|
| |
 | NOTAM
|
|
Penguji Komposit F-22
Laser Ultrasonic System (Laser UT)/Foto: Lockheed Martin
|
Gurita industri kedirgantaraan, Lockheed Martin Aeronautics, mulai memakai perangkat unik untuk menguji bahan komposit F-22
Raptor. Alat yang dinamai Laser Ultrasonic
System (Laser UT) ini merupakan gabungan
antara sinar laser dan suara ultrasonik. Laser UT sanggup menguji bagian seluas 54 kali 27 kaki dengan ketebalan hingga 21 kaki. Sebuah super komputer canggih,
Silicon Graphics Onyx II berkapasitas 6,4 gigabit perdetik
dipercaya sebagai pengendalinya. Seperti diketahui, sebagian besar struktur tubuh F-22 terdiri dari bahan komposit yang merupakan paduan graphit dan epoksi. Sebelum digunakannya Laser UT, dibutuhkan teknik pengujian yang
rumit bagi pembuatan komponen F-22. Sekitar sepuluh kali lebih efektif ketimbang alat uji generasi sebelumnya, yaitu
Ultrasonic Water System. "Dengan alat baru ini hanya dibutuhkan waktu dua jam saja untuk menguji
komponen F-22, tidak lagi 24 jam seperti dengan peralatan sebelumnya", ujar Russel W.Ford, Kepala Bagian Produksi struktur pesawat Lockheed Martin seperti dikutip LMI (19/7). Dengan perangkat baru ini pula Pihak Lockheed
Martin yakin dapat mengurangi waktu dan ongkos pembuatan F-22 dan JSF. Dengan fasilitas ini bagian-bagian yang sulit diuji macam, saluran masuk udara ke mesin
(inlet) juga akan lebih mudah dikerjakan.(avi)
Korsel Tambah F-16
Korea Selatan akhirnya menambah lagi armada F-16
Fighting Falcon-nya. Sekitar 20 F-16 blok 52 bakalan memperkuat AU Negeri Ginseng itu mulai Juli 2003. Tak hanya pabrikan Lockheed Martin saja yang sibuk,
industri kedirgantaraan dalam negeri Korsel, Korean Aerospace Industries (KAI) juga dapat bagian dari program ini. "Pesanan ini merupakan gambaran kepercayaan Korsel atas kemampuan F-16", ujar Don Jones, Wakil Presiden
Program Pengembangan F-16, Lockheed Martin Aeronautics. "Ini juga merupakan keputusan yang tepat, mengingat banyak kemiripan dengan F-16 kita yang ditempatkan di sana", tambahnya seperti yang dikutip dari LMI (27/7).
Nantinya konfigurasi F-16 pesanan Korsel ini akan disesuaikan dengan program konfigurasi pengembangan jet tempur Korea
(Korean Fighter Program). Konfigurasi ini meliputi penggunaan dapur pacu F 100-PW-229 serta sistem
pengacak elektronis internal ASPJ.Nantinya urusan sistem pengendus dipercayakan pada radar APG-68 V generasi ke tujuh dan piranti penjejak sasaran dan navigasi LANTIRN. Selain senjata standar, F-16 Korsel juga dirancang
sanggup menggotong rudal AMRAAM, HARM, dan
Harpoon. Program pengadaan pesawat yang berlangsung selama 36 bulan ini bernilai 700 juta dollar AS. Saat in AU Korsel memiliki kurang lebih 160 F-16 dari blok 32 dan 52.
Sebanyak 72 buah blok 52 dibuat oleh raksasa industri, Samsung pada tahun 1991 berdasarkan lisensi dari Lockheed Martin,
Amerika.(avi)
Modernisasi Jaguar
Angkatan Udara India berniat memodernisasi armada
Jaguar-nya. Rencananya sebuah perangkat komputer pengatur misi pertempuran bakal ditambahkan pada pesawat hasil kerja bareng Inggris-Perancis ini. Sistem
komputer ini dinamai OSAMC atau Open System Architecture Mission
Computer. Gabungan dua sistem lama yang berbeda, HUDWAC dan
Inertial System ini selanjutnya akan digunakan untuk dukungan misi tempur. Program
ini merupakan kerjasama antara Smith Industries Aerospace dan pabrikan dalam negeri Hindustan Aeronautics Limited. "Program ini membuka kesempatan untuk mengembangkan perangkat elektronik yang dapat dipasang
baik pada pesawat buatan Barat maupun Timur. Perangkat yang sama juga dicobakan pada
Sea Harrier FA-2 milik AL Inggris", ujar Nick Wilton, wakil Smith Industries seperti yang dikutip dari
Defence-Data (2/8). Saat ini India tercatat sebagai salah satu negara yang kekuatan udaranya campuran antara penempur bikinan Barat dan Timur. Selain Jaguar, negeri ini juga memiliki
Mirage 2000, MiG-21, 23, 27, 25, dan MiG-29
Fulcrum. Sebelumnya armada Jaguar AU India juga telah menggunakan perangkat elektronik keluaran Smiths.(avi)
Boeing Dapat 20 Milyar
Tak kalah dengan Airbus, Boeing juga ketiban rezeki pada Farnborough 2000. Sebanyak 139 pesawat sipil
gaweannya dari berbagai jenis diborong. Nilai kontrak yang berhasil diraup oleh gurita kedirgantaraan asal Amerika
pesanan ini adalah sebesar 15 milyar dollar AS. Jumlah ini kemudian membengkak sampai 20,7 milyar dollar di hari-hari terakhir pameran. Lantaran ada tambahan pesanan lagi sebanyak 69 pesawat. Sebanyak 63 diantaranya jatuh ke
tangan Boeing 777. Tercatat maskapai penerbangan Emirates memborong enam pesawat bermesin ganda untuk seri 300-nya. Maskapai negeri jiran, Singapore Airlines juga membeli dua Boeing 777 seri 200 ER dan sebuah seri
200. Tapi rekor pemborong keluarga 777 dipegang oleh perusahaan leasing ILFC, dengan total 33 pesawat. "Lakunya keluarga 777 merupakan keberhasilan Boeing menjawab kebutuhan para pelanggan", kata Seddik Belyamani,
wakil eksekutif penjualan Boeing, seperti dikutip
Defence-Data (28/7). Selain ludes di 777, Boeing juga mendapat pesanan 72 pesawat versi akhir dari 737. Sementara itu Maskapai Turki, Turkmenistan Airways memesan tiga seri
717 dan Korean Air juga membeli sebuah
jumbo 747-400F. (avi)
Qantas versi Militer
Maskapai penerbangan Australia, QANTAS terpilih sebagai operator penerbangan VIP militer. Keputusan ini diambil Kementerian Pertahanan Australia bersamaan dengan rencana penambahan armada pesawatnya
guna kepentingan ini. Dalam program ini sekitar lima pesawat baru akan diserahkan kepada Satuan Angkut VIP AB Australia. Kehadiran armada baru tersebut persisnya guna mengganti tujuh pesawat yang telah dianggap uzur,
lima dari jenis Falcon 900 A dan dua dari jenis Boeing 707. "Keputusan ini merupakan langkah modernisasi dan optimalisasi penerbangan VIP militer", ujar John Moore, Menteri Pertahanan Australia seperti dikutip
Defence-Data (11/8). Baginya, armada Boeing 707 yang ada sekarang lebih cocok digantikan Boeing 757. Akan tetapi QANTAS nampaknya lebih senang memilih dua Boeing 737 karena alasan ekonomi. Sedangkan Falcon 900 A yang akan
habis masa sewanya pada tahun 2002 akan digantikan dengan
Challenger 604. Ke tiga jet regional berkapasitas sembilan orang keluaran Bombardier, Kanada ini diantaranya akan berfungsi sebagai pesawat pengangkut petinggi
militer berkeliling wilayah domestik Australia. Proyek ini diungkap akan membuka lapangan kerja baru di Negeri Kangguru. Lebih kurang 100 juta dollar AS bakal disediakan untuk menggaji pekerja-pekerja baru itu selama 12
tahun. Mereka bertanggung jawab atas manajemen, pemeliharaan dan logistik bagi pesawat-pesawat baru. Sebelumnya armada angkut khusus ini berada dibawah Skadron ke-34 yang berpangkalan di
Canberra.(avi)
|