Pekan Olahraga Nasional XV tahun 2000 yang berlangsung sukses terutama cabang aerosport yang terdiri terjun payung, terbang layang, aeromodelling, paralayang, tinggal kenangan bagi para
atlet, ofisial dan pembina. Yang pulang berkalung medali menikmati kemenangan dengan bermacam cara. Yang belum berhasil tentunya merencanakan latihan lebih intensif agar dapat berprestasi lebih
baik di masa mendatang.
Lepas dari kalah atau menang, yang penting semua pihak perlu mengadakan evaluasi apa yang telah dilakukan selama PON XV dengan segala keberhasilan dan kekurangannya. Nyatanya dalam
PON XV terjadi hal-hal yang perlu dibenahi dan disempurnakan antara lain di bidang peraturan dan perwasitan. Kedua bidang ini lemah atau kacau bisa jadi titik rawan protes dan kekisruhan, serta
jalannya kejuaraan tidak menarik. Memang wajar protes dalam kejuaraan olahraga sebab merupakan dinamika para atlet. Tapi jika protes serupa hampir terjadi tiap lomba termasuk PON,
koq kurang etis sebab sebetulnya bisa dihindari sebelumnya.
Sebenarnya peraturan yang ada sudah cukup baik namun perlu disempurnakan agar lebih mantap, dan tidak berubah-ubah dalam pelaksanaannya. Wasit sebaiknya harus bijak jika menerima suatu
saran dan protes, tidak pasang "tanduk" dulu karena merasa senior atau kuasa. Wasit harus bertindak sesuai peraturan, adil tidak memihak seseorang dan tidak mau dipengaruhi oleh siapa saja. Dan harus
atau perlu mengikuti prosedur dan keselamatan penerbangan termasuk keselamatan pesawat dan atlet. Sebab kurangnya perhatian masalah tersebut di atas, sampai ofisial DKI yang akrab dipanggil dokter
Bob sempat protes masalah tempat take-off dan
landing. Akhirnya ngototnya ditanggapi sehingga tempat take off, landing dan tenda wasit digeser.
Selama PON XV berlangsung terjadi protes di semua cabang Ordirga. Protes di terbang layang, selain DKI juga dari Jabar dan Papua, kendati akhirnya bisa diselesaikan. "Katanya keputusan wasit
mutlak tak bisa diganggu gugat, berarti tak perlu ada yang protes. Namun nyatanya wasit menanggapi dan menerima uang protes sebesar Rp. 200.000,-. Protes ditolak, uang protes tidak kembali. Jika
dinyatakan putusan wasit mutlak, ya jangan menerima uang protes," kata Inong dari Papua sambil tertawa.
Banyak atlet menyarankan sudah waktunya wasit terbang layang yang sebagian besar sudah tua dan lama tidak berkecimpung dalam terbang layang. Perlu ada peremajaan atau diganti dengan yang
lebih muda, pernah jadi atlet atau aktif dalam terbang layang, jujur, tidak memihak siapa pun. "Lucu kami mau protes, wasit sudah ngotot atau tegang lebih dahulu," kata Sugianto atlet Jabar yang jadi
korban diskualifikasi. Ada yang menyarankan hendaknya panitia pelaksana lomba punya persamaan persepsi dengan kelompok wasit dalam menangani peraturan lomba, bukannya berlawanan.
Terbang layang nomor (terbang lama) tentunya yang dinilai terutama kemampuan lamanya terbang. Tapi prakteknya tak demikian. Atlet mampu terbang lama tapi tak dapat nilai dan bisa gagal
total sebab saat mendarat didiskualifikasi. Maka wajar jika ada pertanyaan yang dinilai apanya, lamanya terbang atau mendaratnya. Atlet yang profesional, adanya daerah pendaratan tidak begitu sulit.
Tapi nyatanya pada PON XV banyak atlet masih pemula belum pantas ikut kejuaraan tingkat PON, tampil juga. Buktinya banyak yang didiskualifikasi, terutama peserta puteri sekitar 50 persen.
Cara penilaian yang sekarang dipakai perlu direvisi atau disempurnakan. Mendarat dinilai diskualifikasi suatu nilai "mematikan" bagi atlet. Masa mendatang, mendarat
under shoot atau over shoot pada nomor terbang lama, nilainya dikurangi saja, bukan didiskualifikasi. Pengurangan nilai perlu dirumuskan, lalu digunakan pada tiap kejuaraan terbang layang. Menurut pengamatan
Angkasa, PON-PON lalu tak ada garis (daerah pembatas) yang begitu ketat dalam nomor
duration flight, tapi mendaratnya ada ketentuan juga, tidak sembarangan.
Selama ini masalah diskualifikasi bagi
glider waktu mendarat melewati garis daerah pendaratan untuk nomor duration flight dan
precision landing, sering menimbulkan pertentangan dan protes.
Hal ini terjadi pula dalam PON XV. Agar lebih tepat dan obyektif, sebaiknya digunakan foto elektronik dipasang di ujung garis pendaratan. Sehingga akan ketahuan jelas glider yang mendarat, diskulifikasi
atau tidak. Untuk lebih obyektif dan mengurangi kecurigaan, sebaiknya tiap penerbang penarik glider didampingi seorang wasit, bertugas mencatat ketinggian dan kecepatan pesawat penarik ketika
pilot memberi instruksi kepada atlet yang akan
me-release.
Menurut pengalaman, dalam kejuaraan aeromodelling yang sering menimbulkan ketegangan adalah nomor F-2D
(combat). Sudah hafal kalau nomor ini rawan protes, mengapa dalam PON XV
tidak diantisipasi oleh panitia atau para wasit. Alhasil terjadi pula protes sampai dua kali pada PON XV yang dilancarkan oleh semua kontingen kecuali Jatim. Uang protes Rp.70.000,-tak dikembalikan.
"Saya heran lihat kerja wasit. Ada yang jelas kalah bisa menang, dan yang nyata-nyata bagus, terbalik jadi kalah," sambil menggelengkan kepala tim manajer Jateng bertutur kepada
Angkasa usai melancarkan protes kedua kalinya.
Menurut pengamatan Angkasa, tidak berlebihan jika dikatakan pelaksanaan kejuaraan terjun payung PON XV paling tertib, lancar dan paling cepat memberi hasil kejuaraan kepada pemburu
berita. Ada juga dua kali protes minta terjun ulang, satu kali diterima lainnya ditolak. Tapi tidak sempat menimbulkan ketegangan. Begitu pula paralayang, ada juga yang protes namun mudah didinginkan
dan segalanya berlangsung lancar kembali. Cabang ini juga mudah dan cepat menyodorkan hasil kejuaraan kepada wartawan.
Pecah rekor dan panen
PON XV di cabang aerosport selain sukses juga terjadi pemecahan rekor nasional dan PON terutama cabang terbang layang. Wiwin Anggono dan Rudy Harto masing-masing mampu terbang sejauh
177,2 km dan 133,7 km (Lanud Abdulrachman Saleh - Cepu), berarti memecahkan Rekornas dan PON atas namanya sendiri. Rekor sebelumnya, 102 km (Pondok Cabe - Lanud Kalijati) pada PON XIII diraih
Rudy Harto dan Wiwin Anggono. Berhubung pecahkan rekor, mereka panen bonus puluhan juta rupiah. Bonus untuk medali emas dan pemecahan Rekornas dari Gubernur DKI, ditambah lagi dari PB PON
XV juga bagi pemecah rekor. Rudy terima rejeki lagi sebab pecahkan rekor PON nomor Duration Flight perorangan putera, 1.47'.
Monica selain terima bonus dari lima medali emas dan satu perunggu yang ia raih, ditambah sebagai pemecah rekor PON nomor Duration Flight perorangan puteri. Atlet lain yang menerima
bonus cukup banyak berhubung berkalung empat medali emas adalah Rery, atlet terbang layang DKI, Wahyu Yudha atlet paralayang DKI dan Benny Limanhadi atlet aeromodelling
Jatim.(mar)