|
| |
 | PROFIL
|
|
Raja Segran
SIA sebagai Warga Negara Indonesia
Gebrakan Singapore Airlines di Indonesia tahun ini cukup mengejutkan, yakni kerjasamanya dengan Departemen Pariwisata dan Kesenian. Apa
karena SIA menganggap sebagai Indonesian corporate
citizens?.
Raja bangga bekerja di SIA, setelah dua tahun menjadi dosen di University of Malaya - Angkasa/Reni R
|
Cukup menarik simpati saat General Manager Indonesia Singapore Airlines
(SIA) Raja Segran memberikan sambutan dalam bahasa Indonesia yang
cukup fasih, pada acara peresmian kantor baru SIA, beberapa bulan lalu. Peresmian yang dihadiri Menteri Perhubungan Agum Gumelar tersebut memberi nilai
plus lagi bagi SIA, sebagai airlines asing yang saat ini paling populer di Indonesia. SIA juga seringkali menjadi contoh sebagai
airlines yang sukses.
Raja memang menganggap Indonesia 'rumahnya'. Demikian juga yang ditanamkan perusahaan pada seluruh karyawannya untuk menganggap SIA
sebagai perusahaan warga negara Indonesia (Indonesian corporate
citizens).
Untuk mengungkap keberadaan SIA di Indonesia, Raja menyediakan waktu bagi
Angkasa. "Saya cuma bisa bicara Indonesia sedikit-sedikit,
masih nyaman kalau berbahasa Inggris," katanya saat membuka perbincangannya di ruang kantornya di Gedung Menara Kadin,
Jakarta, 6 Juli lalu.
Kerjasama terbesar
Bisa jadi karena anggapan itu, maka bukan hal mustahil kalau SIA aktif dalam kerjasama dengan berbagai pihak di dalam negeri, terutama pada
tahun-tahun terakhir ini. "Kami telah terbang bertahun-tahun di sini dan telah menanamkan investasi yang cukup besar. Kesuksesan Indonesia akan
memberikan kesuksesan bagi SIA. Demikian sebaliknya, bila perekonomian Indonesia lemah atau mengalami masalah besar, maka akan berpengaruh kepada SIA."
Kerjasama terbesar adalah dengan Departemen Pariwisata dan Kesenian (Deparseni). Rupanya SIA telah bekerjasama sejak lama untuk menghidupkan
kembali pariwisata. Karena, menurut Raja, pihaknya yakin menghidupkan kembali pariwisata akan menghidupkan kembali perekonomian. Tanggal 23 Maret 2000
perjanjian itu ditandatangani. Dalam kerjasama tersebut, SIA menginventasikan dana 3 juta dollar AS untuk periode dua tahun, di samping dukungan 1 juta dollar
dari Deparseni.
Dana tersebut diutamakan untuk meningkatkan promosi pariwisata Indonesia, di samping untuk menunjang pemasarannya. Antara lain digunakan
untuk mendatangkan biro-biro perjalanan wisata, agar mereka dapat melihat sendiri kondisi Indonesia dan pariwisatanya. Selain itu, dana pun dialokasikan
untuk pelatihan bagi para agen biro perjalanan.
"Kami menyetujui untuk menyediakan dana 3 milyar rupiah selama periode tiga tahun bagi pelatihan manajer tingkat menengah dalam bidang
manajemen dan pelayanan konsumen, selain beasiswa bagi agen-agen berpotensi," ungkap Raja. Selama ini SIA memang sudah memberikan beasiswa bagi pelajar.
"Masa depan sebuah negeri itu tergantung pada manusia berilmu, bukan hanya pada manusia yang bermateri!" tegasnya.
SIA yang juga terlibat dalam proyek-proyek kemanusian, tak ketinggalan untuk membantu Bengkulu yang terkena musibah akibat gempa bumi
yang menelan banyak korban jiwa dan materi. Melalui Raja, SIA menyumbangkan dana sebesar Rp 100 juta atau 20.000 dollar AS, yang diterima Wakil
Presiden Megawati Soekarnoputri di Jakarta, 14 Juni lalu.
Sulit datangkan wisatawan
Raja optimis, kerjasama dengan Deparseni untuk meningkatkan jumlah turis mancanegara ke Indonesia akan berhasil di masa datang. Beberapa
waktu lalu, SIA telah mengadakan workshop di Jakarta, Lombok, Bali dan Surabaya. "Tidak ada kendala berarti, bahkan kami banyak menerima masukan."
Sebagai tindak lanjut workshop di Lombok, misalnya, sebuah tim agen perjalanan bertolak ke Singapura, demikian sebaliknya. Hal tersebut, diakui
Raja, sebagai pencapaian yang baik. Karena SIA ternyata kesulitan mengajak turis untuk datang ke Indonesia, seperti ke Lombok yang pernah mengalami
kerusuhan. Sudah jelas, mereka mengkhawatirkan keamanan di daerah itu.
Selain itu, tim agen perjalanan dari Korea Selatan juga tiba di Lombok. "Mereka
surprised dengan situasi yang ada dan terkesan dengan fasilitas
yang tersedia. Mereka berjanji untuk kembali dan menjual paket wisata ke Lombok. Selanjutnya kami berharap bisa mendatangkan turis Jepang dan Taiwan,"
ujar Raja.
Raja tengah menyerahkan bantuan sebesar 20.000 dollar AS kepada Wapres Megawati untuk korban gempa Bengkulu - Istimewa
|
SIA memang sering menjadi perbincangan di kalangan
airlines nasional. Penerbangannya ke kota-kota besar di Indonesia bersama anak
perusahaannya SilkAir, sudah menyentuh pasar. Dengan frekuensi 120 kali seminggu, SIA dan SilkAir betul-betul menjadi saingan berat bagi airline nasional. SIA
sendiri terbang 91 kali seminggu atau delapan kali sehari Singapura-Jakarta-Singapura, dua kali sehari ke Surabaya dan tiga kali sehari ke Denpasar.
SIA lebih memfokuskan penerbangannya ke jalur utama Jakarta, Surabaya dan Denpasar. Alasannya, Jakarta ibukota negara sebagai 'rumah' bagi
aktivitas komersial. Surabaya dipilih karena merupakan basis industri. Sedangkan Denpasar, siapapun tahu, sebagai obyek wisata yang sudah mendunia.
Sementara SilkAir memang dicanangkan untuk merambah kota-kota lain, terutama ke kota-kota tujuan wisata. Saat ini ia menerbangi kota Medan, Padang,
Solo, Mataram, Balikpapan, Makassar dan Manado.
Load factor SIA untuk penerbangan ketiga kota tersebut rata-rata di atas 70 persen. Pada Juni 2000, SIA mengangkut 42.276 penumpang dari Jakarta,
6.478 penumpang dari Surabaya dan 34.164 penumpang dari Denpasar.
Kata Raja, pada dasarnya SIA percaya akan pertumbuhan pasar angkutan udara Indonesia. "Selama bertahun-tahun kami telah menambah frekuensi
secara konsisten. Sehingga kami yakin 5-10 tahun yang akan datang akan terus menambah kapasitas. Dengan lebih banyak
links, akan lebih baik pada perekonomian."
Sebagai salah satu airlines terbaik dunia, SIA mempunyai kiat tersendiri. Yang menjadi pedoman fundamentalnya terfokus pada pelayanan, perhatian
pada konsumen, manajemen dan manajemen keuangan yang baik. SIA hanya bergerak dalam
core business airlines, tidak melirik bisnis lain. "Tahun 80-an,
lahir konglomerat yang mengembangkan usahanya dengan membangun usaha-usaha lain di luar usahanya yang utama. Hal tersebut ternyata tak bertahan lama."
Dari contoh tersebut, Raja menilai bahwa bisnis inti lah yang utama untuk dikembangkan. Tapi menurutnya, karena sebuah airline tak akan pernah
lepas dari mata rantai lainnya, seperti hotel dan kepariwisataan, koordinasi yang baik dan komitmen tinggi dengan mereka terus menerus digalang dan
dibina. Sebuah alasan yang tepat bila SIA belum siap untuk terjun ke bisnis pengembangan bandara, misalnya. "Bahkan kami tidak berpikir untuk
menanamkan investasi dalam pengembangan
airport," jelas Raja.
Hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan karena banyaknya penerbangan maskapai Singapura ke kota-kota Indonesia, tapi banyak bandara di
kota-kota tersebut yang infrastrukturnya belum memadai. Seperti Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, dan Bandara Selaparang, Mataram, yang landasan
pacunya belum mendukung untuk pesawat sekelas A320 atau A319. Padahal SIA mencanangkan untuk terbang dengan jenis pesawat tersebut ke dua kota itu.
Karena terkendala infrastruktur, maka penerbangan ke Pekanbaru pun terpaksa dihentikan sementara.
Pernah ke Bromo
Sejak Juli 1999 Raja menjadi General Manager Indonesia SIA. Kiprahnya memang terlihat nyata dengan adanya kerjasama besar dengan Deparseni
tersebut. Di samping itu dalam beberapa tahun terakhir ini, SIA begitu gencar merekrut pramugari asal Indonesia. "Sedikitnya, kami membantu memberikan
pekerjaan bagi sebagian kecil gadis-gadis Indonesia," katanya.
Dari gadis-gadis Indonesia yang jadi Singapore Girl itupun Raja berharap dapat mempromosikan pariwisata Indonesia. "Ajaklah penumpang SIA
untuk datang ke tempat-tempat wisata Indonesia yang menarik itu," katanya, saat melepas calon pramugari SIA yang akan
training di Singapura pertengahan Juli lalu.
Raja bercerita tentang kunjungannya ke Bromo. "Beberapa waktu lalu, sepulang dari Surabaya, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Bromo.
Untuk melihat matahari terbit di sana. Ternyata banyak orang, 200-300 orang, yang ingin melihat keindahan matahari terbit di Bromo. Mereka menunggu sejak
pukul 03.30. Malam buta, ya istilahnya. Dan sungguh menakjubkan. Padahal itu matahari yang sama, kan?"
Dari pengalamannya itu ia berpesan, "Kalian bisa mengungkapkan keindahan itu pada penumpang SIA. Karena kalian tetap perempuan Indonesia,
walau sebagai salah seorang Singapore Girls. Siapa di antara kalin yang pernah ke Bromo?"
Beberapa tempat menarik pernah ia kunjungi, seperti Lombok dan Bali. "Tapi hanya kunjungan singkat, hanya semalam. Saya memang belum ke
tempat-tempat lain. Medan, Makassar, Manado, belum. Juga belum ke Ambon dan Jayapura," katanya, seraya berseloroh, "SIA takut juga terbang ke Ambon."
Demikian ke Dili, tidak atau belum ada rencana SIA atau SilkAir akan menerbangi negara baru tersebut.
Ditawari SIA
Raja diapit beberapa calon Singapore Girls dari Indonesia - Angkasa/Reni R
|
Raja lahir di Alor Setar di Negeri Kedah, salah satu negeri di bagian utara Malaysia, 26 April 1955. "Di sana tanahnya datar. Banyak sawah-sawah,
hingga sekeliling tampak menghijau," kata Bapak satu putri yang sudah remaja ini tentang desa kelahirannya, "Desa kelahiran yang sama dengan
Mahathir Mohammad, kan?"
Karir awalnya menjadi dosen di University of Malaya. Dia mengajar bio kimia. Namun tak lama, hanya dua tahun. "SIA satu-satunya yang menawari
saya bekerja," alasannya, kenapa ia pindah dunia kerja. Jadi begitulah, tak ada alasan utama, kenapa ia berkecimpung di dunia penerbangan.
Raja memang melamar menjadi karyawan SIA, tahun 1980. SIA menerimanya, sampai ia pun berganti kewarganegaraan. Menjadi warga negara
Singapura memudahkannya untuk lebih merasakan pengabdiannya di SIA.
Raja ini hanya nama, katanya, tak punya arti apa-apa ditempatkan di Departemen Human Resources SIA. Kemudian ia ditugaskan ke luar
Singapura, menempati pos SIA di Belgia dan Prancis, sebelum menempati posisi di bandara Changi dan Manila selama lima tahun. Posisi terakhir sebelum ke
Jakarta adalah sebagai vice president Ground
Service SIA dan divisi vice president Airport
Services SATS.
Beberapa kali menempati pos di luar negaranya, membuat dirinya agar merasa nyaman di tempat kerjanya. "Jadikan tempat bekerja sebagai rumah
(home). Jangan pernah berpikir hanya untuk sementara. Karena kalau sudah begitu, pekerjaan akan terasa berat dan menjadi beban," nasihatnya pada para
calon pramugari.
Nasihat itu memang juga berlaku bagi dirinya. Seperti yang diungkapkannya, "Indonesia sudah laksana rumahnya," maka di manapun bertugas,
ia menganggap sebagai rumahnya. Lagipula seperti diakuinya ia memang suka sekali bepergian dan menempati pos di negara-negara asing. "Saya kurang
suka bekerja di kantor pusat. Di sana kan banyak bosnya. Kalau seperti di sini, saya lah bosnya."
Tentu saja setelah 20 tahun terjun di bisnis airline, dirinya sudah merasakan bahwa dunia inilah 'hidupnya'. "Sebagian besar waktu bekerja saya di
dan untuk SIA, di dan untuk bisnis penerbangan." Dunia penerbangan bagi hampir seluruh penikmatnya memang tak pernah akan ditinggalkan.
(nie/don)
|