|
| |
 | KISAH NYATA
|
|
Mereka Dibesarkan P-51 Mustang
Kalau ditotal selama Perang Dunia II, dari kokpit P-51
Mustang lahir 276 jago perang udara. Dari yang hanya merontokkan 5 pesawat hingga 23 pesawat. Mereka biasa disebut
aces.
Petie 2nd, Mustang andalan John C Meyer/Foto: P-51 Mustang Aces
|
Ketika sang dewa judi terdesak, segera dilemparkannya kartu andalannya ke meja judi. Tak lama berselang, lawanpun
keok. Adegan permainan judi kelas kakap ini bukan sungguhan, hanya satu potongan dari film yang dibintangi Chou Yun Fat dibawah titel
God Of Gambler. Kartu yang dilemparkan si dewa judi berlambang jantung
(heart) di bagian tengah ini, biasa disebut as
(ace). Di jaman ketika para tentara berbaju besi sambil mengendarai kuda masih menabuh genderang perang di dataran Eropa, mereka adalah
segelintir orang-orang pilihan yang mendapat penghormatan khusus. Tidak semua tentara berhak menyandang gelar ini. Pria-pria pemberani ini biasa dipanggil ksatria
(knight). Di Indonesia lalu muncul istilah-istilah macam jawara atau pendekar.
Tapi ditemukannya beberapa inovasi baru di awal abad 20, telah mengubah secara cepat alat-alat perang. Perang Dunia I (PD I) dilanjutkan PD II, memberikan kesadaran baru kepada para pemikir strategi militer akan pola pertempuran modern.
Penggunaan pesawat terbang menjadi tak terhindarkan. Gempuran demi gempuran pesawat tempur memberikan kemenangan besar bagi negara yang menguasai teknologi penerbangan dan memiliki jumlah pesawat lebih banyak.
Dari sekian banyak peperangan udara, kemudian lahir pribadi-pribadi seperti halnya para ksatria. Mereka ditakuti dan menjadi roh bagi timnya. Nama-nama besar jago-jago perang udara seperti Eddie Rickenbacker, W Lambert, Manfred Von Richthofen, atau
Red Baron, tak akan pernah terlupakan. Seperti juga para ksatria atau jawara, mereka dijuluki ace. Pilot-pilot ini dihormati, karena sebelum layak dipanggil ace mereka telah menembak jatuh paling sedikit lima pesawat jumlah minimal yang disepakati beberapa
negara termasuk Amerika.
Gelar ace biasa diklasifikan berdasarkan medan pertempuran, jenis pesawat, atau wilayah pertempuran. Seperti aces PD I, aces F-4
Phantom, atau aces bangsa Asia. Gengsinya juga bisa naik atau turun, tergantung pesawat apa yang ditembak. Sekelas atau
tidak. Kali ini kita simak dua jago perang udara yang lahir dari salah satu dari sekian pesawat yang pernah ditakuti, North American P-51
Mustang.
George E Preddy, Jr aces kebanggaan rakyat Amerika/Foto: P-51 Mustang Aces
|
George E Preddy, Jr Letkol John C Meyer, ace P-51 lainnya dengan 21 kemenangan dan menjadi komandan Preddy di Grup Tempur 352 Skadron 34 pernah berujar, "Dialah
fighter terbesar yang pernah dilihat orang."
Dalam buku P-51 Mustang Aces, Combat Biographies of Fifty-five Legendary World War II P-51 Fighter
Aces (1991), Mayor George E Preddy dikenal sebagai ace dari semua aces untuk pesawat yang di Indonesia pernah disebut si "cocor merah".
Dialah bintangnya Mustang dengan 23,83 kemenangan. Tapi apakah memang dia terlahir sebagai bintang?
Setelah melakukan interviw terhadap penerbang barunya, John C Meyer bergegas mendatangi Jack Donaldson seseorang yang dikenal Preddy di wilayah Pasifik dan merekomendasikannya bergabung dengan Grup Tempur 352. "Apakah kamu yakin dia
orang yang tepat untuk skadron ini," tanya John kepada Donaldson. Mungkin, Meyer ragu akan kemampuan pria di depannya. Kecil, kurus, bermata besar, dan sikapnya hampir membosankan.
Usai invasi Jerman ke Polandia di bulan September 1939, Preddy mulai berpikir soal karirnya. Dia sangat ingin menjadi penerbang angkatan laut. Sayang, tiga kali dicobanya, sebanyak itu pula catatan kegagalannya. Padahal apa kurangnya,
pilot license sudah dikantongi. Mungkin jadi bisa dipahami, kenapa Meyer punya pertanyaan sinis kepada Donaldson. Preddy tidak memenuhi persyaratan dari segi fisik, begitu jawaban pihak AL. Karena kesal, dia memutuskan melakukan perjalanan berkeliling selama musim panas
tahun 1940. Ternyata, upaya menenangkan hati ini menjadi terapi yang sangat menakjubkan dalam perjalanan hidup Preddy kemudian.
Dia memutuskan mencoba masuk program penerbangan AD. Kali ini, entah keajaiban dari mana, dia diterima. Pihak AD menyatakan dia lulus baik dari segi pisik maupun mental. Sebelum menempati posisinya dan, agar memperoleh pengalaman di
dunia kemiliteran, Preddy bergabung di Army National
Guard dan ditugaskan pada kesatuan Artileri Pantai 252. Barulah pada April 1941, Preddy mendapat kesempatan mengikuti sekolah terbang. "Terlampaui sudah penantian yang begitu lama," gumamnya.
Tidak lama kemudian, saat Amerika tengah dilanda perang, Preddy mendapat penyematan wing penerbang seiring kelulusannya tanggal 12 Desember 1941. Pada bulan yang sama, dia ditempatkan di Grup Pemburu 49, Skadron 9, di Australia. Selama di
Australia, Preddy ikut dalam beberapa misi tempur dan berhasil merusakkan dua pesawat Jepang sebelum penugasannya diakhiri akibat sebuah peristiwa tragis. Pesawat yang diterbangkannya bertabrakan di udara dengan salah seorang rekan satu skadronnya. Penerbangnya
tewas, sementara Preddy mengalami cedera yang cukup serius hingga harus dirawat beberapa minggu di rumah sakit. Pada bulan Oktober 1942, tiga bulan setelah petaka itu, Letnan Preddy dipulangkan ke Amerika.
Tanggal 27 Oktober 1942, Preddy memulai dinasnya di Pangkalan Hamilton, California. Perihal laporan kejadian di Australia itu, dua bulan Preddy menghabiskan waktunya untuk melobi otoritas penerbangan AD AS agar kembali dizinkan terbang. Barulah
di akhir tahun, dia dibolehkan melapor ke Pangkalan Mitchel, New York, untuk
kemudian menerima perintah bergabung dengan Komando Tempur I. Dari sana dia dikirim ke Pangkalan Westover, Massachusetts, untuk bergabung dengan skadron tempur. Di sinilah
awal bersinarnya bintang Preddy. Karena di Westover dia bertemu dengan kenalan lamanya Donaldson yang kemudian merekomendasinya bertemu Meyer.
"We will see, we will see," ujar Donaldson berkali-kali kepada Meyer yang baru mewawancarai Preddy.
Tapi begitulah yang namanya "jagoan". Kalau memang ditakdirkan menjadi jago, ya jago. Padahal semasa masih di kampung halamannya di Greensboro, Karolina Utara, tidak sedikit yang mencegahnya ketika berniat bergabung dengan tim-tim olahraga
lokal. Hanya tim olahraga. Soalnya yaitu tadi, posturnya. Di SMA-nya Preddy tergolong siswa pintar. Buktinya, dia lulus pada usia relatif muda, 16 tahun. Minatnya terhadap penerbangan yang sudah ditekuninya sejak SMA, disalurkannya dengan masuk
flying school. Sampai akhirnya saat menerbangkan pesawat pertama (solo), Preddy sudah menanamkan dibenaknya untuk menjadi penerbang. Dalam tahun itu juga, Preddy memperoleh
pilot license. Sebagai pemilik kedua pesawat Waco-10, Preddy menghabiskan waktunya selama musin
panas 1939 sebagai penceramah soal ke-pilot-an.
Pada musim panas tahun 1943, Grup 352 mengirim Preddy ke Inggris. Di sana dia bergabung dengan AU ke-8. Grup 352 mengawali debutnya di palagan Eropa tanggal 9 September 1943. Preddy langsung diterjunkan. Kali inilah, pada tanggal 1 Desember
1943, bersamaan dengan tibanya P-51B pertama di Inggris, dia mengukir skor pertama dengan menjatuhkan sebuah Messerchmitt Bf-109 di Rheydt. Kesuksesan pertama ini seperti memberi keyakinan, bahwa dia akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Tapi Preddy
sempat keluar sesaat dari perang pada 26 November, ketika bermasalah dengan pesawatnya, Republic P-47
Thunderbolt.
Dewi fortuna seperti berpihak kepadanya. Kemenangan mulai berpihak kepadanya sejak era P-47. Ketika beralih ke P-51 yang dinamainya
Cripes A' Mighty, Preddy sudah mengantongi tiga kemenangan. Di grup barunya 487, ace tertinggi masih dipegang
Virgil Meroney dengan sembilan kemenangan. Sementara John Meyer dan Preddy masih yang kedua. Selama berkecamuknya PD II di palagan Eropa, Inggris menerima 1.000 P-51 yang disebut Mustang Mk III.
Dengan menerbangkan Mustang, Preddy semakin lebih hebat. Dia kembali mendapat pesawat baru, P-51B yang "dibaptisnya" dengan nama
Cripes A' Mighty 2nd. Antara 11 April - 12 Juni 1944, dia menambah rekor menembak pesawat musuh di udara jadi 4,33
dan empat di darat yang mendongkrak rekornya menjadi 11,33. Pada pertengahan Juni, Grup 352 menerima seri terbaru P-51D. Pesawat dengan nomor seri 44-13321 ini dinamainya
Cripes A' Mighty 3rd.
Kemenangan pertamanya dengan Cripes 3rd diperolehnya pada tanggal 20 Juni. Saat merontokkan sebuah Focke Wulf FW-190 dan mengeroyok sebuah Me-104 dengan Letnan James Woods, Preddy dalam misi pengawalan pemboman ke Magdeburg, Jerman. Hampir
sebulan kemudian, rekor Preddy tidak bertambah. Tapi selama misi pada tanggal 18 Juli 1944, dia kehilangan kesempatan. Ketika tiba di sekitar Warnemunde, formasi Grup 352 bertemu formasi 40 pesawat Me-210 dan Junkers Ju-88 dengan pengawalan Me-109, pesawat yang
menggetarkan selama PD II dan diproduksi mencapai 35.000 pesawat. Preddy memimpin flight tempurnya, sementara penerbang yang lain menunggu kesempatan terbaik yaitu ketika pesawat lawan menjauh dari
escort-nya.
Preddy mendekati Ju-88, tapi bukan itu yang ditujunya. Karena sebenarnya dia lagi membidik Me-109 hingga menjatuhkannya. Baru kemudian dia alihkan perhatiannya kepada Ju-88. Tiga Junkers hancur, sementara dua lainnya rusak. Sampai akhir misi, Grup
352 menghancurkan 21 pesawat dan kehilangan hanya dua pesawat.
Tanggal 18 Juli, kembali Preddy menambah nilai 2,5 pada total rekor kemenangannya. Pada misi tanggal 6 Agustus 1944 menghadapi Luftwaffe, Preddy semakin memperbesar prestasinya. Karena kehebatannya, Preddy mendapat
Distinguished Service Cross atas keberaniannya.
Setelah kepulangannya ke Bodney di bulan Oktober 1944 dengan segudang kemenangan, Preddy langsung diserahi jabatan komandan Skadron 328. Mereka berharap, kehadiran Preddy mampu memberikan semangat baru di skadron. 38 kemenangan diraih
Grup 352 sejak bergabungnya Preddy. Dari sekian rekor, 25 diantaranya dipersembahkan oleh Preddy. Sampai disini rekornya penuh 26,83.
Beberapa bulan berikutnya, AU Jerman menghindari terbang malam. Pertemuan AU Jerman dengan armada Amerika baru terjadi lagi tanggal 21 November. Grup 352 mengklaim merontokkan 22,5 dimana 8,5 diantaranya diklaim Grup 328. Termasuk satu
FW-190 yang ditembak Preddy.
Bertepatan dengan Hari Natal 1944, Mayor Preddy memimpin Skadron 328 keluar dari Asch yang akan menjadi misi terakhirnya. Menjelang misi ini, mereka bertemu pesawat musuh di sekitar Koblenz dan menjatuhkan 11 pesawat. Preddy menjatuhkan
dua pesawat yang menambah kemenangan dog fight-nya menjadi 26,83 dan total 31,83.
Sampai pada satu hari, Preddy dan wing man-nya Letnan Cartee terbang ke Liege. Di tengah jalan, mereka bergabung dengan Letnan Jim Bouchier dari Grup Tempur 479. Ketika mendekati tujuan, mereka
diperingatkan akan berondongan meriam penangkis
serangan udara Amerika, yang dikhawatirkan mengenai mereka
(friendly fire). Tapi mereka jawab, "Kami akan terbang tinggi saat memasuki wilayah musuh." Mereka terbang ke arah tenggara dari Liege, ketika Preddy membidik sebuah FW-190 yang terbang rendah. Memang
kemudian jatuh, tapi sebelum merontokkan, Preddy terbang
tree-top-level untuk memburu FW-190. Saat bersamaan, meriam anti pesawat menerjang dari bawah. Preddy telat, beberapa peluru menghantam pesawatnya.
Pesawat Preddy dan Bouchier tertembak. Untung Boucher masih sempat kabur, lalu
bail out. Bagaimana Preddy? Dia tidak beruntung. Pesawatnya jatuh menghujam tanah. Ketika personil meriam penangkis serangan udara mencari P-51 Mustang Preddy
yang jatuh, mereka mendapatkan sang jagoan sudah terbujur kaku di kokpit. Preddy terkena dua kali tembakan kaliber 50. Diduga, dia telah gugur pada saat pesawatnya tengah melayang jatuh.
Berita gugurnya Preddy segera merebak. Bekas komandannya sekaligus sahabatnya John C Meyer hanya bisa berujar singkat, "Semangat tim sangat terpukul dengan gugurnya Preddy."
John C Meyer (kanan)/Foto: P-51 Mustang Aces
|
John C Meyer Kenangan soal John C Meyer adalah hikayat seorang pahlawan besar bangsa Amerika. Karir militernya dipenuhi dengan aksi, keberanian, kepemimpinan, dan kepiawaian. Selain sebagai anggota Grup Tempur 352 selama PD II, dia juga ace dengan skor
tertinggi di AU Kedelapan (Eigth Air Force) dengan 24 kemenangan di udara dan menghancurkan 13 pesawat di darat. Sedangkan kemampuannya sebagai komandan, terbukti dengan anugerah pemegang skor tertinggi di Skadron 487 sebagai bagian dari Grup Tempur
352. Termasuk menelurkan 22 aces, dan menjadi satu-satunya skadron di AU Kedelapan yang meraih penghargaan
Distinguished Unit Citation.
Karir militer Meyer berawal pada tahun 1939, ketika dia "ditendang"
(dropped out) dari Universitas Dartmouth pada semester kedua. Dari sana, dia memutuskan bergabung dengan Korps Udara AS (USAAC). Pangkat letnan dan wing penerbang diterimanya
bulan Juli 1940 dan langsung mengawali karir sebagai
flight instructor. Jabatan ini dipegangnya sampai akhir Oktober 1941, ketika Meyer mendapat kenaikan pangkat menjadi letnan satu dan segera ditugaskan untuk bergabung dengan Grup Pemburu 33 di Islandia.
Meyer menerbangkan P-40 Kitty Hawk untuk misi-misi patroli pertahanan di sekitar Islandia.
Setelah setahun di Islandia, dia dipulangkan ke Amerika dan diterima di Grup Tempur 352 di Pangkalan Westover, Massachusetts. Di sini dia dipercaya sebagai komandan Skadron 34 kemudian jadi Skadron 487. Januari 1943, dia dipromosikan menjadi kapten.
Bulan Juni 1943, Grup Tempur 352 dikirim ke Inggris untuk bergabung dengan AU Kedelapan. Misi tempur pertama mereka lakukan tanggal 9 September. Pada misi berikutnya, tanggal 26 November, Meyer menembak jatuh sebuah Me-109. Misi ini
benar-benar miliknya Meyer yang menerbangkan P-47 dengan nama
Lambie. Tapi dengan masuknya P-51B, Grup 352 dan Meyer seperti mendapat napas baru.
Peluang pertama Meyer untuk menguji ketangguhan dog fight-nya, terjadi di atas Perancis 10 April 1944. Walau menghadapi AU Jerman yang kuat, mereka sanggup membuat skor 7. Dari perang ini, Meyer akan diingat sebagai orang pertama yang
menggempur pesawat musuh. Namun selama bulan April, tidak satupun korbannya. Sampai akhirnya dalam sebuah misi, dia putuskan mengubah arah ke sebuah pangkalan Jerman. Di sana,
di-strafing-nya pesawat-pesawat Jerman. Alhasil, Meyer meraih 7,5
victories dalam sebulan. Rekornya menanjak jadi 10,5 kemenangan. Dengan menyandang gelar ace, Meyer dipromosikan menjadi letnan kolonel.
Namun momentum prestasi momentum Meyer dimulai bulan April hingga Mei. Khusus misi pada bulan Mei, sangat mengesankan. Saat itu Grup 352 mendapat tugas mengawal pembom ke Brunswick. Ketegangan berawal ketika mereka tengah mencari titik
temu (rendesvouz) di tengah-tengah perang udara yang baru saja dimulai. Dalam keadaan genting begitu, mereka bertemu dengan 100-150 pesawat tempur Jerman. Perang udara tidak terhindarkan. Kedua kekuatan saling beradu. Mereka menyebut berhasil membukukan
27 kemenangan. Skadron 487 menjadi jago dalam dog fight yang berlangsung hampir sejam, dengan menjatuhkan 15 pesawat. Tiga diantaranya korban kehebatan Meyer. Perihal kehebatannya ini, Meyer dianugerahi
Distinguished Service Cross.
Empat hari kemudian, tepatnya 12 Mei, Meyer menambah total kemenangannya menjadi 15,5 dengan menjatuhkan sebuah Me-109 dalam pertempuran udara dekat Frankfurt. Usai menembak jatuh Me-109, Meyer menerjang
twin engine Heinkel He-177 yang diparkir di pangkalan.
Ibarat pejuang besar, dia kembali dengan kebanggaan di dada ke Bodney pada 2 Agustus dan segera dipromosikan menjadi komandan Skadron 487. Tidak lama kemudian, tugas kembali memanggilnya ke Perancis. Sial, dalam pertempuran tanggal 13 Agustus,
P-51-nya yang dinamai Petie 2nd, tertembak meriam anti serangan udara yang mencederai Meyer. 12 hari kemudian setelah istirahat secukupnya, Meyer kembali menggebrak dengan merontokkan dua pesawat musuh dan merusakkan dua pesawat lainnya di
pangkalan Neubranden. Semua kemenangan ini, diraihnya dari balik kokpit P-51D Petie 2nd.
Pada misi kesepuluh, sekitar bulan September, ketika Meyer menerbangkan P-51 George
Cripes A' Mighty 3rd Preddy, empat pesawat musuh berhasil diterjangnya dengan senapan mesin di aerodrome Wertheim. Kemenangan terakhir ini, menempatkan
Meyer setingkat di bawah Preddy 29 kemenangan dengan 25 kemenangan.
Sebagai "jagoan" dari Grup B 352 dengan P-51D
Petie 3rd setelah sebelumnya sempat menjabat sebagai wakil komandan di markas besar grup hingga tidak bisa terlibat dalam beberapa misi Meyer hampir tidak pernah absen dalam setiap operasi. Ketika
suatu hari dalam sebuah formasi dekat Merseburg, Meyer dikagetkan oleh serangan tiba-tiba pesawat musuh. Laga udara mestinya tidak seimbang, karena Meyer hanya membawa 12 pesawat. Sementara musuh mencapai 40 pesawat. Tapi dia punya akal, dia harus
membuat kejutan. Meyer membuat manuver menyerang, pesawat musuh diterjangnya. Saat bersamaan, dikontaknya pesawat yang lain untuk segera bertindak. Dalam duel yang tidak seimbang itu, mereka mengklaim menembak 23 pesawat musuh di udara. Tiga diantaranya
oleh Meyer. Tidak disebutkan berapa korban dari pihak mereka. Untuk itu,
Distinguished Service Cross kedua diperolehnya.
Kemenangan terakhir diperoleh Meyer pada tanggal 27 November 1944. Saat itu dia masih berbasis di Bodney. Bersama wingman-nya, Meyer menghancurkan tiga Me-109 di pangkalan dekat Munster. Sebuah pesawat lainnya berusaha kabur dan terbang menjauh.
Tapi Meyer tidak membiarkan korbannya lari. Dengan segera dikejarnya dan menembak jatuh. Sementara wingman-nya, Kapten Ralph Hamilton mengaku menembak jatuh dua pesawat lainnya.
Dalam beberapa hari ke depan, udara bersih dari pesawat. Tak satupun peperangan udara. Kekosongan ini memberi kesempatan kepada Jerman untuk memberi kamuflase kepada pesawatnya. Jerman tengah mematangkan rencananya melakukan serbuan
besar-besaran ke hutan Ardennes di Belgia. Ketika kekuatan Jerman menggelar operasi tanggal 17 Desember itu, AD Sekutu menderita kerugian besar. Sekali lagi, Grup Tempur 352 dikirim. Mereka tiba di Belgia tanggal 23 Desember.
Grup 352 menggebrak habis-habisan selama beberapa hari. Sebelas kemenangan dicetak bertepatan pada Hari Natal, walau harus mereka bayar mahal dengan gugurnya George Preddy. Total lebih 13 kemenangan pada tanggal 26 Desember. Dalam kesempatan itu,
Meyer menghancurkan 2,5 pesawat musuh. Pada misi berikutnya, 27 Desember, Meyer mengaku bahwa dua dari anggota Grup 15 terbunuh. Kemenangan terakhir diperoleh Meyer pada tanggal 31 Desember, ketika dia menghancurkan sebuah pembom jet Arado Ar-234 dekat Bonn.
Pada Tahun Baru 1945, AU Jerman menggelar serangan udara balasan besar-besaran terhadap sekutu di pangkalan udara di Belgia dan Belanda. Serbuan ini menghancurkan sekitar 150 pesawat Sekutu. Sementara Sekutu hanya menghancurkan 23 pesawat
musuh, yang sepenuhnya didukung Skadron 487 pimpinan Meyer. Banyak para mantan awak
Bluenosers hidung pesawat mereka dicat biru memuji, bahwa perang ini sangat hebat sekali. Kepemimpinan Meyer terbukti di sini. "Dia berbadan besi," kata Jim
Bleidner. Serangan Tahun Baru Jerman, sebenarnya, sudah diantisipasi Meyer. Buktinya, beberapa hari sebelumnya, dia sudah melarang semua pilotnya
begadang dan meminum minuman keras. Ternyata betul, ketika semua air awak lemas karena kurang tidur, Jerman
mengambil kesempatan.
Seperti juga dalam sebuah misi di suatu subuh. Meyer sebenarnya tidak punya
schedule hari itu, tapi perasaannya tidak enak. Untuk itu, dia meminta komandan AU Kesembilan mengizinkannya membawa 12 Mustang melakukan patroli. Hanya beberapa
saat setelah dia melakukan putaran ke kiri, Meyer melihat 15 pesawat musuh mengarah ke dia. Benturan di udara kembali terjadi. Meyer mengaku menembak jatuh untuk pertama kali hari itu, setelah sebelumnya menjatuhkan sebuah FW-190 di sekitar Liege. Dua
pesawat korban Meyer ini menambah kemenangannya menjadi 24. Sementara ke 11 pilot lainnya mengikuti kehebatan komandan mereka dengan membukukan 21 kemenangan di udara. Kesuksesan hari itu, memberikan Meyer penghargaan Distinguished Service Cross
ketiga. Sementara Skadron 487 memperoleh Distinguished Unit
Citation.
Usai misi keduanya tanggal 1 Januari 1945, Meyer diberitahu soal penempatan barunya. Sayang sekali, nasibnya belum mujur, karena sebuah kecelakaan lalu lintas membatalkan promosinya. Namun John C Meyer tetap terlibat dalam beberapa misi sampai
usai PD II, seperti Perang Korea. Di sini, dia bergabung dengan Wing Pencegat Tempur 4 yang diperkuat F-86
Sabre dan terlibat dalam 31 misi. Selama Perang Korea, Meyer menembak jatuh dua MiG-15 yang melengkapkan kemenangan duel udaranya menjadi 26.
Setelah Perang Korea, Meyer meraih karir puncaknya dengan menyandang empat bintang dipundak. Dia menjabat Wakil KSAU AU AS
(Vice-Chief of Staff of the USAF) dan Komandan Komando Udara Strategis. Meyer mengakhiri karirnya dimiliter pada
tahun 1974 setelah mengabdi selama 35 tahun. Hanya setahun kemudian, tepatnya tanggal 2 Desember 1975, Meyer wafat dengan meninggalkan sebuah sejarah panjang yang tak akan terlupakan sebagai ace kedua pesawat P-51 Mustang, pesawat yang pernah
diproduksi mencapai 15.686 unit.(ben)
|