|
| |
 | TEKNOLOGI MILITER
|
|
Maverick Meledak di Lombok
Jangan coba-coba dengan TNI AU. Ini bukan soal
military bluff atau gertakan militer. Siapa bilang jet tempur F-16 TNI AU tidak bisa menembak? Di Rambang, Lombok Timur, dua sasaran
hancur berkeping-keping!
Maverick yang menghantam sasaran - Angkasa/D.N. Yusuf
|
"Untung tidak ada penderi jantung ikut menyaksikan penembakan
Maverick," ujar seorang perwira tinggi TNI AU, tanpa maksud bercanda. Yang terasa memang demikian. Kalau digambarkan,
lutut dan jantung seketika bergetar kencang diluar kerja normal. Ledakan Maverick benar-benar dahsyat. Menggelegar, memecah udara panas Pantai Rambang 70 km arah timur ibukota Mataram, NTB
begitu rudal tepat menghantam sasaran, pukul 11.00 waktu setempat.
Padahal, tempat dimana KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan dan jajarannya, Pangkoopsau II Marsda TNI Alimunsiri Rappe dan segenap Koopsau II, perwakilan dari Mabes TNI AD dan Komando
Armada Wilayah Timur (Koarmatim) TNI AL, undangan serta para wartawan menyaksikan, berjarak tidak kurang dari sembilan ratus meter. Maka tak ayal, begitu ledakan pertama menggelegar, sejumlah
hadirin yang tidak tahan kemudian menutup telinganya seraya membungkukkan badan.
Tidak terlihat mata
Dua rudal Maverick berhulu ledak masing-masing 135 kg, melesat tanpa terlihat pandangan mata. Itu pula sebabnya, yang jadi patokan hadirin adalah panduan narator yang memberikan
aba-aba manakala Maverick mulai ditembakkan. Dua jet tempur F-16
Fighting Falcon yang membawanya memang tidak terlihat, karena melepaskan rudal dari jarak 3 mil laut (5-6 km). Namun percakapan
para penerbangnya yang sengaja direlay melalui pengeras suara, samar-samar masih bisa didengar diantara deru angin.
"Target locked-on," terdengar suara dari kokpit F-16 TS-1601 yang diawaki pasangan Letkol Pnb M "Wild Geese" Syaugi-Mayor Pnb Fachri "Oryx" Adami.
"Fire....!!!" Dan,
blast....Duaaa....rrr!!!. Tidak lebih dari sepuluh detik setelah
di-release, Maverick tepat menghantam sasaran dan menggelegar, ibarat petir bervoltage tinggi menyambar di siang bolong.
Sasaran pertama berupa bangunan simulasi kapal perang musuh dan ditandai bendera merah segitiga (ditempatkan 500 meter dari pinggir pantai), hancur berkeping-keping. Disusul api dan debu
tebal membumbung ke udara. Bibir Pantai Rambang berubah dari fatamorgana menjadi padang asap hitam.
Itu tembakan pertama. Berselang satu menit kemudian, narator telah kembali memberi aba-aba. Beberapa orang undangan dari Pemda setempat terhenyak. Belum lagi sisa getaran pertama
hilang, Maverick sekilat telah menghancurkan kapal perang kedua.
Duaaa....rrr!!! Tepat pada sasaran. Kali ini Maverick dilepaskan dari F-16 TS-1603, diawaki pasangan Kol Pnb Drajat "Scarlet"
Rahardjo-Kapten Pnb Agung "Sharky" Sasongkojati.
Menyimak penembakan Maverick secara live, terbayangkan, apalah jadinya tubuh manusia bila simulasi kapal perang itu dimuati orang. Padahal dalam kenyataannya, selain diisi awak, kapal
perang tentu membawa muatan nuklir, atau setidaknya roket-roket berhulu ledak. Efeknya, ledakan akan makin beruntun, dan sudah pasti manusia tinggal debu. Sedangkan baja setebal 15 cm saja dapat
dirobek Maverick. Atau tembok beton sedalam dua meter, atau tembok biasa sedalam lima meter.
Pantaslah, bila dalam Operation Desert
Storm yang digelar AS di Irak tahun 1991, Maverick dijadikan rudal andalan
air-to-ground oleh US Air Force untuk melumat basis-basis komando dan
pertahanan militer Irak. Terbukti, dalam perang 43 hari (16 Januari-28 Februari 1991) tersebut, dari 108.043 serangan udara, lebih 60 persen sasaran dihancurkan Maverick melalui jet-jet tempur USAF antara lain
F-16, F-15E Strike Eagle dan A-10
Thunderbolt II (Warthog).
Skema penembakan Maverick di laut - Angkasa/S. Suryolelono
|
Ditenggelamkan
Lalu, karena dalam skenario latihan bersandi Sikatan Daya 2000 itu kapal perang harus ditenggelamkan hingga ke dasar samudera, maka dua sasaran yang sudah dihancurkan digenapkan dengan
salvo bombing bom-bom Mk-82 dari dua F-16 lainnya.
Dua F-16 kursi tunggal diawaki masing-masing oleh Kapt Pnb Hanafi "Jaguar" MJ (TS-1610) dan Kapt Pnb Ian "Sinbad" Fuady datang membelah udara. Kali ini pesawat tampak dihadapan hadirin.
Karena sesuai karakteristik Mk-82, bom dijatuhkan lebih dekat ke sasaran.
Blang...blang.., iringan bom terlihat meluncur.
Duaaa...rrr!!! Duaaa...rrr!!! Ledakan Mk-82 bersahutan.
Satu flight F-16, terdiri dari empat pesawat dalam latihan tahunan yang digelar Komando Operasi TNI AU II (Koopsau II), 2 Agustus lalu, atas permintaan Koarmatim itu, terbang langsung
dari pangkalannya, Lanud Iswahjudi Madiun. Mereka menerapkan pola taktik
serangan High-Low-High. Yakni terbang tinggi dari pangkalan, terbang rendah menyusup untuk menghindari pantauan radar
musuh lalu melakukan serangan, dan kembali terbang tinggi pulang ke pangkalan. Dan menurut Direktur Latihan, Marsma TNI IG Bambang Risharyanto, tiga F-5E
Tiger II terbang diatas ketinggian 25.000
kaki, ditugaskan melakukan perlindungan udara (air
recovering) terhadap F-16 yang melakukan misi.
Yang tak kalah menarik, dalam Sikatan Daya 2000 juga diikutsertakan
fire power demo oleh dua jenis pesawat tempur lainnya. Yakni jet tempur Hawk Mk-53 Skadron Udara 15 (yang terkenal
dengan Jupiter Aerobatic Team-nya), serta pesawat
gaek komando depan (Forward Air Control-FAC) unit OV-10F
Bronco dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.
Hawk Mk-53, dibawah pimpinan Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Barhim "Wild Cat" terbang formasi tiga pesawat dari Lanud Ngurah Rai Bali. Menyusuri Selat Lombok, hingga pada
ketinggian 500 kaki diatas Rambang melakukan penembakan dengan roket-roket FFAR (Fin Folding Air Rocket) Mk-54
high speed, serta 800 peluru Aden Gun kaliber 30 mm. Sasarannya berupa gubuk-gubuk
buatan, diisi drum bahan bakar, dan papan-papan vertikal. Sasaran hancur terbakar.
OV-10F Bronco pesawat tempur komando depan TNI AU menembakan roket-roket FFAR ke gubuk-gubuk buatan - Angkasa/D.N. Yusuf
|
OV-10F Bronco, yang berjasa dalam penumpasan kaum Fretilin hingga integrasi Timtim kedalam kesatuan RI tahun 1976, terbang tiga pesawat dari Lanud Rembiga, Mataram. Dibawah pimpinan
unit, Mayor Pnb Gandhara, tiga Bronco melakukan penembakkan dengan roket FFAR Mk-54
low speed dan 1.200 buah peluru kaliber 12,7 mm. Misi Bronco pun sukses. Sasaran dapat dihancurkan.
Dalam skenario, baik Hawk Mk-53 maupun Bronco ditugaskan melakukan pengusiran terhadap kapal-kapal yang melanggar batas ALKI II dan III (wilayah Timur Indonesia).
Secara keseluruhan, Sikatan Daya 2000 berlangsung lancar. Ditengah keraguan masyarakat akan kemampuan personel maupun perangkat perang yang dimilikinya, TNI AU masih bisa
membuktikan kehandalannya. Kerjasama dengan angkatan lain pun sangat baik, dalam hal ini antara Koopsau II dengan Koarmatim TNI AL. Latihan ini juga menjadi istimewa, karena berbarengan dengan
operasi pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia II dan III hingga akhir tahun 2000.
"Koarmatim meminta Koopsau II untuk menggelar operasi penindakkan terhadap pelanggaran-pelanggaran di laut, baik itu menggiring kapal ikan, hingga menghancurkan kapal perang musuh
karena tidak mengindahkan peringatan. Dan seizin Panglima TNI, akhirnya kami menggelar operasi ini," kata Alimunsiri Rappe.
Sementara ujicoba Maverick, rudal yang dibeli TNI AU dari AS sejak tahun 1990 ini, adalah yang keduakali. Ujicoba pertama dilakukan terhadap sasaran darat, berupa bunker-bunker pertahanan
di Pulau Gundul, sekitar bulan Juni lalu.
Saat ditanya wartawan soal ujicoba Maverick, KSAU menjawab, "Ini suatu bukti dan tanggung jawab TNI AU terhadap masyarakat. Bila kita tidak pernah mengujicoba kekuatan kita, maka kita
tidak akan pernah tahu kemampuan kita. Dan sekarang sudah kita saksikan bersama. Tidak ada keraguan bagi TNI AU. Sedangkan soal peningkatan senjata maupun pesawat tempur canggih lainnya, TNI
AU tentu menginginkan. Mudah-mudahan dalam waktu yang akan datang bisa direalisasikan. Karena ini tentu menyangkut anggaran dan kondisi ekonomi negara. Kita doakan bersama saja," ujarnya.
(ron/dik)
|