Harrier tetap menjadi perhatian pengunjung pameran/Foto: AW&ST/Mike Vines
|
Satu milyar dollar
"Kami tidak bisa memproduksinya lebih cepat (untuk memenuhi permintaan pasar)," tulis
Aviationweek and Space Technology (7/8/2000) mengutip pejabat Dassault Aviation yang membuat
bizjet Falcon 900EX dan Falcon 2000, memberi gambarannya.
Gambaran lebih konkret adalah pesanan 1 milyar dollar AS yang diterima pabrik Kanada Bombardier Aerospace bagi pesawat regional jet barunya, CRJ900 yang belum diproduksi. Pesanan 604
unit (104 pasti dan 500 opsi) digaet CRJ700 yang dipamerkan pertama kali oleh Bombardier dalam suatu pameran dirgantara.
Cessna, Gulfstream and Raytheon selain pertengahan tahun ini telah menyerahkan ratusan bizjet diantaranya Raytheon telah menyerahkan 282 unit, Bombardier 116 pesawat bakal
melampaui produksi tahun lalu dari pesanan yang mereka terima selama pameran. "Yang terpenting, kita menyaksikan disini bahwa produk kami diminati baik oleh pasar domestik maupun pasar internasional,"
Bill Boisture, Presiden Gulfstream Aerospace menimpali.
Permintaan terbesar datang dari AS, tapi Dassault menggambarkan minat akan bizjet juga menaik di Eropa. Sebagai gambarannya, 10-25 persen dari penjualan tahunan mereka, merupakan
sumbangan dari fractional ownership business jet.
Pasar Pacific Rim diramalkan bakal pula menjanjikan tapi sebegitu jauh pasar ini belum bergeliat seperti yang diharapkan para pembuat pesawat bizjet. "Tidak perlu tergesa-gesa. Begitu
pasarnya menggeliat, kami pasti akan hadir disitu. Sementara ini kontrak cukup banyak dari pasar yang ada dan kami sudah cukup puas, " kata seorang eksekutif.
Sambil jalan memenuhi pasar sekarang dan menanti kawasan Palung Pasifik terbuka, Bombardier, Raytheon dan Cessna tengah mengembangkan pesawat baru, ada yang sudah dalam proses
sertifikasi, lainnya terus dikembangkan dan disempurnakan.
Raytheon tidak tanggung-tanggung, menghadirkan tujuh produknya termasuk pesawat ringan Beech 1900D, Hawker 800XP, King Air 350, Beechjet 400A, King Air 200, Premier 1 dan
Baron 58. Cessna tidak mau kalah, memboyong ke pameran pesawat Citation CJ1, Citation X, Grand Caravan, Citation
Bravo, Citation Excel, Cessna 206, Cessna 182S dan Cessna 172.
Pabrik Kanada Bombardier menawarkan CRJ 700, Dash 8 Q400, Challenger 604 dan Global Express. Embraer dari Brasil memamerkan ERJ-145, ERJ-140, EMB-120 Brasilia dan ERJ-135.
Sementara Fairchild Dornier dari Eropa coba merebut pasar dengan 328JET. Pabrik AS lainnya, Gulfstream menawarkan produk mutakhirnya, G-V disamping produk sukses Gulfstream IV-SP yang ditawarkan
dengan mesin irit bahan bakar Tay buatan pabrik Inggris Rolls-Royce agar bisa menempuh jarak lebih jauh.
Untuk lebih menarik lagi, Gulfstream menawarkan kokpit dan peralatan navigasi yang bakal meningkatkan unsur keselamatan dan kemudahan bagi pilot, diantaranya dengan Northstar
Technologies CT-1000 Flight Deck Organization System.
Boeing seperti disebut sebelumnya, juga tidak mau ketinggalan dengan BBJ-nya, menawarkan BBJ 2, yakni pesawat standar Boeing 737-800 dengan ruang kabin lebih luas 25 persen dan ruang
bagasi yang lebih luas lagi dari versi pertama. Juga dijajagi corporate jet BBJ 3 dengan harga dua kali lipat, mengambil dasar jet penumpang Boeing 757-200 tapi dengan sayap dari 757-300 agar pemiliknya
bisa terbang sejauh 7.000 mil laut. Kabin BBJ 3 ini lebih luas 25 persen daripada BBJ 2.
Pesaingnya, Airbus Industrie belum seagresif Boeing dalam bizjet, hanya menawarkan A319 Corporate Jet yang contohnya diperagakan statis di pelataran parkir. Corporate jet pertama Airbus
tersebut, pertama diperkenalkan kepada pers bulan Mei lalu di Toulouse, Perancis selatan.
Airbus bisa dikatakan dalam sektor ini, kalah langka dengahn Boeing yang dalam pameran berhasil membukukan
lebih dari 56 pesanan.
Dua besar
Keberhasilan penjualan corporate jet juga tidak terlepas dari peran perusahaan leasing. Dua besar yakni International Lease Finance Company (ILFC) dan GE Capital Aviation Services (GECAS)
memborong pesanan terbesar 80 persen dalam nilai uang dan 87 persen dalam bentuk pesawat untuk seluruh transaksi di Farnborough.
Khususnya sektor regional jet, misalnya pesanan GECAS mencapai 11 milyar dollar dengan opsi 450 pesawat Bombardier, Embraer dan Fairchild Dornier di pameran ILA 2000 tiga bulan lalu di
Berlin, Jerman (Flight International 8-14 Agt).
Tidak dapat disangkal bahwa perusahaan leasing muncul sebagai
customer tunggal penting kalau tidak mau disebut "VIP" bagi Airbus dan Boeing. Pesanan mereka di Farnborough merupakan sepertiga
dari pesanan 3.400 pesawat 100 penumpang ke atas dunia. ILFC menjadi ujung tombak leasing company dengan kontrak bernilai 13,7 milyar dollar. Sementara pesanan
backlog perusahaan ini, hampir separuh
total pesanan backlog perusahaan leasing.
Lima besar perusahaan leasing saat ini secara berurut : ILFC dengan 137 pesanan senilai 13,68 milyar dollar (97 Airbus/7,7 milyar dollar dan 40 Boeing/5,97 milyar dollar); GECAS 116 pesawat
bernilai 7,84 milyar dollar (42 Airbus/2 milyar dollar dan 74 Boeing/5,84 milyar dollar); CIT Aerospace 3,60 milyar dollar (50 Airbus/3,6 milyar dollar); SALE Singapore Aircraft Leasing Enterprise 0,52 milyar
dollar (11 Airbus/0,52 milyar dollar); ALAFCO 0,20 milyar dollar (4 Airbus/0,20 milyar dollar).
Melirik daya tarik usaha leasing, Boeing coba menekuni usaha ini melalui Boeing Capital Corporation (BCC), penerus dari McDonnell Douglas Finance Corporation (MDFC) yang diakuisisi satu
paket dengan pabrik McDonnell Douglas pembuat pesawat angkut berat militer C-17. Dengan cara ini, arus uang masih beredar dalam kalangan satu grup.
"Tangan" baru Boeing tersebut menekankan bahwa BBC tidak ada rencana untuk memesan/beli pesawat dalam jumlah besar. Perusahan ini lebih memfokuskan diri pada segi
finance, bukan operating lease. Langkah ini sebagai jawaban terhadap Airbus yang juga berkecimpung dalam bidang leasing lain melalui Airbus Finance Company yang berpusat di Dublin.
Northrop Grumman memamerkan Global Hawk/Foto: Teledyne
|
Unmanned Air Vehicle
Di sisi pasar militer, Northrop Grumman tidak meleset mendebutkan
Global Hawk pesawat tanpa awak (UAV/Unmanned Air Vehicle) dalam arena Farnborough 2000. Para perancang pertahanan
militer memang kini lebih tertarik pada pesawat tanpa awak,
bukan untuk menggantikan peran pesawat tempur berawak, tapi sebagai pendamping dalam teater perang abad 21.
Tepat kiranya Global Hawk yang untuk pertama kali terbang trans-Atlantik dari AS ke Inggris, diboyong Northrop Grumman ke London. Perhatian kalangan militer tersedot kepada UAV serba
putih RQ-4A Global Hawk. Angkatan Udara AS bisa dibilang sudah tidak sabar lagi menggunakan UAV berkemampuan terbang
high-altitude long
distance-endurance (HALE) ini untuk mengisi
kebutuhan penerbangan mata-mata terbatas yang dilaksanakan pesawat berawak Lockheed U-2. Global Hawk diproyeksikan dapat mengisi kekurangan tersebut. Lagi pula risikonya amat rendah dibanding U-2
yang berawak yang pernah ditembak jatuh Uni Soviet dalam era Perang Dingin.
Peran UAV di masa depan, sekilas dipresentasikan oleh Saab Technologies dari Swedia melalui konsep Netdefence dalam arena Farnborough. yakni suatu
command and control (C2) berbasis
internet yang tengah dikembangkan untuk angkatan bersenjata Swedia dan diharapkan operasional penuh pada tahun 2020.
Pesawat UAV dalam konsep tersebut akan beroperasi berdampingan dengan pesawat berawak AU Swedia jet tempur multifungsi JAS 39
Gripen dan pesawat peringatan dini (AEW) S100
Argus. Dalam konsep ini, Saab menawarkan UAV peringatan dini
Gladen AEW berkemampuan HALE dan pesawat UAV
Skuadern yang khusus dirancang untuk peran
strike reconnaissance sebagai pendamping jet tempur.
Gladen dijejali radar Erieye AEW buatan Ericsson serta radar
foliage-penetration buatan Carabas dan synthentic-aperture imaging
radar atau perangkat pengintaian lainnya.
Sementara Skuadern yang terbang pada ketinggian medium, akan "mengintip" sasaran yang bakal dihajar oleh
Gripen. UAV Getoga yang terbang di belakangnya, akan memotret/menayangkan foto hasil gempuran Gripen.
Pabrik Saab bahkan sudah lebih jauh lagi mengintip masa depan bagi peran UAV. Pabrik ini sudah pula merancang pesawat tanpa awak berkemampuan tempur (UCAV Unmanned Combat Air
Vehicle). UCAV akan mengambil oper misi yang dianggap terlalu bahaya bagi jet tempur berawak Gripen.
(Flight International 8-14 Agt).
Bagi negara kecil seperti Swedia, proyek tersebut tergolong amat ambisius tapi sebenarnya tidak unik. Sebab, AS memiliki visi yang sama untuk masa depan peran UAV dan bukan lagi sebagai konsep, sudah
mendekati kenyataan di masa depan dekat ini.
Australia tertarik
Global Hawk merupakan perintisnya. Tidak saja AS, tapi negara anggota NATO pun dibuat
tertarik memilikinya. Jauh di belahan Bumi lainnya, tetangga Indonesia, Australia sudah pula melirik Global Hawk
untuk mengambil peran patroli pantai dan maritim. April tahun depan negara kanguru ini akan mengevaluasi selama satu bulan UAV produk Northrop Grumman tersebut. Kembali UAV ini bakal membuat sejarah
terbang jarak jauh trans-Pasifik dari AS ke Australia.
Angkatan Laut AS (US Navy) melihat Global Hawk juga cocok untuk misi-misi maritim. Sebagai dampaknya, Northrop Grumman menerima kontrak untuk membuat pesawat hibrida
manned/unmmaned guna mengisi Multi-mission Maritim Aircraft (MMA) dibutuhkan angkatan laut.
Sementara ini belum jelas apakah MMA yang dibutuhkan merupakan
airframe baru atau pihak angkatan laut akan mau menerima UAV berharga 15 juta dollar Global Hawk yang dibuat versi
khusus bagi peran maritim. AL Amerika Serikat menggunakan pesawat Lockheed P-3 untuk misi-misi tersebut.
Seperti Swedia, AS pun merancang UCAV bagi angkatan udara dan laut. Salah satu adalah pesawat demo UCAV Boeing X-45 yang menurut rencana digelinding keluar pabrik akhir Agustus lalu. Terbang
perdananya dijadwalkan awal tahun 2001. Boeing membuat dua pesawat UCAV jenis ini.
Sementara itu Northrop Grumman akan menampilkan pesawat tanpa awak Miniature Air-Launched Interceptor (MALI) yang bakal dipakai untuk menghadang
cruise missile. Dalam arti lain, skenario yang disodorkan dalam arena Farnborough 2000 memberi gambaran bahwa di masa depan pertempuran udara, bakal diramaikan oleh pesawat-pesawat tanpa awak berkemampuan tempur.
(ds)