ANGKASA N0.11 AGUSTUS 2000 TAHUN X  

SOUTHWEST BORONG 737

QANTAS INGINKAN A-3XX

PAMPA HIDUP LAGI

TAMBAH PRAMUGARI

USAF PAKAI SATELIT LOCKHEED


  Laporan Utama
Antariksa
Bandara
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
NOTAM  

SOUTHWEST BORONG 737

Boeing 737-700 Boeing 737-700 - Boeing

Divisi pesawat komersial industri kedirgantaraan Boeing ketiban rezeki dengan adanya pesanan dari Southwest Airlines. Tak tanggung-tanggung perusahaan yang bermarkas di Dallas ini memborong sekitar 290 buah B-737, termasuk versi generasi lanjutnya (next generation). Dari jumlah sebanyak ini 94 B737-700 plus 196 versi lanjutnya akan diterima dalam kurun waktu 12 tahun. Pesanan pertama sendiri akan mulai diterima Southwest pada 2002. Tak disangkal lagi pesanan ini memecahkan rekor pembelian keluarga B737 untuk satu perusahaan penerbangan sipil. "Pesanan ini merupakan tantangan ajaib bagi kami", ujar Alan Mulally, Presdir Divisi Pesawat Komersial Boeing, seperti dikutip Defence Data Daily (30/6). Alhasil untuk memenuhi borongan ini, Boeing terpaksa meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 28 pesawat, dari yang semula 24 pesawat perbulan. Boleh dibilang selama ini Southwest merupakan pelanggan setia B737. Dari peluncuran perdana B737-300, B737-500, sampai B737 next generation perusahaan penerbangan dengan motto harga tiket terjangkau dengan pelayanan nomor wahid ini selalu menjadi launch costumer. Alasannya selain biaya pengoperasian rendah, interior B737 juga nyaman. Sampai saat ini secara keseluruhan Boeing telah menerima pesanan 295 pesawat komersial. Terdiri dari 16 seri 717, 221 seri 737, eanam seri 747, 31 seri 757 dan 21 seri 777.(avi).


PERANCIS CEMASKAN ASIA

Perancis cemaskan reaksi balik Asia berkaitan dengan merebaknya program Pertahanan Rudal Nasional (NMD) yang akhirnya batal digelar AS. Seperti diungkap anggota komisi pertahanan DPR, Pierre Lellouche, kecenderungan kearah itu nampak terbuka setelah dirinya melakukan kunjungan diplomatik ke Cina, India, dan Pakistan. Hal ini diingatkannya mengingat setiap kali ada upaya pengembangan senjata, meski dimaksudkan sebagai sistem penangkal serangan dari luar, hampir senantiasa diikuti upaya penyeimbangan dari lingkungannya yang selanjutnya memicu lomba senjata. "Hubungannya memang seperti reaksi berantai," ungkap Lellouche. Sejauh pengamatannya, untuk sementara ini, memang belum ada upaya frontal dari ketiga negara untuk menyaingi AS. Ketiga negara sementara ini masih terpaku dengan alasannya sendiri. Dalam hal ini, sebagai Anak Nakal, India tak akan terpancing mengembangkan senjata nuklirnya, sejauh tetangganya, Cina, juga tak melakukannya. Namun sebaliknya, jika Cina mengembangkan, India pun akan ikut. Dan, jika India serius melakukannya, dengan sendirinya, Pakistan juga akan terpancing mengembangkan senjata serupa. Hal ini mudah dimengerti karena kedua negara memang mudah tegang mengingat masalah Khasmir yang belum juga tuntas hingga sekarang.(adr)


BANTAH DUKUNG PAKISTAN

Untuk kesekian kalinya Pemerintah Cina membantah pihaknya telah menjual teknologi rudalnya kepada Pakistan. Seperti ditegaskan jurubicara Kementerian Luar Negeri Cina, Sun Yuxi, kepada New York Times baru-baru ini, negaranya benar-benar tak pernah melakukannya. Pernyataan ini sekaligus merupakan bantahan terhadap berita yang dicuatkan sejumlah harian terkenal di AS, termasuk NYT. Seperti diberitakan pada awal Juli lalu, badan intelijen AS menemukan sejumlah bukti bahwa Cina setidaknya telah memberi tiga unsur dukungan vital. Laporan yang selanjutnya disampaikan di hadapan Kongres itu persisnya berupa baja khusus, sistem penuntun rudal (guidance systems), dan tenaga ahli. Seperti diketahui, Washington memang telah menugaskan badan intelijennya mencari tahu kemungkinan tersebut setelah Pakistan diluar dugaan berhasil melakukan uji nuklir bawah tanahnya dua tahun lalu. Di lain pihak, Pemerintah Pakistan sendiri sudah berkali-kali membantah bahwa Cina berada di belakang kesuksesan tersebut. Dalam hal ini, Menlu Abdul Sattar menegaskan, sukses itu adalah hasil kerja sendiri. Namun dikatakannya, sebagai salah satu sahabatnya, Cina memang pernah menjual sejumlah rudal taktis jarak pendeknya kepada Pakistan, tetapi dukungan ini sama sekali tak menjerumuskan Cina sebagai pelanggar perjanjian internasional MTCR (Missile Technology Control Regime) yang senantiasa dipakai negara-negara Barat untuk membatasi gerak negara-negara berkembang dalam hal pengembangan rudal berbahaya.(adr)


CAT ULANG STEALTH

Kini AU AS tak perlu repot-repot lagi saat mencat ulang armada pencegat siluman F-117 Nighthawk. Dari yang semula membutuhkan sampai tujuh lapisan coating yang berbeda, dipangkas habis menjadi hanya cukup sekali saja. Saat proses, boleh dibilang hampir sekujur badan pesawat yang dilapisi material penyerap gelombang radar (RAM-Radar Absorbing Material) ini akan mengalami sentuhan. Dengan cara yang lama teknisi akan mengganti bagian demi bagian lembaran lapisan RAM pada sayap, ekor, dan badan yang dibantu oleh robot berpresisi tinggi. Namun proses yang dianggap bertele-tele ini akan segera berakhir dengan ditemukannya sistem semprot (spray) bagi lapisan RAM. "Sistem semprot ini lebih efektif daripada penggunaan lembaran lapisan RAM", ujar Kapten Richard Owens, perwira program perawatan F-117, seperti dikutip Aviation Now (29/6). Alhasil, dengan sistem ini para teknisi lebih mudah merawat bagian yang sulit dijangkau. Sebelum ditemukannya sistem semprot, satu pesawat membutuhkan waktu lima bulan pengerjaan. Selain waktu, bandrol biaya perawatanpun dapat dikurangi dari 14,5 juta menjadi 6,9 juta dollar AS untuk seluruh armada F-117. Perawatan berkala ini dilakukan setelah pembom malam berbadan hitam legam ini mengabdi kurang lebih selama lima tahun. Perawatan ini berfungsi untuk mempertahankan sifat siluman F-117.(avi).



Laporan Utama | Antariksa | Bandara | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media