Di Indonesia, musim liburan sekolah baru saja selesai pertengahan bulan Juli lalu. Tetapi sebenarnya musim liburan musim panas bagi warga negara maju belum usai hingga Agustus ini. Bila
faktor keamanan menunjang, sebenarnya negara seperti Indonesia masih sangat berpeluang mendapatkan lebih banyak devisa dari wisatawan mancanegara (wisman) ini. (Bahkan kalau tidak ada krisis dan
rakyat makmur, berbagai daerah di Indonesia, khususnya yang selama ini sudah dikenal sebagai DTW atau Daerah Tujuan Wisata, akan semarak keadaannya.)
Dengan situasi keamanan yang tidak mendukung meski dari segi harga relatif murah Indonesia jelas belum bisa memanen devisa dari turisme secara maksimal. Padahal menurut keyakinan
orang yang tahu potensi bidang ini, turisme sesungguhnya punya potensi besar bahkan untuk membantu bangsa mengatasi krisis ekonomi. Masuk akal, karena kita pun tahu bila dikelola dengan benar dan
sebaik-baiknya, banyak memang unsur di masyarakat -mulai dari sektor informal dalam jasa layanan dan industri, kecil, menengah, maupun besar, yang bisa diangkat tingkat perekonomiannya melalui pariwisata.
Karena berbagai kendala tersebut, maka yang kini terus memanen berkah pariwisata ya tetap saja DTW dunia yang sudah sangat populer, seperti Paris, Disneyland di California atau Florida,
Hongkong, Thailand, dan bahkan Malaysia dan Singapura.
Fokus bahasan kali ini lebih dari sekadar keberuntungan DTW-DTW tersebut adalah tentang penanganan angkutan udara di musim liburan. Dengan situasi masih dilanda krisis yang telah
disebut di atas, memang beban angkutan udara, dengan demikian juga beban maskapai penerbangan, Indonesia tidaklah seberat seperti di negara yang turisme domestik maupun mancanegara maju.
Di negara Eropa dan Amerika, musim liburan musim panas ternyata memang diwarnai kegiatan angkutan udara yang meningkat luar biasa. Sudah jamak kita mendengar berita, bahwa
meningkatnya aktivitas juga digunakan oleh pekerja darat maskapai penerbangan untuk meminta tambahan gaji atau uang lemburan. Itu sebabnya orang-orang yang berlibur tidak jarang harus menunggu, misalnya
untuk mendarat di bandara Charles de Gaulle di Paris, karena para staf darat mogok sebagai bagian dari upaya untuk mendesakkan aspirasi mereka.
Di pihak lain, meningkatnya jumlah penumpang juga tak diantisipasi secara memadai oleh pihak perusahaan penerbangan. Tidak jarang urusan di darat berantakan,
check-in melambat, sehingga keberangkatan pun terlambat.
Dalam situasi yang berantakan itu, yang banyak disesalkan oleh penumpang adalah tidak jelasnya penjelasan mengenai keterlambatan, dan kompensasi yang tidak memadai. Semuanya itu
menyebabkan rusaknya mood penumpang yang akan berlibur. Apalagi kalau selain keterlambatan dan ketidak-jelasan informasi, masih ditambah lagi dengan bagasi yang nyasar atau hilang.
Penyebutan hal-hal tersebut sekadar mengingatkan, bahwa ketika musim liburan tiba, beban kerja memang meningkat. Tetapi karena musim libur tersebut setiap tahun datang pada periode yang
sama, maka sebenarnya semuanya sudah harus bisa diantisipasi oleh perusahaan penerbangan.
Lebih jauh lagi, bila satu negara ingin terjun ke sektor turisme secara tuntas, maka selain masalah angkutan penerbangan, yang juga harus disiagakan adalah perhotelannya, DTW-nya,
pemandu wisatanya, dan mata rantai lain industri ini.
Seperti telah disinggung di atas, banyak yang yakin bahwa bila ditangani dengan tuntas profesional, sektor ini punya daya untuk membantu bangsa keluar dari krisis.
Tetapi ya itu tadi, tidak jarang justru pada saat dibutuhkan, atau pada saat aktivitas meningkat, faktor-faktor kunci seperti perusahaan penerbangan atau infrastruktur penting seperti bandara,
terkesan kurang siap atau kewalahan.
Tulisan singkat ini sekali lagi ingin menggaris-bawahi hal penting, bahwa agar satu potensi bisa menjadi daya riil dibutuhkan kesiapan dan persiapan matang, disertai komitmen kuat
untuk menempatkan kepuasan konsumen sebagai tujuan utama
layanan.(nin)