ANGKASA N0.12 SEPTEMBER 2000 TAHUN X  

Mimpi MenyimpanPhantom di Almari

Mitos HasegawaPhantom di Almari


  Laporan Utama
Airline
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Hobi
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Militer
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
HOBI  

Mimpi Menyimpan Phantom di Almari

Mimpi pesawat tempur canggih parkir di dalam ruangan Anda bisa jadi kenyataan. Tak perlu menghamburkan uang jutaan dollar untuk sebuah pesawatnya. Cukup antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah saja, plus ketekunan dalam pengerjaan.

Phantom Bermacam-macam versi model kit Phantom/Foto: Hasegawa

Boleh dibilang hobi dunia kedirgantaraan banyak jenisnya. Sayang, harga yang mahal terlanjur melekat pada dunia ini telah menjadi mitos meski tak selamanya benar. Ada hobi kedirgantaraan yang tak begitu menguras isi kantong kita, yaitu model kit. Lantaran untuk urusan bandrol, berkisar antara puluhan sampai ratusan ribu rupiah untuk model berukuran super.

Beragam jenis

Saat ini beragam jenis model kit beredar di pasaran. Sesuatu yang konon dapat membingungkan bagi orang yang sama sekali belum pernah terjun ke dunia hobi kit. Bagi pemula yang berancang-ancang menjadi modeller, khususnya air combat (pesawat tempur) ada baiknya mencoba versi dasar. Ada beberapa pabrikan model kit yang membuat versi ini. Semisal Hasegawa mengeluarkan versi Basic berskala 1:144. Detilnya tak terlalu njlimet dan cara pemasangan juga cukup gamblang. Sebuah penempur F/A-18 Hornet seri ini setelah jadi, memiliki panjang 10 sentimeter dan lebar tujuh sentimeter. Mungil memang hasilnya. Selain Hornet, ada juga beberapa pilihan lain seperti, F-14 Tomcat, F-15 Eagle, atau heli OH-6 Cayuse.

Masih bagi pemula, selain Hasegawa ada lagi keluaran Dragon, dengan skala yang sama. Tapi karya pabrikan asal Hongkong ini memiliki detail yang lebih oke. Kalau tergila-gila dengan pesawat PD I semacam Sopwith Camel, pabrikan kit asal Korea, Academy menyediakan seri minicraft. Dari segi bandrol seri-seri dasar ini boleh dikata terjangkau kantong. Sebagai gambaran, Basic-nya Hasegawa dihargai rata-rata 15 ribu rupiah.

Bagi yang sudah rada jago, versi basic nyaris tidak ada tantangannya. Para modeller mania yang ditemui Angkasa, umumnya setuju produk Hasegawa berskala 1:72 atau 1:48 yang jadi pilihan. Alasannya desain lebih realistik, detil lebih mumpuni, bahan plastik lebih baik, serta yang utama adalah lebih rumit. Tamiya yang berjaya di kelas armor, mobil, dan RC (Radio Control)/berpenggerak motor terlibas. Walau detil cukup mumpuni, tapi untuk urusan pemasangan lebih mudah, ketimbang seteru senegaranya, Hasegawa. "Pada Tamiya, bagian-bagian yang dirakit paling itu-itu saja", ujar Peter, salah satu modeller air combat.

Dominasi pembuat "dolanan" plastik ini tak melulu asal Jepang. Produk eropa yang banyak beredar di pasaran saat ini adalah Italeri. Variasi pesawatnya lumayan banyak, sekitar 150-an jenis. Dari yang tercanggih seperti F-22 Raptor atau MiG-37 B Ferret sampai pembom tukik jaman PD II, Junkers Ju-57 Stuka. Sayang, pabrikan asal Italia ini tak memperlihatkan koleksi pesawat tempurnya dari PD I. Bagi yang menyenangi pesawat aneh ada baiknya mencoba buatan Testor. Pabrikan asal Amerika ini pernah mengedarkan pesawat jenis Aurora atau U-2 Dragon Lady dengan skala gede. Untuk penggemar pesawat tempur asal Cina (J-fighters), produk Chung Sing Hong bisa dijadikan rujukan. Pabrikan ini mengklaim dirinya sebagai pembuat model pesawat asal Cina dengan mencantumkan label Album of the Chinese Aircraft pada kemasannya. Walau untuk beberapa item seperti model J-5 nya menjiplak persis MiG-15 Fagot keluaran Hasegawa. Sedang pabrikan Zvezda asal Rusia lebih mengkhususkan diri pada model pesawat dari negara itu. Cuma yang ini rada ribet di bahasanya. Dari segi kualitas keduanya terbilang sedang-sedang saja. Untuk urusan bandrol, model dengan skala di atas berkisar antara 30 hingga 700 ribu rupiah. Tergantung juga dengan besar asli pesawatnya.

Tampak asli F-14 Tomcat ini tampak sepeti sesungguhnya dengan latar belakang asap/Foto: Hasegawa

Realistis nomor satu
Model pesawat idaman sudah didapat, kini giliran pembuatan. Soal realistis adalah nomor satu. Umumnya detil pada bagian panel instrumen kokpit yang jadi sasaran. Terutama bagi modeller yang sudah lama terjun di air combat. Seorang modeler bisa berlama-lama mengutak-atik bagian ini. Kesabaran dan ketelitian jadi kuncinya. Selain itu berbagai macam perkakas bantupun turun. Mulai dari kuas berukuran paling kecil, cutter berujung runcing, sampai jarum jahit.

Terus terang saja, bagi yang sudah kawakan, decal (gambar tempel asal pabrikan) panel kokpit dianggap kurang mumpuni. Jadinya panel kokpit pada pesawat model pun diubah full collor. Mirip sekali dengan aslinya. Modal lain yang tak kalah penting buat modifikasi ini adalah buku-buku referensi tentang pesawat yang sedang digarap, baik dari dalam maupun luar negeri. Akibat lainnya pengerjaan detil bisa jadi menjalar ke bagian lain kokpit. Maka jangan heran kalau ditemui juga seat belt, kaca spion, dan kait kaca kanopi pada sebuah pesawat model.

Tapi cita-cita ini tak selamanya terwujud dengan mulus. Tak jarang ditemui kendala. Asalnya tak selalu dari manual pembuatan yang kurang jelas, tapi bisa saja berasal dari bagian (parts) yang kurang pas dari sananya. Hal yang pernah dialami Peter sewaktu merakit Hunter keluaran Academy. Ruang kokpit jet tempur asal Inggris berskala 1:48 itu kegedean. "Kalau pesawat ini benar-benar asli, orang setinggi apapun tak bakal sampai ke pedal kendali", ujar Peter yang juga pemilik toko hobi Peter & Partner ini. Akibatnya model Hunter ini pun teronggok begitu saja, tak terjamah diantara 150-an buah koleksi air combatnya.

Bagian yang kurang pas kadang-kadang masih bisa diatasi dengan kerajinan tangan atau akal-akalan. Simak saja pengalaman yang pernah dialami Andre. Modeller yang bermarkas di bilangan Cipinang ini pernah mendapatkan model yang tak lengkap parts-nya. Tak main-main, bagian kaca kokpit F-4 J-1 Fury berskala 1:48 keluaran Matchbox tak ditemuinya dalam kemasan. Puyeng dan model idaman sama-sama didapat. Dibutuhkan waktu kurang lebih tiga tahun setelah seluruh badan Fury rampung untuk berburu bagian vital ini. Itupun bukan berasal dari model pesawat yang sejenis. Kaca kokpit F-16 Fighting Falcon berskala sama keluaran Tamiya yang akhirnya dipakai.

"Kebetulan ada teman yang lagi buat F-16 B, jadi kokpit untuk versi A-nya nggak terpakai", cerita Andre yang memilik 90-an koleksi air combat dari berbagai jenis.

Kebetulan lagi kedua pesawat ini punya model kokpit yang hampir sama yaitu bubble like (kokpit model gelembung). Setelah bagian depan dipangkas plus sisi kanan-kiri dirapikan maka lengkaplah kini model kit pemburu yang merupakan versi AL dari Sabre itu. Memang tak ada salahnya untuk memeriksa bagian model kit yang akan kita boyong.

Thunderbolt dan Lightning Pesawat P-47 Thunderbolt dan P-38 Lightning model kit era PD II yang disediakan oleh pabrikan/Foto: Hasegawa

Fanatik pesawat sejenis

Selain detailing, fanatik terhadap satu jenis pesawat juga menghinggapi modeller. Maka tak aneh kalau seorang modeller yang terjangkit penyakit ini akan terus memburu model pesawat tertentu. Iwan Winarta merupakan salah satu contoh. Modeller satu ini keranjingan F-14 Tomcat. Ada 28 buah model dari berbagai skadron yang telah dimilikinya. Mulai VF-1 Wolfpack sampai VF-41 Black Aces, skadron yang merontokkan Sukhoi Su-22 Fitter AU Libya pada Insiden Teluk Sidra (1981). Aslinya dilingkungan AL Amerika ada sekitar 31 skadron Tomcat. Separuh dari koleksi yang sebagian besar keluaran Hasegawa itu masih antri untuk dibuat. "Pinginnya sih buat Tomcat klub", ujar Iwan ketika ditanya alasan mengumpulkan model pesawat pemburu yang berhabitat di kapal induk itu.

Sebenarnya tak cukup sulit untuk mewujudkan keinginan tadi. Beberapa pabrikan model kit memang sengaja mengeluarkan produk untuk mendukung hal ini. Hasegawa misalnya, untuk model F-16 berskala 1:48 (seri V) saja mengeluarkan sampai tujuh jenis. Tentu saja seri ini bakalan berlanjut terus sejalan dengan pengembangan pesawat aslinya. Belum terhitung yang berskala 1:72. Tak hanya itu, penyakit mania ini juga menyebar ke pernik-pernik lain yang berhubungan dengan jenis pesawat itu. Mulai dari buku-buku, baju, topi hingga asesoris lainnya.

Fanatisme juga memicu diselenggarakan kegiatan ajang pamer model satu jenis pesawat di dalam negeri. Contohnya acara "Bulan Phantom" (Phantom Month) yang digelar sepanjang bulan Agustus di Peter & Partner Hoby Shop, Mall Taman Anggrek. Walau tanpa dipayungi sponsor, tapi acara spontan mengumpulkan kaum mania keluarga F-4 Phantom ini lumayan bisa berjalan. Buktinya lebih dari 20-an versi Phantom turut ambil bagian. Memang sih jumlah segini masih belum sebanding mengingat pesawat aslinya dibuat total sebanyak 67 blok (versi). "Rencananya acara ini dibuat berkala dan bervariasi", ujar Alexander Sidharta, modeller air combat yang juga provokator acara Phantom Month itu.

Setelah ajang pamer Phantom ini rampung, rencananya bakalan disusul acara Desert Strom. Ajang kumpul pesawat tempur yang dipakai dalam operasi membabat Irak. Mau ikutan mejengin pesawat model? Silahkan saja, wong tidak dipungut bayaran kok, alias gratis saja. (avi)


Laporan Utama | Airline | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Hobi | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Militer | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media