putri ini. Memang cita-cita sering tidak sejalan dengan kenyataan. Kalau semasa kecil,
"I wanted to be a pilot," dan ketika menginjak bangku SMP,
"I wanted to be a stewardess," Myra yang jebolan jurusan Public Relations (PR) Unpad (1993) itu, sekarang malah menjadi pembaca berita Cakrawala Dunia di
Anteve.
Dijumpai Beny Adrian dan fotografer DN
Yusuf di suatu senja usai siaran di lantai 18 gedung Sentra Mulia di bilangan Rasuna Said, Myra langsung menyapa akrab, "Apa kabar."
# : Satu pertanyaan yang selalu bergaung dalam bisnis airline kita adalah pelayanan. Dimata Anda, soalnya dimana?
* : Sebenarnya tidak ada beda antara airline dalam dan luar negeri. Pelayanan tergantung di mana Anda duduk. Pramugari pun melaksanakan tugasnya sesuai standar, beri makan, minum, dan
berputar lagi. Kecuali kalau ada anak kecil, ya agak diperhatikan sedikit. Masalahnya,
if you want service, you go to business
class. Terus terang saja. Apalagi di kelas ekonomi, orangnya banyak, dan semua
ingin dilayani. Menurut saya, pelayanan itu sesuai dengan harga yang kita bayar. Siapa sih yang tidak ingin bangkunya lega-an dikit?
# : Tapi masalahnya di dalam negeri kan tidak selesai begitu saja?
* : Betul, airline kita memang dirumitkan oleh soal satu ini. Sempati menurut saya, udah agak bagus. Satu contoh soal
delay saja. Mampu nggak kita menginapkan penumpang di Sheraton
Bandara. Makanya banyak yang berpikir, biarlah menambah sekian dollar dari pada harus naik airline dalam negeri.
# : Tadi Anda cerita pengalaman ketika naik Sabena. Punya yang lain?
* : Saya pernah loh, naik helikopternya Habibie. Ceritanya dulu, ketika saya magang di IPTN sebagai mahasiswa PR. Habis kita ditawari
sih, ya mau saja. Ketika lagi terbang, kita becanda, biasa
lah mahasiswi. Nggak tahunya, suara kita terpantau oleh orang Humas di bawah.
Nggak enak juga, tapi ya sudah. Oh ya, kita juga sempat lihat ruang kerjanya Habibie yang kayak apartemen itu.
# : Nah, berarti Anda sedikit banyak tahu IPTN
dong?
* : Bukan begitu. Tapi yang saya lihat waktu itu (awal
90-an-Red) karyawannya banyak banget. Sekarang, menurut saya, IPTN harus diberi kebebasan dalam berbisnis.
Sudah, privatisasi saja. Saya kira akan lebih maju. Tapi masalahnya tidak hanya IPTN. Sekarang ini airline pada menjamur. Saya pikir buat apa, yang ada saja sudah kepayahan. Kenapa tidak kita urus secara
bener yang sudah ada ini. Ngapain
sih bikin airline banyak-banyak.
# : Ngomong-ngomong soal Cakrawala Dunia, program ini punya perhatian khusus
nggak terhadap dunia kedirgantaraan?
* : Secara khusus tidak. Pemirsa kita adalah orang-orang yang
concern terhadap international news, yang mereka sadari bahwa berita itu tidak akan mereka temui di stasiun televisi lainnya.
Terutama dunia kedirgantaraan, kami tidak pernah absen memberitakan seperti kecelakaan pesawat terbang maupun peluncuran pesawat ruang angkasa. Kami juga berusaha menyajikan seputar
air show, walau sejak krismon Anteve tidak pernah lagi mengirimkan reporternya.