|
| |
 | TEKNOLOGI
|
|
Aconit, Si Siluman Laut
Kalau Amerika berbangga dengan armada pesawat tempur siluman
(stealth), maka Perancis menerapkan teknologi sejenis pada kapal perangnya. Akhir Juni lalu untuk kedua kalinya,
Angkasa berkesempatan "meninjau" kapal perang siluman AL Perancis itu. Kali ini merupakan versi
tergress dari kapal sejenis yang pernah juga merapat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, akhir bulan
April 1997.
Aconit Si Siluman Laut berkemampuan stealth - Angkasa/DN Yusuf
|
Tepatnya pada tanggal 28 Juni, beberapa awak
Angkasa mendapat undangan Kedubes Perancis untuk berkunjung ke FNS (French Navy Ship)
Aconit. Boleh dibilang kali ini suasananya agak
berbeda bila dibandingkan dengan kunjungan tiga tahun lalu. Tak terlihat teknisi-teknisi kapal yang sibuk mengecat lambung kapal dengan cat rahasia. Begitu tiba, undangan yang sebagian besar
wartawan dipersilakan naik ke helipad deck. Di atas landasan heli pada kapal itu undangan disambut awak kapal plus tongkrongan sebuah heli Eurocopter AS 565
Phanter.
Tak lama berselang muncullah Kapten Benoit Silve yang tak lain adalah komandan fregat bernomor lambung 713 ini. Boleh dibilang suasana santai mewarnai tanya jawab dengan sang kapten
kapal. Tak ada sikap kaku yang biasanya menyelimuti saat temu wicara dengan kalangan militer. Para kuli tinta ini bebas bertanya apapun yang berhubungan dengan Aconit. Alhasil berbagai macam
pertanyaan pun muncul, mulai dari arti nama dan sejarah kapal, sampai apakah kapal ini juga akan ditawarkan ke TNI AL. Bahkan untuk urusan foto-memfoto tak seketat seperti saat kapal sejenis berkunjung
ke Indonesia.
Warisan PD II
FNS Aconit merupakan kapal teranyar AL Perancis dari fregat siluman kelas
La Fayette. Menurut Silve, Aconit sendiri sebenarnya merupakan nama bunga beracun yang hidup di daratan Eropa Tengah.
Selama PD II AL Perancis pernah menggunakan nama yang sama pada fregat kelas
Flower. Prestasinya kala itu adalah menenggelamkan dua buah kapal selam Nazi Jerman
(U-Boat) hanya dalam tempo 12 jam. Maka
sebagai penghargaan, De Geulle meminta agar nama Aconit harus selalu ada dalam jajaran kapal perang AL Perancis.
Sampai sekarang AL Perancis telah memiliki empat dari lima fregat siluman yang dipesan. Bagi
Aconit yang merupakan kapal keempat, perjalanan selama tujuh bulan yang dimulai tanggal 30
November tahun lalu ini adalah pelayaran terjauh untuk pertama kalinya. Kapal yang aslinya berpangkalan induk di Pangkalan Utama AL Perancis Toulon, Selatan Perancis ini akan mengunjungi 17 pelabuhan
utama diseluruh dunia. Termasuk Indonesia.
Selain untuk mengetahui kemampuan operasi, teknis, dan kemandirian kapal saat jauh dari induknya, latihan bareng dengan AL negara-negara yang dikunjungi juga merupakan tujuan dari
perjalanan Aconit. Contohnya adalah latihan bareng yang dilakukan dengan grup AL Inggris
(Royal Navy) dengan kode NTG-27. Silve juga menambahkan tak akan ada kendala bila dilakukan latihan manuver
antara kapal perang konvensional dan kapal siluman. "Tak akan ada masalah, malahan akan lebih mudah", ujar Silve kepada
Angkasa. Kalau keduanya stealth bisa lebih bahaya", Tambahnya dengan bahasa
Inggris yang lumayan lancar. Alasannya bila dua kapal perang siluman berlatih manuver, apalagi dimalam hari plus semua radar dan lampu dimatikan tak tahunya jarak antar kapal itu tinggal sepuluh meter.
Kunci siluman laut
AS-565 Phanter menjadi pelengkap Aconit mendeteksi dan menghancurkan ancaman - Angkasa/DN Yusuf
|
Saat "jalan-jalan" di atas dek Aconit, mulai terungkaplah sedikit demi sedikit kunci dari sifat siluman. Ternyata setiap bagian kapal mulai dari lambung, struktur dan tiang dirancang untuk
membelokkan gelombang radar ke arah Stratosfir. Sebagai contoh, bagian atas lambung depan dibuat bersudut miring 10 persen. Akibatnya tampilan kapalpun jadi tak
se-ribet kapal konvensional alias polos-polos saja.
Angkasa sempat memergoki lapisan RAM (Radar Absorber
Material) yang rupanya lebih besar dari kawat nyamuk pada bagian bawah cerobong. Sedang pada
bulwark (pagar disekeliling
lambung-red) yang biasanya menggunakan bahan metal, kali ini diganti
dengan bahan plastik fiber yang diperkuat (FRP-Fibre Reinforced
Plastic). Material ini ditengarai mampu mengurangi pantulan gelombang radar. Teknik serupa
juga diterapkan pada dek bagian depan dan belakang kapal.
Kunci kedua adalah pemakaian cat khusus anti refleksi gelombang radar pada sekujur tubuh kapal. Konskuensinya badan kapal kudu dicat ulang pada saat-saat tertentu. Untuk melawan
keganasan rudal-rudal pencari panas, maka pada cerobong ditambahi material pereduksi panas. Piranti bela diri pasif ini masih ditambah lagi dengan adanya
flares di kanan dan kiri kapal. Cara-cara tadi rupanya
berhasil mengurangi tampilan pada layar radar lawan.
La Fayette yang aslinya memiliki bobot 3.600 ton hanya terlihat seperti kapal ikan berbobot 500 ton saja.
Soal suara dan getaran yang dihasilkan oleh keempat mesin diesel CODAD berkekuatan 5.200 tenaga kuda sebuahnya ini, dibuat seminimal mungkin. Untuk itu semua yang bergerak termasuk
pipa-pipa di bagian lambung dilengkapi dengan sil karet
(rubber sealer). Tambahan lagi baling-baling fregat berawak 162 orang ini juga dirancang minim suara . Maka tak heran bila Silve sembari setengah
berpromosi mengatakan kapal ini juga cocok untuk
pertempuran anti kapal selam (ASW). Sayangnya Silve tak banyak berkomentar ketika ditanyai bandrol
Aconit. "This ship definitely not for
sale", tegas Silve. Tapi yang jelas harganya akan terasa lebih murah dibanding teknologi yang diterapkan tambah Silve yang aslinya adalah mantan penerbang pesawat tempur AL itu.
Persenjataan
Instrumen di ruang operasi Aconit terlihat lebih sederhana dan serba otomatis - Angkasa/DN Yusuf
|
Sekarang giliran urusan senjata yang mau tak mau berhubungan juga dengan konsep rancang bangun awal. Fregat karya DCN
(Direction des Constructions Navales) ini dirancang dengan konsep
modul (modular design). Konsep ini amat berperan pada fleksibilitas tugas yang diembannya. Ringkasnya fungsi fregat dapat diubah-ubah untuk keperluan anti permukaan
(surface warfare), anti pesawat (anti aircraft
warfare), atau anti kapal selam (ASW
warfare). Konsep modul ini juga berpengaruh dengan keluwesan ukuran kapal yang berstandar panjang 125 meter ini. Jadi tergantung keperluan pemakai,
mau yang lebih panjang atau dipadatkan. Contohnya Arab Saudi memesan kelas La Fayette yang panjangnya 135 meter dan bertonase 4.100 ton. Untuk Aconit sendiri kebetulan adalah versi dari anti
permukaan dengan panjang 125 meter dan lebar 15,4 meter.
Miskinnya persenjataan yang dipajang pada dek makin memperkuat kesan polos. Tapi kenyataan ini bukan berarti membuatnya mandul dalam pertempuran. Sebagai senjata utama adalah
delapan buah tabung peluncur berisi rudal
Exocet MM-40 Blok 2. Piranti pelumat kapal permukaan berjarak jangkau lebih dari 70 kilometer ini disembunyikan pada bagian tengah. Untuk melayani
ancaman udara, satu unit Sea Crotale berada di atas hanggar heli. Rudal berjarak bidik maksimal hingga 13 kilometer juga ditugasi sebagai senjata penghadang rudal lawan
(anti missile system). Tak adanya piranti CISW
(Close in Support Weapon) seperti
Phalanx atau Goalkeeper boleh jadi merupakan faktor kelemahan.
Rencananya pada generasi mendatang Sea Crotale akan digantikan oleh
Aeropatiale Aster 15. Rudal berjarak bidik 30
kilometer dengan sistem peluncur vertikal ini nantinya ditaruh dalam palka.
Selain rudal, senjata konvensional tetap saja masih digunakan. Seperti biasa sebuah kubah kanon otomatis dengan bentuk
streamline bertengger di anjungan depan. Kanon berkecepatan tembak
tinggi tipe CADAM keluaran GIAT/Creusot-loire ini berkaliber 100 milimeter. Tambahan lain adalah dua buah kanon ringan F 2 kaliber 20 milimeter pada kanan dan kiri kapal. Sebagai perpanjangan
tangan, fregat ini juga dilengkapi helipad yang mampu menahan bobot heli seberat kurang lebih 10 ton. Satu heli tempur sekelas AS 565 Phanter ataupun NH-90 disimpan dalam hanggar. Umumnya heli AS
565 ini akan membopong empat rudal permukaan AS 15 TT atau dua torpedo. Rudal berjarak jangkau 15 kilometer tersebut menggantung pada kedua cantelan di kanan-kiri.
Perancis memimpin
Empat perwira wanita AL Indonesia tengah berdiskusi dengan satu-satu wanita di Aconit - Angkasa/DN Yusuf
|
Dibanding negara-negara lain, untuk urusan kapal perang berteknologi siluman sekelas fregat, boleh jadi Perancis-lah yang memimpin. Andalannya memang kelas La Fayette yang dibangun di
galangan kapal di Lorient dan Brest. Selain AL Perancis sendiri, tercatat AL Taiwan telah memesan sebanyak enam versi anti kapal selam dan Arab Saudi sebanyak tiga kapal yang berbobot lebih besar.
Catatan di atas boleh jadi merupakan nilai lebih, lantaran pesaing untuk dunia "kapal siluman" untuk saat ini hanya dipegang oleh AS dan Swedia. Itupun masih dalam taraf pengembangan dan
kalaupun sudah beroperasi, jenisnya lebih kecil. Sebagai contoh adalah Swedia dengan menelurkan apa yang dinamai
Smyge. Sayangnya hasil karya Galangan Kapal Visby ini merupakan kapal perang kelas
Korvet yang berarti ukurannya lebih kecil. Buktinya panjang Smyge hanya 38 meter. Namun untuk urusan kecepatan, korvet siluman Swedia ini mampu dipacu sampai 30 knots di atas laut. Bandingkan
dengan La Fayette hanya mampu menembus angka 25 knots.
Sedang AS yang telah berhasil menciptakan siluman terbang semacam F-117A
Nighthawk dan B-2 Spirit masih harus tertatih-tatih dengan kapal siluman
Sea Shadow. Kapal perang sepanjang 49 meter ini memiliki dua lambung. Tenaga penggerak dipercayakan pada mesin listrik. Permukaannya benar-benar mulus tanpa adanya tonjolan sedikitpun. Saat berlayar pada kecepatan penuh, antena-antena
yang ada disembunyikan dalam tubuhnya. Akibatnya
Sea Shadow benar-benar sukar terdeteksi radar, apalagi saat gelombang laut sedang tinggi. Tapi sayangnya siluman laut bikinan Lockheed ini masih
dalam taraf percobaan.(avi)
|