ANGKASA N0.12 SEPTEMBER 2000 TAHUN X  

Lavochkin La-9/11


  Laporan Utama
Airline
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Hobi
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Militer
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
ORIGAMI  

Lavochkin La-9/11

Lavochkin La-9/11 Urutan pembuatan pesawat model Lavochkin La-9/11/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf

Cerita pemburu Lavochkin La-9 asal Uni Soviet ini dimulai pada awal tahun 1944. Setahun kemudian pesawat yang purwarupanya dinamai La-130 ini mengudara untuk pertama kali. Produk massalnya pertama kali beraksi di depan publik pada Hari Kedirgantaraan Soviet (Soviet Aviation Day), 3 April 1947. Kala itu beberapa pesawat juga terlihat dicanteli ramjet. Perangkat bantu pembangkit kecepatan itu dipasang masing-masing sebuah, di sayap kanan dan kiri La-9. Sebuah pesawat sejenis pernah juga dipasangi roket booster pada bagian ekor untuk keperluan pengembangan.

Dari segi airframe La-9 bisa dibilang serupa bentuk dengan pendahulunya, Lavochkin La-7. Perbedaan paling penting terletak pada materi yang digunakan. Kalau La-7 masih berbadan kayu (wooden plane), maka La-9/11 sudah memakai baju metal di seluruh badannya. Akibatnya untuk urusan dapur pacu, mesti dipasangi yang lebih bertenaga. Maka dipasanglah sebuah mesin radial Shvetsov ASh-82 FNV, 18 silinder berkekuatan 1.850 tenaga kuda. Alhasil pemburu ini mampu dibesut hingga kecepatan 690 kilometer perjam.

Sedangkan konsep yang disandang La-9 memang rada beda ketimbang pendahulunya. Pesawat berentang sayap 9,8 meter plus panjang badan 8,6 meter ini bertugas untuk mengawal armada pembom Soviet yang ada kala itu, Tupolev Tu-2 dan Tu-4. Untuk menjalankan tugas ini, La-9 dilengkapi dengan kanon ShVAK kaliber 20 milimeter. Belakangan pada versi yang lebih maju, La-9bis, keempat kanon yang ditempatkan pada hidung ini diganti dengan NS 23 berkaliber 23 milimeter.

Sayangnya kedahsyatan senjata utama yang digotongnya tak diikuti dengan jarak jelajah yang mumpuni. Pemburu yang selintas berperawakan mirip Focke Wulf FW 190 ini hanya mampu terbang sejauh 600 kilometer. Sedang ketinggian yang dapat dicapai adalah sampai 11.130 meter. Kekurangan ini dijawab Lavochkin dengan menelurkan La-11 diawal tahun 1945. Tak banyak perubahan yang dibuat. Hanya bekal bahan bakar dalam badan pesawatnya saja yang ditambah. Walau untuk itu sebuah kanon NS 23-nya harus dilepas dan ketinggian maksimal yang dicapai juga menurun. Tapi untuk jarak tempuhnya bertambah 150 kilometer lebih jauh.

Tapi bisa dikatakan kehadiran generasi La-9/11 terhitung telat dalam kancah PD II. Akibatnya kedua pesawat ini belum dapat unjuk gigi secara maksimal melawan kelincahan pemburu-pemburu Nazi Jerman. Hasil racikan Biro Desain S.A Lavochkin yang juga merupakan generasi akhir pemburu berdapur pacu piston milik AU Soviet ini lebih banyak berkiprah dalam kancah Perang Korea. Pada konflik itu tercatat pilot dari tiga negara yang menerbangkan La-11. Masing-masing adalah Korea Utara, Cina, dan Uni Soviet. Negara pakta warsawa sendiri tetap mempertahankan armada La-11 sampai akhir tahun 60-an.

Pihak Barat sendiri baru menerima "contoh" La-11 pada pertengahan tahun 1949. Ketika sebuah pesawat sejenis nyasar dan mendarat di wilayah Swedia. Pilotnya, seorang letnan muda AU Soviet meminta suaka politik ke Negeri Viking itu. Sedangkan pesawatnya sendiri dikembalikan ke Uni Soviet, tentu saja setelah dipelajari oleh ahli dari Barat.

Lavochkin ini kemudian melangkah ke era yang lebih maju dengan membuat pemburu pancar gas, La-15. Sayangnya hal ini tak berlangsung lama. Setelah menghasilkan La-17, pemburu pancar gas pertama AU Soviet yang dilengkapi afterburner, S.A. Lavochkin gulung tikar. Menyusul wafatnya Semyon Alexse'evich Lavochkin, sang pendiri pada tahun 1960.(sur/avi)


Laporan Utama | Airline | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Hobi | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Militer | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media