ANGKASA N0.12 SEPTEMBER 2000 TAHUN X  

Leasing Kuasai Pasar Airlines


  Laporan Utama
Airline
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Hobi
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Militer
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LIPUTAN KHUSUS  

Leasing Kuasai Pasar Airlines

Perusahaan leasing mencetak rekor dalam pameran Farnborough 2000. Dari transaksi 50 milyar dollar AS yang ditandatangani, 33 milyar dollar merupakan porsi leasing company. Namun arena pameran berlangsung Juli lalu dekat London, Inggris tidak terlepas dari nuansa "perang" antara Airbus versus Boeing.

BBJ Boeing menawarkan Boeing Bussiness Jet 2 berbasis jet Boeing 737-800 yang lebih luas 25 persen kabinnya/Foto: Boeing

Dua kontrak yang menonjol adalah keberhasilan Airbus menggaet kontrak bernilai 4,8 milyar dollar untuk pesawat ultra-gede A3XX dan 17 milyar dollar bagi A400M, produk yang bakal dibuat oleh Airbus Military Company (Flight International 8-14 Agustus).

Boeing maupun Airbus mulai pula menjamah sektor bizjet dan regional jet yang sebelumnya hanya dilirik sebelah mata. Tentunya porsi menggiurkan pesawat gede A3XX versus 747X tidak dilepas mereka. Dalam pasar militer, mereka saling menjagokan A400M dan Boeing C-17. Baru kali ini, kedua raksasa bertarung dalam pasar corporate jet atau dikenal pula dengan sebutan bizjet.

Boeing mengandalkan pesawat BBJ Boeing Business Jet. Airbus Industrie menyodorkan A319CJ (Corporate Jet). Tidak heran, sebab global fractional business jet ownership sedang marak, menjadi pemicu mengalirnya pesanan regional jet dan bizjet dalam pameran Farnborough 2000.

Kedua pabrik pesawat dari Amerika Serikat dan Eropa ini, memang terlalu sibuk menawarkan burung besi raksasa udara yang bakal merajai langit dunia Airbus Industrie dengan A3XX dan Boeing dengan jumbojet derivative 747X (Angkasa edisi Agustus 2000). Pada penutupan pameran total penjualan seluruh produk mereka mencapai 30 milyar dollar AS, dan mereka saling menyatakan mengungguli lawannya.

Meski utamanya adalah jumbojet 500 penumpang ke atas, bukan berarti kelas bawah macam bizjet tidak disentuh. Airbus menyodorkan A319 Corporate Jet, sementara Boeing dengan pesawat seharga 46-50 juta dollar Boeing Business Jet B-737 melampaui target penjualan. Lebih dari 56 unit terjual, belum terhitung pesanan yang ditunda pengumumannya hingga pameran National Business Aircraft Association bulan September ini di AS.

Harrier Harrier tetap menjadi perhatian pengunjung pameran/Foto: AW&ST/Mike Vines

Satu milyar dollar
"Kami tidak bisa memproduksinya lebih cepat (untuk memenuhi permintaan pasar)," tulis Aviationweek and Space Technology (7/8/2000) mengutip pejabat Dassault Aviation yang membuat bizjet Falcon 900EX dan Falcon 2000, memberi gambarannya.

Gambaran lebih konkret adalah pesanan 1 milyar dollar AS yang diterima pabrik Kanada Bombardier Aerospace bagi pesawat regional jet barunya, CRJ900 yang belum diproduksi. Pesanan 604 unit (104 pasti dan 500 opsi) digaet CRJ700 yang dipamerkan pertama kali oleh Bombardier dalam suatu pameran dirgantara.

Cessna, Gulfstream and Raytheon selain pertengahan tahun ini telah menyerahkan ratusan bizjet diantaranya Raytheon telah menyerahkan 282 unit, Bombardier 116 pesawat bakal melampaui produksi tahun lalu dari pesanan yang mereka terima selama pameran. "Yang terpenting, kita menyaksikan disini bahwa produk kami diminati baik oleh pasar domestik maupun pasar internasional," Bill Boisture, Presiden Gulfstream Aerospace menimpali.

Permintaan terbesar datang dari AS, tapi Dassault menggambarkan minat akan bizjet juga menaik di Eropa. Sebagai gambarannya, 10-25 persen dari penjualan tahunan mereka, merupakan sumbangan dari fractional ownership business jet.

Pasar Pacific Rim diramalkan bakal pula menjanjikan tapi sebegitu jauh pasar ini belum bergeliat seperti yang diharapkan para pembuat pesawat bizjet. "Tidak perlu tergesa-gesa. Begitu pasarnya menggeliat, kami pasti akan hadir disitu. Sementara ini kontrak cukup banyak dari pasar yang ada dan kami sudah cukup puas, " kata seorang eksekutif.

Sambil jalan memenuhi pasar sekarang dan menanti kawasan Palung Pasifik terbuka, Bombardier, Raytheon dan Cessna tengah mengembangkan pesawat baru, ada yang sudah dalam proses sertifikasi, lainnya terus dikembangkan dan disempurnakan.

Raytheon tidak tanggung-tanggung, menghadirkan tujuh produknya termasuk pesawat ringan Beech 1900D, Hawker 800XP, King Air 350, Beechjet 400A, King Air 200, Premier 1 dan Baron 58. Cessna tidak mau kalah, memboyong ke pameran pesawat Citation CJ1, Citation X, Grand Caravan, Citation Bravo, Citation Excel, Cessna 206, Cessna 182S dan Cessna 172.

Pabrik Kanada Bombardier menawarkan CRJ 700, Dash 8 Q400, Challenger 604 dan Global Express. Embraer dari Brasil memamerkan ERJ-145, ERJ-140, EMB-120 Brasilia dan ERJ-135. Sementara Fairchild Dornier dari Eropa coba merebut pasar dengan 328JET. Pabrik AS lainnya, Gulfstream menawarkan produk mutakhirnya, G-V disamping produk sukses Gulfstream IV-SP yang ditawarkan dengan mesin irit bahan bakar Tay buatan pabrik Inggris Rolls-Royce agar bisa menempuh jarak lebih jauh.

Untuk lebih menarik lagi, Gulfstream menawarkan kokpit dan peralatan navigasi yang bakal meningkatkan unsur keselamatan dan kemudahan bagi pilot, diantaranya dengan Northstar Technologies CT-1000 Flight Deck Organization System.

Boeing seperti disebut sebelumnya, juga tidak mau ketinggalan dengan BBJ-nya, menawarkan BBJ 2, yakni pesawat standar Boeing 737-800 dengan ruang kabin lebih luas 25 persen dan ruang bagasi yang lebih luas lagi dari versi pertama. Juga dijajagi corporate jet BBJ 3 dengan harga dua kali lipat, mengambil dasar jet penumpang Boeing 757-200 tapi dengan sayap dari 757-300 agar pemiliknya bisa terbang sejauh 7.000 mil laut. Kabin BBJ 3 ini lebih luas 25 persen daripada BBJ 2.

Pesaingnya, Airbus Industrie belum seagresif Boeing dalam bizjet, hanya menawarkan A319 Corporate Jet yang contohnya diperagakan statis di pelataran parkir. Corporate jet pertama Airbus tersebut, pertama diperkenalkan kepada pers bulan Mei lalu di Toulouse, Perancis selatan. Airbus bisa dikatakan dalam sektor ini, kalah langka dengahn Boeing yang dalam pameran berhasil membukukan lebih dari 56 pesanan.

Dua besar
Keberhasilan penjualan corporate jet juga tidak terlepas dari peran perusahaan leasing. Dua besar yakni International Lease Finance Company (ILFC) dan GE Capital Aviation Services (GECAS) memborong pesanan terbesar 80 persen dalam nilai uang dan 87 persen dalam bentuk pesawat untuk seluruh transaksi di Farnborough.

Khususnya sektor regional jet, misalnya pesanan GECAS mencapai 11 milyar dollar dengan opsi 450 pesawat Bombardier, Embraer dan Fairchild Dornier di pameran ILA 2000 tiga bulan lalu di Berlin, Jerman (Flight International 8-14 Agt).

Tidak dapat disangkal bahwa perusahaan leasing muncul sebagai customer tunggal penting kalau tidak mau disebut "VIP" bagi Airbus dan Boeing. Pesanan mereka di Farnborough merupakan sepertiga dari pesanan 3.400 pesawat 100 penumpang ke atas dunia. ILFC menjadi ujung tombak leasing company dengan kontrak bernilai 13,7 milyar dollar. Sementara pesanan backlog perusahaan ini, hampir separuh total pesanan backlog perusahaan leasing.

Lima besar perusahaan leasing saat ini secara berurut : ILFC dengan 137 pesanan senilai 13,68 milyar dollar (97 Airbus/7,7 milyar dollar dan 40 Boeing/5,97 milyar dollar); GECAS 116 pesawat bernilai 7,84 milyar dollar (42 Airbus/2 milyar dollar dan 74 Boeing/5,84 milyar dollar); CIT Aerospace 3,60 milyar dollar (50 Airbus/3,6 milyar dollar); SALE ­ Singapore Aircraft Leasing Enterprise 0,52 milyar dollar (11 Airbus/0,52 milyar dollar); ALAFCO 0,20 milyar dollar (4 Airbus/0,20 milyar dollar).

Melirik daya tarik usaha leasing, Boeing coba menekuni usaha ini melalui Boeing Capital Corporation (BCC), penerus dari McDonnell Douglas Finance Corporation (MDFC) yang diakuisisi satu paket dengan pabrik McDonnell Douglas pembuat pesawat angkut berat militer C-17. Dengan cara ini, arus uang masih beredar dalam kalangan satu grup.

"Tangan" baru Boeing tersebut menekankan bahwa BBC tidak ada rencana untuk memesan/beli pesawat dalam jumlah besar. Perusahan ini lebih memfokuskan diri pada segi finance, bukan operating lease. Langkah ini sebagai jawaban terhadap Airbus yang juga berkecimpung dalam bidang leasing lain melalui Airbus Finance Company yang berpusat di Dublin.

Global Hawk Northrop Grumman memamerkan Global Hawk/Foto: Teledyne

Unmanned Air Vehicle
Di sisi pasar militer, Northrop Grumman tidak meleset mendebutkan Global Hawk pesawat tanpa awak (UAV/Unmanned Air Vehicle) dalam arena Farnborough 2000. Para perancang pertahanan militer memang kini lebih tertarik pada pesawat tanpa awak, bukan untuk menggantikan peran pesawat tempur berawak, tapi sebagai pendamping dalam teater perang abad 21.

Tepat kiranya Global Hawk yang untuk pertama kali terbang trans-Atlantik dari AS ke Inggris, diboyong Northrop Grumman ke London. Perhatian kalangan militer tersedot kepada UAV serba putih RQ-4A Global Hawk. Angkatan Udara AS bisa dibilang sudah tidak sabar lagi menggunakan UAV berkemampuan terbang high-altitude long distance-endurance (HALE) ini untuk mengisi kebutuhan penerbangan mata-mata terbatas yang dilaksanakan pesawat berawak Lockheed U-2. Global Hawk diproyeksikan dapat mengisi kekurangan tersebut. Lagi pula risikonya amat rendah dibanding U-2 yang berawak yang pernah ditembak jatuh Uni Soviet dalam era Perang Dingin.

Peran UAV di masa depan, sekilas dipresentasikan oleh Saab Technologies dari Swedia melalui konsep Netdefence dalam arena Farnborough. yakni suatu command and control (C2) berbasis internet yang tengah dikembangkan untuk angkatan bersenjata Swedia dan diharapkan operasional penuh pada tahun 2020.

Pesawat UAV dalam konsep tersebut akan beroperasi berdampingan dengan pesawat berawak AU Swedia jet tempur multifungsi JAS 39 Gripen dan pesawat peringatan dini (AEW) S100 Argus. Dalam konsep ini, Saab menawarkan UAV peringatan dini Gladen AEW berkemampuan HALE dan pesawat UAV Skuadern yang khusus dirancang untuk peran strike reconnaissance sebagai pendamping jet tempur.

Gladen dijejali radar Erieye AEW buatan Ericsson serta radar foliage-penetration buatan Carabas dan synthentic-aperture imaging radar atau perangkat pengintaian lainnya. Sementara Skuadern yang terbang pada ketinggian medium, akan "mengintip" sasaran yang bakal dihajar oleh Gripen. UAV Getoga yang terbang di belakangnya, akan memotret/menayangkan foto hasil gempuran Gripen.

Pabrik Saab bahkan sudah lebih jauh lagi mengintip masa depan bagi peran UAV. Pabrik ini sudah pula merancang pesawat tanpa awak berkemampuan tempur (UCAV Unmanned Combat Air Vehicle). UCAV akan mengambil oper misi yang dianggap terlalu bahaya bagi jet tempur berawak Gripen. (Flight International 8-14 Agt).

Bagi negara kecil seperti Swedia, proyek tersebut tergolong amat ambisius tapi sebenarnya tidak unik. Sebab, AS memiliki visi yang sama untuk masa depan peran UAV dan bukan lagi sebagai konsep, sudah mendekati kenyataan di masa depan dekat ini.

Australia tertarik
Global Hawk merupakan perintisnya. Tidak saja AS, tapi negara anggota NATO pun dibuat tertarik memilikinya. Jauh di belahan Bumi lainnya, tetangga Indonesia, Australia sudah pula melirik Global Hawk untuk mengambil peran patroli pantai dan maritim. April tahun depan negara kanguru ini akan mengevaluasi selama satu bulan UAV produk Northrop Grumman tersebut. Kembali UAV ini bakal membuat sejarah terbang jarak jauh trans-Pasifik dari AS ke Australia.

Angkatan Laut AS (US Navy) melihat Global Hawk juga cocok untuk misi-misi maritim. Sebagai dampaknya, Northrop Grumman menerima kontrak untuk membuat pesawat hibrida manned/unmmaned guna mengisi Multi-mission Maritim Aircraft (MMA) dibutuhkan angkatan laut.

Sementara ini belum jelas apakah MMA yang dibutuhkan merupakan airframe baru atau pihak angkatan laut akan mau menerima UAV berharga 15 juta dollar Global Hawk yang dibuat versi khusus bagi peran maritim. AL Amerika Serikat menggunakan pesawat Lockheed P-3 untuk misi-misi tersebut.

Seperti Swedia, AS pun merancang UCAV bagi angkatan udara dan laut. Salah satu adalah pesawat demo UCAV Boeing X-45 yang menurut rencana digelinding keluar pabrik akhir Agustus lalu. Terbang perdananya dijadwalkan awal tahun 2001. Boeing membuat dua pesawat UCAV jenis ini.

Sementara itu Northrop Grumman akan menampilkan pesawat tanpa awak Miniature Air-Launched Interceptor (MALI) yang bakal dipakai untuk menghadang cruise missile. Dalam arti lain, skenario yang disodorkan dalam arena Farnborough 2000 memberi gambaran bahwa di masa depan pertempuran udara, bakal diramaikan oleh pesawat-pesawat tanpa awak berkemampuan tempur. (ds)


Laporan Utama | Airline | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Hobi | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Militer | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media