ANGKASA N0.11 AGUSTUS 2000 TAHUN X  

Aconit, Si Siluman Laut


  Laporan Utama
Antariksa
Bandara
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
TEKNOLOGI  

Aconit, Si Siluman Laut

Kalau Amerika berbangga dengan armada pesawat tempur siluman (stealth), maka Perancis menerapkan teknologi sejenis pada kapal perangnya. Akhir Juni lalu untuk kedua kalinya, Angkasa berkesempatan "meninjau" kapal perang siluman AL Perancis itu. Kali ini merupakan versi tergress dari kapal sejenis yang pernah juga merapat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, akhir bulan April 1997.

Aconit Aconit Si Siluman Laut berkemampuan stealth - Angkasa/DN Yusuf

Tepatnya pada tanggal 28 Juni, beberapa awak Angkasa mendapat undangan Kedubes Perancis untuk berkunjung ke FNS (French Navy Ship) Aconit. Boleh dibilang kali ini suasananya agak berbeda bila dibandingkan dengan kunjungan tiga tahun lalu. Tak terlihat teknisi-teknisi kapal yang sibuk mengecat lambung kapal dengan cat rahasia. Begitu tiba, undangan yang sebagian besar wartawan dipersilakan naik ke helipad deck. Di atas landasan heli pada kapal itu undangan disambut awak kapal plus tongkrongan sebuah heli Eurocopter AS 565 Phanter.

Tak lama berselang muncullah Kapten Benoit Silve yang tak lain adalah komandan fregat bernomor lambung 713 ini. Boleh dibilang suasana santai mewarnai tanya jawab dengan sang kapten kapal. Tak ada sikap kaku yang biasanya menyelimuti saat temu wicara dengan kalangan militer. Para kuli tinta ini bebas bertanya apapun yang berhubungan dengan Aconit. Alhasil berbagai macam pertanyaan pun muncul, mulai dari arti nama dan sejarah kapal, sampai apakah kapal ini juga akan ditawarkan ke TNI AL. Bahkan untuk urusan foto-memfoto tak seketat seperti saat kapal sejenis berkunjung ke Indonesia.

Warisan PD II

FNS Aconit merupakan kapal teranyar AL Perancis dari fregat siluman kelas La Fayette. Menurut Silve, Aconit sendiri sebenarnya merupakan nama bunga beracun yang hidup di daratan Eropa Tengah. Selama PD II AL Perancis pernah menggunakan nama yang sama pada fregat kelas Flower. Prestasinya kala itu adalah menenggelamkan dua buah kapal selam Nazi Jerman (U-Boat) hanya dalam tempo 12 jam. Maka sebagai penghargaan, De Geulle meminta agar nama Aconit harus selalu ada dalam jajaran kapal perang AL Perancis.

Sampai sekarang AL Perancis telah memiliki empat dari lima fregat siluman yang dipesan. Bagi Aconit yang merupakan kapal keempat, perjalanan selama tujuh bulan yang dimulai tanggal 30 November tahun lalu ini adalah pelayaran terjauh untuk pertama kalinya. Kapal yang aslinya berpangkalan induk di Pangkalan Utama AL Perancis Toulon, Selatan Perancis ini akan mengunjungi 17 pelabuhan utama diseluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Selain untuk mengetahui kemampuan operasi, teknis, dan kemandirian kapal saat jauh dari induknya, latihan bareng dengan AL negara-negara yang dikunjungi juga merupakan tujuan dari perjalanan Aconit. Contohnya adalah latihan bareng yang dilakukan dengan grup AL Inggris (Royal Navy) dengan kode NTG-27. Silve juga menambahkan tak akan ada kendala bila dilakukan latihan manuver antara kapal perang konvensional dan kapal siluman. "Tak akan ada masalah, malahan akan lebih mudah", ujar Silve kepada Angkasa. Kalau keduanya stealth bisa lebih bahaya", Tambahnya dengan bahasa Inggris yang lumayan lancar. Alasannya bila dua kapal perang siluman berlatih manuver, apalagi dimalam hari plus semua radar dan lampu dimatikan tak tahunya jarak antar kapal itu tinggal sepuluh meter.

Kunci siluman laut

AS-565 Phanter AS-565 Phanter menjadi pelengkap Aconit mendeteksi dan menghancurkan ancaman - Angkasa/DN Yusuf

Saat "jalan-jalan" di atas dek Aconit, mulai terungkaplah sedikit demi sedikit kunci dari sifat siluman. Ternyata setiap bagian kapal mulai dari lambung, struktur dan tiang dirancang untuk membelokkan gelombang radar ke arah Stratosfir. Sebagai contoh, bagian atas lambung depan dibuat bersudut miring 10 persen. Akibatnya tampilan kapalpun jadi tak se-ribet kapal konvensional alias polos-polos saja. Angkasa sempat memergoki lapisan RAM (Radar Absorber Material) yang rupanya lebih besar dari kawat nyamuk pada bagian bawah cerobong. Sedang pada bulwark (pagar disekeliling lambung-red) yang biasanya menggunakan bahan metal, kali ini diganti dengan bahan plastik fiber yang diperkuat (FRP-Fibre Reinforced Plastic). Material ini ditengarai mampu mengurangi pantulan gelombang radar. Teknik serupa juga diterapkan pada dek bagian depan dan belakang kapal.

Kunci kedua adalah pemakaian cat khusus anti refleksi gelombang radar pada sekujur tubuh kapal. Konskuensinya badan kapal kudu dicat ulang pada saat-saat tertentu. Untuk melawan keganasan rudal-rudal pencari panas, maka pada cerobong ditambahi material pereduksi panas. Piranti bela diri pasif ini masih ditambah lagi dengan adanya flares di kanan dan kiri kapal. Cara-cara tadi rupanya berhasil mengurangi tampilan pada layar radar lawan. La Fayette yang aslinya memiliki bobot 3.600 ton hanya terlihat seperti kapal ikan berbobot 500 ton saja.

Soal suara dan getaran yang dihasilkan oleh keempat mesin diesel CODAD berkekuatan 5.200 tenaga kuda sebuahnya ini, dibuat seminimal mungkin. Untuk itu semua yang bergerak termasuk pipa-pipa di bagian lambung dilengkapi dengan sil karet (rubber sealer). Tambahan lagi baling-baling fregat berawak 162 orang ini juga dirancang minim suara . Maka tak heran bila Silve sembari setengah berpromosi mengatakan kapal ini juga cocok untuk pertempuran anti kapal selam (ASW). Sayangnya Silve tak banyak berkomentar ketika ditanyai bandrol Aconit. "This ship definitely not for sale", tegas Silve. Tapi yang jelas harganya akan terasa lebih murah dibanding teknologi yang diterapkan tambah Silve yang aslinya adalah mantan penerbang pesawat tempur AL itu.

Persenjataan

Ruang Operasi Aconit Instrumen di ruang operasi Aconit terlihat lebih sederhana dan serba otomatis - Angkasa/DN Yusuf

Sekarang giliran urusan senjata yang mau tak mau berhubungan juga dengan konsep rancang bangun awal. Fregat karya DCN (Direction des Constructions Navales) ini dirancang dengan konsep modul (modular design). Konsep ini amat berperan pada fleksibilitas tugas yang diembannya. Ringkasnya fungsi fregat dapat diubah-ubah untuk keperluan anti permukaan (surface warfare), anti pesawat (anti aircraft warfare), atau anti kapal selam (ASW warfare). Konsep modul ini juga berpengaruh dengan keluwesan ukuran kapal yang berstandar panjang 125 meter ini. Jadi tergantung keperluan pemakai, mau yang lebih panjang atau dipadatkan. Contohnya Arab Saudi memesan kelas La Fayette yang panjangnya 135 meter dan bertonase 4.100 ton. Untuk Aconit sendiri kebetulan adalah versi dari anti permukaan dengan panjang 125 meter dan lebar 15,4 meter.

Miskinnya persenjataan yang dipajang pada dek makin memperkuat kesan polos. Tapi kenyataan ini bukan berarti membuatnya mandul dalam pertempuran. Sebagai senjata utama adalah delapan buah tabung peluncur berisi rudal Exocet MM-40 Blok 2. Piranti pelumat kapal permukaan berjarak jangkau lebih dari 70 kilometer ini disembunyikan pada bagian tengah. Untuk melayani ancaman udara, satu unit Sea Crotale berada di atas hanggar heli. Rudal berjarak bidik maksimal hingga 13 kilometer juga ditugasi sebagai senjata penghadang rudal lawan (anti missile system). Tak adanya piranti CISW (Close in Support Weapon) seperti Phalanx atau Goalkeeper boleh jadi merupakan faktor kelemahan. Rencananya pada generasi mendatang Sea Crotale akan digantikan oleh Aeropatiale Aster 15. Rudal berjarak bidik 30 kilometer dengan sistem peluncur vertikal ini nantinya ditaruh dalam palka.

Selain rudal, senjata konvensional tetap saja masih digunakan. Seperti biasa sebuah kubah kanon otomatis dengan bentuk streamline bertengger di anjungan depan. Kanon berkecepatan tembak tinggi tipe CADAM keluaran GIAT/Creusot-loire ini berkaliber 100 milimeter. Tambahan lain adalah dua buah kanon ringan F 2 kaliber 20 milimeter pada kanan dan kiri kapal. Sebagai perpanjangan tangan, fregat ini juga dilengkapi helipad yang mampu menahan bobot heli seberat kurang lebih 10 ton. Satu heli tempur sekelas AS 565 Phanter ataupun NH-90 disimpan dalam hanggar. Umumnya heli AS 565 ini akan membopong empat rudal permukaan AS 15 TT atau dua torpedo. Rudal berjarak jangkau 15 kilometer tersebut menggantung pada kedua cantelan di kanan-kiri.

Perancis memimpin

Wanita Aconit Empat perwira wanita AL Indonesia tengah berdiskusi dengan satu-satu wanita di Aconit - Angkasa/DN Yusuf

Dibanding negara-negara lain, untuk urusan kapal perang berteknologi siluman sekelas fregat, boleh jadi Perancis-lah yang memimpin. Andalannya memang kelas La Fayette yang dibangun di galangan kapal di Lorient dan Brest. Selain AL Perancis sendiri, tercatat AL Taiwan telah memesan sebanyak enam versi anti kapal selam dan Arab Saudi sebanyak tiga kapal yang berbobot lebih besar.

Catatan di atas boleh jadi merupakan nilai lebih, lantaran pesaing untuk dunia "kapal siluman" untuk saat ini hanya dipegang oleh AS dan Swedia. Itupun masih dalam taraf pengembangan dan kalaupun sudah beroperasi, jenisnya lebih kecil. Sebagai contoh adalah Swedia dengan menelurkan apa yang dinamai Smyge. Sayangnya hasil karya Galangan Kapal Visby ini merupakan kapal perang kelas Korvet yang berarti ukurannya lebih kecil. Buktinya panjang Smyge hanya 38 meter. Namun untuk urusan kecepatan, korvet siluman Swedia ini mampu dipacu sampai 30 knots di atas laut. Bandingkan dengan La Fayette hanya mampu menembus angka 25 knots.

Sedang AS yang telah berhasil menciptakan siluman terbang semacam F-117A Nighthawk dan B-2 Spirit masih harus tertatih-tatih dengan kapal siluman Sea Shadow. Kapal perang sepanjang 49 meter ini memiliki dua lambung. Tenaga penggerak dipercayakan pada mesin listrik. Permukaannya benar-benar mulus tanpa adanya tonjolan sedikitpun. Saat berlayar pada kecepatan penuh, antena-antena yang ada disembunyikan dalam tubuhnya. Akibatnya Sea Shadow benar-benar sukar terdeteksi radar, apalagi saat gelombang laut sedang tinggi. Tapi sayangnya siluman laut bikinan Lockheed ini masih dalam taraf percobaan.(avi)



Laporan Utama | Antariksa | Bandara | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media