Kalau AS memiliki A-10 Thunderbolt sebagai pesawat pembabat tank, maka
Uni Soviet menandinginya dengan melahirkan Su-25
Frogfoot. Kehadiran si "gendut" keluaran Biro Desain Sukhoi ini
telah tercium Barat sejak akhir tahun 70-an. Kala itu satelit mata-mata Amerika berhasil mendapat gambar sebuah pesawat tempur racikan terbaru di lapangan terbang Ramenskoye, dekat Moskow. Dari
bentuk, pesawat yang awalnya dinamai Ram-J oleh Barat ini menyerupai YA-9A buatan Northrop. Parlu dicatat, Northrop akhirnya kalah tanding dengan Fairchild dalam program pengadaan pesawat
pembabat tank gara-gara alasan biaya dan politis. Walau dari segi desain dan kemampuan A-9 boleh dibilang lebih unggul dibanding A-10.
Seperti lazimnya pesawat dari Blok Timur, tubuh Frogfoot dibuat kokoh sehingga mampu bertahan terbang walau telah terkena tembakan dari darat. Sebagai gambaran, pada Konflik
Afghanistan dibutuhkan 80 butir peluru kaliber 20 milimeter untuk menjatuhkan Frogfoot. Coba bandingkan dengan penempur darat lainnya semacam MiG-27
Flogger atau Su-22 Fitter yang maksimal hanya
tahan tertembus 15 peluru berkaliber sama sebelum akhirnya jatuh. Kesaktian ini tak lepas dari lapisan
titanium anti peluru setebal 24 milimeter yang terpasang pada bagian vital dan disekeliling kokpit
pesawat. Alhasil, kokpit terasa sempit, pilot bagai duduk di dalam bak mandi
(bathtub). Akibatnya pandangan keluar sang pilotpun menjadi terbatas.
Untuk urusan tenaga, dua dapur pacu tanpa
afterburner, Soyus/Tumansky R-195 ditempatkan pada ruang yang terpisah jauh. Mesin ini ditengarai mampu menghasilkan tenaga 25 persen lebih besar
dibanding mesin yang dipakai seterunya A-10
Thunderbolt. Bagian yang dianggap rentan yaitu tanki bahan bakar dalam tubuhnya dilindungi lapisan busa sebagai upaya untuk melindungi dari bahaya ledakan. Saat
terbang pada kecepatan rendah, sistem kendali dipercayakan pada tabung di ujung-ujung sayap. Bagian belakang piranti ini akan terbuka, saat bermanuver di ketinggian rendah yang sekaligus juga berfungsi
sebagai rem udara (air brake). Pada moncong, terdapat kaca pelindung bagi sistem laser penjejak/pengidentifikasi sasaran. Sementara itu dibagian ekor terdapat semacam tabung buat menempatkan radar Sirena 3.
Piranti ini berfungsi mengingatkan pilot dari bahaya yang tengah mengincar pesawat.
Sekarang giliran urusan persenjataan. Total ada sepuluh cantelan menggantung di kanan-kiri sayap. Sekitar empat ton perangkat perang mampu digotongnya. Terdiri dari kombinasi roket S-5 kaliber
57 milimeter sampai S-25 kaliber 330 milimeter. Atau bisa juga rudal permukaan Kh-23/-25/-29. Sebagai alat bela diri dari pesawat lawan, Frogfoot dapat juga membawa rudal anti pesawat AA-2
Atoll atau AA-8 Aphid pada cantelan terluar. Terakhir bertengger di hidungnya sebuah kanon dua laras AO-17 A kaliber 30 milimeter dengan 450 pelurunya.
Setelah dianggap sukses berlaga di medan tempur Afghanistan, Rusia akhirnya tertarik untuk mengembangkan monster asal Tbilisi ini. Alhasil lahirlah versi dua tempat duduk berbasis versi
kursi tunggal yang dinamai Su-25 UB. Dari versi ini Sukhoi kembali mengembangkan yang lebih modern dengan kemampuan segala cuaca, yaitu Su-39. Varian lain adalah tipe tak bersenjata bagi keperluan
latih, yaitu Su-25 UT, atau lebih dikenal dengan nama Su-28. Sedang bagi keperluan AL, Sukhoi menelurkan Su-25 UTG. Di luar Rusia Frogfoot juga digunakan oleh AU Angola, Irak, Bulgaria,
Cekoslovakia, Hungaria, dan Korea Utara.(sy/avi)