ANGKASA N0.12 SEPTEMBER 2000 TAHUN X  

Antara Concorde dan A3XX


  Laporan Utama
Airline
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Hobi
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Militer
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
OPINI  

Antara Concorde dan A3XX

A3XX Airbus A3XX/Foto: Airbus Industrie

Dalam hidup, urusan orang berbeda-beda. Ada urusan yang harus dilakukan, dan dilakukan dengan cepat; tetapi ada pula urusan yang harus dilakukan, namun masih ada tenggang waktu. Dalam dunia penerbangan, urusan pertama cocok dilayani oleh pesawat supersonik Concorde - meski hingga tulisan ini dibuat pertengahan Agustus pesawat itu masih didaratkan (grounded) oleh maskapai Air France menyusul terjadinya kecelakaan di dekat Paris 25 Juli 2000 -, sedang jenis urusan kedua bisa dilayani dengan pesawat konvensional biasa, syukur-syukur yang nyaman berbadan lebar.

Ketika industri angkutan udara sipil masih belum melihat prospek menyebar-luasnya layanan supersonik, apalagi satu-satunya layanan yang ada dengan Concorde oleh British Airways dan Air France sempat terganggu karena musibah Juli lalu, yang lalu dipacu adalah promosi layanan non-supersonik baru.

Salah satu layanan jenis ini yang tengah dipersiapkan adalah yang menggunakan pesawat superjumbo Airbus A3XX. Jet ini belum akan diserahkan hingga tahun 2005, tetapi iklan yang memberi gambaran tentang layanan yang bisa ia berikan sudah banyak bermunculan di berbagai majalah kedirgantaraan internasional. Bahkan wartawan majalah Angkasa telah diundang Airbus untuk melihat mockup (model skala penuh) pesawat ini di pabriknya di Toulouse, Perancis.

Di majalah Aviation Week & Space Technology terbitan Amerika misalnya, pada iklan beberapa halaman tersebut di antaranya diberi ilustrasi foto A3XX sedang terbang malam hari di atas satu kota yang bermandi cahaya, disertai kalimat "It doesn't just take you to your hotel. It is your hotel (Ia bukan hanya membawa Anda ke hotel. Ia sendiri sudah merupakan hotel Anda).

Lalu dalam empat lembaran lain dilukiskan sejumlah gambaran interior A3XX. Pertama diperlihatkan ruang penerimaan (reception), dengan seorang pramugari yang sedang mempersilakan seorang penumpang naik ke dek atas, yang disebutnya "your room (kamar Anda). Lembar kedua lebih impresif lagi, yaitu seorang penumpang duduk di pinggir tempat tidur dengan dasi yang sudah dilepas tampak sedang melepas kancing lengan bajunya; sementara pasangannya tampak sedang mandi (shower) di ruang berbentuk kapsul di latar depan. Pada lembar ketiga diperlihatkan bagian ruang lain yang lapang untuk semacam toko/butik, dimana ada konter mainan dan suvenir, yang terkumpul pada bagian bebas cukai (duty free). Aktivitas di bagian ini ditawarkan sebagai pengisi waktu sambil menunggu hidangan siap. Yang terakhir, siapa tahu penumpang tidak bisa tidur tapi juga tidak ingin melakukan hal khusus. Untuk ini ditawarkan bar, yang menyediakan minuman seperti sampanye atau jenis beralkohol lain.

Ringkasnya, Enjoy your stay at the A3XX. Jelas kalimat tersebut tidak lagi ucapan untuk satu penerbangan - yang lazimnya berbunyi "Enjoy your flight. Stay jelas menyiratkan "berada" atau "tinggal", dengan konsekuensi kenyamanan lebih dari umumnya penerbangan.

Bagaimana persisnya semua itu akan dioperasikan kita belum mengetahuinya secara detil, tetapi jelas superjumbo A3XX akan merupakan sesuatu yang sama sekali baru dalam dunia penerbangan. Pertama dengan adanya hampir 600 penumpang dalam satu pesawat dua lantai, yang mungkin akan menempuh penerbangan jarak jauh, dan kedua ia menawarkan bentuk layanan baru selain dari unsur kecepatan supersonik yang tidak ia miliki.

Dalam konteks yang ada sekarang, kenyamanan di pesawat itu dimulai pada tempat duduk yang cukup lebar, jarak ke kursi samping dan ke depan juga memadai, awak kabin ramah, hidangan lezat, ada hiburan aneka pilihan, ada fasilitas telepon, dan sebagainya. Kini, seperti kita baca di atas, A3XX menawarkan kamar, kamar mandi, toko, bar, dan entah apa lagi.

Namun demikian, kita akui bahwa perjalanan penerbangan itu sendiri adalah rangkaian proses dari yang paling awal (mulai dari di terminal, saat check-in) hingga paling akhir (imigrasi, klaim bagasi, pabean, antre taksi). Tetapi pengalaman di pesawat - sepanjang lebih dari 10 jam untuk penerbangan tipikal pesawat seukuran A3XX - jelas merupakan bagian yang dominan. Nyaman di bagian ini, melahirkan kesan nyaman di bagian lain, meski mungkin ada kekurangan di sini.

Lepas dari kepentingan kenyamanan penumpang ini, penciptaan pesawat baru termasuk superjumbo pertama-tama digerakkan oleh tumbuhnya pasar industri angkutan udara dunia, yang dari waktu ke waktu memang memperlihatkan peningkatan.

Mudah-mudahan bangsa Indonesia juga dapat ikut ambil bagian dalam aktivitas yang diwarnai dinamika baru ini. Bukan sekadar naik pesawat superjumbonya, tetapi dengan naik jet mutakhir ini sendiri menyiratkan, bahwa bangsa Indonesia telah mampu ambil bagian lagi dalam aktivitas bisnis dalam skop internasional, yang dengan begitu juga menyimpulkan adanya kemampuan finansial dan lain-lainnya lagi. Pada akhirnya, jet seperti superjumbo Airbus ini memang merupakan simbol dan simbolisasi berbagai macam hal. (nin)


Laporan Utama | Airline | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Hobi | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Militer | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media