ANGKASA N0.12 SEPTEMBER 2000 TAHUN X  

Control Line

Mengharap Satu Dapat Empat

Masih Kecil Menerbangkan Pesawat Model dan Glider


  Laporan Utama
Airline
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Hobi
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Militer
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
ORDIRGA  

Control Line

Mengukur beban Atlet dan wasit (kiri dan kanan) sedang mengukur beban tali pesawat pengontrol dalam lomba F-2B dan F-2D/Foto: Angkasa/Soemardjo

Control Line yang biasa disebut "U" Control adalah salah satu jenis permainan dalam olahraga dirgantara aeromodelling. Untuk bisa terbang, pesawat model itu menggunakan tenaga dari motor torak, dan menerbangkannya memakai tali. Pilot (atlet) yang memainkan berada dalam lingkaran, berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Lamanya terbang beberapa menit tergantung jumlah bahan bakar yang digunakan. Untuk memainkan pesawat model control line, diperlukan badan sehat. Sebab berputar ke kiri mengikuti pesawat sampai beberapa puluh menit mengakibatkan pusing dan mungkin jatuh. Memegang tali pengontrol dan melakukan berbagai manuver cukup melelahkan tangan walaupun ada asyiknya juga.

Ada empat kelas dalam Control Line yaitu F-2A, F-2B, F-2C dan F-2D, namun yang biasa dilombakan di Indonesia F-2B (Control Line Aerobatic) dan F-2D (Control Line Combat). Pesawat model yang digunakan untuk lomba F-2B ada kharakteristiknya antara lain beratnya 5 kg, luas permukaan maksimum 150 dm2, motornya dilengkapi dengan peredam suara, dan harus take off di tanah.

Panjang tali pengontrol yang digunakan 15-21,5 meter, diukur dari sumbu pemegang alat kemudi sampai sumbu baling-baling pesawat model (model). Bila baling-balingnya lebih dari satu, maka diukur sampai sumbu simetri baling-baling. Pengujian beban dilakukan terhadap seluruh sistem kemudi, alat kemudi, tali pengontrol dan model dalam keadaan siap terbang sebesar 15 kali berat model. Pengujian dilakukan tiap akan dilakukan penerbangan resmi atau berlomba.

Dalam lomba, setiap atlet boleh membawa dua orang pembantu, bertugas melayani dan menghidupkan motor. Atlet dan pembantu harus mengenakan helm. Selama lomba, atlet harus berada di luar lingkaran. Penerbangan disebut resmi jika model sudah mengudara dan disebut batal bila ada bagian dari model lepas di kala sedang terbang. Dalam lomba, atlet wajib melakukan beberapa manuver (gerakan) secara berurutan sesuai petunjuk.

Beberapa manuver yang biasa dilombakan di Indonesia adalah starting, take off, reverse wing over (satu kali), consecutive inside loop (tiga kali), inverted flight (dua kali), consecutive outside loop (tiga kali), consecutive inside square loop (dua kali), consecutive outside square loop (dua kali), consecutive inside triangle loop (dua kali), horizontal eight (dua kali), square horizontal eight (dua kali), vertical eight (dua kali), hourglass figure (satu kali), overhead figure eight (dua kali), four leaf clover (satu kali) dan landing.

Dalam starting, take off dimulai setelah atlet memberi tanda akan menghidupkan motor modelnya, misalnya dengan mengacungkan tangan. Lomba nomor F-2B dinilai lima orang juri. Dalam melakukan penerbangan atlet bisa ditemani seorang pembantu bertugas membaca urutan manuver dan dia berada satu lingkaran bersama atletnya.

Arena lomba terdiri lingkaran tengah (tempat menerbangkan model) berjari-jari tiga meter, lingkaran penerbangan (kedua) jari-jarinya 19 meter, lingkaran pit (paling luar) jari-jarinya 22 meter. Atlet, mekanik dan pembaca urutan manuver harus memakai helm. Selama lomba berlangsung, mekanik harus di luar lingkaran.

F-2D (Control Line Combat)
Pertandingan F-2D (combat) ialah pertandingan dua atlet yang yang berada dalam satu lingkaran pusat, dalam jangka waktu yang ditentukan. Selama bertanding kecuali atlet, tidak boleh berada dalam lingkaran dan harus mengenakan helm. Kedua atlet sama-sama berusaha memutus streamer (kertas crepe) lawan yang dipasang di bagian belakang sumbu bujur model. Tiap atlet berupaya memotong streamer lawan, dan menghindari dipotong musuhnya. Yang berhasil memotong streamer lebih panjang, dia pemenangnya. Jika benang pengikat streamer yang terpotong, tidak dapat nilai. Kalau benang itu terlepas sendiri, atlet bersangkutan didenda 100 poin dan segera mendaratkan modelnya untuk mengganti streamer.

Pesawat model yang digunakan, kharakteristiknya dan lapangan untuk lomba F-2D sama dengan F-2B. Atlet hanya memotong streamer lawan, bila sengaja menabrak didiskualifikasi. Streamer yang panjangnya tiga meter lebar tiga sentimeter, dipasang di bagian belakang model kelanjutan sumbu longitudinal, dengan seutas benang panjang minimal dua meter, warnanya harus berbeda satu dengan lainnya.

Untuk menerbangkan model F-2D, seperti F-2B menggunakan dua utas tali (kawat) sepanjang 15,92 meter berdiameter 0,385 mm. Setiap akan berlomba, tali pengontrol diperiksa tentang panjang dan daya tahan tariknya. Pemeriksaan daya tarik adalah 20 kali berat model dan dilakukan terhadap seluruh sistem kemudi dalam keadaan siap pakai.

Kedua atlet waktu akan start harus terpisah (tidak berdekatan), paling tidak seperempat lap (lingkaran luar). Lomba ini dipimpin oleh seorang panitia, sebutannya Circle Marshall. Jika Circle Marshall memberi tanda pertama, atlet dan atau mekanik menghidupkan motor. Pertandingan berlangsung selama empat menit. Pertandingan dimulai sesudah ada aba-aba dari Circle Marshall. Cara menghidupkan mesin dengan memutar baling-baling, dan take off-nya tidak dari tanah. Setelah lepas dari tangan mekanik, pesawat model dikendalikan oleh atlet.

Ada tata tertib dalam lomba F-2D antara lain: Selama model di udara atlet dilarang keluar dari lingkaran tengah. Bisa keluar bila modelnya tidak terbang; Kalau tabrakan, keduanya dianggap mendarat, lalu pertandingan dilanjutkan; Jika ada model mendarat, mekanik harus menarik modelnya ke lingkaran luar untuk diperbaiki atau dihidupkan kembali mesinnya; Andaikata ada satu model di udara dan tak ada tali pengontrol yang terkait, maka model harus terbang mendatar dalam ketinggian aman; Tiap model mendarat, para mekanik harus diawasi oleh juri untuk mengamati kemungkinan terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh mekanik.

Beberapa larangan yang menyebabkan atlet kena diskualifikasi antara lain: Menyerang atau memotong streamer lawan sebelum pertandingan dimulai; Sengaja menabrak; Mengganggu atau memaksa lawan keluar dari lingkaran tengah; Kedua atlet bekerjasama tidak saling menyerang; Melakukan penerbangan yang membahayakan; Sengaja meninggalkan lapangan semasih modelnya di udara; Model tanpa streamer memotong streamer lawan.(mar)


Laporan Utama | Airline | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Hobi | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Militer | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media