|
| |
 | SIAPA-SIAPA
|
|
Bart W. van Assen - Angkasa/DN Yusuf
|
Bila Anda menghadiri Festival Layang-layang di Monas Jakarta, 7-9 Juli lalu, bisa jadi Anda salah seorang korban
Bart W. van Assen (33). Salah seorang peserta
bule asal Belanda ini memang dikenal jahil. Dengan layangan model
stunt kite berbentuk kelelawar berwarna hitam, ia seringkali jahil pada peserta atau penonton yang umumnya memakai topi.
Kejahilan Bart memang menarik penonton. Dia akan memainkan layangannya hingga melayang-layang
(hover) di depan seorang 'korban'nya. Lalu layangannya itu ditarik dengan sedikit hentakan,
hingga topi yang dipakai si korban terjatuh. Si korban cuma bisa
nyengir karena penonton tertawa melihat ulah Bart dan korbannya itu. Tapi kejahilannya bukan tanpa risiko. Suatu ketika di Bali, si korban
tidak hanya nyengir, tapi tersinggung. Alhasil, layangan Bart terkena lemparan botol minuman ringan.
Ternyata Bart fasih berbahasa Indonesia. "Saya pernah empat tahun tinggal dan bekerja di Bogor," katanya. Dia bekerja di bawah bendera PBB (ESCAP CGPRT Center). Maka bukan cuma
Indonesia, tapi Thailand, Malaysia, Jerman, Inggris, Prancis dan Denmark pun pernah ia tinggali. "Dibanding yang lain, Indonesia paling berkesan di hati saya. Kenapa? Orang sini sangat kreatif menampilkan
layang-layang."
Layang-layang memang hobi yang paling disukainya. "Saya sudah 10 tahun aktif di dunia layang-layang," jelasnya. Berbagai jenis layangan dipunyainya dan dirancangnya sendiri, dari model stunt
kite ada lima layangan, model dua dimensi (12 buah), sampai model tiga dimensi (2 buah).
Untuk memuaskan hobinya, hampir semua lawatan ke festival layang-layang, bujangan kelahiran Middleburg ini tak segan-segan merogoh koceknya sendiri. Hobinya memang tak sia-sia, karena
dalam dua tahun terakhir ini ia aktif menulis di
Vlieger, majalah khusus layang-layang terbitan Belanda.
(dik)
|